8. Keanehan Haskara

1610 Kata
Pagi ini langit kota Bandung tampak gelap, diselimuti oleh awan hitam yang mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Gladis sudah siap di teras rumah dengan jaket ungu yang melekat di tubuh nya, ia tengah menunggu abangnya yang tengah diatas. "ABANG BURUAN." serunya. Mala berdiri disamping Gladis sembari membenarkan rambut hitam panjang anaknya. "Belajar yang bener ya." Gladis mengangguk, "Iya ma." "Ayo dek." Gladis meraih tangan Mala, "Gladis pergi dulu. Dah ma.." "Hati-hati ya Ian." "Siap ma." "Yey dianter bang Ian." Mala dan Ian hanya terkekeh melihat tingkah Gladis yang tak berubah. Mala melambaikan tangannya saat mobil itu bergerak meninggalkan rumah. Selama di perjalanan, Gladis tak hentinya bersenandung mengikuti lagu yang ada tengah diputar. "Kamu pulang jam berapa?." "Abang mau jemput?." "Kayak nya." "Ish..." Gladis mencibir, "Nanti di kabari kalo udah pulang." "Iya deh." Jalanan cukup padat karna orang-orang menggunakan mobil untuk aktifitas. Jadi cukup terhambat perjalanan mereka. Setelah lima belas menit di jalan, akhirnya sampai juga disekolah.  Gladia meraih tangan bang Ian lalu mencium nya. "Baik-baik di sekolah." "Siap pak tentara." ujar Gladis sembari memberikan hormat. Ian terkekeh, "Ya sudah, masuk sana." "Dah bang Ian." Gladis melambaikan tangannya. Gadis itu berjalan hati-hati karna angin berhembus cukup kencang, hingga ia harus menahan rok nya untuk tidak terbuka. Dan juga takut terjatuh karna licin. "Pagi neng Gladis." sapa kang Mamang. "Eh, pagi pak. Duluan ya pak." "Iya neng." Beberapa orang berada didepan dan di belakang Gladis yang hendak berjalan kekelas mereka. Hujan langsung turun dengan deras membuat orang-orang berlarian dengan cepat agar tidak basah. Mata Gladis menangkap parkiran motor disana ada Haskara yang tengah berlari kencang dengan wajah pucatnya. Gladis mengikuti arah lari Haskara dan tak lama cowok itu menghilang. "Mungkin aja ke kelas." pikir Gladis. Cewek itu berjalan menepi di koridor karna angin membawa hujan menerpa tubuhnya. Begitu sampai di kelas, ia melihat bahwa bangku Haskara masih kosong, tandanya cowok itu tidak kekelas. "Mungkin aja ke toilet." pikir Gladis positif. Lima menit lagi, jam pelajaran akan di mulai, tapi Haskara belum muncul juga. Gladis melirik bangku sebelahnya dan jam tangan bergantian lalu menatap pintu. "Dia kemana sih? Aku kan gak ada buku paket." gumam gadis itu. Kedatangan seorang guru laki-laki membuat kericuhan kelas mendadak sunyi. Semuanya kembali duduk ketempat masing-masing "Selamat pagi." "Pagi pak.." Guru laki-laki itu meletakkan buku-buku keatas meja lalu kembali menatap para murid. "Seperti biasa, sebelum mulai pelajaran. Apa ada yang tidak masuk?." Semua nya langsung memperhatikan satu sama lain. Memastikan apa ada yang tidak masuk. Begitu juga Gladis, gadis itu menatap bangku kosong du sebelahnya. "Yang di belakang sekali." Gladis mendongak dengan kaget. Semua mata memandangnya. "I-iya pak." "Anak baru itu ya?." Gladis mengangguk kaku. "Bangku disebelah kamu kosong, kemana orang nya?." Gladis terdiam, ia tidak tau dimana Haskara berada. Guru laki-laki itu menghela nafas. "Raga, cari Haskara sekarang. Kalau tidak, kita tidak akan memulai pembelajaran." Cowok yang dipanggil Raga itu menatap teman-temannya seolah meminta bantuan. Gladis mengerutkan dahi tipis. "Kenapa dia gak mau cari Haskara? Apa mereka gak berteman dengan Haskara juga? Kalau iya, keterlaluan banget sih." batin Gladis. Gladis mengangkat tangannya. "Pak." "Ya?." "Biar saya aja yang cari Haskara." ujar Gladis sembari melirik Raga dengan tajam. "Kamu tau di mana dia?." "Enggak, makanya saya mau cari." Guru itu menghela nafas, "Baiklah, silahkan." "Makasih pak." Sejak pukul enam pagi, Haskara sudah bersiap tapi hanya berdiri didepan jendela kamarnya dengan wajah pucat. Cuaca pagi ini sangat mendung. Awan hitam sudah mengumpul diatas sana dan siap menurunkan airnya ke bumi. Semalam,Haskara sudah memastikan bahwa hari ini akan berawan. Ia melihat diponsdlnya, yaitu tentang cuaca, dan diponselnya mengatakan berawan. Tapi semua salah, tau-tau pagi ini malah mendung. Kedua tangan nya mendingin, pintu kamar terbuka menampilkan sosok bibi yang menatapnya dengan cemas. "Den." Haskara tidak menjawab, cowok itu berbalik dengan perlahan. Bibi menatap wajah anak laki-laki yang sudah ia rawat itu. "Jangan kesekolah ya den, dirumah aja." Haskara mengedipkan matanya dengan cepat, lantas menggeleng. "Den." "Ak-aku kesekolah aja." Bibi tidak bisa membantah, wanjta tua itu hanya mengangguk kemudian masuk kedalam kamar, meraih tas hitam Haskara. "Hati-hati den, mau bibi siapkan bekal?" Haskara kembali menggeleng. Bibi mengangguk. Wanita itu membiarkan Haskara berjalan layaknya zombie. Sejujurnya, ia khawatir, selama beberapa tahun ini, anak itu harus bergantung pada ramalam cuaca yang tidak pasti itu. Tapi ia bisa apa. Perjalanan dari rumah menuju sekolah Pancamuri, terasa sangat lama. Ditambah dengan para manusia yang keluar dengan kendaraan beroda empat, membuat semuanya terasa sangat lama. Haskara melajukan motor merah besarnya saat rambu lalu lintas berubah menjadi hijau. Cowok itu tak perduli jika dirinya ditilang. Yang terpenting saat ini ia harus cepat sampai kesekolah dan mencari tempat perlindungan agar air hujan ini tak setetes pun menyentuh tubuhnya. Sekolah sudah ada didepan mata, cowok itu menekan klakson dengan manjang, membuat murid segera menepi. Sayang nya, doa nya tidak terkabulkan, hujan mulai turun dengan deras. Haskara memarkirkan motornya dengan tergesa-gesa. Lalu berlari sembari meletakkan tasnya diatas kepala. Air mata itu luruh begitu saja bersamaan dengan hujan menyentuh tubuhnya. Gladia tak tau di mana ia harus mencari Haskara. Gadis itu melihat kesana kemari dengan bingung, sesekali ia menggaruk pipinya. "Kalo aku cari di rooftop itu gak mungkin, apalagi di taman." Gadis itu berjalan ke arah tangga rooftop. Kemudian berhenti. "Apa di toilet? Masa aku masuk, ya gak mungkin apa kata dunia tentang seorang Gladis Rahardian Kumala masuk ke toilet cowok." Gladis kembali menggaruk pipinya,tangannya mengeratkan jaket saat udara berhembus kencang. "Kemana ya?." Gladis terdiam sesaat. "Gudang?." Entah kenapa, otaknya menyerukan satu tempat itu. Alisnya sedikit mencuram kedalam, "Masa iye siih..." Gladis akhirnya memilih kata hati, kata orang, ikuti kata hati. Jadi ia mengikuti kata hati. Gadis itu berjalan menuju pos satpam, tempat kang Mamang berada. Tampak laki-laki paruh baya itu tengah duduk dengan kopi dan koran. "Pak." "Ah, neng Gladis." kang Mamang meletakkan korannya lalu menghampiri Gladis. "Kenapa neng? Kok keluar jam pelajaran?." "Em.. Anu..Itu... " "Naon neng?." "Bapak tau dimana gudang?." "Gudang? Tau. Kenapa neng?." "Bisa antari Gladis ke sana?." "Neng mau ngapain? Ambil bangku atau meja?." "Eng... Enggak, pokoknya bapak anterin aja, bisa kan?." "Bisa-bisa, sebentar neng." kang Mamang mengambil payung berwarna kuning lalu membuka nya. "Ayo, bapak anterin." Gladis dan kang Mamang berjalan sesuai arah dimana terakhir kali Gladis melihat Haskara berlari. "Didepan sana gudang nya, neng." kang Mamang merogoh saku celana. "Ini kunci gudang, neng." "Bapak gak mau anteri kesana?." tanya Gladis tampak takut melihat keadana luar gudang tersebut . "Bapak musti keliling, neng. Mau liat keadaan." kang Mamang menyodorkan payung nya pada Gladis, "Bawa aja neng. Bapak pergi dulu." Gladis hendak memanggil kang Mamang, tetapi laki-laki paruh baya itu sudah keburu jauh. Gadis itu kembali menatap gudang didepannya. "Santai Gladis santai... Semua bakalan baik-baik aja. Ini demi Haskara, Eh..." Gladis menggelengkan kepalanya, "Apaan sih. Makin ngawur aja." gumamnya. Ia berjalan perlahan, karna rumput itu tengah digenangi air hujan. Begitu sampai didepan pintu gudang, Gladis meletakkan payungnya. "Bismillah. Aman kok aman." ucapnya menyakinkan diri. Ia memasukkan kunci itu yang ternyata pintu itu tidak terkunci sama sekali. "Lah, gak kekunci. Artinya..." Gladis membuka lebar-lebar pintu gudang, "Haskara..." Tak ada jawaban. "Haskara, kamu didalem gak?." Masih tidak ada jawaban. "Jawab, jangan bikin aku takut." Pletak. Suara benda jatuh dari sudut ruangan membuat Gladis berdebar kencang. Gadis itu mematung sesaat. "Kamu disana?." "J-jangan.. Pergi..." Deg. Suara itu... Gladis berlari masuk menuju sudut ruangan dimana barang tadi terjatuh.. "HASKARA..!" pekiknya lalu menghampiri Haskara yang tengah meringkuk dengan tubuh basah. Gladis memangku kepala Haskara di paha nya, "Haskara.. Haskara bangun. Astaga, badan kamu dingin." Gladis melepaskan jaket Haskara, "Ayo lepas dulu." Gladis panik, bibir cowok itu membiru, badannya juga mengigil kedinginan. "Sebentar ya, aku minta bantuan dulu." "J-ja-jangan.. per-pergi.." Haskara menahan tangan Gladis yang hendak pergi. "Enggak, sebentar aja Haskara. Aku minta bantuan orang buat bawa kamu ke UKS." Haskara nenggeleng lemas. Gladis terduduk, "Badan kamu basah, Haskara. Kamu harus ganti baju biar gak sakit." "Jangan..." Haskara mendekati Gladis lalu memeluk lengan gadis itu. "Sebentar saja..." potong Haskara seakan tau, Gladis akan bersuara. Gadis itu akhirnya terdiam, membiarkan Haskara memeluk lengannya dengan tubuh bergetar. Gladis meraih jaketnya lalu menyelimuti Haskara dan memeluk laki-laki itu agar tidak terlalu dingin. Syok? Tentu saja, cowok dingin dan gak banyak omong ini ternyata ditemukan dalam keadaan kacau dan ketakutan. Tentu Gladis syok. Keduanya kini berada diruangan pak Rahman. Guru yang menyuruh mencari Haskara. "Gladis, saya minta kamu cari Haskara, tapi kenapa kamu malah tidak balik?." "Maaf pak." Gladis menunduk takut. Pak Rahman menghela nafas kasar, lalu menatap Haskara yang tampak datar menatap kedepan dengan pandangan kosong. "Haskara, kamu juga, kenapa? Kamu kemana dijam pelajaran saya?." Haskara tak menjawab. Gladis menoleh, menatap Haskara dengan prihatin. Setelah kejadian tadi, Haskara tampak membisu, walau biasanya juga seperti itu, tapi kali ini berbeda. Haskara tampak kacau. "Haskara, saya bertanya sama kamu." "Maaf pak." Kedua remaja itu tak kembali selama dua mata pelajaran. Membuat keduanya harus bertemu dengan guru dan mendengarkan ceramah. "Baiklah, kalian boleh pergi, tapi ingat. Jangan diulangi lagi, dengar itu Haskara, Gladis?." Haskara dan Gladis hanya mengangguk. Setelahnya mereka meninggalkan ruangan pak Rahman. Gladis menatap punggung Haskara yang berjalan lebih dulu. "Haskara.."panggil Gladis membuat langkah Haskara terhenti. "Kamu sudah makan? Mau aku belikan makan di kantin?." tawar Gladis. Haskara tak menjawab, justru laki-laki itu kembali melanjutkan jalannya dan meninggalkan Gladis yang terpaku. Dengan inisiatifnya, akhirnya ia berjalan ke kantin membeli makanan untuknya dan Haskara. Ia membeli dua bungkus siomay lalu membawa nya ke kelas. Walau sebenarnya ia tidak tau, Haskara akan suka atau tidak. "Hai." Langkah Gladis terhenti saat sepasang sepatu ada didepannya. Ia mendongak, "Bara?." Bara tersenyum, membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. "Jalannya kepalanya di angkat, kalo kebawah nanti nabrak." "Ah iya, maaf. Aku lagi gak fokus." Bara terkekeh, "Kamu laper?." tanyanya sembari menatap dua bungkus siomay. Gladis menatao siomay itu, "Ah enggak, ini pesanan temen, sekalian buat aku juga." "Kirain kamu laper." "Enggak kok, tadi udah sarapan juga. Kamu gak makan?." "Ini mau kekantin." "Ya udah kalo gitu, aku balik kekelas dulu ya." "Silahkan." "Bye Bara." Bara hanya tersenyum membalas ucapan Gladis. "Lucu." gumamnya lalu kembali melanjutkan jalannya. Gladis menggeser bungkus siomay ke hadapan Haskara. "Aku gak tau, makanan kesukaan kamu apa. Jadi aku beli ini aja." Haskara menatap Gladis yang duduk disampingnya yang tengah tersenyum. "Saya gak lapar." Gladis menghela nafas, "Kamu habis kehujanan, nanti kamu sakit, seenggaknya sedikit aja buat ngisi perut kamu." Haskara menatap siomay itu, "Makasih." Senyum Gladis semakin mengembang, "Sama-sama."ujarnya lucu. Ini pertama kalinya, Haskara mengucapkan kata terimakasih yang begitu manis menurutnya. Ia menatap Haskara yang memakan siomay dengan perlahan. "Haskara.." panggil Gladis, laki-laki itu menoleh, "Kalo kamu butuh tempat curhat, kamu bisa curhat sama aku. Aku bakalan bantu kamu." Gladis mengucapkan itu benar-benar tulus dari hatinya. Haskara merasakan itu, matanya menatap lekat mata hitam Gladis, ia membalasnya dengan mengangguk kecil. Hanya dengan begitu saja sudah membuat Gladis senang. Ia akhirnya memakan siomay nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN