Isabella sudah harus pulang sekarang, ia melihat jam di tangannya dan merasa bersalah jika terlalu lama di jalan apalagi membantu orang asing untuk bersembunyi.
Ia pikir dengan membantunya akan sedikit mengurangi beban orang yang sedang panik karena dikejar kawanan penjahat, tapi ia mulai berpikir jika ada sedikit kesalahan yang dilakukannya karena main bantu saja.
“Apa kamu percaya kalau aku memang tidak mengenal mereka?” ujar Max.
Isabella hanya mengangguk, lalu menunjuk ke arah celah keluar. "Gangnya sudah sepi. Tuan bisa keluar sekarang."
Max beringsut keluar dari tempat persembunyian, diikuti Isabella. Ia berdiri di gang sempit itu, menatap Maya yang kini menatapnya dengan sopan. Ia bisa melihat rasa penasaran di mata gadis itu, namun juga batas yang ia jaga.
"Oh ya, kenalkan … namaku Max," katanya, mengulurkan tangannya. "Max Anderson."
Isabella tersenyum, senyuman yang begitu sederhana namun mampu menghangatkan suasana. "Aku Isabella, Tuan Max." Ia menyambut uluran tangan Max, sentuhannya lembut dan hangat.
Tangannya mungil, namun terasa begitu jujur di genggaman Max yang biasanya berinteraksi dengan tangan-tangan berhiaskan cincin berlian.
Gadis ini benar-benar sangat, sangat dan sangat sederhana. Max merasakan sesuatu yang berbeda. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan yang tulus tanpa motif tersembunyi.
Di tengah semua kekacauan dan pengkhianatan, sepertinya gadis ini hadir seperti embusan angin segar, sebuah kenyataan yang tak terduga.
Ia merasa terpesona, bukan oleh daya tarik fisik yang biasa ia kejar, melainkan oleh aura kesederhanaan, ketulusan, dan keberanian yang terpancar dari gadis itu.
Ah, terlalu dini sebenarnya jika ia mengatakan bahwa ia mulai merasakan sesuatu.
"Kamu ehm … tinggal di sekitar sini, Isabella?" tanya Max, tidak ingin percakapan ini berakhir begitu cepat.
"Ya, Tuan. Rumahku di ujung gang sana," jawab Isabella, menunjuk ke arah rumah bercat hijau lumut yang tak jauh dari sana.
Max menatap gang itu. Gang ini, yang beberapa menit lalu menjadi saksi ketakutannya, kini terasa seperti tempat pertemuan yang ditakdirkan.
Di sini, di tengah hiruk pikuk perkampungan yang sederhana, ia bertemu dengan seorang gadis yang berhasil mencuri perhatiannya, bukan dengan godaan, tetapi dengan kebaikan yang murni.
Max tahu, ia tidak bisa membiarkan gadis ini menghilang begitu saja. Ia harus mencari cara untuk bertemu dengannya lagi.
Obsesi liar Max kini memiliki arah baru, bukan lagi sekadar hasrat sesaat, melainkan ketertarikan yang lebih dalam dan tak terduga pada seorang gadis sederhana di gang sempit.
**
Issabella mengusap pipinya saat terkena debu. Max memperhatikan tingkah gadis yang membantunya, yang juga peduli pada keadaannya yang terdesak. Suasana hari ini cukup cerah, membuat keduanya berkeringat saat bersembunyi.
“Sepertinya sudah aman, Tuan,”
Issabella langsung beranjak dari tempat itu dan akan pergi. Tapi tiba-tiba Max menahan lengannya. Sontak membuat Issabella kaget.
Gadis itu menoleh dan mengerutkan keningnya. “Ada apa, Tuan? Sepertinya ini sudah cukup, aku harus pulang,” ucap Isabella.
Max terdiam sebentar, sebenarnya ia ingin mentraktir gadis itu tapi sepertinya ia merasa malu, takut ditolak, padahal sifatnya tidak seperti itu.
Max menatap bola mata gadis itu, ia mengulurkan tangannya. Entah setan mana yang tiba-tiba menyuruhnya untuk mengajak gadis yang membantunya itu berkenalan.
“Begini, disana ada warung makanan, kamu mau kita makan disana, aku yang traktir,” ucap Max seraya berdiri tegap dan tingginya melampaui gadis itu sehingga membuat gadis yang berdiri di hadapannya seperti seorang manusia kerdil.
Max begitu tinggi sekitar 180 cm dan tubuhnya yang kekar membuat nyali Issabella sedikit ciut.
“Maaf, tapi aku tidak bisa, kamu kan harus pergi, Tuan Max, nanti jika terus berada disini, pasti orang-orang itu akan menemukanmu,”
Max memang sempat berpikir demikian dan Issabella tiba-tiba berpamitan pulang. Gadis itu berjalan dengan cepat sebelum ia menyadari bahwa ada yang tertinggal di depan kaki Max. Isabella tidak menyadari jika sebuah kantong plastik berisi kipas mini yang baru dibelinya tertinggal saat mereka bersembunyi.
Max tersenyum, dipungutnya kantong plastik itu dan dibawanya pergi dengan cepat sebelum orang-orang yang mencarinya menemukannya.
**
Issabella baru saja tiba di rumah saat ia melihat ibunya tengah berdiri sambil berkacak pinggang.
“Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang?”
Isabella tersenyum, lalu mencoba merayu ibunya. Ayahnya keluar dari rumah sambil geleng-geleng kepala.
“Maafkan aku, Bu. Bella tadi pergi ke rumah teman, maaf tadi mendadak,” ucap Isabella seraya memohon untuk tidak dimarahi lagi.
“Sudah, Bu … jangan dimarahi, kasihan Bella, hari ini dia gajian, lho,” ledek kakaknya yang masih berada di kamarnya.
Isabella atau yang biasa dipanggil Bella itu tersenyum sambil menyodorkan sebuah amplop coklat untuk ibunya.
Wajah ibunya terlihat berseri-seri. Sedangkan Bella langsung masuk ke dalam rumah dan mandi agar tubuhnya lebih segar.
Malamnya, Isabella baru menyadari jika ia kehilangan benda yang baru dibelinya. Sebuah kipas mini yang sudah dipastikan dibawanya setelah dibayar.
Ia keluar dari kamar dan mencarinya. Tidak ada dimanapun, ia bingung dan saat kakaknya keluar dari kamar malah meledeknya.
“Kamu nggak bawa kali, Bel, kalau ada kemarin kamu pasti taruh itu kipas dan kakak yang akan pertama mencobanya,”
“Kak, gimana sih, kok malah meledek, ini beneran nggak ada loh,” ujar Isabella kesal.
Ia teringat saat bersembunyi dengan pria asing benda itu masih ia pegang. “Apa mungkin jatuh dan kebawa sama orang itu, ya?” gumamnya.
“Siapa, Bel?” tanya kakaknya.
Isabella melotot dan mendorong kakaknya agar tidak dekat-dekat dan terus meledeknya.
Ia juga ingat saat akan pergi dan pulang, kantong tempat meletakan kipas mininya jatuh tanpa ia sadari.