7. Cicilan Transaksi

1671 Kata
Dara tidak berani menatap ponselnya karena melihat benda yang layarnya pudar itu, mengingatkan wanita itu pada kebodohannya tadi pagi. Perasaan was was menggelayutinya. Benar-benar takut Danu akan melakukan sesuatu. Meski sebenarnya, Dara sedikit percaya kalau Danu salah menerka orang. Tadi pria itu berbicara seolah mereka telah mengenal ... dan dekat. "Kenapa, sih?" tanya salah seorang rekan kerja Dara. Dara menggelengkan kepalanya dan mencoba fokus. Mengusir semua bayangan ketakutan yang menghampirinya. Dia akan baik-baik saja. Lucy lebih dulu berkecimpung pada dunia yang tidak baik ini dan sampai saat ini dia masih hidup. Meskipun sering mendapat masalah, dia berhasil menjaga nama baiknya dan semua akan kembali baik-baik saja pada waktunya. Akhirnya, Dara berhasil melalui jam kerjanya dengan baik meski beberapa kali mendapatan tatapan heran pelanggan karena ketidak-fokusannya. Untungnya, tidak ada teguran yang dia terima. Namun, kasir shift malam belum terlihat. Dara melirik jam dan bertanya pada yang lain apakah si kasir itu ada menitipkan izin untuk tidak hadir, tetapi semua berkata tidak.  "Tapi, gue ada urusan lain," keluh Dara saat diminta menunggu sampai kabar dari si kasir lain itu ada. Pasalnya, tidak ada karyawan lain yang tersedia untuk menggantikan Dara.  "Ya mau gimana? Kan memang si bos udah ganti peraturan libur nggak boleh di akhir pekan. Yang lain libur, nah Tika malah nggak ada kabar. Nggak mungkin kan mesin kasir nggak dijaga?" Dara mencelos. Dia harus menemui Lucy atau paling tidak berbicara pada ibunya mengenai perkembangan terbaru denda yang harus mereka bayar itu. Jika tertahan di toko, Dara tidak akan bisa melakukan apa pun. Masalahnya hanya akan semakin pelik. "Lagian, lo emangnya mau ngapain? Biasanya juga nggak ngapa-ngapain. Paling seneng kalau ada lemburan kayak gini. Lumayan kan uangnya, bisa untuk Laras." Mereka tidak mengerti. Percuma Dara membantah, mereka tidak akan mengerti karena Dara memang tidak akan mengatakan alasan atas rasa cemasnya. Tidak mampu lagi membantah teman-teman kerjanya, Dara pun akhirnya tetap berdiri di balik mesin kasir dengan perasaan lesu.  Lucy tidak bisa dihubungi. Ibunya pun terus menerus bertanya, kenapa dia belum pulang. Dara merasa kepalanya akan pecah. Jika motornya dijual, tetap tidak akan mampu membayar lunas denda itu. Dia tidak mungkin menjual ponselnya, tidak mungkin juga memakai dana persiapan kuliah Laras. Teman lain yang bisa dipinjami uang, dia tidak punya.  Semakin malam toko itu semakin sepi. Suasana hening. Hanya ada suara musik yang diputar. Dua orang yang bertugas untuk melayani pembeli pun kini berdiri berdekat-dekatan, asik mengobrol berdua. Sedangkan Dara, dia sibuk melamun kosong. Pintu terbuka. Lamunannya terhenti dan pandangannya pun tertuju pada pelanggan yang baru saja masuk. Seandainya ada peninjauan dari cctv, maka Reni pasti akan kena tegur karena pelanggan itu membuka pintu untuk dirinya sendiri. Dara menarik napas panjang dan memperbaiki posisi berdirinya. Bersiap untuk melayani pelanggan itu saat membayar nantinya. Namun, perhatiannya kembali tertuju pada pintu kaca yang kini knopnya ditarik oleh pria yang lebih dulu masuk tadi. Membukakan pintu itu untuk pria di belakangnya. Pria berkemeja hitam yang terpasang begitu pas di tubuhnya dengan bagian lengan yang disingsingkan. Pria yang dia hubungi tadi pagi. Pria yang beberapa hari ini selalu membuatnya ketakutan. Pandangan mereka bertemu. Sesaat, Dara terpaku pada mata pria itu yang legam. Namun kemudian, dia menundukkan kepalanya dengan perasaan luar biasa malu ketika Danu mengedipkan sebelah matanya, melemparkan senyum menggoda. Sumpah serapah terucap di dalam hati Dara. Memaki dirinya sendiri yang jelas tampak konyol. Tangan Dara dingin, wajahnya memanas, dan dadanya kembali terasa sesak. Dia benar-benar amatir dalam hal seperti ini. Baru bertemu lagi dengan Danu saja, dia sudah kehilangan kemampuan mengendalikan diri. Apalagi jika nanti, di mana dia harus melayani pria itu di atas ranjang. Wajah Dara pun semakin panas saat pemikiran itu terlintas. Nampan berisi kue diletakkan kasar di depannya, membuat Dara menoleh. Danu berdiri di hadapannya dengan mata yang dipicingkan. Dara tidak berani membalas tatapan itu. "Ini aja, Pak?" tanyanya dengan suara bergetar. "Pak?" Danu tertawa geli. "Aku setua itu?" "Eh ... maksudnya ... Mas?" Tidak ada jawaban. Membuat Dara kembali menatap pria itu yang sialnya masih menatapnya dengan pandangan yang membuat Dara ciut. Seakan mendominasi, mengintimidasi, menelanjangi. Dani berdiri dengan begitu arogannya, seakan sedang memamerkan kekuasaannya pada siapa pun yang ada di sekitarnya.  Tangan Dara bergetar. Tanpa bertanya lagi, dia langsung menghitung belanjaan Danu di mesin kasir.  "Totalnya 187.000. Mau bayar tunai atau ...." Danu melangkah maju sehingga posisinya semakin merapat ke meja etalase (g tau namanya) di hadapan Dara. Membuat jarak mereka semakin dekat dan napas Dara semakin sesak. Salah tingkah, wanita itu menggerakkan tangannya ke telinga seolah sedang menyelipkan rambutnya di sana. Lalu, dia membuang napas panjang.  "Tunai atau--" "Kenapa panggilannya dimatikan? Itu tindakan yang tidak sopan, bukan?" Danu kali ini bertanya sambil mengamati roti pajangan di dekat kasir yang baru saja diambilnya. "Apa?" Suara Dara tercekat, persis seperti suara tikus terjepit.  Danu melirik dari sudut matanya dengan pandangan geli.  "Oh aku ...." Dara mengalihkan pandangannya pada teman-temannya yang kini tengah memandangnya sambil berbisik, lalu pada pria yang datang bersama Danu. Semua kini tengah memerhatikannya. Menaruh curiga pada interaksinya yang tidak normal bersama Danu. "Salah sambung," jawab Dara. "Benarkah? Sini hp kamu!" Danu mengulurkan tangannya dan Dara mengerjap beberapa kali. "Satu ...." Danu mulai menghitung dengan pandangan yang menyiratkan bahwa dia tidak sedang main-main. Dara merasa ini aneh dan Danu tidak berhak melakukan hal itu. Namun, dia tidak berani membantah. Dengan tangan yang masih bergetar, dia mengambil ponselnya dan menyerahkannya pada Danu. Dia hanya berdoa agar apa yang Danu dapati di ponselnya, tidak akan membuat pria itu marah. "Maaf, tapi ini bisa membuat aku mendapat teguran dari atasan. Kalau ... kalau ada masalah di antara kita, bisa kita bicarakan saat aku tidak sedang bekerja. Mohon dimengerti, aku hanya karyawan biasa," ucap Dara meminta pengertian.  Danu hanya tersenyum. Jemarinya terus bergerak lincah di layar ponsel Dara. Bayang-bayang kalau apa yang dia ucapkan, akan menjadi kenyataan, membuat Dara tidak sadar air matanya menetes. Segera dihapusnya. Berharap Danu tidak melihatnya.  "Tidak ada apa-apa, di sana. Percayalah," pinta Dara.  Danu menarik napas dengan gerakan cepat hingga menimbulkan suara, lalu meletakkan ponsel itu di depan Dara. "Jangan menjadi pembohong karena aku tidak suka," ucapnya dengan suara rendah yang serak, lalu Danu beranjak pergi. Dara tidak paham apa maksudnya. Cukup kaget juga karena belanjaan pria itu belum dibayar. Untungnya pria yang bersama Danu kemudian maju dan menyerahkan uang merah dua lembar.  Salah seorang karyawan berdiri di depan pintu dengan pandangan ke arah tempat parkir, sedangkan yang satu lagi berlari ke arah Dara. "Mereka siapa, Dara?" tanyanya dengan wajah menaruh rasa ingin tahu yang begitu besar. "Bu ... bukan siapa-siapa." "Kamu ada utang sama rentenir? Serem banget! Tapi itu, penagih utangnya kok kayak tajir? Mana cakep. Kamu berurusan sama mafia, Dara?" Dara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung mengarang penjelasan pada temannya yang super kepo dengan urusan orang lain ini. Salah menjelaskan, bisa jadi bumerang bagi Dara keesokan harinya. Peristiwa malam ini pasti akan menjadi bahan gunjingan selama sekurang-kurangnya 3 bulan ke depan. Seandainya dia mengemukakan alasan yang benar pun, teman-teman kerjanya ini akan berspekulasi sesuai keinginan mereka masing-masing. Apalagi jika dia salah menjelaskan. "Dia ... pacar temenku!" Akhirnya, Dara menemukan alasan yang tepat. "Dia pacarnya Lucy. Temenku yang pernah nganter aku pake mobil merah. Ingat, nggak?" "Yang selebgram?" Dara mengangguk. "Lucy buat dia baper dan ... kamu tau sendiri Lucy udah nikah. Nah laki-laki tadi ... kayak nggak percaya. Makanya dia nyamperin aku." Teman Dara itu memandang lama seakan meneliti tingkat kebenaran ucapan Dara, lalu memasang wajah khas ibu-ibu tukang gosip. "Astaga, bego banget dia! Mau-mau aja sama Lucy. Lucy kan modal pinter dandan doang. Cakepnya mah biasa aja. Cowok begitu, capet yang yang 10x lipat dari Lucy pun bisa!" Dara membuang napas lega dengan gerakan tidak kentara, lalu memasang senyum seakan menaruh pikiran yang sama. Membalas ucapan temannya sepatah dua patah hanya agar terkesan seolah memang tidak ada apa-apa. Dan akhirnya, jam pulang kerja pun tiba. Dara dengan semangat segera mengemas barang-barangnya dan memohon izin untuk pulang lebih dulu pada teman-temannya. Beralasan dia ada urusan yang tadinya harus ditunda karena menggantikan kasir yang tidak masuk. Dan saat berjalan menuju motornya, pintu mobil yang terparkir di sebelah motornya, bergeser. Membuat Dara kini berhadapan dengan Danu yang sedang duduk di sisi paling tepi. Pria itu memukul kursi kosong di sebelahnya sambil menatap Dara, seolah memerintahkan Dara untuk duduk di sana. "Cepat, Sayang, kita tidak punya banyak waktu," ucap Danu dengan suara serat dan beratnya. "Wak--waktu? Maksudnya?" "Tiga puluh juta tidak akan didapatkan begitu saja, bukan?" Danu memasang senyum miring-- mengejek. "Lagi pula, kita memang butuh waktu khusus untuk menyingkirkan penghalang itu, bukan?" Danu melirik ke bagian intim Dara dengan terang-terangan. "Karena aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan gadis yang merengek karena rasa sakit di selangkangannya. Bayaran atas apa yang dilakukan Lucy, tentu tidak semurah itu." Dara mendadak kehilangan kemampuannya untuk berpijak. Lututnya terasa lemas. Dan sekitarnya tampak berkunang-kunang. "Cepat, Dara! Atau kita lakukan semuanya dengan cara yang akan membuat teman-teman super ingin tahu-mu itu bersorak karena mendapatkan tontonan gratis yang tentu saja, menjadi bahan gosip super panas besok pagi!" Dara menoleh ke arah yang Danu lihat dan mendapati kedua temannya tadi masih mengintip dari balik pintu kaca. Tentu saja mereka masih penasaran dan memastikan tidak akan melewatkan adegan yang bisa menjadi bahan gibah mereka. Dara kembali memandang Danu dan menimbang dalam hati, baik buruknya. Danu membawanya pasti untuk 'itu'. Sesuatu yang sudah pasti akan mereka lakukan. Hanya masalah percepatan waktu. Dan mendengar kata-kata Danu tadi, dia tampak telah mengetahui perihal denda 30 juta dan bersedia memberikan uang sebanyak itu asal Dara menuruti keinginannya. Kaki Dara bergerak pelan. Jantungnya terus berdentum semakin cepat seakan mau meledak. Semakin cepat setiap langkahnya semakin dekat. Dia akhirnya memasuki mobil itu dan duduk di sebelah Danu dengan canggung. Bahkan saking canggungnya, dia tidak berani bernapas. "Relaks, Dara. Aku tidak akan memakanmu," ucap Danu sambil tertawa geli. "Belum," tambahnya, seakan itu ucapan sambil lalu padahal Dara sudah mematung.  Malam ini, Dara akan menjadi sosok yang tidak pernah dia bayangkan. Dia akan melakukan hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan akan terjadi. Melewati malam dengan pria yang sosoknya jelas tidak pernah menjadi salah satu sosok yang Dara bayangkan akan terlibat secara intim dengannya. NB
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN