Hari demi hari berlalu. Dara menandai setiap pergantian hari di kalender yang dia buat manual di bindernya. Terlalu riskan menandai di kalender rumahnya. Laras atau mungkin ibunya akan curiga dan bertanya-tanya, ada apa dengan tanggal yang ditandai itu.
Semua sudah terlanjur terjadi. Dia bukan lagi Dara yang berselaput Dara. Danu juga berhasil membuatnya kehilangan rasa ragu tentang apakah pria itu berminat pada tubuhnya atau tidak. Dan luar biasanya, Danu mentransfer uang padanya dengan jumlah yang membuat Dara kaget akan harga-nya sendiri.
Sejujurnya, dia tidak pernah merasa akan dibayar semahal itu. Di kepalanya, ada banyak wanita cantik lainnya yang mau menjajakan tubuh muda dan segar mereka demi uang. Bahkan beberapa perempuan tidak merasa perlu memasang harga mahal karena menganggap keperawanan bukanlah lagi sesuatu yang spesial.
Mungkin pemikiran lugu itu dia dapatkan karena terlalu sering bergaul dengan Lucy.
Begitu menerima uang yang hampir dua kali lipat dari harga ganti rugi yang diminta korban tabrakan adiknya, Dara langsung mengabari ibunya, mengatakan bahwa uang sebanyak itu diberikan oleh Lucy dan boleh dibayar dengan cara mencicil dengan syarat Dara bersedia membantunya lebih sering lagi.
Untungnya ibunya percaya dan tidak bertanya kenapa Dara tidak pulang. Mungkin, di keluarga Dara, Lucy benar-benar telah dijadikan sebagai malaikat penolong sehingga apa pun yang melibatkan nama wanita itu, tidak akan dianggap sebagai suatu kesalahan.
Dara sudah berangan-angan banyak dengan uang itu. Uangnya. Memalukan, tetapi itu pertama kali saldo rekeningnya sebanyak itu dan dia bebas menggunakannya untuk apa saja. Dia akan menunggu momen yang tepat dan membelikan sesuatu untuk Laras. Misalnya, mengganti ponsel, membelikan laptop, atau apa saja. Hadiah ulang tahun. Dia juga bisa membelikan kursi pijat untuk ayahnya, serta pakaian baru untuk ibunya. Jika tersisa, dia bisa membelikan adik lelakinya sepatu baru yang lumayan bagus.
Hanya sekali. Semua ini hanya akan terjadi sekali. Danu mungkin menghargainya semahal itu karena pria itu kaya dan Dara masih belum pernah dijamah. Setelah itu, Dara akan menjadi sama dengan wanita lain dan tidak lagi berharga.
“Gue lihat, lo sama Bu Chika akrab ya. Nggak nyangka.”
Dara melirik Seno, lalu tersenyum tipis. Kemarin dia digosipkan karena pulang bersama Danu dan tidak bekerja keesokan harinya. Apalagi, pria suruhan Danu-lah yang menjemput motornya. Dara diperbolehkan bertemu dengan Lucy, tetapi tidak dengan pulang ke rumah. Kata pria itu, dan memang masuk akal, keluarga Dara akan curiga dengan cara jalan Dara yang aneh. Dan bersyukurnya Dara, Danu malah membantu Lucy membuat kebohongan sehingga Adam tidak jadi marah pada istrinya.
Malah Lucy dengan semangat bagaimana rasanya saat “itu” terjadi. Sesuatu yang tidak bisa Dara jelaskan. Agak aneh karena pria pertama Dara juga merupakan pria yang pernah bersama Lucy. Lebih aneh lagi jika dia membahas apa saja yang dia rasakan berkat kemahiran pria itu. Terasa seperti mereka adalah dua jalang pemuja kenikmatan yang sedang membahas hal yang mereka puja itu.
“Woi, gue nanya!”
Dara tersadar dari lamunannya, lalu meninju Seno pelan. “Nggak ada, Seno. Bu Chika nanya gue apa kabar dan ngasih gue izin buat cuti, bukan berarti kami akrab.”
“Semua tau Bu Chika secerewet apa. Dia nggak pernah mau rugi. Dan gue lihat, dia malah belakangan suka ke sini. Padahal biasanya juga berapa kali doang selama sebulan. Dia kan lebih suka di restorannya dibanding di sini. Biasa juga adeknya yang ke sini.”
Dara mengedikkan bahunya. “Mana gue tau. Orang dia juga ke gue-nya cuma nanya kabar dan bahas hal-hal umum. Perasaan biasa aja, deh!”
Seno tampak tidak percaya, tetapi dia berhenti bertanya. Dara yang sedang menghitung uang dari mesin karis pun merasa lega. Keingin-tahuan Reno membuatnya tertekan karena harus menghindar atau mengarang kebohongan.
Selesai dengan pekerjaannya, Dara pun beranjak. Tidak langsung pulang. Besok, hari di mana dia akan pergi menemani Danu pun tiba. Katanya, mereka akan ke Medan. Artinya, untuk pertama kalinya, Dara akan naik pesawat. Sebenarnya, dia takut. Namun, dia tidak dalam situasi bisa menawar.
Dara mampir di salon yang dianggapnya tidak terlalu murahan, tetapi juga tidak terlalu mahal. Saat masuk ke dalam, perasaan malu karena salon itu lumayan ramai pun berusaha dia tekan. Para orang di sana yang tadinya melihat ke arah Dara pun sudah kembali fokus pada kegiatan mereka. Seorang perempuan dengan rambut hampir seperti pelangi menghampiri Dara.
“Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa dibantu?”
“Eum ... saya ... saya mau perawatan, bisa?”
“Perawatan apa, Mbak?”
“Sepaket, Mbak. Dari rambut sampai badan, pokoknya.”
“Oh. Bisa, Kak.” Si petugas salon itu menggiring Dara ke meja kasir dan menunjukkan buku menu yang berisi beberapa jenis paket perawatan tubuh.
Dara pun mulai mengikuti instruksi dari petugas salon yang menanganinya. Biasanya, dia ke salon bersama Lucy. Perempuan itu yang memilihkan jenis treatment untuknya. Lalu, membayarnya. Dara tidak pernah mau mendengar nominal tagihan karena takut terbebani. Toh, memang Lucy yang berniat membayarinya.
Danu benar-benar membuatnya melalui beberapa hal untuk pertama kali dalam hidupnya. Menyadari itu, terselip sedikit rasa terima kasih dalam dirinya. Jika tidak dalam situasi seperti ini, Dara tidak akan mau melakukan hal-hal ini. Dia lebih memilih kehidupan aman dan nyaman meski datar dan membosankan.
***“Kakak kenapa?”
Dara yang sedang bercermin melirik Laras dari balik pantulan cermin. ”Kenapa?” ulangnya, balik bertanya.
“Ada yang beda sama Kakak. Kakak baik-baik aja?”
Dara mengangguk. Jantungnya berdegup kencang dan dia merasa panik ditanya seperti itu. Dia duduk di tepi ranjang dan memiringkan tubuh sehingga bisa melihat Laras yang sedang berbaring sambil membaca novel dengan mudah.
“Memangnya, Kakak kenapa sampe kamu nanya begitu?”
Laras memandang Dara lama, tepat di mata, sehingga Dara mengalihkan pandangannya. Perasaan asing seperti sedang ditelanjangi membuatnya risih. Seakan dengan membiarkan Laras melihat matanya lebih lama berpotensi membuat adik perempuan kesayangannya itu jadi tahu dosa apa saja yang telah dia lakukan.
“Kakak banyak diam, banyak melamun, banyak lihat hp padahal nggak ngapa-ngapain.”
“Oh ya?” Dara memandangi jemarinya yang saling bertaut di pangkuan wanita itu. ”Entahlah. Mungkin karena Kakak terbebani dengan utang Kakak ke Lucy. Meski dia nggak akan nagih, tetap aja judulnya utang.”
Pintar sekali sekarang aku berbohong, batin Dara.
Ranjang bergerak, Laras kini telah duduk dengan tubuh menghadap ke arah Dara. Pandangannya sendu, tampak cemas. ”Iya, itu banyak banget, Kak. Harusnya Kakak nggak ngutang sebanyak itu. Lagian, Andika juga salah. Biar dia yang mikir solusinya. Masak bisa sih dia nabrak sampe separah itu? Dia naik motor loh, yang ditabrak mobil. Ini tuh aneh, Kak.”
Dara terdiam, lalu membuang napas lelah. ”Kakak nggak paham dan semua sudah terjadi. Ibu sudah terlanjur bilang mau bayar dan uangnya juga sudah dikasih. Kita bisa apa?”
“Dan Ibu tuh selalu bela Andika!”
“Heh! Nggak boleh gitu, Sayang. Ibu sayang kita semua kan. Nggak bener Ibu selalu bela Andika. Itu cuma perasaan kamu aja.”
Laras kembali ke posisi berbaring dan menekuni novelnya. Dara tahu itu hanya cara Laras mengakhiri perdebatan. Adiknya itu akan selalu mengakhiri obrolan yang dia tidak sukai dan menutup akses untuk pembahasan hal lain. Dia akan diam dan tidak menanggapi apa pun lagi.
Dalam hati, Dara merasa bersyukur dia telah memiliki tabungan yang bisa dipakai untuk memberikan hadiah pada Laras saat adiknya itu nanti ulang tahun dan sudah menjadi mahasiswi. Jika Laras merasa tidak disayangi dengan seimbang oleh ibu mereka, maka Dara akan membuat semua menjadi seimbang. Sebagai anak tertua, dia akan memastikan semua berjalan lancar dan keluarganya selalu harmonis.
Dara membaringkan tubuhnya, berusaha untuk tidur dengan lelap. Dia sudah izin pada ibunya dengan alasan menemani Lucy pemotretan di luar kota, dan tentu saja diberi izin. Dan sialnya, dia tidak bisa tidur sama sekali. Seakan matanya tidak bersedia melewati momen pergantian hari dan detik demi detik di mana dia akan pergi ke luar kota, mengendarai pesawat, dan menjadi “pendamping” dinas Danu.
Bahkan kini bayang-bayang bagaimana jemari Danu menggerayangi tubuhnya berputar-putar di kepala Dara. Bukan, bukan hanya bayangan. Bahkan terasa amat nyata. Membuat tubuh Dara memanas dan tenggorokannya tercekat.
Dan sampai pagi menjelang, mata Dara masih terbuka lebar.
“Berangkat jam berapa?” tanya ibu Dara saat mereka sarapan bersama.
“Nggak tau, Bu. Lucy nyuruh ke rumahnya pagi. Berangkat sama-sama dari sana.”
Ibu Lucy mengangguk, sedangkan sang ayah masih sibuk dengan kopi dan korannya.
“Sebenarnya Ibu nggak suka sama Lucy. Cuma memang dia udah banyak nolong kita. Kalau nggak ada dia, Ibu nggak tau deh.”
Dara mengangguk dengan mata menatap ke arah Laras, sang adik yang memasang wajah muram sedari tadi.
“Ibu mau aku bawain oleh-oleh apa? Makanan khas sana aja, ya?”
“Kamu yang nanya kamu yang jawab. Dasar!” Ibu Dara memasang wajah mengejek sambil tersenyum, membuat Dara tertawa pelan.
“Kalian kenapa sih, kok pada diam?” Ibu Dara kini bertanya pada Andika dan Laras bergantian.
Andika menggaruk kepalanya lalu menggeleng, sedangkan Laras tidak bereaksi sama sekali, seolah tidak mendengar.
“Kamu kenapa, Laras? Lagi patah hati? Emang kamu punya pacar?”
Laras melirik dengan pandangan sinis, lalu mencibir. “Ibu tuh kebiasaan ngomong sama Laras dan Kak Dara selalu mengarah ke bully. Ibu pernah sadar nggak sih, ucapan yang di Ibu terdengar sepele itu bisa membuat kami nggak nyaman?”
“Lah, Ibu kan nanya!”
“Ya, tapi cara bicara Ibu itu! Emang kamu punya pacar? Kayak sangsi banget aku punya pacar.”
“Tapi kamu punya?”
Laras diam dengan pandangan yang semakin tidak bersahabat, lalu dia meninggalkan meja makan. Ibu Dara sudah bersiap untuk bersumpah serapah, hanya saja sang suami berdeham dan memberi kode lewat tatapan matanya untuk diam.
Dara bersyukur kali ini ibunya mau mendengarkan ayahnya. Biasanya ibunya akan abai, melakukan apa yang dia mau agar amarahnya terlampiaskan.
“Kamu nasehatin tuh adek kamu! Pembangkang! Baru tamat sekolah saja sudah begitu, gimana kalau sudah tamat kuliah? Bisa-bisa Ibu dibantah setiap bicara! Heran Ibu sama Laras!”
Dara menarik napas panjang, memasang senyum dipaksakan. Mendapat hiburan seperti ini di jam sarapan mendadak membuat Dara malah bersyukur dia akan pergi. Sekama beberapa hari, setidaknya, dia akan terbebas dari rutinitas biasa. Memiliki waktu untuk memikirkan hal lain, selain sikap Laras yang tampak mulai membangkang pada ibu mereka juga sang ibu yang bertambah sering mengeluh masalah keuangan. Ah ya, tidak lupa juga ayah mereka yang mulai tampak tidak peduli pada apa saja yang terjadi di rumah selama kopi dan koran tersedia di hadapannya.