STORY 33 - Semakin Dekat
***
Tahun 2040 – Masa kini – Perumahan Elite Angkasa
REKOMENDASI LAGU – SKYLAR GREY – EVERYTHING I NEED
Ratusan kali Tuhan memberikannya mimpi buruk. Tepat setelah Asta memperingati Ratu untuk kesekian kali, dan malam itu sang putra benar-benar melewati batas kesabarannya. Bahkan hingga memohon pada Ratu untuk tidak menemui lelaki itu lagi.
Sekarang semua benar-benar lengkap. Asta yang semakin membencinya, sosok Arsen yang mencium Rheandra tepat di hadapan Ratu malam itu. Tidak ada lagi Ravin, atau siapapun di sampingnya. Semua keluarga, kedua orangtua dan kakak pun tidak peduli pada Ratu.
Mereka yang hanya mengincar harta dan kekayaan. Kenapa Ratu dulu begitu bodoh? Apa yang sebenarnya dia kejar saat itu? Harta, harga diri, kekayaan melimpah? Semua hal yang tidak menjamin kebahagiaannya sekarang.
Ratu justru mendapat penderitaan tiada akhir. Wanita itu bingung, apa yang harus dia lakukan.
***
“Nyonya, anda yakin ingin bekerja hari ini?” Wajah Tania penuh dengan raut khawatir, baru saja dia sampai untuk menjemput sang nyonya seperti biasa. Tania justru disambut dengan sosok Ratu yang sudah berada tepat di dekat pintu keluar rumah,
Lengkap menggunakan pakaian kerja dan tengah bersiap-siap untuk berangkat. Tak ada yang aneh awalnya, begitu Tania melihat lekat wajah Ratu. Dia langsung terkejut,
Wajah sang nyonya nampak pucat pasi, rambut tertata sembarangan, dan dua buah kantong mata membuat Ratu nampak sepuluh kali usianya hari ini.
Dengan manik datar, Ratu menatap Tania heran, “Tentu saja, untuk apa aku mengambil libur?” tukasnya cepat, berniat melangkah, melewati tubuh Tania dan keluar dari area rumah.
Tapi Ratu sudah lebih dulu terhuyung, hampir saja jatuh sebelum Tania sigap menopang tubuhnya. “Astaga, Nyonya! Anda harus beristirahat hari ini!” ujar wanita itu semakin khawatir, reflek merasakan kondisi tubuh Ratu.
Hangat, suhu tubuh sang nyonya tidak normal! “Tubuh anda panas, Nyonya. Kudengar anda terkena hujan kemarin malam, jangan memaksakan kondisi,” Belum selesai Tania berbicara.
Ratu sudah lebih dulu menjauhkan tubuhnya dari sang asisten, “Aku baik-baik saja,” Tetap keukeuh, Ia kembali berjalan walau pelan. Tak peduli seberapa sakit kepala dan sepanas apa kondisi tubuhnya.
Lebih baik dia terus bekerja, menyibukkan diri daripada berbaring tidur dan mendapat mimpi buruk berulang kali! Ratu tidak mau!
“Nyonya, saya akan mengatur rapat anda hari ini, lebih baik sekarang istirahat-” Suara Tania tercekat saat melihat tatapan tajam Ratu. “Jangan membantahku, Tania. Kau tahu aku tidak suka siapapun menghalangi keputusanku,”
Tania tahu, sekali Ratu memutuskan sesuatu, tak akan ada yang bisa menghalanginya. Dia tahu, seberapa buruk kondisi Ratu, dan seberapa banyak penderitaan yang dilewati sang nyonya. Iba dan khawatir tentu saja, itu merupakan salah satu diantara banyaknya alasan kenapa Tania masih bisa bertahan sebagai assisten pribadi Ratu.
“Hh, baik, Nyonya,” Menutup pintu rumah, Tania bergegas mengejar Ratu yang sudah berjalan menjauhinya. Tanpa mengatakan apapun lagi,
Semakin lama melihat kondisi Ratu, wanita itu bertambah kurus dan pucat. Tidak pernah sekalipun Tania melihat Ratu tertawa atau tersenyum bahagia bahkan saat pertama kali mereka bertemu hingga saat ini.
***
Perjalanan ke Kantor
“Nyonya,” Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Tania memperhatikan kondisi sang nyonya dari kaca kecil di depannya. Ratu nampak mengantuk, dan memijat kening terus menerus.
“Hm, ada apa?” balas Ratu singkat.
“Bagaimana kalau kita mampir café itu dulu sebelum ke kantor? Saya akan pesankan kopi kesukaan anda, itu akan meringankan sakit kepala anda, Nyonya,” saran Tania.
“Kopi? Tapi bagaimana dengan jadwal rapatku pagi ini?”
Tersenyum tipis, “Tenang saja, jadwal rapat anda masih dua jam lagi, saya sudah menyiapkan berkas dan keperluan yang lain, jadi anda tinggal menghadirinya saja,” jawab wanita itu cepat,
Kali ini Ratu tak bisa menolak, dia akui memang ingin minum kopi dulu sekarang. Untuk meringankan sakit kepala sebelum rapat nanti, jadi itu bukan ide yang buruk.
