Maafkan Alina, Ma

1529 Kata

"Oh, kabarnya sudah dibawa pulang untuk dimakamkan." Jawaban perempuan itu sontak membuat tungkai kakiku lemas. Ya Tuhan ... Mama sudah meninggal? Tak mungkin, tadi pagi Mama masih baik-baik saja. Mama tak boleh meninggal secepat ini. Dengan sisa tenaga aku berlari keluar rumah sakit, aku bahkan sampai lupa bertanya pada suster yang merawat Mama, padahal aku berpapasan dengannya. Dalam benakku, aku harus segera pulang dan menemui Mama sebelum dimakamkan. Air mata mengaburkan pandangan. Jika Mama tiada, tak ada lagi orang yang menyayangiku. Hanya Mama satu-satunya yang mengerti perasaanku. Alina dan Siti juga sudah pergi. "Pak, ngebut! saya buru-buru!" titahku pada supir taksi yang kini aku tumpangi. Suaraku parau karena menahan sesak di d**a. Tanpa mempedulikan sang sopir yang kebin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN