Akhir-akhir ini Gita sering bertemu Safa di perpustakaan. Sepertinya gadis pendiam yang satu angkatan dengannya itu memang jarang atau malah tidak pernah terlihat berkumpul dengan mahasiswi lain. Walaupun Gita suka menyendiri juga tapi dia selalu bergaul dengan mahasiswa lain, penting kan apalagi kalo ada tugas dan kerja kelompok. Berkomunikasi untuk calon dokter juga sangatlah penting karena dokter akan berkomunikasi langsung dengan pasien nantinya. Tapi mungkin memang Safa orangnya tidak mudah bergaul dengan yang lain, atau dia memiliki teman dekat tersendiri seperti Gita yang dekat sekali dengan Alfen dan Dara. Mungkin.
Toh Safa juga malah sudah punya tunangan, tidak seperti Gita yang jomblo dari lahir. Jadi pastilah cara berkomunikasi Safa dengan tunangannya berbeda dengan Safa yang di kampus. Gita jadi penasaran.
“Gue duluan ya, Git.” Kata Safa yang tau-tau sudah bersiap untuk pergi.
“Eh. Pulang sendiri, Saf?” Gita pun berniat untuk pergi juga karena sudah dua jam ia menghabiskan waktu disini. Dan hari juga sudah sore. Sudah waktunya untuk pulang.
“Gak kok. Dijemput tunangan gue.” Safa mulai banyak bicara sekarang, tidak seperti waktu awal Gita mengajak gadis itu bicara. Singkat sekali.
Gita mengangguk mengerti. Apalagi sekarang malam minggu kan. Pastinya mereka mau jalan berdua. Ah! Senangnya.” Yaudah keluarnya bareng ya. Gue juga mau pulang.”
“Naik apa? Mau bareng gak?”
Gita sebenarnya agak kaget menerima tawaran yang tak disangkanya dari Safa. Tapi Gita juga tak mengiyakan. Toh ia tau diri. Ia tidak ingin jadi orang ketiga diantara Safa dan tunangannya. Akhirnya Gita menjawab dengan gelengan kepala.” Gue nanti dijemput temen-temen gue soalnya mau maen ke rumahnya.”
Safa mengangguk mengerti. “Yaudah yuk.”
Gita segera membereskan tasnya dan berjalan bersama Safa keluar perpustakaan. Mereka berjalan menuju parkiran yang disana hanya tersisa beberapa mobil dan motor. Kebanyakan mahasiswa disini juga ngekos jadi pulang pun jalan kaki karena lokasinya dekat dari kampus. Kalo Gita sih gak berminat ngekos walaupun rumahnya agak jauh, ia tidak suka hidup sendirian.
Mobil Pajero warna silver berhenti didepan Gita dan Safa. Kaca jendela mobil itu terbuka, memperlihatkan si pengemudi mobil yang ternyata seorang pria tampan dengan wajah mirip artis timur tengah. “Yuk.” Ucap Pria itu saat melihat Safa.
Safa hanya mengangguk.” Gue duluan ya, Git.” Pamitnya pada Gita sebelum memutari mobil itu dan masuk ke dalamnya bersama pria tadi.
Gita hanya diam di tempatnya sampai mobil itu bergerak menuju pintu gerbang keluar. Ia mengusap tengkuknya. Ternyata cara Safa berkomunikasi dikampus dan sama tunangannya sama aja. Begitu pikirnya. Apalagi tunangan Safa terlihat agak dingin dan cuek. Mungkin. Atau mereka sungkan karena ada dirinya?
Tin tin!
Gita hampir saja terjerembap ke belakang saking kagetnya dengan suara klakson mobil di belakangnya. Baru saja ia berbalik dan mau mengomeli siapapun yang memencet klakson sebegitu cepat dan bising, Alfen dan Dara malah cengengesan dibalik kaca mobil jeep warna army itu.” Elo berdua. Tumben bawanya mobil ini?” Ia langsung menghampiri mobil itu dan masuk ke pintu belakangnya. “Ini kan udah lama gak dipake. Mobil bokap lu kan, Dar?”
Dara mengangguk.” Daripada bulukan di garasi, mending dipake kan.”
Alfen terlihat antusias.” Jadi mau kemana kita hari ini?” Ucapnya sambil menepuk-nepuk tangannya diatas kemudi.
“Puncak kuy! Udah bagus pake mobil gini terus ke puncak. Berasa nonton film my heart, ya gak?” Usul Dara yang teringat film favoritnya dulu.
“Film jadul cuy! Kuy!” Jawab Alfen tak kalah antusias.
“Gue mah ikut aja tapi pulang dulu lah gue. Mandi aja belom. Lo berdua mah enak.”
