Isabella duduk terpaku dalam diamnya di kamar. Ia merasa malu dan terus memegangi bibirnya yang dicium pria kaya itu. Ia sangat kaget dan merasa ternoda karena Max berani melakukannya setelah mengenalkan dirinya pada keluarganya yang kaya raya itu. Ia menutup wajahnya. Malu dan sedikit kebahagiaan terpancar dari dalam hatinya. Sejujurnya ia tahu ini pasti akan berdampak buruk jika ia terus mengingatnya. Kakak Clara sebenarnya baik, tapi kenapa harus menciumnya lebih dulu sebelum mereka resmi menikah bahkan kata-kata jadian pun belum terucap. Sementara itu, Max dicecar oleh mamanya yang tidak setuju ia menikah dengan gadis sederhana sepwerti isabella. “Bisa-bisanya kamu bawa dia ke hadapan papa dan mama sebagai calon istrimu? Mau ditaruh mana muka kami kalau kamu benar-benar menikahinya,