“Baiklah, aku akan menunggu di dalam sini,”
Mendapat jawaban, Tania langsung saja bergegas menuju café dan mencari tempat parkir. “Tunggu di sini sebentar, Nyonya. Saya akan segera kembali,” Mengamit tas kecil, wanita itu segera keluar dari mobil. Meninggalkan Ratu sendiri,
***
Menatap langit cerah pagi ini, kedua manik Ratu nampak sendu, seluruh semangatnya entah kenapa hilang. Menunggu kedatangan Tania tidak membuat wanita itu tenang.
Tanpa Ratu sadari, salah satu tangannya bergerak membuka pintu mobil. Menghirup udara yang masih segar, membiarkan angin semilir menerpa wajah. Menarik napas panjang, wanita itu bergerak keluar dari dalam mobil.
Berdiri tegap, sekilas melirik ke arah Tania yang sudah berada di dalam café dan memesan kopi. “Lebih baik aku menunggunya di sana saja,” Ratu melihat sebuah tempat duduk taman tak jauh dari area café, tempat ini berada cukup dekat dengan jalanan utama.
Melangkahkan kaki, beruntung hanya ada beberapa orang yang duduk di sana. Duduk tepat di sebelah seorang nenek tua. Mencium aroma parfum berbau herbal dari tubuh wanita paruh baya tersebut,
Ratu tidak terganggu, justru dia cukup tenang. Sejak bercerai dengan Arsen, Ratu sudah sering berkutat dengan berbagai macam obat-obatan untuk meredakan sakit di tubuhnya. Entah kimia, bahkan sampai herbal.
Menyender pada kursi, perlahan Ia menutup kedua mata. Menikmati waktu sendiri. Kondisi jalanan belum terlalu ramai, jadi Ratu tidak merasa terganggu.
Menarik napas panjang, sang Edrea sama sekali tidak menyadari saat sosok paruh baya di seberangnya perlahan menatap. Memperhatikan tiap gerak-gerik Ratu.
Senyuman tipis nampak di wajah sosok tersebut, “Nona cantik, apa kau sedang memikirkan sesuatu?” Tanpa aba-aba melontarkan sebuah pertanyaan pada Ratu.
Mengagetkan sang Edrea, kedua manik Ratu terbuka kembali. Mengerjap sesaat, sedikit heran Ia menatap balik sosok paruh baya itu.
Terdiam bingung, manik mereka bertemu. ‘Apa dia bicara padaku?’ batin Ratu tak mengerti.
Sosok nenek yang tersenyum hangat pada Ratu. Ini pertama kalinya mereka bertemu, “Nenek, bicara dengan saya?” sahut Ratu pelan.
Nenek itu mengangguk kecil, “Iya, siapa lagi? Nona cantik di sebelah saya hanya anda sekarang,” Dengan sedikit gurauan. Ratu mencoba sopan. Tersenyum tipis, “Iya, saya sedang memikirkan sesuatu,”
Mendengar dengan jelas perkataan Ratu, “Hm, begitu?”
Sang Edrea mungkin mengira nenek tersebut hanya sekedar berbasa-basi dengannya, jadi dia menjawab singkat saja. Kembali mengalihkan perhatian,
“Apa yang membuat Nona cantik seperti anda memasang wajah seperti itu?”
Pertanyaan kembali dilontarkan, kali ini Ratu merasa sedikit heran. Masih mencoba tersenyum, menatap sang nenek lagi.
“Tidak ada-” Niatnya untuk mengakhiri pembicaraan mereka terhenti, saat raut wajah sang nenek berubah sendu. “Pernahkah anda berpikir untuk kembali ke masa lalu, Nona?”
Tubuh Ratu menegang, mendengar pertanyaan wanita itu, tertegun sesaat, alisnya tertekuk semakin heran. “Apa maksud nenek bicara seperti itu?” Merasa sedikit terganggu dengan segala tebakan wanita paruh baya yang baru saja Ia temui. Mereka bahkan belum mengenal satu sama lain.
Tapi entah kenapa, saat kedua manik Ratu menatap nenek itu. Sang empunya seolah mengetahui semua masalah Ratu.
Sosok tersebut hanya bisa tersenyum kecil, perlahan mengalihkan pandangan, menatap ke depan. “Kembali ke masa lalu dan mengubah semua kesalahan yang kita perbuat dulu. Apa Nona berpikir hal tersebut bisa saja terjadi?”
Belum sempat Ratu menjawab, senyuman sang nenek berubah menjadi pandangan sendu lagi. “Entah itu merupakan sebuah anugrah atau kutukan. Anugrah untuk mengubah semua kesalahan kita, dan kutukan-” Menatap Ratu sekilas, “Dimana kita tidak tahu bahwa masa depan bisa saja berubah menjadi lebih buruk dibandingkan saat ini.”
Anugrah atau kutukan? Ratu tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Selama ini hal yang Ia pikirkan hanya berharap mampu mengembalikan waktu dan mengubah semua masa depan, menjadi lebih baik tentu saja. Tanpa pernah memikirkan efek besar yang bisa saja terjadi.
“Apa Nona percaya?” Satu pertanyaan terakhir, kening Ratu masih tertekuk, Ia menggeleng tipis, “Tidak, hal tersebut tak logis dan di luar nalar, Nenek. Jika kita sudah melakukan satu kesalahan, semuanya tidak akan bisa diubah.” tegasnya pelan.
Ratu tak mengira kalau nenek itu akan tertawa, dia semakin bingung. “Khahaha, kau memang wanita yang sangat tangguh, Nona. Saya suka,” tukasnya sekilas, perlahan bangkit, memegang tongkat di sebelah tangan.
Dengan tubuh menunduk, menatap Ratu sekilas. “Kita tidak tahu kapan Tuhan akan memberikan berkatnya, jadi jangan selalu berpikir logis, Nona. Kadang kita perlu memikirkan hal-hal gila yang mungkin saja bisa terjadi.”
Kening Ratu semakin tertekuk, belum sempat dia membalas ucapan nenek itu, sosok di depannya sudah lebih dulu berjalan hendak menyebrang jalanan. Dengan santai, tanpa melihat situasi jalanan.
“Ne-nenek itu mau apa,” Firasat Ratu berubah tak enak, begitu sang nenek berjalan turun dari trotoar dan mulai menyebrang jalan. Saat jalanan nampak lenggang, itu pun hanya sebentar.
Berjalan santai menggunakan tongkatnya, memunggungi Ratu. Sementara sag Edrea perlahan bangkit, melihat sebuah mobil datang dari arah bersebrangan. Berbelok seketika, dengan kecepatan di atas rata-rata.
Tubuh Ratu tanpa sadar berdiri, melihat mobil itu semakin mendekat, memberi peringatan pada sang nenek. Dalam jarak yang cukup dekat, sang Edrea reflek berlari, wajahnya memucat tanpa memikirkan apapun lagi.
“Nenek, awas!!!” Menuruni trotoar, kedua maniknya melebar, salah satu tangan mendorong tubuh wanita paruh baya itu menjauh. Beriringan dengan suara roda mobil berdecit dengan aspal, berusaha menghindari tubuh Ratu.
Tapi terlambat, Ratu menoleh shock, dalam beberapa detik saja posisi mereka berpindah, berdiri membeku tanpa bisa melakukan apapun.
Hal yang Ratu rasakan selanjutnya adalah tubuh wanita itu terlempar cukup jauh, rasa sakit luar biasa menerjang tubuhnya. Darah segar mengalir dari bagian kepala, tubuh dan mematahkan tulang.
Suara teriakan beberapa orang terdengar keras, menjerit dan menghampiri Ratu yang kini terkapar di atas aspal, dengan darah mengalir deras dari bagian kepala.
Rasa sakit, aroma anyir darah menyengat, kedua manik nampak buram, dan retak tulang di seluruh badan. Ah, apa ini yang Ravin rasakan dulu?
Tubuh sekecil itu harus mengalami hal seperti ini. ‘Sakit,’ batin sang Edrea, dibalik kesadaran yang semakin hilang.
Beberapa jemarinya bergerak, terbatuk sekilas. Sakit sekali, tubuh Ratu, aroma darah. Ratu benci itu. Apa ini yang namanya karma? Tuhan memberikan Ratu hukuman setimpal. Karena sikap, rasa angkuh, dan harga diri yang Ia junjung tinggi. Hancur tak tersisa.
‘Ravin—Asta, Arsen, maafkan aku,’ Kesadarannya semakin hilang, rasa sakit menjalari tubuh. Dalam buram pandangan Ratu, wanita itu masih sempat memastikan kondisi sang nenek. ‘Apa nenek itu selamat?’ batin Ratu lagi.
Sang nenek masih terduduk di aspal, dan selamat. Mungkin dia hanya lecet saja, ‘Syukurlah,’ Tersenyum tipis, jemari Ratu semakin lemas.
“Apa anda ingin pergi ke masa lalu dan mengubah semuanya, Nona?”
Ah, tiba-tiba dia teringat perkataan nenek itu. Kembali ke masa lalu? Haha, itu hanya sekedar lelucon belaka. Ratu tidak pernah percaya. Hal di luar nalar melebihi pikiran logisnya.
Tidak mungkin,
Tapi jika memang benar, merasakan satu tetes bening mengalir dari pelupuknya bercampur dengan darah, jemari Ratu perlahan berhenti bergerak, ‘Sekali saja, aku ingin mengubah semuanya,’
Satu hal saja, dia ingin mendapat kesempatan untuk merubah diri. Menjadi sosok ibu dan istri yang pantas bagi putra dan suaminya.
Hanya itu, tidak lebih.