Isabella yang kala itu tengah membantu Clara menyadarkan kakaknya merasa kebingungan. Ia ingat orang yang pernah dibantunya di sebuah gang yang sempit di tempatnya.
“Kakak sudah kenal, namanya memang Isabella. Kamu kok nggak cerita, Bel. Ini kakakku,”
Isabella tersenyum simpul, ia bingung bercampur heran. Tangan Clara mengajaknya untuk berkenalan dengan kakaknya.
Clara sangat menantikan hari ini dan mereka akhirnya bertemu. “Meskipun sudah kenal, tapi sebagai kakakku kan belum kenal banget siapa Bella,”
Max merasa tersipu, ia terpaksa menuruti permintaan adiknya dan berjabat tangan dengan Isabella.
Max bangun dan berjalan menuju ke kamarnya tapi Clara melarangnya. “Kakak makan dulu, ini ada bubur buatan Bella. Dimakan, ya? Kami mau ke kamar, Bella mau ambil barang-barang milikku,”
Max melirik ke arah Isabella. Ia merasa tidak berdaya lantaran Clara menyodorkan semangkuk bubur dan ia harus memakannya.
Isabella, gadis itu tersenyum dan mengikuti langkah Clara keluar dari kamar ini.
**
Setelah pertemuannya dengan gadis manis itu, Max terus memikirkannya. Tapi dia sedang memiliki masalah yang cukup pelik sehingga ia melupakannya.
Kini karena waktunya benar-benar senggang, ia masuk ke sebuah club malam dan memesan minuman.
Ia ingin melepaskan penat di otaknya dan butuh rileks agar bisa kembali berpikir dan bekerja dengan penuh semangat.
Max mabuk berat dan pulang sempoyongan. Ia dikejar kawanan penjahat saat berada di tengah perjalanan.
Mobilnya berhenti di sebuah jalan dan ia diminta keluar lalu dipukul beramai-ramai, Max babak belur, untung ada seseorang yang datang dan memapahnya berjalan.
“Auw, dia mabuk, kenapa kamu bawa dia kesini, Tony?”
“Maaf, Yah, Tony melihatnya dihajar kawanan penjahat,”
Ibunya melihat banyak luka di sekujur tubuhnya. Suasana rumah menjadi sedikit tegang karena kedatangan Max yang mabuk dan aromanya tercium alkohol yang cukup menyengat.
Isabella yang saat itu belum tidur segera bangkit dari tempat tidur dan melihat siapa yang sudah ditolong kakaknya. Ia kaget melihat wajah orang yang dibawa kakaknya.
“Ini kan kakaknya Clara,” gumamnya.
Tony mendengarnya dan menyuruhnya menghubungi keluarganya tapi tak ada sahutan dan terpaksa mereka membiarkan Max tidur di rumah.
Isabella melihat banyak luka dan tanpa sengaja ia melihat ada ponsel milik kakak Clara. Ponsel itu menyala dan bergetar. Ia mengangkatnya dan ternyata suara seorang wanita.
Wanita itu marah saat ia menjawab panggilannya. Dengan cepat Isabella langsung mematikan panggilannya.
“Da-dari seorang wanita,”
“Mungkin kekasihnya, jangan angkat kalau tidak begitu penting,” ucap ibunya mengingatkan.
“Iya, Bu,”
**
Suasana pagi itu cukup meriah, Isabella membantu ibunya untuk membuat kue yang sudah dipesan sekitar tiga hari yang lalu.
Ibunya kerap menerima pesanan dan selalu kebanjiran orderan saat menjelang hari raya seperti sekarang ini.
Satu minggu lagi mereka akan merayakan idul adha, sudah banyak hewan kurban yang ada di depan masjid. Isabella tampak berkeringat saat mengeluarkan kue dari oven.
Mereka sudah bekerja sejak subuh dan kue-kue itu akan diambil di pemesan sekitar jam sebelas nanti.
“Bel, kakakmu mana? Kok nggak kerja?”
“Hari ini libur, Bu. Kata Kak Tony memang libur, dua hari,”
“Baguslah, nanti bisa mengantar ibu ke rumah nenek,”
“Aku ikut dong, Bu,” sahutnya seraya meletakkan kue yang sudah jadi ke atas meja.
“Aduh, jangan. Kali ini ibu mau bicara hal penting. Ini mengenai kakakmu,”
“Kak Tony mau melamar, ya?”
“Bukan, kakakmu mau pergi ke Papua,”
“Jauhnya,”
Ibunya mengangguk dan mereka tertegun saat seseorang berdiri di depan pintu kamar Tony. Isabella hampir akan menjatuhkan loyang yang dipegangnya.
“Sudah bangun, Nak?” tanya Bu Lilis.
Pria muda yang berdiri terlihat canggung dan malu, ia menatap Isabella dengan kaget. “Aku … ehmm … semalam …”
“Tony yang membawamu, kamu dihajar orang-orang itu dan apa kamu sudah merasa lebih baik?”
Max mengangguk meski akhirnya ia mengakui kalau tubuhnya sakit semua. Isabella membuatkan minuman hangat untuk Max. Mereka duduk diruangan makan dan menikmati kue yang masih tersisa satu loyang.
Pak Wasesa bertanya pada Max, kenapa dia sampai dipukul. “Aku … mungkin memiliki saingan bisnis yang tidak bisa terima dengan bisnis yang sedang maju dan mereka tertinggal karenanya,”
Max menjelaskan dengan rileks meski ia harus menahan malu pada Isabella yang sedang mengirim pesan pada adiknya untuk datang.
“Aku berterima kasih pada kalian yang sudah peduli. Kalau saja tidak ditolong mungkin lain cerita dan saat ini aku masuk rumah sakit,” ujar Max lagi.
Isabella tersenyum, dia melanjutkan mengurus kue yang sudah matang untuk dimasukkan ke dalam dus yang sudah dia bentuk.
Clara datang menjemput kakaknya dan merasa syok saat tahu wajah sang kakak babak belur. Mereka pulang dan Clara menyuruh Isabella datang karena mereka akan pergi ke sebuah pesta bersama malam ini.
“Cla, sebaiknya tunda dulu pergi ke pesta. Kakak takut kamu juga diincar,” ucap Max saat mereka dalam perjalanan menuju ke rumah.
“Tidak bisa, Kak. Aku sudah janji sama temanku,”
Max terpaksa menginginkannya dan malamnya, Isabella datang dengan penampilan yang membuat Max terpukau. Clara memberikan pinjaman gaun untuk gadis itu dan saat keluar dari kamar adiknya, Isabella tampak sangat cantik meski kulitnya sawo matang.
Max teringat benda yang ditinggalkan Isabella dan mencarinya di kamar adiknya. Ternyata ada di atas lemari. Ia meraih benda itu dan berjalan ke arah ruang tamu.
“Isabella,” panggilnya.
Isabella yang kala itu sedang duduk sambil bercermin merasa kaget. “Eh, iya,”
Max tersenyum, jantungnya sedikit berdebar-debar, ya sedikit saja, tidak biasanya ia seperti ini tapi harus diakuinya jika pesona teman adiknya ini sungguh di luar dugaan.
Ia datang mendekat namun tiba-tiba mamanya datang dan menegur mereka. “Max, siapa dia?”
Clara keluar dan mengenalkan Isabella pada mamanya. Isabella memasang wajah ramah namun balasan dari wanita itu membuatnya malu.
Uluran tangannya seperti enggan hingga akhirnya tatapan matanya sungguh tajam saat tahu gaun yang dipakainya milik Clara.