8.

2592 Kata
Sepanjang perjalanan, mereka saling diam. Dara tidak berani bertanya mereka akan ke mana dan melakukan apa, termasuk untuk membahas mengenai sepeda motornya yang ditinggalkan, juga tentang dia yang tidak bisa pulang terlalu malam.  Mobil pun memasuki area sebuah hotel bintang lima. Saat mobil itu telah terparkir di lobi, Danu segera turun dan memberi kode kepada Dara untuk melakukan hal yang sama. Mereka turun bertiga, dengan pria yang selalu bersama Danu dan tadi duduk di sebelah supir. Kepala Dara menunduk. Merasa semua orang yang melihat mereka pasti sudah menerka apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar. Meski tidak memiliki banyak kenalan, tetap saja Dara berharap tidak bertemu dengan orang yang dia kenal.  Danu menarik tangan Dara dan membawanya untuk duduk sementara pria satu lagi menghampiri resepsionis. Setelah pria itu selesai melakukan registrasi, mereka pun beranjak menuju kamar hotel. Dara berjalan di sebelah Danu. Sejajar. Itu karena setiap kali langkahnya melambat, Danu akan menyampirkan tangannya ke bahu belakang Dara dan mendorong pelan.  Setibanya di depan pintu kamar hotel, pria tadi membuka pintunya lebar dan mengangguk. Danu masuk ke dalam sedangkan Dara masih terpaku di tempat. Danu berhenti di langkah ke tiga dan memutar sedikit tubuhnya, memandang Dara geli. “Mau berdiri di sana sampai berapa lama?”  Dara menggaruk kepalanya kemudian melangkah pelan-pelan, masuk ke dalam. Mereka hanya akan melakukan itu, memakai kamar untuk beberapa jam, tetapi Danu menyewa kamar yang besar dan mewah. Beberapa kali dibawa Lucy ke lokasi transaksi gairah sahabatnya itu, Dara tidak pernah memasuki kamar seperti kamar mereka ini.  Tangan Danu terulur dan secara naluri Dara menyambutnya. Cara Danu memandangnya, membuat Dara tidak berani menoleh ke pintu yang baru saja ditutup. Danu menariknya, membuat tubuh mereka kini berhadapan dengan jarak yang sangat tipis. Danu terus memandangnya dengan sorot yang dalam seolah menunggu Dara melakukan sesuatu--yang tentu saja tidak Dara ketahui karena dia masih begitu amatir. Dara berpaling saat Danu menurunkan wajahnya, dan langsung menggigit bibirnya karena merasa telah salah dalam bersikap. Bahkan baru begini saja, Dara sudah merasa basah di bawah sana. Saat napas panas Danu menerpa kulitnya yang sensitif, denyutan di bagian kewanitaan Dara semakin menjadi.  Bukankah memalukan jika Danu mendapati betapa basahnya dia di bawah sana? Dengan akal sehat yang tersisa, Dara mendorong tubuh Danu sedikit. ”Aku ... aku mandi dulu,” ucapnya gugup. “Mau mengulur-ulur waktu?” “Tidak sampai sepuluh menit. Aku janji!” Dara berusaha meyakinkan. Danu menaikkan alisnya sebelah, lalu menyunggingkan bibirnya ke bawah. Seolah membiarkan tetapi tidak sepenuh hati. ”Aku bukan orang penyabar,” ucap Danu, lalu pria itu berjalan menuju ranjang dengan tangan yang menarik ujung bajunya. Melihat itu, Dara segera berjalan setengah berlari menuju kamar mandi. Dia tidak boleh mempermalukan dirinya sendiri. Egonya sebagai wanita ingin malam ini berlangsung mulus dan tidak menyisakan luka--yang berasal dari hinaan yang terlontar karena dirinya membuat jijik. Dara mulai melepas pakaiannya dan menyabuni tubuhnya. Meski tidak bisa menyamai harumnya tubuh Lucy, setidaknya Dara tidak bau. Begitu pula area intimnya, Dara menyiram dan menyingkirkan semua cairan yang ada di sana. Mengelapnya menggunakan tisu, memastikan area itu benar-benar bersih.  Dara pun menyadari satu hal. Semua itu akan sia-sia jika dia kembali mengenakan pakaiannya yang telah dipakai seharian penuh saat bekerja tadi, termasuk celana dalamnya yang melembab di bagian tengah. Memberanikan diri, Dara pun melilitkan handuk ke tubuhnya. Dia tidak perlu malu. Danu telah melihat banyak wanita telanjang meski sepertinya mereka semua berpenampilan lebih baik darinya. Menarik dan membuang napas panjang, Dara memutar knop pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan langkah berat. Tubuhnya beberapa detik menggigil, tetapi langsung memanas saat melihat Danu yang kini tidak mengenakan baju dengan selimut menyampir dari pinggang ke bawah. Membayangkan apa yang ada di balik selimut itu, Dara merona. Terutama saat Danu yang tadinya sibuk dengan ponselnya kini telah menoleh dan tersenyum khas pria itu, miring dan tampak meremehkan sekaligus geli. “Lepaskan handukmu, Dara,” ucap Danu dengan pandangan terpaku ke bagian d**a Dara. ”Lepaskan sekarang juga.” Pandangan Danu telah berkabut, wajahnya menggambarkan jelas gairah pria itu. Dara tidak berani mempermainkan gairah Danu itu sehingga dengan tangan yang bergetar, dia menarik ujung handuk yang terselip di bagian pinggir dadanya, sehingga kini tubuh telanjangnya terpampang dengan jelas. Amat sangat jelas.   Danu menenggak ludah. Dara terpana melihat bagaimana jakun pria itu bergerak dengan jelas, serta mulut Danu yang kini sedikit membuka. Meski mungkin Danu selalu lapar saat bersama wanita, tetapi bagi Dara, ini tetap membuatnya bangga. Pertama kali dia membiarkan pria dewasa melihat tubuhnya yang polos, dan pria itu tampak memuja apa yang dia lihat. “Naiklah ....” Danu masih berbicara dengan pandangan terkunci di d**a Dara. ”Merangkak,” imbuhnya. Dengan kepercayaan diri yang mulai menggunung, Dara melakukannya. Sia-sia dia mengeringkan area intimnya tadi, karena kini saat pahanya bergesekan, Dara merasa bagian itu kembali lembab oleh cairan sedikit kental. “Tatap aku, Dara ....” Pandangan mereka bertemu. Dara telah menungging dengan tubuh depan persis di depan Danu yang duduk sedikit miring. Tubuh pria itu menempel di kepala ranjang bersanggakan bantal. Matanya menyipit, sarat akan gairah. Dengan ponsel yang digenggam oleh tangan kanannya, dia menarik dagu Dara hingga kepala wanita itu lebih menengadah. “Pintar sekali Lucy menyembunyikan  dirimu selama ini, Dara. Dan aku bersyukur akan hal itu,” ucapnya sembari tersenyum penuh makna. Dara tidak paham, tetapi tidak bertanya. Meski canggung dengan posisinya, dia tidak berani bergerak jika tidak mendapatkan perintah.  “Cium aku, Dara ....” “Ta ... tapi ....” “Aku membayar untuk mendapatkan pelayanan, bukan?” Danu terkekeh pelan.  Di mata Dara, Danu tampak sedikit memajukan bibirnya, memberi akses padanya untuk mengeksplor benda yang sedikit tebal di bagian bawahnya itu. Dara tertarik, tetapi dia tidak memiliki cukup pengalaman. Tanpa sadar, dia menjilat bibirnya. “Bukankah lidah itu harusnya menempel di tempat lain, Daraku?” Dara kembali berdenyut hebat. Suara serak Danu, ucapan-ucapan pria itu yang masih terdengar sopan tetapi mengarah pada hal tabu, pandangan pria itu yang seakan ingin menelannya habis tetapi masih bersedia menunggu, semua membuat Dara kelimpungan.  Akan lebih mudah jika Danu segera menariknya, menyatukan tubuh mereka, memaksakan kepuasan pria itu meski menyakiti tubuh Dara. Ini tidak. Danu mengulur waktu dan Dara tersiksa di setiap detiknya.  “Aku tidak pernah ... “ Dara menarik napas panjang. ”Aku minta maaf, tetapi aku benar-benar bukan salah satu dari perempuan seperti Lucy. Aku ... benar-benar tidak paham.” Dara merengek, meminta pemakluman. Namun, kepala Danu semakin menengadah, seakan mengirimkan ancaman jika Dara berani menolak. Senyum miring yang tampak licik kembali terpasang di wajah pria itu. Meski menyebalkan, senyum itu berhasil membuat Dara merasa terpaksa melakukan apa yang Danu minta.  Dara mendekatkan kepalanya sembari menahan napas. Semakin dekat wajah mereka, semakin Dara memicingkan matanya. Dia tidak berani melihat Danu dengan jarak seperti itu. Tidak berani pula membiarkan matanya menyaksikan reaksi Danu saat akhirnya bibir mereka bersentuhan. Bibirnya menekan bibir Danu yang padat dan panas. Menempel beberapa lama ... terasa lama ... membuat Dara merasa ingin menarik dan menekan bibirnya dalam waktu yang sama. Dan reaksi dingin Danu, membuat Dara akhirnya memundurkan tubuhnya. Merasa malu. Dia sudah terbakar, tetapi Danu sekarang malah tampak biasa saja. “Sudah kubilang aku tidak bisa!” ucapnya putus asa.  Danu tertawa geli. ”Dengan siapa sebenarnya selama ini kamu berpacaran, Dara,” ucapnya. Lalu, jemari Danu menangkup rahang Dara dan menariknya. Kembali menempelkan bibir mereka dengan sedikit terbuka. Awalnya hanya menempel dengan tekanan biasa. Lalu, sedikit mengurangi tekanan untuk kemudian mulai memagut.  Pelan-pelan, berulang kali, seakan mengajari Dara untuk melakukan hal yang sama. Pagutan yang semakin lama semakin dalam, keras, dan bernafsu.  Dara masih dalam posisi yang sama. Mulai gelisah tetapi tidak berani mengubah posisi, padahal Danu tidak berhenti bermain dengan bibirnya. Tangan pria itu pun ikut menyiksa Dara dengan bermain di p******a Dara yang semakin sensitif. Yang Dara bisa lakukan hanya melengkungkan tubuhnya agar Danu lebih mudah meraih benda itu. “Eungghhhh ....” Dara melenguh dalam pagutan Danu saat jemari Danu mencubit puncak payudaranya dengan kekuatan yang tidak main-main. Anehnya, itu membuat sesuatu meledak di bawah sana. Dara merasa pelepasan yang membuat tubuhnya bergetar. Pandangannya meredup. Dia kehilangan fokus pada ciuman mereka. Seakan mengerti, Danu berhenti mengirimkan pagutan. Dan mata Dara pun terpejam, menikmati sisa denyutan yang terasa menyenangkan. “Itu masih sebagian kecil dari kenikmatan yang akan kita rasakan malam ini, Dara ....”  Ucapan pria itu terdengan seperti janji yang menggiurkan. Malam ini, Dara kehilangan rasa bersalah karena berani mengikuti permainan kotor dari kalangan orang seperti Danu dan Lucy. Dia malah tergoda dan setengah menanti pemenuhan janji itu. Dengan sigap, dia pun membalas pagutan Danu yang kini sudah menarik dan menindih tubuhnya. Bahkan Dara merasa terganggu dengan selimut yang menghalangi tubuh telanjang mereka bersentuhan dengan sempurna.  Harusnya, tubuh Dara yang sedari tadi berdenyut itu mendapatkan tekanan yang sempurna. ***Tubuh Dara mengencang, menjepit lebih kuat saat Danu bergerak lebih cepat padahal di bawah sana mulai terasa perih. Memaklumi kebutuhan Danu akan kepuasan final, Dara berusaha menahan erangan sakitnya. Entah berapa lama mereka terjaga. Danu membimbing begitu sabar sampai Dara bisa melalui saat pertamanya dengan mudah. Sebagai gantinya, kini Danu memanfaatkan tubuh Dara yang sudah lemas untuk mendapatkan orgasmenya. Mana mungkin Dara berkata tidak. Sepanjang malam, Danu lebih bersikap layaknya kekasih dibanding pelanggan. Kesan menyeramkan yang Dara dapatkan di awal, gugur begitu saja. Bagaimana Lucy mendeskripsikan bringasnya Danu di ranjang, seakan terpatahkan. Danu lembut, meski kini memang sedikit menggila. “Arrkkhhh ....” Akhirnya, Danu mengerang dan sesuatu yang hangat seakan tumpah di dalam sana, di dalam tubuh Dara. Membuat Dara ikut memejamkan matanya sesaat menikmati sensasi asing yang begitu menyenangkan. Lalu, tubuh Danu ambruk di atas Dara.  “Huh!” Danu melenguh kasar dan menggeser tubuhnya ke samping Dara. ”Tidurlah. Kita sudah impas,” ucap Danu. Dara memberanikan diri menoleh ke samping dan terpana dengan pemandangan yang dilihatnya. Danu yang tersengal, sedikit berkeringat padahal suhu ruangan dingin, dan wajah pria itu yang tampak puas. Sekarang terasa semakin tidak adil jika Lucy mendapatkan banyak uang dari aktivitas seperti ini. Di sisi mana Lucy memberikan jasanya? Bukankah, kegiatan itu berlangsung dua arah? Si lelaki pun bergerak aktif memuaskan si wanita? Dan, Dara pun mendadak penasaran mengapa Danu yang sesempurna ini di matanya, harus memakai jasa perempuan bayaran untuk kepuasannya. Dara yakin, ada banyak perempuan yang mengantri pada Danu. Wanita-wanita cantik dari kalangan yang setara, yang sama-sama bergaya hidup bebas. Saling suka dan saling butuh. Tidak ada ikatan hanya ada hubungan saling menguntungkan. Dara memang tidak pernah melihat langsung, tetapi dia pernah mendengar dan percaya hubungan seperti itu memang ada. Inginnya Dara, dia memeluk tubuh keras dan padat Danu. Merasakan kenyamanan yang dirasakannya saat bersentuhan dengan tubuh pria itu. Tetapi, mata Danu berangsung terpejam. Dara takut mengganggu sehingga dia pun hanya berbaring miring dengan kedua tangan yang dijadikan alas penopang kepala. Dia sedang menikmati kesempatan merekam kenangan bersama Danu. Bisa jadi besok pagi semua akan berubah menyeramkan.  ***Seorang pria sedang berbicara panjang lebar. Semua memerhatikan, kecuali Danu. Dia mencoba fokus pada apa yang sedang Brata ucapkan, tetapi gagal. Pikirannya masih dipenuhi pada sosok yang menemaninya tadi malam. Dara yang dia tinggalkan tanpa pesan apa pun karena ajakan bertemu dari Brata yang sangat mendadak.  Dia tidak harus bersikap baik pada Dara dengan bertahan di sana sampai wanita itu bangun, atau menitipkan pesan agar tidak terkesan begitu cuek. Danu biasa meninggalkan kamar bahkan begitu kepuasan telah dia dapatkan. Hanya saja, semua terasa salah. “Jadi begitu rencana saya. Dan saya berharap kamu, Danu, bisa mengerjakan semua dengan baik untuk saya. Anggaplah ini permintaan kecil dari saya.” Danu mengangguk sambil tersenyum. Berpura-pura paham agar Brata tenang. Mereka pun kemudian membicarakan hal-hal lain yang lebih ringan sambil menunggu jam makan siang tiba.  Brata, pria tua itu, ternyata di luar dugaan Danu. Dia terjebak pesona sang SPG minuman dan akan menikah dengan wanita itu secara resmi. Bodoh, bagi Danu itu adalah hal yang sangat bodoh. Hanya saja, siapa yang tidak kenal Brata? Pria itu berhasil meraih semua yang dimilikinya sekarang memang dengan cara yang tidak baik. Sikap buruknyalah yang membuat semua menjadi mudah. Karena beberapa orang langsung ciut untuk berhadapan dengannya, apalagi menghalangi langkahnya. Kasus terberat yang pernah menjerat Brata adalah pembakaran rumah seorang pejabat yang memang posisinya kurang kuat. Pejabat itu berusaha menghalangi Brata mendapatkan proyek dan ucapannya membuat Brata tersinggung. Akhirnya, Brata memerintahkan anak buahnya membuat onar dan membakar rumah pejabat itu. Mirisnya, Brata hanya dihukum sebentar. Kasusnya pun tidak pernah dibahas lagi di media masa mana pun. Mengendap begitu saja. “Kamu mau pesan apa, Danu?” tanya calon istri Brata bernama Eline itu dengan gesture tubuh yang genit saat hari telah siang dan pelayan pun sudah dipanggil untuk orderan makan siang.  Danu menyebutkan pesanannya langsung pada pelayan, mengabaikan usaha Eline untuk berinteraksi dengannya. Wanita itu berbahaya. Danu bisa melihat dengan jelas masih ada ambisi yang tertanam di kepalanya. Mungkin dendam, mungkin juga ego untuk mendapatkan apa yang belum berhasil wanita itu dapatkan darinya. “Mengingat pernikahannya masih tiba bulan lagi, bukankah masih ada waktu untuk mendahului, Danu?” Sebuah candaan terlontar dari si tangan kanan Brata. Danu ikut tertawa. ”Tentu saja sempat. Saya tidak boleh membiarkan Pak Brata unggul terlalu banyak, bukan?” timpalnya.  Semua diam, tampak mencerna ucapan Danu. Sedangkan Danu, dia mulai meraih sendok dan garpu, mulai menyantap makan siang yang telah selesai disajikan si pelayan. ”Ayo makan, tunggu apa lagi?” Danu menggerakkan tangannya, isyarat untuk mengajak. “Maksud kamu ... kamu benar-benar akan menikah? Atau saya yang salah paham?” Raut jenaka lenyap dari pria yang tadinya menjadikan status lajang Danu sebagai bahan olokan berbalut candaan. “Ya ... menikah. Segera. Meski tentu saja, kawinnya sudah lebih dulu.” Danu pun mengakhiri kalimatnya dengan tawa yang kemudian disambut yang lain dengan berbagai ucapan. “Wah ... siapa perempuan itu, Danu? Diam-diam kamu ternyata sudah memiliki calon istri! Hebat sekali kamu menyimpan berita sebesar ini!”  Danu meraih gelas berisi air putih dan meminumnya sebelum kemudian menjawab ucapan Brata dengan senyum terpasang di wajahnya. ”Seorang wanita yang layak dijadikan istri, juga ibu dari anak-anakku nanti.” Bahu pria itu terangkat, sebelum berkata, ”Perempuan biasa, tetapi cukup memikat di mata saya.” Brata kembali bereaksi seolah dia adalah pihak paling bahagia dengan berita itu dan menyanjung-nyanjung pilihan Danu. Berkata bahwa wanita biasa memang terkadang lebih membuat nyaman karena mudah diatur dan dikondisikan. Seperti bagaimana Brata akhirnya memilih Eline untuk menjadi nyonya besarnya.  Danu mengiyakan ucapan Brata. Tidak ambil pusing dengan tidak masuk akalnya pujian Brata pada Eline sedari tadi. Jelas pria itu sedang diperbudak pesona Eline. Brata seperti sedang puber kedua dan Eline tampak begitu lihai mengendalikan semuanya. Membuat Brata masih merasa superior dan dia akan menuruti semua yang diinginkan pria itu, padahal Danu yakin, Eline sudah mulai menjalankan strateginya untuk memasang tali kekang di hidung Brata tanpa pria tua itu sadari. Inilah mengapa Danu akan menikah. Begitu banyak wanita berbahaya dan sejujurnya dia memang membutuhkan penerus. Dia sudah mulai tertarik pada gagasan memiliki anak dan sedang memulai prosesnya pada Dara--tentu saja tanpa wanita itu sadari. Danu tidak memakai pengaman dan dia menyuruh Dara meminum pil. Itu benar. Dara tidak akan hamil meski Danu mengeluarkannya di dalam. Tapi, Danu akan memastikan itu nanti. Saat mereka melakukan transaksi yang sebenarnya. Di mana dia memiliki waktu seminggu untuk memastikan proses pembuahan itu berjalan dengan sempurna dan kesuburan Dara akan terjawab beberapa minggu setelahnya.  Danu pernah mendengar bahwa dua orang yang tidak bermasalah kesuburannya pun bisa sulit mendapatkan keturunan. Itu mengapa pemeriksaan medis tidak akan berguna. Dia harus memastikan dengan cara konvensional. Memastikan Dara bisa mengandung lalu kemudian menikahi wanita itu. Licik. Tetapi itu lebih baik daripada dia harus menikahi Dara lalu kemudian mencari wanita lain untuk mengandung anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN