Perasaan cemas kini menyelimuti Dara. Sedari tadi bibirnya terkatup, tidak bisa menyumbangkan barang 1 ide pun pada sang sahabat yang sedang terbentur masalah besar. Ternyata, Lucy telah membuat si lelaki beraura gelap itu melanggar aturannya.
Dia, Danu, memiliki prinsip bahwa dia tidak akan tidur dengan istri orang. Dan jelas, Lucy dia telah melanggarnya. Lucy kini menghadapi dua pria sekaligus. Adam yang cemburu dan curiga, lalu Danu yang merasa tertipu.
"Gue harus gimana, dong, Dar!" Suara Lucy bergetar. Wajah wanita itu pucat. Dan sedari tadi, dia tidak bisa duduk diam.
Dara meremas tangannya cemas. Dia tidak mengenal Danu, tetapi percaya kalau pria itu memang bukan musuh yang bisa disepelekan. Namun, mereka tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melawan Danu. Alih-alih memikirkan kemungkinan perceraian antara Lucy dan Adam, Dara lebih khawatir sang sahabat akan bernasib nahas karena berurusan dengan Danu.
"Dar, gue takut!" Lucy berlutut di depan Dara yang duduk di pinggiran ranjang kemudian menggenggam tangannya.
"Sama, Cy, gue juga.Tapi, gimana dong? Danu kan serem. Lo sih pake nipu dia segala. Maruk sih. Jadi gini kan!" Suara Dara tak kalah bergetar. Lucy adalah sahabatnya dan dia benar-benar peduli pada wanita itu. Hendak lepas tangan pun, Dara merasa tidak akan bisa karna waktu itu dia mendampingi Lucy. Dia terlibat, dan Danu mengetahui itu.
"Mati, Dar. Gue pasti bakalan mati!" Lucy kemudian menangis seperti anak kecil. "Kata temen gue orang kayak Danu itu bakalan ngelakuin apa aja kalau tersinggung. Dan gue denger," Dia menarik napas panjang di tengah isaknya, "dia paling nggak suka ditipu!"
Dara berusaha menenangkan Lucy, tetapi gagal. Upayanya setengah hati karna dia sendiri memang dicekam ketakutan. Hidupnya selama ini terlalu datar. Hanya bermasalah dengan uang dan ketidak beruntungan. Masalah terbesar biasanya beriringan dengan perkelahian Adam dan Lucy. Dan sekarang, masih karna orang yang sama, dia terlibat dengan pria yang besar kemungkinan tidak berbelas kasihan.
"Lo ... udah jumpain dia?"
Lucy menghapus air matanya lalu mengadah untuk menatap Dara. Kepalanya menggeleng. Hanya berhenti sesaat, kini tangis wanita itu kembali membanjir.
Tidak ada yang bisa Dara lakukan selain ikut duduk di lantai, di sebelah Lucy, lalu mengelus punggung sang sahabat. Pikirannya berkelana, mencari jalan keluar, tetapi buntu. Tadi kata Lucy, uang yang Danu berikan telah habis. Termasuk dengan uang muka untuk tarif Dara mendampingi pria itu ke luar kota. Sialnya, uang itu Lucy gunakan untuk membeli perhiasan dan perhiasan itu disita Adam.
Kini mereka di kamar hotel bintang lima di kamar suite room hanya agar keamanannya lebih terjamin. Agar akses Danu dan Adam untuk bertemu dengannya semakin minim.
"Dar, gue rasa ... ada satu solusi yang mungkin bikin Danu nggak marah sama gue," ucap Lucy saat dia lebih tenang, setelah beberapa jam berlalu. Sisa isaknya masih ada, bahkan suaranya masih terdengar tidak jelas karna hidung yang tersumbat.
"Apa?"
Lucy memandang Dara--tampak ragu. "Tapi, ini masih mungkin, ya."
"Iya, apa??? Coba jelasin aja. Siapa tau ide lo emang bagus." Dara mulai mendesak.
"Danu ... pernah nanyain lo."
Mata Dara langsung membesar dan tubuhnya mendingin seakan aliran darahnya berhenti. Dalam sekejap, dia sudah paham apa maksud ucapan Lucy dan merasa ngeri membayangkannya.
"Dar, Dar, plis!" Lucy memegang tangan Dara dan memasang wajah memohon. Air di matanya kembali menggenang. "Gue nggak akan bilang gini kalau gue punya solusi lain. Lo tau, lo satu-satunya sahabat gue. Yang tau baik buruknya gue. Lo kenal gue, Dar. Kapan gue pernah ngajak lo jadi kayak gue? Nggak pernah kan? Selama ini gue ngajak nggak serius dan habis itu gue bilang kan, ke elo, gue bangga karna lo teguh sama prinsip lo itu. Gue nggak mau lo hancur, Dara. Tapi, ini darurat."
"Ya, tapi ...." Dara mengusap wajahnya kasar. "Lo sendiri yang bilang dia nggak pernah nawar dua kali. Lo juga yang bilang dia nggak pernah nanya gue lagi. Dan ... sekarang ... mungkin dia nggak kalah benci sama gue karna ngerasa gue sama lo sekongkol, Cy!"
Lucy kembali menangis.
***
Hari sudah malam. Dara tidak bisa tidak pulang karena ibunya sudah sibuk menelepon. Dan lagi, besok dia masuk pagi. Akhirnya setelah memastikan Lucy menghabiskan makan malamnya, dia pun berpamitan.
Perasaan Dara tidak tenang. Sepanjang perjalanan dia banyak melamun. Bahkan saat sampai di rumah, setelah membersihkan diri, dia hanya berbaring di ranjang dengan pandangan nyalang. Terasa salah baginya untuk terlelap. Berbagai hal buruk terbayang di kepalanya, dan itu membuatnya tidak sadar bahwa hari telah hampir pagi. Suara dari masjid dan dapurlah yang membuatnya tersadar.
Meski masih memiliki waktu sekitar satu jam untuk tidur, Dara memilih membantu ibunya di dapur lalu bersiap untuk pergi kerja.
"Pagi sekali, Dara," ucap sang ayah saat Dara mengelarkan motor dan menaikinya.
"Ada kerjaan, Yah, pagi ini."
"Nggak sempat sarapan?"
"Udah dibuat jadi bekal. Nanti dimakan di kantor." Dara berpamitan lalu melajukan motornya, meninggalkan sang ayah yang tadi sedang mengurus tanaman di depan rumah.
Dara tidak menuju ke tempatnya bekerja. Dia ke hotel tempat Lucy menginap. Tadi, dia sempat menghubungi Lucy dan wanita itu meracau tidak jelas. Berkata "aku mati, Dara. Selamat tinggal" terus menerus. Dara sudah menyuruh petugas hotel mengecek, tetapi belum ada kabar. Jantungnya berdentum tak karuan, takut kalau sang sahabat mengambil jalan pintas atas masalah ini.
Sesampainya di hotel, Dara mendapati petugas sedang berusaha membuka pintu yang ternyata Lucy pasang pengaitnya di dalam. Sudah bisa dibuka, bersama dua orang petugas hotel Dara masuk dan kemudian dia pun memekik.
Di lantai, Lucy yang masih mengenakan pakaian semalam kini terbaring dengan mulut yang dihiasi bekas muntahan yang mengering. Muntah itu berserakan di lantai sebelah kepala Lucy tergeletak. Botol minuman berserakan. Dan ada obat yang Dara tahu adalah obat penenang yang biasa Lucy konsumsi saat ada masalah dan dia sulit tidur.
"Panggil ... panggil dokter!" seru Dara tergagap. "Cepat! Panggil dokter!"
Kedua lelaki itu mengangguk. Salah satu menggunakan telepon dan berbicara dengan resepsionis sedangkan yang satu lagi membantu Dara memindahkan Lucy ke ranjang.
Dara menangis. Dia takut Lucy seperti yang sahabatnya itu racaukan--mati. Mata Lucy terpejam. Wajahnya tampak pucat. Tubuhnya bau bekas muntahan dan minuman.
Dara berharap di dalam hati ide Lucy benar. Bahwa pria itu bersedia memaafkan dengan imbalan. Dara tidak peduli jika dia harus menyerahkan kehormatannya. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak semua selaput Dara itu berharga. Bahwa di jaman modern ini, keperawanan bukanlah lagi sesuatu yang agung. Dan transaksi di atas ranjang itu, sudah biasa para wanita dewasa lakukan, entah demi uang atau bualan bermodalkan kata cinta.
"Gue janji, Cy, gue bakalan bantu lo. Jangan tinggalin gue dengan cara begini. Sadar, Cy. Biar lo bisa ngajarin gue cara ngomong ke dia," ucap Dara sambil terus memegang tangan sang sahabat. Tangisnya menjadi-jadi.
Sedikit agak lama seorang dokter datang didampingi si petugas hotel dan melakukan pemeriksaan. Dara mengawasi semua itu dengan pikiran yang kacau balau. Pasalnya, Lucy baru saja diperiksa, tetapi ponselnya terus saja berdering. Panggilan dari toko tempatnya bekerja.
NB