Tawa menggema, para pria yang sedang duduk di sebuah pujasera sambil menenggak minuman itu menimpali lelucon yang sebenarnya biasa saja dari seorang pria tua yang tentu saja bukan orang biasa. Tempat berkumpul seperti itu jelas bukan selera Danu sekali. Namun, dia memiliki kepentingan dengan pria tua yang sedang melontarkan lelucon sambil sesekali menempelkan bibirnya di sales minuman itu.
Proyek yang Danu inginkan, gagal dia dapatkan. Hal itu terjadi karena dia terlalu tinggi hati setelah keberhasilannya yang sudah-sudah. Merasa tidak perlu lagi bersikap menyenangkan pada si pria tua yang meski tampak ringkih tetapi memiliki kekuasaan yang tak main-main.
Proyek itu sudah gagal. Tidak masalah bagi Danu karena masih ada banyak hal lain yang bisa dia kerjakan. Hanya saja, dia merasa harus menyudahi egonya dan menerima ajakan pria tua itu untuk akrab. Bahkan Danu sudah resmi menjadi salah satu anggota klub badminton si pria tua itu.
Si gadis sales berpakaian minim itu kembali menuangkan minuman ke gelas Brata, si kakek, sambil sesekali menatap Danu dengan lirikan menggoda. Danu menyadarinya, membalas tatapan itu seolah berminat. Membuat gadis itu beberapa kali tampak berakting salah tingkah.
Permainan basi--bagi Danu. Para wanita yang sedang melayani pria dan berusaha menjerat pria lainnya. Bermain-main dengan pesona mereka dan mereguk keuntungan sebanyak-banyaknya. Meski tidak menginginkan mereka, Danu selalu bersikap baik seolah tertarik karena ada masa di mana dia membutuhkan para wanita ini untuk memudahkan urusannya.
"Kamu bisa merasakan, kan, Danu, kalau minum-minum di tempat terbuka seperti ini membuat kita lebih merasa bebas. Segar!"
Danu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bosan di ruangan tertutup dan yang terlalu ramai. Kamu harus lebih sering ikut kami. Lama-lama kamu akan paham."
Kembali, Danu mengangguk. Membiarkan Brata besar kepala karena ucapannya selalu diiyakan. Sesekali, Danu memusatkan perhatiannya pada pria-pria lain yang ada di meja itu, menilai mereka satu per satu. Mereka duduk berlima, di luar para gadis yang menemani. Dua merupakan pekerja Brata yang pasti selalu menemani. Seperti tangan kanan, tetapi dari kalangan keluarga pria tua itu. Lalu, satu orang berasal dari kalangan pemerintah yang jelas merupakan salah satu tikus yang Brata sogok agar semua urusannya mulus. Lalu, satu orang berasal dari kalangan pengusaha yang santai. Jelas bukan salah satu saingannya. Namun, justru berpotensi menjadi rekan bagi Danu.
Dan mereka semua telah menikah. Termasuk salah seorang saudara sekaligus tangan kanan Brata yang tampak masih berumur 20-an. Yang tentu saja, meski sudah menikah dan sedang duduk bersama kerabatnya, dia tetap membiarkan gadis sales minuman itu menempel-nempelkan tubuh padanya.
"Duh, Mas Danu kok minumnya sedikit?" SPG yang melayani Brata melemparkan godaan, membuat semua mengolok Danu agar menambah minumannya. Bahkan, wanita itu dengan berani mengisi gelas Danu sambil melemparkan tatapan menggoda.
Danu tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ditengguknya minuman itu sampai habis lalu dia melirik jam.
"Sudah tengah malam. Biasa Pak Brata pulang jam berapa?" Danu mengedarkan pandangannya. Pujasera itu dibangun di tengah pemukiman, bukan di pinggir jalan raya. Harusnya para penduduk tidak membiarkan jam buka lebih dari jam 2. Musik sudah dihentikan dan suasana sudah mulai sepi.
"Kalau dia jangan ditanya. Dia kan sudah tidak ada nyonya-nya. Ini yang muda-muda ... apa tidak dicari istri di rumah!" seru Santo yang kembali mengisi gelasnya. "Masih muda masih akur sama istri. Yang tua-tua, tidak pulang pun tidak dicari!" timpalnya lagi.
Semua kembali tertawa.
"Benar. Tapi, kenapa Danu yang bertanya? Dia tidak punya orang rumah!"
Lelucon kembali mengalir, yang sebenarnya bagi Danu tidak lucu sama sekali. Namun, tentu saja demi keakraban yang berusaha dia ciptakan dengan Brata, dia mengikuti alur dengan ikut tertawa dan sesekali menimpali.
Mereka masih duduk sampai kemudian salah seorang karyawan pujasera itu menyampaikan permintaan maaf karena mereka harus tutup. Semua beranjak untuk pulang dengan mobil masing-masing.
"Permisi ...."
Danu yang mendengar suara itu menghentikan tangannya yang sudah hampir menarik knop pintu mobil dan berbalik. Di sana, berdiri si SPG dengan senyum penuh percaya diri. Dia berjalan mendekat hingga mereka hampir tidak berjarak.
"Aku butuh tumpangan pulang," ucapnya dengan nada sensual, "dan semoga kita searah."
Danu tersenyum miring. "Kalau tidak?" tanyanya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku depan celana.
"Kalau tidak ... mungkin aku juga harus menumpang ... untuk tidur."
Danu tertawa pelan, dan wanita itu pun sama. Lalu, Danu diam untuk waktu yang lama. Sedangkan si gadis mulai tampak salah tingkah, tidak lagi berani menatap tepat di mata Danu yang menyorot tajam.
"Jangan salah paham, Nona. Tapi, aku tidak tertarik memberi tumpangan pada orang asing."
"Orang asing? Bukankah ... itu tujuannya? Supaya kita bisa lebih dekat."
Danu kembali tertawa kecil saat meski sudah kehilangan sebagian nyalinya, wanita itu masih terus berusaha dengan mempertipis jarak tubuh mereka. Dia menarik tubuh wanita itu dengan gerakan cepat hingga menempel di sisi mobil dan Danu benar-benar menempelkan tubuh mereka dengan sempurna. Menempatkan wajahnya tepat di hadapan wajah si wanita. Digariskannya telunjuknya di wajah wanita itu, lalu tangannya mendarat di leher si wanita dan melingkarkan jemarinya di sana, seolah menggenggam.
"Bagaimana?" tanyanya.
Kening wanita itu berkerut. "Ba ... bagaimana?" Dia bertanya kembali.
"Apa menurutmu ... kamu mempengaruhiku?" Danu menggerakkan bagian pinggulnya sehingga si wanita tersadar apa maksudnya.
"A--apa maksudnya? Bu--bukankah--"
Danu kembali tertawa dan memisahkan tubuh mereka. "Pergilah," ucapnya. "Tubuhku tidak menginginkan kamu. Harusnya tadi kamu melakukan itu pada Pak Brata, mungkin dia tidak akan menolak."
Tanpa memedulikan si wanita masih terdiam terpaku di tempatnya, Danu masuk ke dalam mobil dan tersenyum miring pada wanita itu sebelum akhirnya meninggalkan parkiran pujasera itu.
Gadis seperti itu terlalu mudah untuk dia dapatkan di ranjangnya. Semudah pria lain mendapatkannya. Jika harus memuaskan dirinya, Danu lebih memilih mengeluarkan uang ekstra untuk mendapatkan wanita yang lebih eksklusif atau yang belum terjamah sekalian.
Sesampainya di rumah, Danu disambut kesunyian. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuh setelah hanya mengganti pakaiannya saja. Sebenarnya dia kurang enak badan. Hanya saja, dia memaksa dirinya untuk mengikuti agenda Brata malam ini karena ini memang ajakan pertama pria tua itu untuk duduk dan minum-minum. Sakit di kepalanya semakin terasa, tetapi perlahan kantuknya tiba.
***
"Pulang jam berapa semalam?" tanya Hutami, ibu Danu. Di meja makan hanya tinggal wanita tua itu duduk sendiri tanpa piring di hadapannya. Tampak sudah selesai sarapan dan sengaja di sana untuk menunggu anak pertamanya.
"April sudah berangkat?"
Hutami menajamkan pandangan mata pada sang anak yang mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kamu sedang sakit, Danu!" tegurnya.
"Sakit kepala tidak masuk kategori sakit, Ma, terutama bagi pria dewasa."
"Sakit kepala. Namanya saja sudah sakit kepala. Sakit di kepala! Selalu saja kamu begitu. Terlalu sibuk sampai lupa memperhatikan dirimu sendiri! Pusing Mama mengurus kamu!"
Danu terkekeh geli. "Yang nyuruh Mama urus Danu siapa? Danu udah 36, kalau Mama lupa."
"Dan belum menikah!"
Senyum Danu mengembang. "Mungkin akan," ucapnya sambil menggigit roti panggang yang baru saja diletakkan sang ibu di piringnya.
"Maksud kamu? Kamu sudah ada calon?"
Danu kembali tersenyum lebar dan memilih bungkam. Membiarkan sang ibu menerka-nerka karena tanyanya tidak mendapat jawaban.
NB