"Kenapa lama sekali?" tegur Januar begitu melihat batang hidung Vania. Vania yang masih terbayang akan percintaannya bersama calon ayah mertuanya itu seketika tersentak. Netranya bergulir, mencari keberadaan Januar yang tengah bersandar di ambang pintu yang menjadi penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah. Vania menggigit bibir bawahnya gelisah, dengan tangan yang saling bertaut."Perut aku sakit, Mas." jawabnya menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Januar sempat menangkap raut wajah Vania yang tampak berbeda. Tapi pria itu tak ambil pusing dan menyimpulkan jika hal itu mungkin terjadi karena perut Vania yang sakit. "Biar aku minta Bibi menyiapkan obat." Januar hendak beranjak ketika Vania tiba-tiba saja menahan tangannya. Gerakan spontan yang Vania lakukan memb

