Bella menghela napas, jemarinya memilin ujung selimut tipis yang ia kenakan. Sudah dua hari ia hampir tak beranjak dari kursi tunggu di lantai tiga rumah sakit ini.
Ruangan 303, tempat ayah, ibu, dan kakaknya terbaring, terasa seperti pusat gravitasinya. Ayahnya dirawat karena komplikasi penyakit lama, dan tak disangka, ibu serta kakaknya menyusul karena kecelakaan mobil saat dalam perjalanan menjenguk.
Rasanya seperti dunia runtuh dalam semalam.
Pukul sepuluh malam, lorong rumah sakit semakin sepi. Hanya suara langkah kaki perawat yang terdengar sesekali.
Isabella menyesap kopi dinginnya, mencoba mengusir kantuk yang menyerang. Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang dalam memecah kesunyian.
"Isabella?"
Bella mendongak. Di ambang lorong berdiri sesosok tubuh tegap yang ia kenal. Saat ia membuka pintu itu.
Max. Kakak Clara, sahabatnya. Max tampak lelah, dengan kemeja kantor yang sedikit kusut dan dasi yang melonggar. Rambut hitamnya sedikit berantakan, namun itu tak mengurangi sedikit pun pesona ketampanannya yang nyaris sempurna.
Ia adalah seorang CEO yang dikenal dingin dan pendiam, tapi saat ini, tatapan matanya yang tajam menunjukkan sedikit kekhawatiran.
"Kak Max? Ke-kenapa di sini?" tanya Isabella, terkejut.
Max melangkah mendekat, matanya menelusuri lorong yang sepi sebelum akhirnya berhenti di wajah Isabella. "Clara memberitahuku. Aku baru saja tiba dari Malaysia." Suaranya terdengar serak, mungkin karena perjalanan atau kelelahan.
"Bagaimana keadaan mereka? Ehm … Ayahmu, ibumu dan juga kakakmu?"
Isabella merasakan genangan air mata di pelupuk matanya. Kehadiran Max, tiba-tiba di tengah kesendiriannya, terasa seperti embusan angin segar.
Ia tidak menyangka saat harus menghadapi ini sendirian dan kini ada sosok pria yang menurutnya sangat dingin tapi ternyata memiliki sifat yang sangat baik dan perhatian.
"Ayah sudah sedikit membaik, tapi ibu dan kakak... mereka masih harus diobservasi. Kecelakaannya cukup parah." jawabnya dengan sedikit pilu.
Isabella sejujurnya merasa tersanjung, atas kedatangan Max, kakak Clara itu tampak perhatian dan membawa banyak makanan untuk keluarganya.
Max mengangguk perlahan, rahangnya mengeras. "Apakah ada yang bisa ku bantu?" tanyanya, suaranya tetap tenang namun ada ketulusan yang tersirat.
Isabella menggelengkan kepala, menatap lantai. "Aku tidak tahu, Kak Max. Aku... aku hanya ingin mereka semua baik-baik saja." Ucapnya tulus.
Max berjalan ke kursi kosong di samping Isabella, lalu ia mendudukkan diri. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya duduk di sana, dalam keheningan yang nyaman.
Kehadirannya yang biasanya terasa begitu formal dan berjarak, kini justru memberikan rasa aman yang tak terduga. Isabella mencuri pandang ke arah Max. Di balik kesan dingin dan pendiamnya, ada sisi manusiawi yang tampak begitu jelas malam ini.
Ia adalah seorang CEO yang tampan dan penuh wibawa, namun malam ini, ia hanya seorang teman yang datang menawarkan dukungan di saat yang paling sulit.
Max memang pernah ditolong kakaknya saat mabuk dan dihajar kawanan penjahat, bahkan ia pernah membantunya saat pria itu juga dikejar kawanan penjahat yang benar-benar mengerikan.
Ya, mungkin karena itulah, Max datang dan menjenguk keluarganya.
"Kamu sudah makan?" tanya Max tiba-tiba, memecah keheningan.
Isabella menggeleng. "Belum sempat."
Max bangkit berdiri. "Aku akan mencarikan sesuatu. Kamu tidak bisa sakit juga di sini."
Sebelum Isabella sempat menolak, Max sudah berjalan menjauh, menghilang di tikungan lorong. Ia menatap punggung Max yang menghilang, hatinya menghangat.
Max mungkin terlihat dingin, pendiam, dan terlihat tak terjamah, tapi di saat-saat seperti ini, ia adalah orang yang paling bisa diandalkan.
Kehadiran Max, sang kakak dari sahabatnya, yang datang sendirian untuk menjenguk, terasa seperti sebuah anugerah.
**
Isabella banyak berdoa saat ia menyadari saat Ayahnya bergerak dan minta diambilkan minum. “Ayah, mau minum?”
“Iya, Bel. Tadi sepertinya ada yang datang,”
“Iya, ada kakaknya Clara. Dia Kak Max,”
“Dimana dia?”
Ayahnya mencoba untuk bangkit tapi ternyata tidak bisa, Isabella membantu Ayahnya untuk minum. Segelas air minum yang tadi ia tuang, langsung habis dalam sekejap.
“Kok nggak kelihatan, dimana Max?” tanya Ayahnya lagi.
“Sedang di luar, dia mungkin membeli makanan, padahal sudah banyak yang dia bawa,” ucap Isabella mencoba untuk menjelaskan.
“Dia pria baik,” gumam Ayahnya.
Isabella mengangguk.
Setelah itu, kakaknya terbangun dan minta diambilkan roti yang tadi dibelinya. Kaki kakaknya cukup parah kata dokter tapi nanti akan jauh lebih baik setelah diterapi.
