Jam pulang sebentar lagi tiba. Guru muda cantik didepan tengah membereskan buku-buku serta pena nya.
Gladis menatap guru cantik itu. Ia jadi teringat bu Susi di sekolah sebelumnya. Guru baik yang selalu setia menemani Gladis jika terlambat di jemput.
"Baik anak-anak, sebelum kita akhiri hari ini. Apa ada yang ingin ditanya?."
Semuanya lantas menggeleng. Guru cantik itu hanya tersenyum. "Baiklah, kita tunggu bell berbunyi ya."
Gladis menoleh, menatap Haskara yang tengah menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan. Cowok itu sedari tadi hanya diam, dan seswkali terlihat linglung. Haskara jadi lebih dingin, wajah cowok itu juga pucat dan tubuhnya menghangat. Gladis jadi tambah khawatir.
Criing... Criing...
Bell sekolah berbunyi nyaring, semua murid berhamburan keluar kelas. Tapi tidak dengan Gladis, cewek itu masih memandangi Haskara yang tak bergerak sedikit pun.
Gladis bimbang untuk membangunkan Haskara. Tapi kelas sudah sepi, hanya mereka berdua yang ada. Ah tidak, ada tiga orang yang masuk kedalam kelas, sepertinya mereka akan piket.
"Ha-Haskara, bangun. Sudah pulang." ucap Gladis yang seperti bisikan.
Haskara tak bangun, lantas gadis itu menepuk pelan bahu Haskara. Dan ya, cowok itu terbangun.
"Maaf ganggu tidurnya, tapi kamu bisa lanjutkan dirumah. Ini sudah pulang sekolah."
Haskara berdeham, lalu mengambil tasnya dan memasangkan ke bahunya.
"Bisa pulang? Badan kamu hangat."
"Ya."
Satu kata itu membuat Gladis semakin khawatir, cowok itu menjawab dengan suara serak.
"Mau aku temani pulang?."
Haskara menggeleng. "Terimakasih." kemudian berlalu begitu saja. Sesekali Haskara terhuyung dan memegang kepalanya.
Gladis dengan cepat berlari dan menahan tubuh panas Haskara.
"Kamu gak bisa pulang kalau keadaan nya begini. Duduk dulu."
"Haskara kunaon, dis?."
Gladis langsung menoleh, "Maaf?."
"Ah iya lupa. Haskara kenapa? Kok pucat?."
"Kayaknya sakit."
"Bawa ke UKS aja."
"Masih ada orang disana?."
"Biasanya ada dokter yang berjaga sampai jam empat."
"Henteu kedah." mereka berdua langsung menatap Haskara. Laki-laki itu memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Tapi kamu harus ditangani dulu." Haskara kembali menggeleng.
Gladis menghela nafas, lalu membuka tasnya dan menghubungi abangnya untuk segera menjemput.
"Abang dimana? Jemput sekarang, cepet jangan lama. Kalo bisa ngebut tapi hati-hati."
Tut.
Gladis langsung mematikan panggilannya. "Kamu masih pusing?." Haskara mengangguk sembari meringis.
Gladis menatap cewek disampingnya, "Kamu lanjut aja piketnya, aku sama Haskara disini dulu gak apa ya?."
"Iya gak apa." gadis itu bergabung bersama dua temannya.
Gladis menarik bangku disamping Haskara lalu duduk, "Sini kepala kamu,biar aku pijet. Kata mama aku, pinjatan aku enak. Mana tau bisa sedikit berkurang."
Haskara hanya menurut saja. Kepelanya sakit jika berbicara apalagi membuka mata. Gladis langsung memijat tanpa banyak kata.
"Nanti pulangnya bareng aja. Motor kamu tinggal disini, bahaya kalo pulang keadaan kamu begini. Besok aku jemput kok, tenang aja."
Haskara hanya mengangguk diantara sadar dan tidak sadarnya. Kali ini Gladis mendapati sesuatu yang baru begitu juga dengan ketiga gadis dibelakang Gladis.
Haskara, cowok yang penurut. Berbeda sekali dengan yang biasanya. Gladis hanya bisa tersenyum saat melihat ini semua.
"Aku tau, kamu punya sisi manja dan nurut. Gak kayak yang orang lain bilang." batin Gladis.
"Henteu leres kitu Haskara?."
"Leres, nyaeta Haskara. Sumpahna, anjeunna beda-beda."
"Upami anjeunna siga kieu, kasep bakal ningkat."
Gladis yang mendengat ucapan itu hanya bisa mengerutkan dahi bingung. "Mereka ngomong apa?." batinnya.
Dreet dreet.
Ponsel Gladis bergetar, ia dengan segera melepas tas nya lalu melihat ponselnya. Panggilan dari bang Ian.
"Halo?."
"Kamu di mana? Abang udah didepan."
"Iya iya sebentar."
Gladis mematikan panggilannya. Ia membangunkan Haskara.
"Ayo pulang. Aku anter kamu."
"Kamu naik apa?."
"Aku di jemput."
Haskara menggeleng, "Saya bawa motor aja."
"Ish, kamu lagi sakit, kalo kenapa-napa gimana. Udah ayo jangan membantah."
Gladis memasangkan tas ke bahu Haskara lalu menarik tangan Haskara dengan pelan.
Begitu sampai didepan gerbang, Gladis bisa langsung melihat mobil yang yang biasa mengantar jemput nya.
"Bang."
"Siapa dek?."
"Ini temen Gladis, abang bisa anter dia pulang kan? Dia sakit, kalo bawa motor nanti kenapa-napa."
"Oh boleh, masuk aja."
Gladis tersenyum, ia membuka pintu belakang lalu menyuruh Haskara masuk. Cowok itu tak banyak cakap, hanya menurut lalu mobil bergerak meninggalkan sekolah.
"Rumah kamu dimana, Ra?." tanya Gladis.
"Masih satu komplek sama kamu."
Mata Gladis membelalak, benar yang ia pikirkan waktu itu. "Jadi..."
Haskara mengangguk sembari terpejam seakan tau apa yang akan Gladis tanyakan.
"Ayo bang, buru. Haskara butuh istirahat."
"Sabar sayang, kita gak boleh ngebut-ngebut." Gladis hanya menyengir kuda.
"Itu, rumah putih pagar hitam."tunjuk Haskara.
Gladis terbelalak kembali, ternyata rumah Haskara hanya berjarak dua belas rumah.
Tapi anehnya, rumah itu tampak sepi. Rumah di komplek ini rumah besar semua.
"Rumah sebesar ini kenapa sepi banget? Apa orang tua Haskara lagi kerja?." batin Gladis.
"Makasih bang, makasih Gladis. Saya masuk dulu."
"Iya sama-sama Haskara. Cepat sembuh." Ucap bang Ian.
"Dah Haskara, cepet sembuh ya." ucap Gladis sembari melambaikan tangannya yang dibalas senyum kecil dari Haskara yang bahkan hanya dirinya yang tau.
Bang Ian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Haksara setelah cowok itu masuk kedalam rumah.
"Rumah Haskara sepi ya bang."
"Kenapa emang?."
"Enggak kenapa-napa sih. Ngomong aja."
"Jangan kebiasaan kepo, dek. Gak baik."
"Iya bang, tau kok. Tapi gimana ya kan, adik mu ini sudah dari dulu kepoan. Jadi gak bisa dihentiin."
"Kamu aja yang gak mau, bukan gak bisa."
Gladis menyengir, "Sayang bang Ian. Beli es yuk."
"Cuaca dingin makan es? Pilek kamu, entar abang yang dimarahi mama."
Gladis cemberut, "Ah abang, gak asik. Kan bisa makan di mobil."
Bang Ian menggeleng, "Enggak enggak. Abang gak mau di marah mama gara-gara kamu sakit ya."
Bibir Gladis maju dua senti, ia menyilang kedua tangannya didepan d**a.
"Gladis marah aja deh."
"Marah aja sana, abang gak takut. Lebih takut kalo mama marahi abang, bisa bahaya."
"Huu.. Penakut."
"Alah, kayak kamu enggak aja."
Gladis tengah duduk di meja belajarnya. Gadis itu termenung dengan mengayunkan pena nya. Pikirannya berkelana tentang kejadian hari ini.
Banyak pertanyaan yang bersarang dikepalanya. Semua pertanyaan itu, pada akhirnya hanya satu yang menjadi inti nya. Ada apa dengan Haskara?
Cowok itu terlihat ketakutan, tertekan, dan linglung. Tampak tidak baik-baik saja. Pasti ada sebab nya kenapa bisa seperti itu.
"Dek."
Gladis tersentak kaget, ia menoleh mendapati bang Ian berdiri didepan pintu.
"Abang, buka pintu bisa ketuk dulu gak?."
"Maaf, ayo turun. Makan malam."
"Iya iya."
Gladis melempar pulpennya keatas meja belajar lalu keluar kamar.
"Ayo nak duduk sini. Makan dulu."
"Iya mama."
Mala memberikan piring pada Gladis dan juga Ian.
"Nasinya banyak gak nak?."
"Biar Gladis ambil sendiri ma. Mama makan aja."
Bang Ian mengangguk, "Iya, mama makan aja."
Mala tersenyum, "Ya sudah kalau begitu."
Mereka makan malam dengan nikmat, sesekali berbincang hangat dimeja makan.
Gladis menyuap tiga sendok nasi kedalam mulutnya, tapi setelah itu, ia merasa tidak berselera. Gadis itu menatap piring yang ia aduk tanpa minat.
Ian yang ada disamping Gladis menoleh, menatap piring dan Gladis bergantian, dahinya berkerut.
"Kenapa makanan kamu gituin, Gladis?"
Gladis tersentak, ia menatap Ian kemudian pirinyanya, "Maaf bang, lagi gak fokus."
"Mikirin apaan? Lagi makan juga masih aja mikir gak pentung."
Gladis menunduk, "Maaf bang."
Ian menghela nafas, "Kamu mikirin yang tadi?"
Gladis tersentak, abangnya ini akan selalu bisa membaca situasi nya. Sekalipun ia menyembunyikan nya.
Gladis menghela nafas kemudian mengangguk.
"Ada apa emangnya?"
Gladis bingung ingin menjelaskannya bagaimana, ia sendiri saja bingung dengan apa yang terjadi.
"Yaudah kalo gak mau cerita, tapi yang terpenting saat ini adalah mendoakan yang terbaik aja."
Gladis menatap Ian seakan ingin menangis, kemudian memeluk laki-laki itu dari samping.
"Makasih abang, selalu bisa ngertiin Gladis. Sayang abang."
"Abang juga sayang kamu. Sekarang makan, jangan di mainin."
"Ngomongin apaan sih? Asik banget, sampai-sampai kami didiemin."
Keduanya menoleh, Gladis menyengir malu.
"Biasa ma, Gladis punya pacar."
Gladis melotot tak percaya begitu juga Mala dan Hardian.
"Bener, nak?."
Gladis menggeleng cepat, "Enggak enggak. Jangan percaya sama bang Ian." Gladis kelimpungan. "Aduh, mama sama papa kok percaya benget sih sama bang Ian."
Ian hanya terkekeh, "Mama sama papa gak percaya? Tadi aku anterin pacar nya pulang, dia sakit, makanya..."
Gladis langsung membekap mulut Ian dengan sebelah tangannya, sebelahnya lagi ia gunakan untuk mencubit pinggang laki-laki itu.
"Abang, astaga. Apaan sih, ini mulut yaampun minta di cabein banget sih."
Ian terbahak keras. Mala dan Hardian bingung menatap keduanya dan menunggu keterangan Gladis.
"Plis ma pa. Jangan percaya, astaghfirullah. Bang Ian itu gila, semuanya gak bener. Itu cuma temen sebangku Gladis, suer..." ucap Gladis sembari menunjuk jari telunjuk dan tengah.
"Iya iya mama percaya kok."
Gladis menatap papanya. "Iya iya papa juga."
Gladis menghembuskan nafas lega, ia menatap Ian dengan tajam. "Abang kalo ngomong aneh-aneh lagi, Gladis cabein mulut abang pake cobek nya bibi. Awas aja."
"Silahkan kalau berani."
Gladis mendengus kelas, lalu menyendok nasi dengan kasar dan memasukkan nya dalam mulut.
"Awas keselek."celetuk Ian.
UHUK UHUK.
Ian kembali terbahak sembari memegang perutnya.
"Kualat."