Akhirnya upacara bendera selesai, setelah tadi panas-panasan dan berdiri lama, kini saatnya wali kelas datang dan memeriksa semua murid nya.
Suasana kelas tampak berisik, mereka juga sama, tengah menunggu kedatangan walikelas yang siap mengabsen mereka.
"WOI, INI MANA YANG BELUM BAYAR UANG KAS!"
Glados menoleh, seorang gadis berhujab tengah berdiri didepan kelas dengan buku dan pena dikedua tangan nya.
"KALO KALIAN GAK BAYAR MAH GAK MASALAH, TAPI NANTI BERURUSANA SAMA WALI KELAS YA." teriaknya lagi.
Gladis melirik Haskara yang tampak tenang, tak terganggu dengan suasana kelas yang ribet. Sejujurnya, saat ini pinggangnya sakit, karna duduk terlalu kaku.
"Jangan liat saya."
Gladis tersentak kaget, saat suara Haskara yang berat itu masuk kedalam pendengarannya.
"Y-yang ngeliatin siapa sih. Gak ada." Haskara tak menjawab.
"Pagi anak-anak."
Suara wali kelas, membuat mereka semua bergegas ke tempat duduk dan duduk dengan rapi.
"Pagi bu."
Beruntungnya pagi ini, pelajaran mereka seni budaya, dan gurunya itu adalab wali kelas ini.
Guru wanita itu meletakkan bukunya diatas meja kemudian menatap murid nya.
Dia tersenyum, "Seperti minggu lalu ya, ato siapa yang masih berhutang?"
Si bendahara berdiri sembari membawa buku yang dipegang nya. "Ini bu."
"Terimakasih." ia mulai membuka lembaran kemudian memeriksa nya.
"Wah masih banyak yang belum bayar uang kas, ini gimana?"
"Mereka emang gitu bu, ditagih malah kabur, ditagih malah kasih alasan ini lah itu lah, mereka juga kebanyakan janji_janji doang bu." celetuk si bendahara.
Gutu itu menggeleng, "Masa harus saya tagih setiap minggu sih, kalian ini gak berubah. Sekarang ayo bayar, ibu juga cek siapa yang belum bayar uang spp."
Mulai lah kelas diributkan dengan anak laki-laki yang berjalan kedepan untuk menherahkan uang lima ribu untuk kas. Kebanyakan yang payah bayar itu anak laki-laki ya. Sama kayak di sekolahan author dulu.
" Ini yang belum bayar spp siapa? "
" Iya bu, ini juga mau bayar."
"Yang mau bayar spp, langsung turun."
"Gladis Rahardian Kumala."
Glados yang sedaritadi diam, tersentak, rupanya ia juga belum bayar uang spp.
"I-iya bu."
Gladis berjalan kedepan kemudian mengeluarkan uang sepuluh robu, "Saya bayar sampai minggu depan aja bu."
"Nah, ini patut di contoh, gak kayak kalian, bandel."
Setelah itu Gladis kembalu ke tempat duduk. Ia melirik Haskara yang sibuk dengan buju bagian belakang nya. Entah apa yang dilakukan cowok itu tapi Gladis bisa tebak, cowok itu sedang menggambar.
"Baiklah, ini sudah kelar dalam urusan bayar membayar kan? Kita lanjutkan belajarnya."
Gladis melirik Haskara yang mengeluarkan buku lks, sementara dirinya hanya buku kosong saja.
"Buka halaman 15, disana ada 20 soal. 15 soal pilihan ganda dan sisanya esaay, kalian kerjakan sekarang ya."
Gladis melirik Haskara takut-takut.
"Naha?."
"Ha?."
Haskara berdecak malas. Duduk dengan cewek yang super lelet, menyebalkan dan banyak omong ini. Laki-laki itu meletakkan buku lks ditengah-tengah meja.
"Kerjakan."
"Eh, iya iya."
Gladis membuka buku tulisnya, tangannya yang bergetar itu membuatnya kesulitan menulis, akhirnya ia melepaskan kembali pena itu lalu menarik nafas panjang-panjang.
"Haskara." panggilnya.
Haskara tak melihat, cowok itu hanya mengangguk sekali, bahkan kecil.
"Aku mau tanya."
"Bukan waktunya."
Dua kata itu membuat bibir Gladis manyun, "Sebentar aja kok."
"Apa?." tanya Haskara masih tidak melihat Gladis.
"Kamu kemarin kok bisa ketemu aku?."
"Gak penting."
"Ish, Haskara. Jawab aja kenapa sih. Kesel banget."
"Udah gak penting."
"Itu buat kamu, tapi buat aku itu penting. Ayolah, tinggal jawab doang."
"Ini waktu belajar."
Gladis cemberut, ia meraih pena dengan kasar lalu membelakangi Haskara.
Sementara cowok itu, melirik Gladis sebentar lalu menggeleng kecil dan kembali pada aktivitasnya.
Pergantian jam pelajaran membuat para murid dikelas berkeluyuran kesana kemari.
Ada yang tengah menggoda para perempuan. Ada yang duduk di pojokan, ada juga yang menelungkupkan kepala diatas meja.
Sementara itu, untuk Haskara dan Gladis, keduanya sama-sama diam. Gladis menatap kedepan dengan menopang wajahnya dengan sebelah tangan.
Sementara Haskara menyumbatkan kedua telinyanya dengan headset. Laki-laki itu sibuk dengan ponselnya. Padahal yang Gladis baca dari peraturan disekolah adalah 'Tidak boleh bermain ponsel.'
Entahlah, dia tidak mengerti. Biarkan saja, Gladis masih kesal pada cowok itu.
"Eh, guys ada info nih. Pak Bambang gak masuk nih, katanya anaknya sakit. Jadi kita di kasih tugas sama pak Bambang buat kerjain soal di buku paket halaman..."Cowok didepan itu membuka buku paket," Halaman 167. Nanti di kumpul pas keluar main."
Yang lain pada bersorak gembira. Suasana kelas sepeti pasar, ada yang bergendang, berjoget diatas bangku bahkan ada yang memekik girang.
Sementara itu Haskara meraih buku paket, lalu berjalan meninggalkan kelas.
"Lah lah... Kok dibawa bukunya, aku gimana dong.." Gladis meraih buku tulis beserta pulpen kemudian berlari menyusul Haskara.
"Haskara, tunggu."
Ternyata, Haskara berjalan ke taman belakang sekolah. Laki-laki itu duduk disalah satu bangku taman dengan nyaman.
"Ish, Haskara. Kok kamu bawa buku paketnya sih, aku kan juga mau ngerjain."
Haskara tak merespons. Gladis mencak-mencak dibelakang Haskara.
"Eh, iya. Dia kan pakai headset." Gladis menepuk jidatnya pelan. Lalu menarik headset Haskara membuat laki-laki itu tersentak kaget.
"Eh eh.. Maaf kamu kaget ya. Aku gak niat bikin kamu kaget."
Haskara berdecak kesal, "Ngapain?."
"Itu.." Gladis menunjuk buku paket.
"Kenapa gak pinjem sama yang lain sih."
"Aku kan gak kenal mereka, aku cuma kenal kamu. Jadi aku sama kamu."
Haskara sungguh malas. Cowok itu menggeser duduknya lalu meletakkan buku paket ditengah-tengah.
"Boleh kan?."
Haskara hanya berdeham saja mempertandakan bahwa Gladis boleh ikut mengerjakan.
"Makasih Haskara. Nanti kalo buku paket aku udah dateng, aku gak ganggu kamu kok."
"Janji."
Gladis menoleh, lalu menyengir lebar, "Gak janji."
Haskara mendengus, kembali melanjutkan aktivitasnya.
Sementara itu, Gladis memandangi Haskara dari samping. Sejujurnya, saat dirinya memandangi Haskara, entah kenapa seperti ada yang bergetar dalam dirinya.
Sosok Haskara didepannya sungguh-sungguh membuat jiwa kepo nya bangkit.
Ia ingin tau, bagaimana sosok Haskara yang sebenarnya. Apa benar yang dikatakan orang-orang tentang Haskara yang dingin dan tidak suka diganggu itu.
"Kerjain. Bukan liatin saya."
Gladis mendengus, "Kamu kenapa panggil diri kamu dengan sebutan saya. Terlalu formal."
"Terserah saya."
"Tuh, saya lagi kan. Coba ganti, aku-kamu."
Haskara menoleh, menatap Gladis dengan tajam.
Bulu kuduk Gladis meremang, "Jangan tatap aku kayak gitu, nanti kamu jatuh cinta."
Haskara mendengus kesal.
"Aku serius soal tadi, kalo kamu mau, kamu bisa gunain itu saat sama aku aja. Kalo didepan orang lain, silahkan aja kayak sebelumnya."
Haskara kembali menatap Gladis yang tersenyum manis dan tampak sekali isyarat tulusnya.
Alis tebal Haskara sedikit mencuram, hampir menyatu. Kemudian mengalihkan tatapannya kebuku dan melanjutkannya.
Gladia tau sedikit, bahwa Haskara akan luluh jika diajak berbicara dengan baik.
"Kamu mau kekantin gak?." tanya Gladis.
"Gak."
Gladis memanyunkan bibirnya, "Antari aku kalo gitu. Aku gak tau kantin" bohongnya.
"Sendiri aja, saya sibuk."
Gladis mendengus kesal, lalu menghentakkan kakinya dan meninggalkan kelas yang diisi beberapa orang. Haskara menatap punggung Gladis dengan tatapan tajamnya.
Gladis sudah sampai di kantin, suasana yang ramai membuat Gladis harus berhati-hati. Karna tubuhnya yang kecil dan pendek beberapa orang yang mengantri didepan sana selalu menabrak bahu cewek itu membuatnya mundur beberapa langkah.
Dari jauh, Bara menatap punggung Gladis dengan terkekeh, "Kamu kecil, jadinya terdorong terus." gumamnya.
Ia berjalan mendekati Gladis. Saat cowok didepan Gladis berbalik dan menabrak tubuh Gladis membuat cewek itu oleng dan dengan segera Bara menangkap tubuh Gladis.
"Eh, sorry aku gak liat."
"Lain kali hati-hati." ujar Bara dengan tajam.
"Sorry, aku kan gak liat."
Bara tak menjawab, ia membantu Gladis untuk berdiri.
"Hai Bara. Makasih ya."
"Sama-sama. Lain kali harus belajar menyeimbangkan diri."
"Kamu ngejek aku ya. Iya tau, aku kecil jadi jangan ejek dong. Itu namanya body shimming."
"Aku enggak ngejek kamu, cuma memberikan saran."
"Iyain iyain."
"Kamu mau apa? Sini biar aku beliin aja. Kamu tunggin disana."
"Beneran? Huaa.. babang Bara memang the best."
Bara terkekeh, "Apa ni?."
"Aku mau sari roti aja dua yang rasa keju. Sama lay's deh."
"Itu aja?." Gladis mengangguk. "Air minum?."
"Ah iya, satu aja yang dingin ya."
"Siap. Ditunggu ya neng."
"Iya mas." Gladis terkekeh.
Bara menerobos kerumunan lalu menghilang. Sementara Gladis menunggu sembari bersidekap d**a.
Tak lama, Bara kembali dengam membawa pesanan nya dan pesanan laki-laki itu.
"Yey, makasih Bara."
"Sama-sama."
"Ayo balik ke kelas."
"Ayo."
Keduanya berjalan hingga persimpangan kelas, Bara naik kelantai dua sementara Gladis meneruskan langkahnya.
Sesampainya dikelas, ia melihat Haskara menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan.
Gadis itu tersenyum jail, berjalan perlahan tanpa menimbulkan bunyi. Begitu sampai di mejanya. Ia meletakkan bungkus sari roti diatas meja.
Ia terkikik kecil, tangannya berada diatas setinggi mungkin kemudian...
DOR..
Bungkus itu meledak saat Gladis pukul membuat gema diruangan. Haskara tersentak kaget dengan mata merahnya.
"Ka-kamu tidur ya? Maaf, aku gak tau." ujar Gladis merasa bersalah.
Haskara memejamkan matanya saat rasa pusing hinggap dikepalanya.
"Jadi pusing ya. Ini dimakan dulu, aku ke UKS minta obat pusing ya. Sebantar."
Gladia berlari keluar kelas dengan cepat. Haskara menatap Gladis yang tampak khawatir. Setelah Gladis menghilang dari pandangannya, matanya turun menatap bungkus saru roti yang gepeng karna Gladis memukulnya.
Tanpa sadar, ia terkekeh kecil. Kemudian meraih bungkusan itu dan menyobek nya.
Gladis kembali dengan nafas tak tentu. Ia memberikan obat itu pada Haskara.
"I-ini obatnya. Di-diminum." Gladis meraih botol air mineral yang dingin itu lalu meneguknya.
"Argh...lega." gumamnya, "Eh, sudah di makan. Bagus. Ini obatnya. Diminum biar gak pusing. Soalnya pulang masih lama."
Haskara hanya menatap tangan Gladis dan wajah gadis itu bergantian. Melihat ada keringat didahi Gladis lantas cowok itu meraih tasnnya. Dan memberikan sapu tangannya pada Gladis.
"Eh, apa ini?."
"Dahi mu."
Gladis melirik dahinya, "Oh keringat..." sat ide terlintas. "Lap in dong, aku capek."
Haskara meletakkan sapu tangan itu diatas meja. "Gak."
"Ish, pelit. Gitu ya ternyata balas budi sama aku."
"Punya tangan kan, gunain aja."
Ucapan Haskara sungguh pedas sekali, melebihi cabe rawit. Dengan kasar, Gladis meraih sapu tangan itu lalu mengusap dahinya kasar.
"Kesel aku sama kamu."
"Sama."
"APA?!."