Tidur Dara pulas. Pulas sekali. Tubuhnya yang letih, tenaga terkuras habis, dan tidurnya yang larut bahkan nyaris menjelang pagi membuatnya mengerang saja saat tubuhnya dicolek seseorang. Dia masih ingin tidur. Selimut yang hangat dan tebal di kamar yang bersuhu dingin adalah kombinasi yang sempurna. Dara ingin menikmati kesempurnaan itu lebih lama lagi.
Hanya saja, selimut itu disibak dan rasa dingin menjalar di tubuh Dara yang ... telanjang?
Dara membuka matanya lebar dan berkedip beberapa kali. Seketika, dia tersadar. Dia sedang di hotel bersama Danu. Dan rasa kantuk luar biasa itu, semua karena aktivitasnya bersama pria itu. Artinya, yang menyibak selimutnya adalah ....
“Vicky sudah datang, Dara. Saatnya siap-siap!”
Dara menoleh ke sumber suara sambil berusaha memungut ujung selimut untuk menutupi tubuhnya yang sedang berbalik agar bisa duduk menghadap Danu. Lelaki itu sudah selesai mandi, tetapi masih belum berpakaian. Handuk melilit di pinggangnya, membuat Dara bisa melihat tubuh atas pria itu yang polos. Berbercak. Ruam merah bekas kukunya terlihat lumayan jelas di kulit Danu yang kecoklatan. Mendadak Dara dicekam rasa takut kalau-kalau Danu merasa kesal dengan bekas itu dan mengamuk padanya. Apalagi raut wajah Danu saat ini terkesan datar, yang bisa saja ternyata sedang menahan amarah.
“Mau mandi dulu atau ....”
“Dia tadi sudah mandi!” sela Danu yang kini sedang memakai celananya tanpa segan.
Dara menoleh pada Vicky dan untungnya wanita itu tidak mengintip Danu. Dan rasa posesif yang tidak seharusnya membuat Dara merona. Harusnya dia tidak peduli Vicky melihat Danu telanjang sekalipun. Danu bukan siapa-siapanya.
“Ta ... tapi kan ....”
“Sudah hampir jam sembilan, Dara. Kita akan terlambat,” sela Danu yang kini sedang memakai sweater sebagai baju luarannya.
Memang, Dara sudah mandi. Tadi, setelah mereka bercinta terakhir kali saat menjelang subuh, dengan sisa tenaga yang ada Dara beranjak ke kamar mandi. Tubuhnya terlalu lengket setelah aktivitas mereka yang melibatkan air liur, keringat, dan lendir. Sialnya, setelah mandi dan baru tidur beberapa menit, Danu kembali mengganggunya.
Mereka melakukan itu sekali lagi dan setelahnya, Dara sudah terlalu letih untuk kembali membersihkan diri. Jadilah dia tidur dengan tubuh yang masih ditempeli sisa perbuatan Danu. Toh, di pemikiran Dara, hanya sekali. Dan setelah ini dia akan ditinggalkan sendiri di kamar sedangkan Danu akan melakukan apa yang sudah menjadi agenda pria itu. Sesuatu yang ternyata salah karena beberapa jam kemudian dia kembali dibangunkan dan dipaksa bersiap-siap untuk mendampingi pria itu.
“Memangnya, kita mau ke mana?”
“Dia belum diberi tahu?” Vicky bertanya pada Danu, yang seperti biasa langsung tersenyum miring.
“Dia tidak perlu tahu, hanya perlu ikut,” jawab Danu. Pria itu kini sedikit menduduki meja dengan tangan yang bertumpu pada pinggiran meja itu. “Aku sudah siap, tinggal menunggu kamu. Jadi, waktumu tinggal ...” Danu melirik jam di tangannya, lalu mengedikkan bahu, “10 menit, mungkin?”
“Sepuluh menit untuk berpakaian dan dandan? Tapi itu--”
Kerutan di kening Danu serta sebelah matanya yang menyipit langsung membuat Vicky diam. “Dia hanya perlu tampil segar, bukan memikat.”
Vicky mengembuskan napas panjang lalu mulai membuka koper kecil yang dibawanya. Dari sana, dia mengeluarkan pakaian dan kotak make up.
“Mau berpakaian dulu atau langsung make up?” tanyanya pada Dara.
“Hah?” Dara yang masih belum mengerti sama sekali pun hanya bisa bengong.
“An ... eh kamu maunya berpakaian atau make up dulu? Kalau make up dulu, ya silakan ke pinggir sini,” Vikcy menepuk sisi pinggir ranjang di depannya, “dan kalau mau berpakaian dulu, ini pakaiannya.”
Dara menoleh pada Danu yang kini sibuk dengan ponselnya, lalu pada Vicky yang malah menatapnya menunggu jawaban. Lalu, dia menatap pakaian yang teronggok. Di mata Dara, pakaian itu terasa sedikit sekali. Hanya pakaian dalam dan dua pakaian yang tampak kecil--dilihat dari lipatannya.
“Berpakaian dulu, boleh?” tanyanya.
Vicky mengangguk lalu memajukan tangannya yang memegang pakaian. Dara yang memeluk selimut pun bergerak perlahan seraya menahan ringisan karena ada rasa nyeri di bawah sana setiap kali pahanya bergesekan. Saat telah di pinggir ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah, Dara pun bingung. Tidak mungkin dia membawa selimut tebal itu ke kamar mandi. Tidak mungkin pula dia telanjang. Lebih tidak mungkin lagi dia mengenakan pakaian itu di depan kedua orang asing ini, dengan kondisi tubuh yang kotor. Benar, kotor, akibat air ludah serta air yang lain milik Danu di tubuhnya.
“Boleh tolong ambilkan handuk?” pintanya pada Vicky. Untungnya wanita itu mengangguk. Namun, handuk yang diambilkan wanita itu bukan yang baru dari kamar mandi, melainkan yang teronggok di lantai, bekas Danu pakai.
“Eum ....” Dara membatalkan protesnya, lalu menerima handuk itu. Membalutkan ke tubuhnya, lalu dia berjalan ke kamar mandi.
“Ingat, jangan mandi! Waktu kita cuma sepuluh menit!” teriak Vicky, membuat Dara yang baru saja hendak menghidupkan shower pun membatalkan niatnya.
Dara mencari jalan keluar untuk membersihkan tubuh dengan cepat dan akurat. Dia pun akhirnya menutup lubang wastafel, meletakkan handuk di sana, menuangkan sabun cair, lalu mengidupkan keran. Ditampungnya air keran itu dengan tangan untuk membasuh wajahnya lalu dia mencuci muka. Sembari melakukan kegiatan pembersihan wajah dan mulut, air di wastafel sudah penuh. Dara pun mengambil handuk itu dan mengelapkannya ke tubuhnya. Mengelap lebih baik daripada tidak sama sekali.
Setelah selesai, dia mengambil handuk satu lagi yang masih terlipat rapi dan mengelap tubuhnya. Dan sesuai dugaannya, pakaian yang diberi Vicky memang kurang. Hanya ada pakaian dalam, mini dress berwarna gading, serta outer berwarna hijau mint pudar yang nyaris transparant. Hanya itu.
***
Dara cemas saat melihat pantulan dirinya di cermin. Terlalu seksi bagi dirinya yang biasa memakai celana panjang ke mana-mana. Panjang gaun dalam dan luar sama, sepaha di atas lutut sedikit. Kalau duduk, pasti lebih ke atas. Belum lagi saat berjalan. Dara merasa khawatir orang yang di belakang bahkan bisa melihat celana dalamnya yang mini.
“Mbak???” panggil Vicky.
“Ya!!! Sebentar!!!” Dara menarik napas panjang lalu keluar dari kamar mandi. “Ada yang lain nggak, pakaiannya? Ini--”
“Cantik.”
Dara terdiam. Dia menatap Danu, dan jantungnya langsung berdebar kencang saat melihat bola mata pria itu yang gelap menyorot intens padanya.
Di kepala Dara sedang terjadi perdebatan dia harus lanjut memprotes pakaian yang dia kenakan atau tidak. Setelah menarik napas dalam dia pun berkata, “Gaun ini terlalu ... transparan.”
