Max terus kepikiran dengan wajah Isabella. Baginya dia merupakan gadis yang tidak seperti biasanya. Ia merokok sambil meneguk Vodka di balkon kamarnya.
Sejujurnya keadaan perusahaan yang sedang darurat tak begitu ia persoalkan karena ia sudah pasrah jika akan mengalami kebangkrutan karena ia akan membangun sebuah perusahaan lagi dibantu papanya.
Ia tersenyum saat melihat adiknya pulang dari kafe miliknya yang baru dikembangkan.
“Cla, kamu dan ehm … gadis itu, Isabella, apa kalian sudah berteman lama?” tanyanya.
Clara melepas heelnya dan duduk di dekat sang kakak yang tengah merilekskan tubuh dengan kursi pijat.
“Isabella? Kami berteman baik, dia anak yang baik, aku menyukainya karena kepribadiannya yang sederhana. Kakak menyukainya?” tanya Clara seraya mencium bau sesuatu yang menusuk hidungnya.
“Kakak minum?” tanyanya.
“Sedikit,” jawab Max.
“Isabella tidak suka dengan pemabuk, kehidupannya lurus dan …”
“Siapa juga yang suka sama dia, jangan merendahkan kakak, tidak mungkin selera kakak bisa turun ke dia,” sergah Max mencibir adiknya.
Clara mengerucutkan bibirnya lalu beranjak pergi dan masuk ke kamarnya. Disana ia berteriak, “Kalau suka bilang saja nggak usah munafik, Kak,”
Max diam saja, sementara mamanya sedang berbicara dengan papanya di ruang kerja. Keduanya membicarakan tentang skandal Max yang viral dan membuat cemas pikiran seorang Hans Anderson.
Mereka membicarakan Max dan Hans menginginkan Max pergi ke luar negeri tapi istrinya, Flora Cyntia mengharapkan Max untuk menikah saja.
“Menikah? Pria semacam Max menikah dengan siapa? Dia itu sudah banyak yang tahu kalau dia tidur dengan beberapa wanita, putramu gila dan …”
“... Jangan sebut dia gila! Max anak kita, dia juga putramu, Hans!” sergah Flora kesal.
Hans mendekati istrinya dan mengusap bibirnya. “Bibir manis ini jangan menyebutkan namaku tanpa embel-embel Mas atau Pah, aku suamimu Sayang, bukan musuhmu,” rayunya.
Jika istrinya sudah marah, dunia serasa hancur karena ia sangat mencintainya. Dan seorang Hans tidak pernah berada dicintai secara ugal-ugalan oleh wanita cantik seperti Flora Cyntia. Ia benar-benar bahagia dan tidak ingin melirik wanita lain.
“Dan kamu terlalu dengan menyebut Max gila,”
“Putramu gila s*x, dia … siapa saja ditidurinya, aku lelah mengurusnya, urus dia jika kamu memang tidak ingin dia gila beneran nantinya,” ujar Hans mengalah.
Flora mengernyitkan keningnya, ia sendiri punya rencana yang cukup baik bahkan terbilang akan membuat seorang Maxtang playboy dan nakal menjadi luluh dan sadar.
Ia tersenyum, sementara suaminya memeluknya seraya menciumi bahunya karena tadi kena marah darinya.
Ia kembali tersenyum riang dan membalas pelukan suaminya dengan ciuman hangat dan tangan yang sedikit nakal di dalam celana pria itu.
Hans mendesah, satu hal yang disukainya jika istrinya marah pasti obatnya ini. Ia tersenyum dan menatap wajah Flora yang cantik dan menyenangkan hatinya itu.
**
Hari esoknya, Flora pun mengatur sebuah pertemuan dan menyuruh Max untuk menuruti keinginannya. Ia memiliki sebuah rencana yang cukup matang dan jauh-jauh hari sudah dipikirkannya.
“Max, duduklah sebentar,”
“Mau apa, Mah?”
“Mamah cuma ingin kamu datang ke restoran ini dan bertemu gadis yang akan mamah perkenalkan sama kamu,”
Flora memberikan secarik kertas, leaflet dari restoran yang akan menjadi tempat pertemuan itu.
Max terbatuk-batuk, ia sedang meneguk air hangat dan terkejut dengan keinginan mamanya.
“Mau apa, sih Mah” tanya Max penasaran.
“Ikut saja, tidak perlu tanya panjang lebar,”
Max memang akhirnya pergi setelah dibujuk berkali-kali dan tiba disana wajahnya tak sumringah.
Tapi ia merasa kesal dan pertemuan pun batal. Max marah karena mamanya malah mengenalkan dia pada seorang gadis yang manja dan urakan, sikapnya tidak baik malah terkesan anak manja yang angkuh.
Berkali-kali, Max mengeluh dan membuat Flora hampir kehilangan kesabarannya. Tapi Flora tahu apa yang harus dilakukannya. Ia akan sedikit memberi pelajaran pada putranya karena menolak perjodohan itu. Ia juga kesal sama kesalnya dengan Max yang seolah-olah merasa dirinya bisa memilih gadis baik-baik.
Terpaksa ia minta Max pindah ketimbang jadi buah bibir di perusahaan dan juga lingkungannya. Bahkan beberapa teman sosialitanya juga sudah tahu semua.
Berita tentang skandal Max dan beberapa wanita membuat hidupnya tidak tenang dan berita itu menyebar terlampau cepat.
Ia khawatir perusahaan suaminya turut terkena imbasnya. Dia memikirkan bsnyaj rencana seperti akan membeli sebuah villa di Bali.
Dan jika gagal betapa kecewanya dirinya karena perusahaan akan mulai sepi proyek dan impiannya kandas.
“Max, perusahaan itu akan dipegang John, dia akan mengambil alih perusahaan yang kamu pegang. Sementara ini kamu pegang perusahaan yang ada di kota Bogor, sekalian mamah carikan kamu jodoh,”
Max tertawa kecil, “Memang mamah tahu seleraku? Susah lho, Mah,” sahut Max setengah berkelakar.
“Jangan banyak protes, mamah sudah pastikan kamu akan menikah bulan depan, semua skandal yang kamu miliki akan redup dengan sendirinya,”
Max tertawa lagi tapi kali ini ia menghindar dari mamanya yang serius mencarikan dia jodoh.
**
Di tempat lain, Clara sedang bersama Isabella. Mereka sedang berada di kafe Clara yang ternyata saat itu Clara sedang memberi arahan pada Isabella mengenai pekerjaan yang ada di kafenya.
Isabella resign dari tempatnya kerja dan bergabung bersama Clara untuk bekerja di kafe itu dan Isabella benar-benar merasakan perubahan setelah bekerja di kafe yang sedang sangat ramai belakangan ini.
Isabella sedang membutuhkan banyak uang, Ayahnya sakit selama setahun ini dan butuh biaya untuk berobat. Ia mendengar kedua orang tuanya berkeluh kesah hendak menjual rumah mereka.
Hutang yang menumpuk membuat rencana menjual rumah menjadi lebih ditekadkan bulat. Selain untuk membiayai sakit Ayahnya, mereka juga harus membayar sekian juta untuk kakaknya pergi ke Papua.
Karena tidak tega, Isabella akhirnya menerima tawaran kerja dari Clara yang gajinya lumayan.
Saat ini dia sudah satu minggu kerja di kafe itu dan menurutnya sangat nyaman bahkan ia bisa mengumpulkan uang saat mendapat tip dari beberapa pelanggan yang datang.
Clara merupakan satu-satunya teman baiknya yang selalu memikirkan keadaannya. Ia tidak pernah minta dibalas kebaikan saat Clara sering meminta bantuan darinya perihal pelajaran dan juga saat dia tidak memiliki teman.
Clara meskipun dia kaya tapi dibully teman-temannya. Hanya karena terlalu baik dan tidak pernah berbuat nakal. Clara memang terlalu pemilih dalam berteman dan tidak memandang siapapun orang itu meski latar belakangnya seperti dirinya yang berasal dari keluarga tak mampu.
“Bel, aku titip ini untuk kakakmu, tolong jangan berpikir macam-macam, aku …”
Isabella tersenyum, “... akan aku sampaikan, tenang saja Clara,” ucapnya seraya menerima bingkisan itu.
Clara tahu hari ulang tahun kakaknya, padahal dia sendiri tidak tahu dan lupa kapan pastinya.
**
Ketika sore itu Isabella pulang kerja, Ayahnya terlihat sesak napas dan membuatnya menjerit. Ia kebingungan karena ibunya tidak terlihat.
“Ayah!” teriaknya.
Tak lama seorang tetangga datang dan meminta pertolongan ke tetangga lain untuk membantu keadaan Pak Wasesa yang tampak kritis.
Isabella menekan tombol pemanggil ke nomor kakaknya yang katanya tengah pergi bersama ibunya.
Ia panik karena ternyata ibunya sedang berada di luar kota untuk meminjam uang. Isabella benar-benar takut karena harus menghadapi keadaan Ayahnya yang kritis saat berada di rumah sakit.
Dibantu tetangganya, Isabella diminta sabar menunggu dan ia hampir menangis karena ibu dan juga kakaknya belum datang juga hingga dua jam kemudian.
“Aduh, ini gimana, ya Bu?”
Isabella cemas, dua jam waktu yang cukup lama dan akhirnya keadaan Ayahnya sudah lebih stabil setelah ditangani secara serius oleh tim dokter yang berjaga.
Namun, hingga tiga jam berlalu, ibu dan juga kakaknya tidak kunjung datang. Sampai beberapa jam kemudian, Isabella berteriak histeris saat mendengar kabar kalau kakak dan ibunya mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju ke rumah sakit.
**
Malam ini, menjadi malam yang cukup mengerikan bagi dirinya. Isabella harus menahan tangis saat melihat kondisi kakaknya yang mengalami patah tulang serta ibunya tidak sadarkan diri.
Ia memeluk salah satu kerabatnya yang datang dan melihat keadaan keluarganya. “Yang sabar, Bel. Kamu akan ditemani Bimo. Dia dokter disini jadi sesekali nantinya akan datang dan membantumu menyiapkan keperluan ayah, ibu dan juga kakakmu,”
Isabella mengangguk dan mengusap air matanya. Bimo, dia seumuran dengan kakaknya dan terlihat sangat baik saat membantunya mengurus banyak hal di rumah sakit.
“Bel, jangan sungkan, nanti kalau butuh apa-apa panggil aku. Sepertinya nanti 24 jam aku disini,”
“Makasih, Bim. Maaf ya aku merepotkanmu,”
“Tidak apa-apa, aku keluar dulu ya mau cek pasien-pasienku,”
Isabella mengangguk dan menutup pintu ruangan dimana kakak, ibu dan juga Ayahnya dirawat.
Isabella duduk dan merenungi keadaannya. Sungguh miris saat ini dan hampir tidak bisa dibayangkan satu ruangan isinya hanya satu keluarga dan itu sungguh menyakitkan.
Sebuah ketukan pintu terdengar. Ia membukanya dan merasa terkejut. “Kak Max?”