10

1407 Kata
“Tapi ... saya bisa pesan taksi atau—” “Aku tidak menerima bantahan.” Panggilan terputus. Dara yang sedang duduk di depan cermin pun terpaku. Danu arogan sekali, dan setiap dia berbicara dengan pria itu, jantungnya bermasalah. Kalau tidak melemah, pasti berdetak sangat kencang sampai rasanya mau meledak.  Dara memandang penampilannya sekali lagi. Dia sedikit berdandan, sebisanya, dan memakai parfum yang harganya lumayan. Di belakangnya, ada Laras yang sedari tadi melirik dengan curiga. Dara sudah menjelaskan bahwa dia akan menemani Lucy dan tidak ingin membuat sahabatnya itu malu karena terlalu sederhana, tetapi Laras tampaknya tidak percaya begitu saja. Dan Dara ingin mencubit bibirnya sendiri saat tidak sadar menggunakan kata 'saya' tadi. “Eum ... Kakak pergi dulu.” Dara berdiri dan memutar tubuhnya, berpamitan dengan Laras. “Kakak yakin mau pergi sama Kak Lucy? Dia nggak ngajarin Kakak aneh-aneh, kan?” Laras yang kini sudah berdiri di depan Dara bertanya dengan raut khawatir. “Ih, apaan sih! Ya enggaklah. Kamu mikirnya aneh-aneh aja!” Dara berusaha berakting sesempurna mungkin lalu mengacak rambut adiknya itu, membuat Laras ikut tertawa pelan. “Aku antar sampe depan,” ucap Laras. “Aku dijemput sama orang suruhan Adam.” “Gaya banget deh Bang Adam main suruh orang segala. Kenapa nggak dia yang nyinggahin coba?!” “Eum ... kalau nggak salah sih dia lagi sibuk sama usahanya yang baru. Kurang tau juga. Kakak sama Adam nggak terlalu dekat.” Sempurna, kebohongan Dara terdengar sempurna. Tampaknya dia mulai cocok dengan gaya hidupnya yang baru ini. Mendapatkan uang dengan mudah, berbohong agar tidak bermasalah. “Oh ... semoga sukses deh.” Mereka telah sampai di teras rumah. Dengan perasaan canggung, Dara yang telah berpamitan pada adiknya pun menaiki mobil jemputan yang telah tiba. Dara ingin menanyakan Danu, tetapi tidak berani. Akhirnya dia hanya diam sampai akhirnya mereka tiba di bandara. Meski bingung, Dara tetap turun dari mobil sedangkan mobil itu langsung melaju pergi.  “Biasanya, aku tidak suka menunggu.” Suara serak dan berat itu .... Dara membalikkan tubuhnya dan kini dia berhadapan dengan Danu ... yang tampan dan memesona. Dara bahkan lupa bernapas untuk beberapa saat. Sorot mata Danu yang gelap dan dalam membuatnya tersihir, seakan tenggelam dalam pesona pria itu.  Kerutan di mata Danu yang membuat Dara sadar. Lelaki itu menertawai keterpukauannya. Tanpa berkata apa pun lagi, hanya dengan menggerakkan kepalanya sebagai kode pada Dara untuk mengekor, lelaki itu berjalan menuju bagian dalam bandara. Di belakang Dara, ada seorang lelaki dan seorang lagi perempuan. Keduanya terus berjalan persis di belakang Dara dan mereka pun melempar senyum saat Dara menoleh ke belakang, membuat Dara semakin yakin mereka bekerja pada Danu. “Sudah makan?” tanya Danu saat mereka duduk di ruang tunggu. Dara duduk berkelang satu kursi dari Danu, sedangkan kedua orang tadi duduk persis di hadapan mereka. “Sudah,” jawab Dara pelan. Danu mengangguk pelan lalu sibuk dengan ponselnya. Dari hasil intipan Dara, lelaki itu membalas pesan dan membaca beberapa file. Wajah Danu serius. Seakan tidak terganggu dengan suara-suara padahal dia sedang membaca sesuatu yang serius. Sesekali lelaki itu menggigit telunjuknya, lalu dia mengetik sesuatu dan kembali melihat dokumen lain. Danu adalah lelaki pekerja keras. Itu hasil terawangan sok tahu Dara. Tetapi, Dara memang tidak pernah melihat lelaki yang sedingin dan seserius itu di tempat umum. Meski kemudian Dara sadar dia tidak banyak bergaul dengan para bos sehingga tidak benar-benar paham kebiasaan mereka. Lama menatapi Danu, Dara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya memanas mendapati kedua orang di depannya ternyata sedari tadi menaruh fokus padanya. Bisa-bisanya dia lupa kalau aksinya bisa menjadi tontonan orang lain.  Panggilan untuk penerbangan mereka pun bergema. Danu menoleh lalu berdiri. Tangannya terulur. Dara yang bingung pun hanya membalas tatapan Danu dengan kening berkerut. “Your Hand, Honey ....” Mata Dara mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya memberanikan diri membalas uluran tangan Danu. Jantungnya kembali berdegup kencang saat tangan yang kokoh dan sedikit kasar itu melingkupi tangannya. Terasa pas. Terasa tepat. Dan saat Danu melangkah, otomatis Dara pun melakukan hal yang sama.  Mereka tidak tampak seperti pengguna jasa dan penjaja tubuh. Lebih seperti pasangan. Meski secara penampilan, mereka belum sepadan. Dara yakin, saat melihat mereka, orang justru akan mempertanyakan pilihan Danu yang jatuh padanya. Bagaimana mungkin lelaki sekelas Danu berkencan dengan wanita sebiasa Dara. Apalagi jika mereka tahu Dara dibayar, hujatan pasti mengalir deras. Dan perasaan rendah diri Dara menguat saat pramugari yang menyambut mereka saat masuk ke dalam pesawat melihat Danu lebih lama dibanding dirinya.  Dara mendadak mempertanyakan penampilan Danu. Kenapa Danu harus terlihat tampan? Kenapa pria itu harus mengenakan pakaian gelap dengan jaket yang pas badan sehingga memperjelas bentuk tubuhnya yang bagus? Kenapa dia harus mengenakan sepatu yang membuatnya terkesan lebih muda, bukan sepatu pentofel saja? Dan paling mengesalkan, kenapa lelaki itu mengenakan kacamata berwarna gelap? Mereka duduk di bagian depan. Kelas bisnis. Dua orang tadi duduk persis di seberang mereka. Danu kembali mengeluarkan ponselnya dan memainkan aplikasi pesan online, sedangkan Dara berusaha meredam rasa gugupnya dengan menoleh ke samping. Danu memberinya duduk di sebelah jendela. Hal yang Dara syukuri. “Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan ....” Dara menoleh sedikit ke belakang karena pramugari peraga berdiri satu lorong di belakang mereka. Merasa kesal karena tidak bisa melihat dengan jelas, padahal ini kali pertama dia terbang. Ketika berhenti mengintip aksi sang pramugari, dia bertemu pandang dengan Danu. Lelaki itu memasang senyum mengejek. Kacamatanya telah dilepas dan ponsel lelaki itu telah disimpan. Dara bahkan tidak menyadarinya. ***Penerbangan itu hanya sebentar. Meski begitu, Dara sempat tertidur beberapa menit saat mereka benar-benar sedang di antara awan dan oksigen di kepalanya seakan menipis. Tidur yang tidak bisa lama karena ulah Danu. Pria itu menciumnya ... basah. Melibatkan pagutan dan lidah. Dara bahkan terus terbayang adegan itu sepanjang perjalanan mereka menuju hotel. Dara kira mereka akan mendapatkan teguran, ternyata tidak. Seakan Danu paham kapan waktu yang tepat berbuat m***m--tanpa disadari seorang pun. Untungnya di dalam mobil, pria itu mendapat panggilan yang lumayan panjang. Setelah selesai dengan panggilan ponsel pun, Danu berbincang dengan kedua orang yang mengikuti mereka tentang sesuatu yang tidak Dara pahami. Hanya tangan lelaki itu yang melingkar di pinggangnya dan sesekali mengelus bagian antara pinggul dan d**a Dara itu. Mereka memasuki area yang Dara tebak merupakan tempat mereka menginap. Sebuah hotel yang cukup megah. Dara merasa seperti seorang gembel berdiri di samping Danu dan masuk ke dalam hotel itu karena sedari tadi mereka berpapasan dengan orang yang berpenampilan berkelas. Bahkan wanita yang mengiringi mereka tampak lebih layak menjadi pendamping Danu. Seperti biasa, proses registrasi tidak dilakukan oleh Danu. Dara, Danu, dan si pendamping wanita hanya duduk manis sembari menunggu. “Sudah, Pak,” ucap lelaki itu.  Mereka pun menuju kamar yang ternyata selantai dan bersebelahan. Lelaki pendamping yang kali ini bernama Angga itu membukakan pintu kamar mereka, menempelkan kartu di dinding, memandangi isi kamar seakan memastikan kenyamanan bagi bosnya, lalu dia pun menunduk sopan sebelum beranjak menuju kamarnya sendiri. Sedangkan si wanita yang sepertinya adalah asisten Danu itu memang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu dan mengekor saat Angga melangkah pergi. Dara berdiri kaku. Bingung harus apa. Dia hanya berdiri saja di belakang Danu yang mulai menaruh kacamatanya di meja, lalu melepas jaketnya sehingga Dara menenggak ludah melihat tubuh lelaki itu yang hanya dibalut kaos abu-abu yang untungnya tidak mengetat di badan. Kalau iya, mungkin Dara benar-benar akan pingsan. Dia pasti terlalu fokus mengamati keunggulan diri Danu sampai membayangkan pria itu kini membalik tubuh dan berjalan cepat ke arahnya. Sangat cepat seperti singa lapar hendak memakan mangsanya. Terlalu cepat sampai akhirnya Dara tidak sempat menertawai ketidak-fokusannya karena ternyata itu bukan khayalan. Danu kini sudah melahapnya. Merengkuhnya dalam dekapan pria itu dengan pagutan yang sangat lapar. Seakan sikap tenang dan dingin pria itu sedari tadi hanyalah akting dan terhapus begitu saja karena kini mereka telah berdua. Tangan Danu meraja lela. Tadi mendekap, sekarang mulai meraba-raba. Mencengkeram bagian b****g Dara dan meremasnya kuat, bahkan seakan menjadikan anggota tubuh Dara itu sebagai pegangan saat menarik Dara agar menjinjit.  Dara kini sama hausnya. Meski amatir, dia berusaha mengimbangi. Dia menjulurkan lidahnya menyambut lidah Danu. Memahan erangan saat lidah Danu yang keras itu bergerak begitu liar menjelajah di dalam mulutnya dan kembali menyerang lidahnya. Tangan Dara pun melingkari leher Danu saat tenaganya menipis. Dara tidak mampu berdiri tegak saat serangan berintensitas tinggi itu dilayangkan bertubi. Tubuhnya berdenyut di mana-mana. Membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Tindakan Danu yang tidak senonoh, terasa belum cukup kurang ajar sehingga Dara meluarkan rintihan protes.  Dia menginginkan lebih.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN