Alfen memasuki pelataran villa yang cukup luas dan bagus itu. Lalu menghampiri meja resepsionis disana.” Malam mbak. Apa disini ada tamu atas nama Dara atau Dion?” “Malam, mas. Sebentar ya.” Wanita yang kemungkinan berumur tiga puluh tahunan itu mengecek komputernya.” Iya ada atas nama Dara.” “Kamar berapa ya, mbak? Saya temennya.” Wanita itu menatap Alfen dengan kening berkerut. Seakan ragu. Alfen pun langsung menunjukkan fotonya dengan Dara dari ponselnya. Wanita itu akhirnya mengangguk percaya.” Nomor sepuluh. Dari sini naik tangga lalu ke kanan. Nanti kamarnya ada paling ujung.” “Terimakasih banyak.” Alfen langsung berjalan menuju kamar yang dimaksud. Perasaannya sangat tidak enak sekarang. Berkali-kali ia menghela nafas, berharap rasa sesak dalam rongga dadanya mereda. Alfen ber