Danu melirik jam di tangannya dengan bibir yang cekung ke bawah. “Enam menit lagi,” ucapnya seakan tidak pernah mendengar ucapan Dara.
Dara menoleh pada Vicky, dan dari reaksi wanita itu, Dara merasa dia tidak memiliki pilihan. Akhirnya, dia menghampiri Vicky. Patuh dengan semua instruksi wanita itu sampai akhirnya Danu berkata, “Times up!”
Vicky membuang napas lega lalu meneliti wajah Dara seakan memastikan semua terlihat bagus, lalu mengangguk. Dara yang penasaran pun menoleh ke arah cermin dan mendapati dirinya tampak seperti wanita korea--versi wanita yang biasa saja. Dandanannya natural. Wajahnya dibuat seakan putih bersih dengan bibir berwarna lembut tetapi agak kemerahan di bagian dalam, alis dan matanya diberi warna yang tidak terlalu menor. Dara tampak lebih cantik dengan versi natural.
“Ini sepatunya.” Vicky mengeluarkan kotak dan sepatu dari kotak itu. Meletakkannya di depan kaki Dara. Sepatu yang bertali dengan hak lumayan tinggi. Dara menyukainya. Membuatnya terpana beberapa saat sebelum kemudian langsung memakainya karena Danu sudah berdeham.
“Sudah,” ucap Dara setelah memakai sepatu dan berdiri tegak.
Danu dan Vicky serempak memerhatikan Dara dari kepala sampai ujung kaki.
“Oh, wait!” Vicky mengeluarkan kotak yang berisi berbagai pernah pernik, yang membuat Dara merasa Vicky tak ubahnya seperti wanita pedagang keliling yang menjajakan berbagai kebutuhan perempuan. Vicky mengambil ikat pinggang berwarna putih yang tampak seperti tali dan mengikatkannya dengan ujung yang dibuat menjuntai. Lalu, dia memakaikan jam tangan berwarna putih keemasan di pergelangan Dara.
“Lumayan,” puji wanita itu seakan sedang berbicara pada diri sendiri.
“Okay, saatnya beranjak!” Danu kembali bersuara.
Vikcy memasukkan semua kotak ke dalam koper kecil dan Dara memerhatikan aktivitas wanita itu.
“Dara, ayo!”
Dara menoleh dan kaget dengan uluran tangan Danu. Dia pun langsung melangkah setelah kening Danu kembali berkerut, pertanda tidak suka. Dan saat jarak mereka menipis, di mana indra penciuman Dara dipenuhi aroma parfum Danu, Dara pun tersadar akan sesuatu.
“Apa ... ada parfum? Aku rasa aku butuh parfum.” Agar seimbang dengan kamu, Danu, lanjut Dara dalam hati.
Danu mengambil botol parfum dari laci lemari dan menyemprotkannya secara mubazir ke pakaian Dara.
“Ini kan parfum kamu, Mas,” protes Dara dengan suara selembut mungkin, takut Danu tersinggung.
Danu tersenyum miring. “Baguslah,” ucapnya, lalu dia menepuk b****g Dara sebelum kemudian menyampirkan tangan di pinggang Dara.
Mereka entah akan ke mana. Dara tidak berani bertanya. Yang jelas, pakaian Danu dan dirinya tidak cukup formal untuk pertemuan bisnis yang artinya mereka tidak akan menghadiri acara penting. Sementara, itu saja sudah cukup. Mungkin mereka akan ke tempat rekreasi atau tempat hiburan. Yang jelas, Dara berterima kasih karena makanan yang disiapkan di dalam mobil cukup banyak. Danu menguras tenaganya habis-habisan, membuatnya kelaparan di jam sarapan. Meski dia heran hal yang sama tidak terjadi pada Danu. Pria itu hanya memakan sandwich lalu meminum kopi dalam kemasan. Hal yang membuat Dara akhirnya berhenti makan padahal dia masih lapar dan roti yang tersisa tampak menggiurkan.
Semoga jam makan siang segera datang dan mereka akan makan siang tepat waktu. Dara berdoa sambil mengelus perutnya, meminta sedikit toleransi karena dia harus menjaga harga diri.