Pagutan itu tidak terlepas dalam waktu lama, seakan Danu ingin gairah yang menyelimuti Dara tidak surut sedikit pun. Tubuh mereka saling mendesak. Dara tidak mengerti, dia yang memajukan tubuhnya atau sebaliknya. Hanya saja, jarak yang nyaris tidak ada di tubuh mereka yang saling menekan, terasa tepat. Membantu mengurangi nyeri yang terasa di d**a Dara. Meski, terasa kosong di satu tempat. Bagian yang memberikan kenikmatan terbesar, yang sedari tadi tidak mendapatkan perhatian.
Dara menyerang, menyerukan protes, yang tenggelam dalam pagutan Danu. Dia mengencangkan tarikan tautan tangannya di leher Danu, pria itu membalas dengan terus meremas bokongnya dengan kuat. Ini tidak berhasil. Danu tidak mengerti dan Dara merasa kesal. Gairahnya sudah sampai ke ubun-ubun.
Dara merasa tubuhnya diangkat, diputar, dan kini telah duduk beralaskan sesuatu. Dia di dudukkan dan saat hendak melihat di mana sebenarnya dia sekarang, Danu mendorong tubuh Dara hingga secara spontan kedua tangan wanita itu menahan di belakang. Kedua telapak Dara kini menekan benda yang keras, datar, dan padat. Membuatnya merasa aman. Lalu, dengan gerakan kasar Danu membuka kancing celana dan celana dalam Dara sekaligus. Membuangnya begitu saja di lantai. Lalu, Danu melakukan hal yang sama dengan dirinya sendiri. Merasa malu menyaksikan itu, Dara menaikkan pandangannya. Dan dia terpana melihat bagaimana Danu tampak sedang tersiksa akan gairahnya.
“Menyukai apa yang kamu saksikan, heh?!” Danu berkata tanpa menoleh dan itu semakin membuat Dara tersipu. Hatinya menghangat. Mereka kini dalam posisi saling menginginkan. Benar-benar, layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk gairah, bukan wanita bayaran yang dituntut untuk memuaskan si lelaki bagaimanapun caranya.
“Maaf, tapi aku sudah tidak sabar!” Bersamaan dengan itu, Danu menarik kedua paha Dara hingga tubuh wanita itu maju ke depan dan kemudian sesuatu yang hangat dan keras menyeruak masuk. Melahirkan desahan di bibir Dara yang membuka. Memenuhi apa yang sedari tadi terasa hampa.
“Masih terasa begitu sempit. Sialan!” Danu menarik dirinya.
Dara kaget dan merasa panik. Sesuatu yang langsung berganti dengan rasa panas di wajahnya dan membuatnya memejamkan mata ketika Danu merendahkan kepalanya. Memainkan bibir dan lidahnya di 'milik Dara'. Bibir Dara yang tadinya ingin menyuarakan larangan, digigitnya. Nikmat akibat benda basah itu menari di sana sudah terasa. Amat sangat nikmat. Membuat Dara melemas dan tubuhnya semakin merebah ke belakang.
Danu menekan, bergerak ke atas dan bawah, dan sesekali menghisap. Dara tidak menduga rasanya akan senikmat ini. Bahkan pinggulnya bergerak pelan seakan menyeimbangi ritme lidah Danu. Saat tekanan itu berkurang, Dara mengejar dengan menggerakkan pinggulnya ke depan. Namun, Danu telah berhenti. Pria itu kembali berdiri tegak. Dia menarik baju Dara dan melepaskan tautan bra gadis itu. Dara benar-benar telanjang. Tubuhnya terekspos di ruangan yang terang itu.
“Mas ... “ protesnya karena Danu masih memakai kaosnya. Dan suara yang keluar terdengar seperti protes seorang kekasih dengan nada yang manja. Dara tidak bisa mengontrol dirinya.
Danu tersenyum miring lalu menarik ujung kaosnya. Mereka kini sama-sama terbebaskan dari penutup tubuh. Ditariknya tangan Dara dan ditempelkannya di dadanya. Bergerak seperti memutar, semakin ke bawah ... semakin ke bawah. Hingga pandangan Dara kembali bersibobrok dengan sesuatu yang dulu menjijikkan, sekarang terasa mengagumkan. Milik Danu yang kini menunjuk ke arahnya. Seakan memanggil.