“Bel, kamu sudah makan belum?” tanya kakaknya.
Isabella menggelengkan kepalanya. “Belum, Kak, tapi nanti Bella akan makan, kok,” jawabnya.
Max kembali tak lama kemudian, membawa sekantong makanan dan minuman hangat. Ia menyerahkan salah satunya pada Isabella, yang menerimanya dengan tatapan terkejut.
"Terima kasih, Kak Max," ucap Isabella lirih. Ia membuka kemasan roti isi, dan aroma harumnya membuat perutnya bergejolak.
Max hanya mengangguk, lalu duduk kembali di samping Isabella. Menyapa Ayah dan juga kakaknya yang sedang tersadar. Ibunya masih dalam pengobatan karena belum sadar.
Max ternyata sangat pandai bercerita dan menawarkan pekerjaan untuk kakaknya, tapi ternyata kakaknya menolak karena ia akan bekerja di Papua satu bulan lagi.
“Kak, obatnya diminum ya, biar lebih cepat reda luka lebamnya,”
“Ya, Bel. Kakak mengantuk lagi ini, mana obatnya?”
Isabella menyodorkan obat yang sudah terbuka di bagian ujung. Tony minum obatnya dan langsung tidur karena sudah sangat mengantuk.
Agar mereka bisa beristirahat dengan nyaman, Isabella keluar disusul Max nyang juga ingin keluar dan duduk menemaninya.
Isabella duduk di depan ruangan rawat inap keluarganya. Max duduk menyusul sembari mengeluarkan air mineral yang abru dibelinya.
Keheningan kembali melingkupi mereka, namun kali ini, keheningan itu terasa lebih nyaman, diisi dengan kehadiran Max yang begitu menenangkan.
Isabella mencuri pandang pada Max. Di balik kesan dingin dan pendiamnya, ada kehangatan yang terpancar, terutama dari sorot matanya yang tak pernah lepas dari pintu ruangan 303.
Max benar-benar sangat tampan dan penuh pesona, serta sangat berkuasa, Clara bilang kakaknya banyak yang iri dan mungkin saja orang-orang yang mengejarnya adalah orang-orang yang ingin menghilangkan nyawanya.
Pria itu, kata Clara, sangat dingin dan jarang berbicara tapi sering sekali membawa banyak teman ke kafenya.
Kakaknya orang yang paling berkuasa, namun di sini, ia hanya seorang teman yang peduli.
"Aku sudah bicara dengan administrasi rumah sakit," Max memulai, suaranya tenang. "Ada ruangan VIP di lantai atas. Lebih luas dan fasilitasnya lengkap. Aku bisa memindahkan ayah, ibu, dan kakakmu ke sana."
Isabella terdiam, roti di tangannya hampir jatuh, ia memang membawa roti pemberian Max untuk dimakannya karena ia lapar, benar-benar lapar.
Matanya membulat menatap Max. Ruangan VIP? Itu pasti akan sangat mahal.
"Tidak, Kak Max, jangan," tolak Isabella cepat, gelagapan. "Tidak perlu, sungguh. Ruangan ini sudah cukup."
Max menoleh, tatapan tajamnya kini bercampur dengan sedikit kebingungan. "Kenapa tidak? Mereka butuh kenyamanan, Isabella. Terutama setelah kecelakaan itu."
"Aku tahu, tapi... ini terlalu banyak, Kak Max," kata Isabella, merasa tidak enak. "Aku tidak bisa menerima kebaikan sebesar ini. Biaya rumah sakit sudah menumpuk, dan ini..."
"Isabella," potong Max lembut, namun tegas. "Ini bukan tentang biaya. Ini tentang kenyamanan mereka. Aku tidak ingin mereka merasa sesak atau tidak nyaman di sini." Ia menekankan setiap kata, sorot matanya menunjukkan keseriusan yang tak terbantahkan.
Aura seorang CEO yang mengambil keputusan kini begitu kentara, namun kali ini, keputusan itu didasari oleh kepedulian yang tulus.
Isabella melihat ketulusan di mata Max. Ia tahu Max bukanlah tipe orang yang suka menunda atau diperdebatkan.
Max yang ia kenal adalah pribadi yang selalu mencapai apa yang dia inginkan. Tapi ini berbeda. Ini menyangkut keluarganya, dan harga dirinya.
"Aku sangat menghargainya, Kak Max, sungguh," Isabella mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Tapi, aku tidak bisa. Biarkan mereka di sini saja. Aku yakin mereka akan baik-baik saja."
Isabella berharap Max akan mengerti penolakannya. Ia tahu betapa dermawannya Max, tetapi ia merasa tidak pantas menerima kebaikan sebesar itu.
Isabella berkeras akan tetap menempatkan keluarganya di kamar yang biasa ini. Ia sendiri sedang bingung tentang biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar perawatan ketiganya di rumah sakit ini.
Max menghela napas panjang, terlihat sedikit frustasi. Ia menatap Isabella dengan tatapan yang sulit diartikan. "Baiklah," katanya akhirnya, suaranya kembali datar. "Tapi jika ada hal lain yang bisa ku bantu, jangan ragu untuk memberitahuku."
Meski Max terdengar menerima penolakannya, Isabella tahu bahwa Max mungkin tidak sepenuhnya setuju.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kini ada sedikit ketegangan yang menggantung di udara.
Isabella merasa bersalah karena menolak tawaran Max, padahal ia tahu itu adalah bentuk kepedulian tulus dari seseorang yang pernah ditolong keluarganya