Waktu terus berlalu, Max benar-benar kehilangan semuanya, beberapa klien membatalkan kontrak kerjasama dan beberapa pemegang saham mulai menjual sahamnya tanpa sepengetahuannya.
Berita Max viral dan memungkinkan membuat nama perusahaan kian terpuruk. Di saat itulah, Clara yang merupakan adik sekaligus teman yang hanya bisa diandalkan saat ini, memberi saran agar sang kakak pindah dulu keluar kota.
Namun Max menolaknya. “Aku masih betah disini, oh ya, kamu ingat ada sebuah bingkisan yang kakak letakkan di atas meja?”
“Ada, aku pakai, untuk apa sih kakak beli begituan, mana imut lagi, unyu-unyu warna ungu,” ujar Clara sambil mengemasi barang-barang yang tidak terpakai.
“Aduh itu punya orang, kesinikan dong,”
“Barang begituan nggak udah disimpan, Kak. Kata orang dulu, pamali. Itu barang cewek,”
Max pun menggaruk kepalanya, ia bingung dan terpaksa mengalah karena ia pun bingung mau dicari kemana lagi rumah si pemilik barang mini itu.
Ia melihat Clara sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam dus yang cukup besar.
“Mau kamu apakan itu, Cla?”
“Ini? Ehm …semua barang-barang ini aku mau kasih ke temenku, tadinya kupikir akan ku buang saja, tapi dia bilang mau menerimanya,”
Kening Max berkerut, ia ingat teman Clara memang akan dikenalkan padanya. Ia duduk dan berusaha untuk tenang. Semua permasalahan membuatnya tak bisa berpikir jernih tapi kali ini ia akan mengikuti saran adiknya.
“Cla, besok kakak ada waktu, kita kenalan sama temenmu itu,”
Mata Clara berbinar, tapi dia terlihat kecewa, “Sayang banget besok di tempatnya kerja ada event, selama seminggu, jadi dia sibuk,”
“Kasih tahu tempatnya, biar kakak yang datang kesana sendiri,”
“Memangnya kakak mau gitu?”
“Mau gimana? Baru kenalan udah mau-mau aja,”
Clara tertawa dan memberikan kakaknya sebuah alamat. Max mengerutkan keningnya. Berat. Sebuah tempat yang sangat ia benci sejak dulu.
**
Max tak serta merta langsung datang ke tempat yang dijanjikannya pada Clara. Ia belum siap datang ke tempat itu karena banyak pertimbangan.
Setelah pagi menjelang ia segera bergegas ke kantor dan menerima banyak email yang menyudutkannya. Dari hari ke hari banyak email yang datang dan membuatnya tercengang.
Bahkan saat di rumah, ia juga mendapat pesan lagi agar datang ke kantor untuk suatu keperluan.
Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setibanya di kantor, gedung itu terasa begitu hening. Hanya satpam yang berjaga di lobi yang menyambutnya dengan tatapan heran.
Max langsung menuju ruangannya. Lampu-lampu di kantor itu terasa terlalu terang, namun juga terlalu kosong.
Ia menyalakan komputer dan memanggil sekretarisnya untuk kerja lembur. "Vio, maaf ya aku ingin kamu datang kesini, sebentar saja, aku ingin semua laporan aktivitas mencurigakan di sistem kita selama dua bulan terakhir. Dan hubungi semua karyawan yang pernah bekerja di departemen IT dan keamanan selama lima tahun terakhir. Aku ingin jejak setiap orang yang keluar masuk dari sistem kita."
"Baik, Pak," jawab Viona, suaranya terdengar lelah namun patuh.
Max duduk di kursi kebesarannya. Di meja, tergeletak setumpuk berkas yang ia minta dari tim IT, data log server, catatan akses, dan laporan anomali jaringan. Matanya menyusuri baris demi baris, angka demi angka, mencari petunjuk sekecil apa pun. Ia menenggak kopi pahit tanpa gula, berharap bisa mengusir kantuk dan fokus pada tugasnya.
Malam itu, di saat semuanya sedang istirahat dirumah, Max dan Viona menghabiskan malam dalam ketegangan. Ia merasakan setiap detak jarum jam, setiap hembusan angin yang menyentuh jendela, dan setiap bisikan samar yang mungkin hanya ada di benaknya.
Ia seorang CEO yang terbiasa mengendalikan segalanya, namun kini ia merasa seperti pion dalam permainan berbahaya yang diatur oleh dalang tak terlihat.
Ia tahu, malam ini hanyalah permulaan. Peneror itu ingin ia tertekan, ingin ia hancur. Namun, lagi-lagi, Max tidak akan menyerah. Ia akan mencari tahu siapa mereka, dan ia bersumpah, ia akan membuat mereka menyesali setiap teror yang telah mereka lancarkan.
**
Semalam, mereka pulang jam sembilan malam dan pagi ini kepala Max benar-benar pusing. Ia mendengar sebuah suara di ruangan sebelah. Adiknya tengah berbicara dengan seseorang yang tidak diketahuinya.
Max bangun dan duduk. Suasana kembali hening. Ia ingin keluar tapi tubuhnya tidak bisa diajak bekerjasama. Kepalanya sangat pusing membuatnya tak bisa berdiri tegak.
Tubuhnya demam, ia kehilangan keseimbangannya dan saat keluar dari kamar tiba-tiba tubuhnya terhuyung.
Bruk!!!
Beberapa menit kemudian, ketika matanya terbuka ia melihat samar-samar bayangan wajah seseorang yang tidak asing.
“Kamu?”
Seorang gadis yang memiliki paras manis dengan kulit coklat sawo matangnya berdiri di samping Clara adiknya.
“Kak, sudah bangun rupanya,”
Max segera bangkit dari tempatnya berbaring. Ia terperanjat saat ingat sesuatu.
“Isabella?”
Max ingat gadis itu, ingat namanya dan sambil memegangi kepalanya, ia mencoba untuk berdiri tapi kepayahan. Tubuhnya limbung lagi dan terpaksa duduk lagi.
"Kalian sudah saling kenal? Bel, kamu sudah kenal kakakku?"
Isabella mengangguk, tapi Max dengan cepat menyambung ucapan Clara. "Dia menolong kakak waktu itu,"
"Oh ya?" ujar Clara sambil senyum-senyum penuh arti.
Ia mencubit lengan Isabella yang tampak malu-malu.