Saat Dara menengadah, Danu sedang menatapnya dengan pandangan yang berkabut. Diam saja, seakan menantang Dara untuk melakukan apa pun yang Dara inginkan. Dengan gerakan ragu-ragu, Dara menyentuh benda itu. Terkesiap pelan dengan efek berlebihan yang timbul akibat sentuhan seringan kapas antara jemarinya dan milik Danu itu.
“Mas ...” rengeknya lagi, karena ini semua terlalu membingungkan untuk dirinya yang amatir dan kebingungannya itu hanya akan membuat semuanya menjadi tidak semenyenangkan tadi. Dia ingin Danu dengan kearoganannya mengambil alih. Memberikan kepuasan pada mereka berdua dengan segera.
Danu malah tertawa. Lalu, dia menarik Dara sehingga turun dari meja yang Dara duduki. Lelaki itu kembali mencium Dara rakus dan menarik tubuh Dara sehingga mereka kembali berdiri dengan tubuh saling menempel. Dengan sensasi lebih menyenangkan, karena mereka sama-sama telanjang. Puncak p******a Dara, tertekan oleh kulit Danu yang kencang dan keras. Sedangkan milik Danu, menggesek di bawah. Membuat setiap gerakannya melahirkan desahan tak ingin Dara tahan.
Danu menyetubuhinya tanpa memasukinya. Melakukan itu, tanpa mengangkanginya. Jemari lelaki itu kembali meremas p****t Dara dan menariknya ke atas, membuat Dara merasa sedang di buka di bawah Sada. Danu menjadikan benda itu sebagai pegangan untuk terus menuntun Dara untuk menggerakkan pinggulnya seirama dengan gerakan pinggul Danu sendiri. Terasa kurang bagi Dara, tetapi juga memuaskan. Tekanan dari milik Danu yang keras, remasan di bokongnya yang kasar, dan pagutan lelaki itu yang menyiksa seakan tidak membiarkannya bernapas, benar-benar membuat Dara akan meledak.
Gerakan Danu semakin dan semakin cepat. Napas mereka tersendat. Kini bibir lelaki itu hanya mengecupi bagian tubuh Dara yang bisa dijangkaunya. Sedangkan Dara yang sedang memejamkan matanya, memfokuskan diri pada sesuatu yang nikmat di bawah sana. Dan saat sesuatu yang mendesak kembali terasa, denyutan yang seakan siap membuatnya meledak menjadi kepingan, Dara membuka matanya dan kembali merengek pada Danu. Kode yang dimengerti lelaki itu dan gerakan di bawah sana semakin tidak terkendali. Kulit kewanitaan Dara semakin digesek dengan kasar dan cepat. Siksaan yang nikmatnya tiada duanya. Membuat Dara mengirimkan pesan pada Danu untuk lebih gila lagi dengan meremas dan nyaris mencakar bahu lelaki itu.
“Masssss ....” Dara mengerang dan tubuhnya bergetar. Kembali mendesah saat Danu melengkapi kehancurannya dengan menggesek dengan tekanan kuat.
Dara melenguh lalu memeluk Danu erat. Menikmati aroma tubuh lelaki itu, juga sensasi lembab dari tubuh berkeringan mereka yang menempel erat. Danu masih keras di bawah sana dan Dara masih menunggu kejutan yang lebih besar lagi. Dia yakin, Dara tidak mungkin membiarkan dirinya tersiksa dengan memberikan kepuasan tanpa bisa merasakan kepuasannya sendiri.
Tubuh Dara kembali di angkat. Kali ini, lelaki itu seakan hendak menggendongnya. Dara melingkarkan kakinya di pinggang Danu dan tangannya di leher lelaki itu. Lalu, Danu membaringkannya di bagian tengah ranjang.
Mereka kembali berciuman. Tubuh Danu menindih dan membebankan berat tubuhnya sepenuhnya dan itu membuat Dara merasa senang. Tangan lelaki itu menuntun kaki Dara melebar, dan Dara menurut dengan patuh. Milik mereka kembali bergesekan dengan sesekali milik Danu masuk ke dalam, seakan tidak sengaja. Sedikit demi sedikit. Tindakan yang membuat Dara nyaris gila. Lalu, saat kesabaran Dara seakan terkuras dan dia kembali dikuasai gairah, Danu menyeruak masuk dengan satu entakan kuat. Masuk secara utuh. Penuh.
Tubuh Dara yang kaget mengencang dan menjempit milik Danu lebih kuat. Bertambah kencang saat Danu menggigit leher Dara. Lalu, pria itu menarik tubuhnya. Kini Danu seperti sedang duduk dengan kaki menekuk di depan Dara yang berbaring dengan tubuh terpampang.
Danu memandangi tubuh Dara sambil tersenyum miring, lalu mulai menggerakkan tubuhnya. Penasaran, Dara melihat ke penyatuan itu. Pemandangan yang membuat dadanya berdesir. Kilat akibat cairan di milik mereka yang menyatu melengkapi sensasi asing yang mendera semakin kuat dalam diri Dara.
Seakan tidak tahan melihat reaksi Dara, Danu menarik kedua tangan gadis itu sehingga kini Dara duduk di pangkuannya. Danu kembali menciumi kulit telanjang Dara. Tubuh Danu bergerak perlahan dengan tempo teratur dan tepat di bawah sana.
Dara tidak paham. Aktivitas seksual ini, lebih terasa seperti bercinta.
Danu melakukannya dengan sedikit kasar, tetapi terasa begitu lembut.
Membuat Dara merasa berani untuk ikut berperan.
Membuat tubuh Dara berlahan bergerak sendiri membalas hantaman Danu di bawah sana.
Membuat Dara tidak takut melengkungkan tubuh untuk membuat semua terasa lebih nikmat.
Tidak malu membiarkan dadanya membusung dan tersaji tepat di depan wajah Danu, yang langsung membuat Danu menghisap benda itu bergantian.
Hari ini, terasa begitu panjang juga begitu pendek.
Danu membuat Dara merasa puas dan kurang dalam waktu bersamaan. Mereka terus melakukan itu dengan cara yang membuat Dara paham, melakukan itu bukan hanya tentang dua kelamin yang beradu. Mereka b******u. Saling mencabuli satu sama lain. Tidak rela salah satu mengenakan pakaian. Bahkan seakan alam mendukung, hujan turun begitu deras. Saat lapar, mereka memesan makanan.
Sesuatu yang liar dan menantang terasa dalam diri Dara saat Danu membukakan pintu hanya dengan memakai balutan handuk sedangkan dirinya berbaring dengan tubuh terselimuti sampai di d**a. Petugas hotel itu sudah pasti mengerti apa yang mereka lakukan. Dan memamerkan hal itu pada orang asing, entah kenapa, membuat tubuh Dara berdenyut seakan menginginkan Danu lagi.
“Makan,” ejek Danu saat melihat Dara, yang tampaknya mengerti bahwa Dara kembali b*******h.
Dara bersemu malu. Dia turun dari ranjang dan hendak mengenakan pakaiannya.
“No no no ....” Danu menggelengkan kepalanya lalu memanggil Dara dengan mengibaskan tangannya.
Dengan tubuh yang membungkuk malu, Dara menghampiri Danu. Berhasil menahan tangannya yang sedari tadi ingin menutup d**a dan bagian perut bawah. Saat telah tiba di samping Danu, Dara langsung ditarik hingga duduk di pangkuan pria itu. Bukannya makan, Danu malah menjilat dan menghisap p******a Dara, seakan menjadikan benda itu sebagai menu pembuka.
“Kita butuh makan untuk energi tambahan, kan? Karena sekarang masih sore.”
Dara menggangguk patuh. Dia menyuapi Danu, sesuai permintaan lelaki itu, sambil menyuapi dirinya sendiri. Aktivitas makan yang berlangsung lama karena diiringi dengan tindakan tidak senonoh tetapi menyenangkan yang Danu lakukan padanya.