Kedatangan tamu.
Seorang lelaki muda duduk di sebuah kursi malas berukir, artistik dan elegan. Sikap dingin dan arogan memandang pada pria paruh baya yang berlutut di depannya memohon belas kasihan.
"Kamu kejam orang lain juga bisa Azis," seringai lelaki muda yang biasa dipanggil Adam itu hilang rasa hormat pada yang lebih tua.
Iris mata tajam berwarna hijau pupus dan bening memancarkan cahaya keangkuhan. Sebagai pengusaha muda, dirinya berhasil menjatuhkan lawan bisnis yang jauh lebih berpengalaman darinya. Pantes dong kalau dia sombong.
Pria baya yang dipanggil Azis itu telah pun babak belur dipukul oleh anak buahnya. Wajahnya bersimbah darah, pecahan dari pelipis, hidung dan bibirnya. Hanya sedikit kesilapan yang membuatnya harus berurusan dengan pak tua bengal ini. Bermain lurus dan bersih tidak bisa diharapkan orang akan bersikap sama, terpaksa harus melakukan hukum rimba.
Makan atau dimakan, siapa yang kuat dia yang menang.
*
Sebuah Mobil sport open cup berhenti di halaman mewah kediaman orang tua Fara. Lima gadis remaja dengan wajah ceria, baru pulang dari liburan.
"Rumah kamu ada acara Far?" tanya Husna menunjuk ke halaman rumahnya.
Ada lima mobil asing terparkir ditambah dua mobil keluarganya. "Iya kali," jawab Fara tidak curiga apa-apa. Karena sudah biasa Papa menerima tamu dari rekan-rekan bisnisnya.
"Besok jangan lupa ultah Morano kamu siap-siap kita jemput ya," kata Firly tersenyum genit padanya.
Fara jengah. "Oke! Kalau gak ada arah melintang," jawabnya. Wajah mulus Fara bersemu merah.
"Cieee...malu," ledek Hanum.
"Idih! Kagak ya," jawab gadis paling muda di kelompoknya itu bertambah malu.
Memang Fara sudah kepingin pacaran, dan Morano adalah cowok yang disukainya. Tapi anak pendiam itu tidak pernah memandangnya. Bukan cuma Fara, terhadap siswi lain juga begitu. Tapi itu pulalah yang membuat Fara menyukainya, Morano bukan cowok play boy.
"Kalau besok Rano nembak kamu, terima ya Ra," celetuk Hanum tiba-tiba. Fara terpana memandang temannya itu.
"Terima ya Ra, kita udah kasi bocoran nih. Jangan bikin tuh cowok lugu mati karena malu," kata Raya si ketua kelompok di genk mereka.
"Cieee yang akan ditembak, pokoknya besok kita jemput kamu jangan banyak alasan!" tegas Raya.
Keempat temannya tau kalau Fara paling malas diajak ke acara ulang tahun dan alasannya gak asik banget lagi. Malas dandan dan gak suka pakai gaun.
"Kita jemput, siang. Make over Fara dulu biar cantik saat ditembak," sambung Husna.
"Dor!!" Firly nembak Fara dengan jarinya yang berbentuk pistol.
"Baiklah, pulang sana atau mau mampir?" tanya Fara segera turun dari mobil Husna.
"Pulang ya, capek. Mau istirahat."
"Oke! Dah Fara," ujar teman-temannya.
"Bye," balas Fara. Husna melajukan mobilnya.
*
Fara membuka pintu rumahnya. "Mama," panggil gadis delapan belas tahun itu lembut. Seketika langkahnya terhenti. Terkejut melihat keadaan ruang tengah rumahnya yang hancur seperti kapal pecah.
Membelalak memandang Pria dewasa yang dikenal baik olehnya berlutut di depan seorang pria yang lebih muda dari orang tuanya itu. Papa bersimbah darah dikelilingi lebih dari sepuluh orang pria berbadan tegap.
Kemana pergi dua pengawal yang biasa menjaga Papa? Dan asisten rumah tangga, kemana tidak kelihatan.
Fara menjatuhkan ransel dari punggungnya berlari menghampiri Azis. "Papa," tangisnya meledak seketika. Seseorang menahannya sebelum Fara sampai pada Azis. "Lepaskan aku!" jerit gadis itu.
Terdengar suara tangis perempuan, lagi-lagi dari orang yang sangat dikenalnya. Fara menoleh, di pojok ruang keluarga Mama dipegangi oleh dua orang pria berbadan tegap lainnya.
Fara menatap tajam pada lelaki muda yang bersilang kaki dengan sombongnya. "Siapa kamu berani berlaku kasar pada orang tuaku? Apa kamu tidak diajarin oleh orang tuamu untuk bersikap sopan pada yang lebih tua, hah!" pekiknya.
"Siapa aku?"
Sinis lelaki muda itu bangun dari duduknya mendatangi Fara. Jarinya terulur menjentik dagunya, kemudian berbisik di telinganya. "Aku adalah calon suamimu," senyumnya menyeringai.
***tbc