7. Cerita dari satpam sekolah

1267 Kata
Gladis menunggu jemputan di depan gerbang sekolah. Supirnya mengatakan bahwa mobil yang tengah di kendarai mengalami mogok. Jadilah dirinya disini dengan bosan. Gladis duduk di bangku yang di berikan oleh satpam sekolah, kedua tangannya berada disamping tubuh lalu kakinya mengayun. Gladis cemberut, "Masih lama ya? Apa aku naik taksi aja?." "Neng, anjeun teu acan angkat deui?." "Maaf pak?." tanya Gladis bingung. "Ah, maaf neng, saya lupa. Itu neng nya belum dijemput kah? Sekolah sudah lumayan sepi, tinggal yang ikut ektrakulikuler aja yang tersisa." Gladis menoleh ke jalanan, lalu kembali menatap satpam itu, "Kayaknya masih lama pak. Jemputan saya masih dijalan, katanya mogok." "Oh begitu, bapak temani aja ya, pasti bosan kan sendirian." Gladis tersenyum, satpam yang biasa di panggil kang Mamang ini sangat akrab dengan para murid. "Iya pak. Boleh." Kang Mamang meraih satu bangku lalu duduk disamping Gladis, "Neng nya pindahan dari mana?." "Dari Jakarta pak." "Lumayan deket ya." "Kayak nya begitu pak. Gak pernah ke Bandung soalnya." Kang Mamang mengangguk, "Kenapa bisa pindah disini, neng?." "Papa saya pindah tugas pak. Jadi mama dan saya juga ikut papa." "Pindah tugas?." ujar kang Mamang, "Berarti sering ya?." Gladis mengangguk, "Iya pak. Ya gitulah pak. Mau gak mau kan ya." "Iya neng. Tapi neng nya beruntung sekolah disini." "Oh ya?." Gladis kembali kepo. "Iya." kang Mamang menyerongkan tubuhnya, "Dulu mah, ini sekolah gak sebagus sekarang. Sekrang sudah kayak begini udah beuh... Ajib lah neng." "Wah, berarti bapak sudah lama disini." Kang Mamang mengangguk, "Iya neng. Murid-murid disini tuh enak, merekanya asik gitu." "Ah, sayang. Gladis belum punya banyak temen pak." "Lah masa? Kenapa begitu neng?." "Enggak tau pak. Bahkan Gladis cuma kenal satu, eh enggak, maksudnya dua orang aja." "Siapa neng? Mana tau bapak kenal. Nengnya jangan takut buat temenan sama yang lain. Mereka baik-baik kok." "Iya pak, Gladis bakalan usahain buat temenan sama siapa aja." ujar Gladis, "Yang Gladis kenal cuma Bara sama Haskara." "Bara?." Gladis mengangguk, "Sebentar ya neng, bapak inget-inget dulu yang namanya Bara." kang Mamang mencoba mengingat sosok Bara. "Oh.. den Bara." Gladis mengangguk kembali, "Itu mah siswa terpintar sekaligus si pendonasi terbesar di sini." Gladis terbelalak, "Iya pak? Bapak gak bohong kan? Masa iya Bara mau temenan sama aku sih. Bapak gak salah orang kan?." "Den Bara disini cuma ada 1 neng, ya Bara Alwi Sanjaya." "Bara Alwi Sanjaya." gumam Gladis, "Donatur terbesar." Kang Mamang mengangguk, "Den Bara memang anak nya gak pilih-pilih neng, dia mau temenan sama siapa aja kok. Anak nya juga sering kesini nganter makanan buat bapak." Tanpa sadar, bibir Gladis menyunggingkan senyum, lalu tangannya terkepal tanda gemas. "Aduuh, jadi meleleh aku..." Kang Mamang terkekeh, "Den Bara memang banyak yang suka. Tapi, den Bara gak pernah keliatan sama cewek, dia selalu sendiri. Tapi kalo pun keliatan, itu cuma lagi belajar bareng." "Aa... Tuh kan makin meleleh." Gladis menutup wajahnya. "Berarti neng nya spesial nih.." Goda kang Mamang. "Ish, bapak. Belum tentu." "Ah iya, satu lagi siapa neng?." "Haskara, pak." "Haskara?." kang Mamang langsung tersenyum. "Haskara yang selalu sendiri itu?." Gladis sedikit mengerutkan dahi kecil, lalu mengangguk. "Haskara memang begitu dari kelas satu. Tapi sejujurnya dia orang baik. Enggak tau kenapa dia selalu sendiri. Mamang pernah tanya sama temen sekelasnya, dan katanya, anaknya memang gak suka diganggu. Lebih suka menyendiri di taman kalau enggak di rooftop. Anak nya juga pinter, dari kelas satu sampai sekarang selalu jadi siswa unggul begitu juga Bara." Gladis terdiam. Merasa ada sesuatu yang menjangal atas ucapan kang Mamang. Haskara selalu menyendiri. Memang, yang ia lihat selama beberapa hari ini begitu. Atau mungkin... Ada sesuatu di balik itu semua. "Mamang pernah liat dia bicata sama siapa gitu?." Kang Mamang menggeleng, "Anaknya gak gitu neng, setiap Mamang perhatiin, di telinganya ada sesuatu. Enggak tau itu apa." Gladis terkekeh, "Itu headset pak." "Iya mungkin neng. Tapi kadang, bapak suka kasihan sama Haskara. Masa iya gak ada yang mau berteman dengan laki-laki seperti Haskara." "Ada kok pak." Gladis menunjuk wajahnya. "Aku." "Iya, neng nya baru kan?." "Iya juga." Tin tin. Keduanya menoleh. "Eh, pak saya pulang dulu ya, sudah di jemput. Makasih pak sudah nemenin. Assalamu'alaikum." "wa'alaikumsalam. Hati-hati neng." "Iya pak." "Gladis, bantu mama nak!."pekik Mala. Gladis yang ada dikamar langsung meletakkan novelnya dan turun kebawah. "Mama dimana?." "Dapur." sahut Mala. Gladis berjalan ke dapur, dilihatnya sang mama tengah sibuk kesana kemari dengan tergesa-gesa. "Kenapa ma?." "Itu nak, bantu mama siapkan ini semua di meja. Cepet." "Ih, mama sabar. Kenapa sih keburu-buru amat." "Liat aja nanti. Kamu bakalan suka. Ayo cepet bawa ke meja." "Iya iya ma." Gladis membawa piring lalu meletakkan nya diata meja. "Itu, ambil piringnya terus susun didepan setiap kursi." "Ada siapa sih ma? Kok tumben." "Ada deh, kamu bakalan liat sendiri." Gladis cemberut, "Berapa banyak?." "Empat aja." Gladis mengambil piring yang di berikan bibi. "Sudah ma." "Itu jangan lupa air minum nya." "Air minum apa?." "Buatkan sirup aja." "Rasa apa?." "Terserah." "Air kobokan aja ma." "Gladis." "Mama di tanya jawab terserah, ya mana Gladis tau." ucap Gladis kesal. "Itu aja rasa jeruk." "Iya iya." Gladis berjalan ke arah pantry, "Bi, minta batu es nya ya." "Siap non." Bibi mengambil batu es lalu memberikannya pada Gladis. "Ini non." "Makasih bi." Teng tong... "Ah sudah dateng sudah dateng." ujar Mala semangat. Gladis mengerutkan dahi semakin dalam, saat mamanya berjalan kearah pintu sembari berlari kecil. Ia yang memiliki jiwa kepo akhirnya mengikuti. "Ah sayang apa kabar..." Mala memeluk seseorang. Dan orang itu melihat keberadaan Gladis. "Hai adik kecil." Mata Gladis terbelalak, mulutnya ikut terbuka. "BANG IAN?!." Gladis langsung berlari menubruk tubuh laki-laki jangkung dengan seragam kebanggaan nya. "BANG IAN PULANG... BANG IAN PULANG.." Laki-laki yang di panggil Ian itu terkekeh sembari memeluk tubuh adiknya yang kecil. "Seneng gak?." Gladis mengangguk didalam pelukan, "Seneng, seneng banget. Huaaa Gladis rindu." Mala dan Hardian menatap kedua anaknya yang saling melepas rindu. Hardian pualng sedikit larut karna menunggu putranya di bandara. "Ayo Gladis, biarkan abangmu membersihkan diri dulu." ucap Hardian. "Enggak boleh, bang Ian harus peluk Gladis dulu sampai puas." "Abang capek loh, nak." ujar Mala. "Iya, abang capek?." tanya Gladis sembari mendongak, Ian mengangguk kecil. Gladis melepaskan pelukannya," Yaudah, bang Ian mandi dulu. Badannya bau...ishh..."ujar Gladis sembari menutup hidungnya. "Bau, tapi gak mau lepas." "Sana mandi..." Gladis mendorong punggung Ian. "Sebentar ya ma pa. Ian mandi dulu." "Iya iya" Gladis berloncat ria persis seperti anak kecil yang diberi permen oleh ibunya, "Ye ye bang Ian pulang.. Ye ye bang Ian pulang." Mala tersenyum, "Ayo nak, ke meja makan." Setelah makan malam selesai, Gladis kembali ke kamarnya dengan cepat, lalu meraih ponselnya dan kembali turun ke bawah. "Jangan lari-lari dek." "Iya abang Ian yang jelek." Mala mengerutkan dahinya, "Kamu ngapain nak?." "Kan, bang Ian pulang. Gladis mau bikin instastory di i********:, mau kasih ke temen-temen kalo bang Ian pulang." Mereka hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. Gladis memilih boomerang lalu mencari effect i********: yang bagus. "Ayo bang, ini boomerang ya. Mama papa mau ikut gak!" tanya Gladis pada kedua orang tuanya.  "Enggak, kalian aja." Gladis mulai mengarahkan kameranya, "Siap, 1..2..3" Satu boomerwng akhirnya selesai, Gladis menatap boomerang itu lalu tersenyum puas. "Cantiknya, anak siapa ini." ujar Gladis disambut gelak tawa. "Iya ya, anak siapa coba? Mama gak ngerasa kalo kamu anak mama." Gladis menoleh dengan cemberut, "Apa sih, entar Gladis ngambek loh." "Ngambek aja sana. Biarin." "Ish." Ian terkekeh, lalu mengusap puncak kepala Gladis. "Kamu makin kurus aja." "Enggak kok, Gladis ngerasa gemukan sekarang." "Gemukan darimana coba?" "Ih iya tau, soalnya kalo jalan Gladis sering ngerasa capek." Ian menoyor dahi Gladis dengan telunjuknya, "Itu emang kamu nya yang males gerak." Gladis terkekeh, "Santuy bang."  Mala menatap Ian, "Gimana disana?." "Alhamdulillah baik ma." "Berapa lama bang Ian pulang?." tanya Gladis. "Ceritanya ngusir?." "Eng..enggak. Bukan gitu." "Cuma sebulan doang. Abis itu harus berangkat lagi." "Kemana?." "Perbatasan." Gladis menunduk sedih. Bang Ian atau lebih lengkap Brian Revalo Hardian. Anak pertama yang bekerja sebagai abdi negara. Ia sedih dan takut jika abang nya kenapa-kenapa disana. "Abang harus jaga diri, jangan sampe kenapa-napa." Ian menatap Gladis yang tengah menatapnya sedih, "In syaa Allah ya. Kamu doain abang." Gladis mengangguk, "Pasti." "Sudah, jangan sedih-sedih. Ini waktunya kumpul riang." Galdis langsung mengubah moodnya. Anak itu mudah sekali mengubah mood. "GIMANA KALO MALAM INI KITA GAK TIDUR, KITA NONTON FILM BARENG-BARENG." pekik Gladis. "Enak aja ngomong, kamu besok harus sekolah. Kamu itu susah dibangunin. Entar telat, mama pula yang kamu salahi." Gladis cemberut, "Yah.. Kan nama nya juga ngumpul." "Enggak. Lagian kan abang kamu sebulan, masih banyak waktu." Akhirnya mereka mengikuti perkataan ibu negara ini, jika tidak, jangan harap besok pagi menatap senyum wanita ini, yang ada Mala akan terus menekuk muka nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN