7. Kakakku Ganteng, lho

826 Kata
Isabella merasa kegerahan saat ia harus bekerja di perpustakaan ini dengan keringat mengucur di keningnya. KIpas angin disini mati dan belum diperbaiki. Untuk pengadaan AC di ruangan ini sepertinya tidak mungkin, karena perpustakaan ini terbilang cukup sepi pengunjung dan hanya mengandalkan uang denda yang terlambat mengembalikan buku. “Bel, nanti datang ke kafe ini, ya?” Isabella menerima sebuah kartu undangan yang diberikan Clara, teman satu sekolahnya yang sekarang sukses memiliki kafe di usia muda. Clara adalah anak seorang pengusaha sukses dan dia tidak perlu repot-repot untuk mencari pekerjaan dan bisa sambil kuliah, “Makasih, Cla, kamu masih ingat aku aja,” ucapnya terharu. Clara memang sahabatnya yang paling baik dan selalu ingat dengannya, padahal Clara sangat kaya dan bisa saja memiliki sifat angkuh seperti kebanyakan teman yang lainnya. Clara tertawa kecil. Ia meraih sebuah buku dan duduk di hadapannya. “Kamu terlalu mendramatisir, Bel. Aku akan selalu ingat teman yang suka kasih contekan ke aku, apapun kondisinya aku akan ingat, dong,” Isabella tertawa, lalu mereka bercanda dan mengobrol hingga akhirnya jam pulang Isabella berakhir dan Clara telah pulang lebih dulu untuk mempersiapkan acaranya di kafe. ** Isabella pulang ke rumah dengan berjalan kaki melewati gang kecil yang biasa dilewatinya. Hari ini ia minta pulang lebih cepat untuk bisa menghadiri perayaan ulang tahun dan pembukaan kafe baru milik Clara. Setelah berdandan lebih dari setengah jam, ia berangkat ke kafe Clara dengan diantar kakaknya yang juga akan pergi ke tempat kerjanya. Clara menyambutnya datang dan tersenyum ramah pada Isabella dan kakaknya. Clara menyukai kakaknya tapi hanya diam-diam saja, meski sebenarnya Isabella tahu tapi ia memilih untuk diam dan tidak meledeknya. “Bel, kakakmu makin ganteng, pacar udah punya belum sih?” tanya Clara setelah kakaknya pergi dan mereka masuk ke dalam kafe. “Sayangnya aku nggak tahu dia udah punya pacar apa belum, yang jelas aku makin sebal kalau kakakku sudah mulai meledekku,” ucap Isabella sambil duduk dan memberikan kado untuk teman baiknya itu. Clara tersenyum, penuh arti dan merangkul Isabella. “Kamu mau nggak aku kenalin sama kakakku, dia tampan dan sangat keren, tapi sayang pacarnya banyak, aku harap kamu bisa pacaran sama dia, nanti aku pacaran sama kakakmu juga,” ujar Clara. Isabella tertawa, “Aku nggak mau pacaran lagipula kakakmu belum tentu mau sama gadis udik sepertiku, tapi kalau kamu minat sama Kak Tony, boleh banget asal kamu sabar,” “Sabar kenapa, Bel?” “Sabar sama kejahilannya,” ujar Isabella dengan nada ringan. Clara tertawa, ia menepuk bahu Isabella. “Kira-kira mau nggak ya?” “Nggak tahu,” “Kakakku kayanya mau kalau sama kamu, jangan minder, Bel, kamu itu cantik, penuh pesona, boleh lah nanti Kak Max tergila-gila sama kamu,” Isabella mengedikkan bahunya, ia tidak percaya diri karena tidak memiliki penampilan yang cukup menarik lawan jenis jika tampilannya sederhana seperti dirinya. Acara yang diadakan Clara di kafenya pun berlangsung meriah, hingga Isabella terpaksa minta dijemput saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Clara yang paling ribut saat kakaknya belum datang dan harus menunggu lama. Ia merapikan rambutnya yang tergerai panjang. Clara mengeluh kakaknya tidak datang dan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Tak lama kemudian datang Tony yang menaiki motor hijaunya dan langsung turun saat Clara memaksanya untuk mampir dan duduk sebentar. Mereka duduk bertiga dan Tony menghabiskan makanan yang disajikan Clara khusus untuknya. Isabella terpaksa duduk kembali menemani sang kakak yang sedang disuguhi makanan pesta, Clara terlihat senang dan wajahnya berseri-seri saat bersama dengan Tony. ** Sementara, di kantornya, Max sedang pusing menghadapi teror yang mendera dirinya. Malam itu seharusnya menjadi malam kebahagiaan bagi Clara. Adik perempuannya itu merayakan ulang tahunnya yang ke-19 di sebuah kafe yang juga baru dibuka dan berada di pusat kota. Padahal Max sudah berjanji akan hadir, bahkan telah menyiapkan hadiah istimewa. Namun, janji itu kini harus ia batalkan. Clara bahkan sudah menghubunginya sejak sore tadi. Anak itu bersikeras menyuruhnya datang dan sangat mengharapkan sekali datang karena teman sekolahnya juga diundangnya. Max menggelengkan kepalanya saat Clara meminta diirinya untuk berkenalan dengan temannya yang katanya bekerja di perpustakaan kota. Sama sekali jauh dari bayangannya tentang gadis yang seharusnya lebih tinggi levelnya dari para gadis pemujanya. Sekitar pukul tujuh malam, saat Max baru saja selesai membersihkan diri setelah bekerja seharian dan berniat menuju ke kafenya Clara, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkatnya dengan perasaan tak enak. Nomor itu tidak dikenalnya dan baru kali ini ada nomor yang masuk karena ia tidak pernah menyebarkan nomornya ini pada orang sembarangan. "Selamat malam, Tuan Max," suara asing itu terdengar berat, dingin, dan sedikit menekan, seolah menggunakan pengubah suara. "Aku harap kamu tidak berencana untuk merayakan sesuatu malam ini." Jantung Max berdegup kencang. Ia merasakan firasat buruk yang sangat kuat. "Siapa ini?" desisnya, mencoba menjaga ketenangan. Ia terkejut karena nomor ini cukup rahasia dan kenapa tahu tentang kegiatannya sore ini? Max terdiam sebentar dan berpikir jika si penelepon sangat tahu tentang apa yang dilakukannya. “Katakan siapa kamu? Kenapa tahu tentang pesta dan apa yang akan aku lakukan???”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN