Pukul 09:44
Pagi ini, Gladis tengah berlari bersama papanya Hardian. Mereka tengah berolahraga pagi dengan mengitari taman komplek yang cukup luas.
"Pa... Berenti dulu." ujar Gladis dengan ngos-ngosan.
"Makanya, jangan males olahraga, baru juga tiga menit lari kamu udah ngos-ngosan begitu."
"Aduh papa.. Gladis itu sibuk."
"Apanya yang sibuk? Sibuk didalam mimpi."
Gladis menyengir, "Papa dapat seratus.. Yey."
Hardian hanya bisa menggeleng saja. Anaknya ini memang ajaib,menghibur juga. "Lain kali papa musti ajak kamu olahraga deh."
"Jangan dong pa. Nanti aku hitam, kurus. Kan gak cantik lagi."
"Siapa bilang?." Hardian bersidekap, "Justru cewek yang suka olahraga banyak yang suka."
"Kata siapa?."
"Kata papa lah."
"Yeee.. Itu beda lagi dong." ujar Gladis, "Udah ah, Gladis mau duduk disana dulu, papa lanjut aja ya. Dah papa, lup u.." Gladis melambaikan tangan kemudian berlari menuju bangku taman yang menghadap ke danau buatan.
Hardian kembali melanjutkan aktivitasnya sementara itu Gladis sudah terbaring di bangku panjang.
"Yaampun leganya bisa tidur-tiduran." Gladis merenggangkan otot-ototnya.
"Langitnya juga biru, enak banget ngeliatnya."
Karna tempat duduk yang saat ini tengah Gladis tidur di bawah rindang pohon. Maka segelintir angin berhembus sesekali. Burung-burung berterbangan kesana kemari ada beberapa yang hinggap di atas pohon.
"Enak kalo jadi burung, bisa kesana kemari."
Tuk.
Gladis tersentak, saat sesuatu yang hangat menyentuh dahinya. Perasaan nya tidak enak. Tangannya bergetar memegang dahi dan....
"ISH t*i s****n!."
Gladis mual, bahkan sesekali ia hendak muntah.
"Aduuuh, ini bersihin nya gimana. Astaga burung s****n. Gak jadi deh mimpi jadi burung. Emang gak ada akhlaknya."
Gladis berlari mendekati danau tersebut dengan sesekali hendak muntah. Yang ia pikirkan sekarang, bagaimana kotoran ini bisa hilang di wajahnya.
"Huaaa....mama, kalo aku gak cantik lagi gimana dong."
Saat sudah hampir sampai di tepi danau, seseorang manarik pergelangan tangannya hingga membuat gadis itu berbalik.
"Anjeun gélo? Naon anu anjeun badé milarian, hoyong maot?."
Mulut Gladis terbuka lebar, matanya juga terbelalak seperti melihat hantu. "Ha-Haskara kan?."
"Mau ngapain kamu? Mau mati?."
Gladis berkedip polos, "Kamu kok disini.. Rumah kamu disini?."
"Saya tanya kamu."
"Eh ngomong-ngomong, kamu ngomong sama aku kali ini panjang loh, gak kayak kemarin."
"anjeun gélo." Haskara menghela nafas, "Dahi kamu, kenapa?."
Gladis terbelalak, "TUH KAN AKU JADI MALU!!!."
Haskara menutup kedua telinganya saat Gladis memekik kencang tepat dihadapannya.
"MATI AKU, MATII.. DIMANA AKU HARUS SIMPAN WAJAH AKU. HUUAAAA JADI JELEK KAN."
Gladis berlari kesana kemari tak tentu arah. Ia malu, sungguh malu. Mau dikemanakan muka nya ini. "Enggak, Haskara gak boleh liat muka aku." batinnya.
Gadis itu langsung berlari meninggalkan Haskara yang menatap punggung Gladis yang menjauh.
Haskara menghedikkan bahu acuh kemudian kembali berjalan meninggalkan tempat itu.
"MAMA.. MAMA..."
Mala berlari dari dapur saat suara Gladis memekik. "Ada apa nak?." ujarnya khawatir.
"Huaa... Mama aku malu.."
"Ih, dahi kamu kenapa?."
"INI t*i BURUNG MAMA... MANA AKU KETEMU HASKARA LAGI, HUAAAA."
"Ih jorok kamu, sana cuci muka." Mala bergidik geli.
Mata Gladis berkaca-kaca, dengan segera ia berlari meninggalkan Mala yang jijik di sana.
"Dasar t*i sialan... Bete banget kan."
Gladis meraih tissue, lalu mengelap kotoran itu, "Iiyuu... Jijik banget."
Kemudian ia beranjak kekamar mandi dan membersihkan wajahnya dengan sabun dan air berkali-kali.
"Muka gue gak cantik lagi." gumamnya kesal.
Sementara itu dibawah, Hardian memasuki rumahnya dengan kebingungan.
"Pa..."
"Apa ada Gladis?."
"Ada, diatas."
Hardiam menghela nafas lega, "Papa kira dia hilang, tadi ada di taman, pas balik lagi tau-tau udah gak ada."
Mala tersenyum, "Dia udah balik sambil teriak-teriak."
"Kenapa?." tanya Hardian.
"Didahinya ada kotoran burung."
Haridan tak kuasa menahan tawa akhirnya pecah, ia terbahak kencang sembari memukul pahanya.
"Seneng banget." ujar Mala.
"Dia.. Dia diajak lari gak mau, kualat anak itu." Hardian masih tak bisa menghentikan tawanya.
Mala menggelengkan kepala, kemudian kembali kedapur.
Hari sudah malam, bintang-bintang sudah bermunculan diatas langit bersamaan dengan bulan sabit. Semua lampu mulai hidup menyinari rumah dan jalanan.
Gladis terbaring duatas kasur dengan terlentang. Pikirannya berkelana untuk hari esok. Besok adalah hari senin. Gladis semakin gelisah saat ini. Bagaimana dengan besok.
"Apa yang bakalan aku lakuin besok. Mati aku..."
Berjalan kesana kemari sembari mengigit jemarinya. Kemudian terduduk di meja belajar.
"Oke, tarik nafas..." Gladis menarik nafas. "Hembuskan..." dia juga menghembuskannya. Dilakukannya sebanyak tiga kali.
"Huaa... Tuh kan, makin gak tenang."
Gladis beranjak lalu berjalan ke balkon. Berpegangan pada besi pembatas. "Besok, datang siangan aja. Gak apa kena hukun deh, bodo amat. Yang penting jangan ketemu Haskara dulu..."
"Gladis..."
Gadis itu tersentak kaget lalu membalikkan badannya. "Mama.."
"Kok kamu belum tidur? Udah jam sepuluh, besok kamu sekolah."
"Be-belum ngantuk ma."
Mala mengerutkan dahi, "Tumben, biasa jam segini udah molor."
"Gak tau, belum ngantuk aja. Mama ngapain kesini?."
"Kayak bisa, cek kamu." Gladis hanya mengangguk, "Ya sudah, tidur habis ini. Jangan begadang."
"Iya ma."
"Selamat malam sayang."
"Malam ma."
Gladis menghembuskan nafas kasar, lalu berjalan memasuki kamar dengan langkah gontai.
"Besok dipikirin aja. Aku ngantuk."
Gladis sudah bangun lebih dulu. Seperti ucapannya kemarin, gelisah, tidurnya tidak nyenyak. Gadis itu turun ke bawah dengan langkah gontai ini salah satu rencana yang ia buat.
"Mama..." panggil nya dengan suara pura-pura serak.
Mala menoleh, "YaAllah sayang, kamu kenapa? Kok pucat?."
Trik Gladis berhasil....
"Hari ini, Gladis gak sekolah dulu ya.."
"Kenapa, kamu sakit?" Mala hendak menyentuh dahi Gladis tapi gadis itu menghindar.
"Kenapa?." tanya Mala bingung. "Mama mau cek suhu tubuh kamu."
"Gladis sakit ma."
"Iya mama tau, makanya mama mau cek."
Gladis gelagapan. Ia melirik kesana kemari. Mala tau ini, wanita berusia empat puluhan itu menyipitkan mata.
"Kamu mau bohongi mama ya?."
"E-enggak kok ma, Gladis sakit."
"Ya sudah, sini. Mama mau cek, kenapa menghindar?."
Gladis gagal.
"Ma..."rengek nya."
"Mama tau, kamu bohong kan." Mala menghela nafas, "Kamu ini, baru hari ke tiga sekolah sudah malas, kamu itu siswi baru, sayang. Jangan ngada-ngada buat gak sekolah, apalagi dengan alasan sakit. Nanti sakit beneran, emang mau?."
Gladis menggeleng lemah sembari menunduk, "Kenapa kamu gak mau sekolah?."
"Sebenarnya enggak kenapa-napa sih ma, cuma Gladis malu."
"Kamu malu kenapa? Ada yang jelek-jelekin anak mama yang cantik ini?."
Gladis kembali menggeleng, "Bukan."
"Terus kenapa?."
Gadia itu menghela nafas, "Kejadian kemarin itu loh..." Gladis menunjuk dahinya.
"Oalah, kamu malu karna itu?." anak itu mengangguk.
"Kenapa harus malu? Dia kan gak tau."
"Tau lah ma pasti, itu kan kotoran burung."
"Ya sudah pakai masker aja, gampang kan."
"Masih malu."
"Sudah, naik ke atas. Siap-siap sana. Nanti terlambat. Mau kena hukum bersihkan toilet?."
Gladis hanya bisa pasrah, akhirnya anak itu kembali menaiki tangga dan masuk kekamarnya.
"Gagal." gumama Gladis.
Mala yang berada di bawah hanya tersenyum geli, "Anak jaman sekarang..."
Lima belas menit lagi, bell sekolah akan berbunyi. Gadis itu-Gladis berjalan mengendap-endap seperti maling. Banyak pasang mata menatap nya heran. Tapi gadis itu tidak memperdulikannya. Ia terus berjalan sesekali manatap sekitar, takut-takut Haskara melihatnya, walaupun nanti tetap terlihat juga.
Sebentar lagi, ia akan mencapai ruang kelasnya. Dan sejauh ini selamat, ia tak melihat Haskara dimanapun.
"Huft... Beruntung.."
DUG.
"Aduuh..." Gladis terduduk saat dahinya menghantam sesuatu yang keras.
Gadis itu mendongak. Haskara didepannya dengan tatapan tajam dan wajah datarnya.
"Tuhkan, ketemu..." rutuknya.
Haskara hanya menatap Gladis, kemudian berlalu menuju kelasnya.
"Haskara pasti jijik. Huaaa, mampus aku." cepat-cepat Gladis mebersihkan roknya lalu berlari menuju kelas.
Sebentar lagi akan upacara bendera, daripada dirinya kena hukum, lebih baik cepat-cepat.