“Asiap.” Ucap Alfen yang langsung menyalakan mesin mobilnya lagi dan mengemudikannya menuju rumah Gita yang kurang lebih jaraknya memakan waktu satu jam.
Gita tersenyum. Komunikasi bersama Alfen dan Dara memang yang terbaik.
………….
Menjelang malam, ketiganya telah sampai di puncak. Mereka memutuskan untuk memarkir mobil dekat puncak pass.
Hawa dingin langsung menyambut mereka begitu keluar dari mobil. Untung ketiganya sudah siap dengan jaket masing-masing. Dara mengeratkan jaket jeansnya dan berjalan mengikuti Alfen dan Gita yang sudah berjalan lebih dulu didepannya. Mereka mampir ke sebuah saung tempat penjual aneka makanan.
“Gue mau uli bakar deh sama teh manis anget.”
“Gue mau jagung bakar pedes sama s**u jahe.”
Alfen sebagai pria satu-satunya diantara dua sahabatnya itu segera memesan makanan. Untuk dirinya sendiri ia hanya memesan semangkuk sekuteng yang kuahnya terlihat banyak asap mengebul, hangat. Pas banget dimakan di cuaca dingin seperti sekarang.
“Jauh-jauh ke puncak Cuma buat jajanan ginian aja. Dasar kita.” Sahut Dara yang kemudian meniup-niup jagung bakarnya yang masih panas. Wangi khas jagung bakar dan saus pedasnya ini benar-benar membuat air liurnya hampir menetes.
“Kalo Dara beneran udah pacaran. Kita bisa begini lagi gak ya.” Ucap Gita tiba-tiba, membuat Alfen tak berselera.
“Emang yakin apa mereka bakal pacaran?” Ucap Alfen demi memperbaiki moodnya.
Tentu saja Dara langsung cemberut.” Sialan! Bukannya doain gue yang baik-baik. Biar gak jomblo lagi.” Ia mencebik.
Alfen tampak acuh sambil menutup kedua telinganya, seakan tak mendengar ucapan Dara.
“Lo cemburu ya. Pasti deh!”
“Ngimpi lo!” Balas Alfen yang jelas tak mau mengakui perasaannya sendiri. Jika ia memang benar sedang cemburu.
………………
“Kok sepi? Nyokap bokap lo mana?” Tanya Dion sambil melihat ke sekelilingnya. Rumah besar yang dominan berwarna biru laut itu tampak sangat sepi. Biasanya pasti ada orangtua Safa yang keduanya memang pengusaha dan menjalankan bisnis dari rumah. Orangtua Safa alias calon mertuanya. Iya.
“Mereka lagi keluar kota. Buka cabang baru di Surabaya. Bentar ya. Aku ganti baju dulu terus bikini kamu makan malam.”
“Gak usah repot. Gue mau langsung balik.”
Safa menggeleng pelan namun tegas.” Kita mau malam mingguan sayang.” Ucapnya dengan menegaskan kata sayang.
Dion tak bergeming. Ia kemudian menyalakan TV dan menonton acara yang terpampang disana. Walau tak menarik, sepertinya lebih menarik dibanding ia harus berbicara dengan Safa. Berusaha menikmati tontonannya yang sebenarnya membosankan. Hanya film-film lama yang diputar ulang, tontonan berita yang berisi politik ataupun berita gossip. Benar-benar tidak ada yang menarik.
Baru saja Dion ingin mengganti channel TVnya, ia melihat Safa keluar dari kamarnya dengan setelan baju minim dan transparan. Rambutnya tampak basah seperti habis keramas. Seketika Dion menelan ludah. Walau ia tak pernah tertarik dengan wanita yang dijodohkannya itu, tapi pemandangan yang baru saja Safa berikan sedikit membuat nafsunya meningkat. Ia segera menggeleng. Safa bukanlah lawan yang ia inginkan. Sudah terlalu banyak yang gadis itu ketahui tentangnya. Sudah tak mengejutkan lagi. Rasanya permainan pun akan hambar karena Safa satu-satunya wanita yang sudah tau soal jati dirinya tanpa pernah bermain dengannya sebelumnya.
Safa berjalan pelan namun pasti, menghampiri Dion yang tampak membuang muka darinya. Gadis itu tau, Dion tak pernah tertarik dengannya. Tapi Dion juga tak tau, semakin pria itu menolaknya, semakin gencar juga Safa mendekatinya. Dan memiliki Dion, sudah takdir Safa, itulah pikirannya. Maka apapun akan gadis itu lakukan agar Dion bisa segera menerimanya dan jatuh cinta padanya.
Jatuh cinta.
Pria kelainan seperti Dion?
Sangat mustahil memang.
Tapi setidaknya hanya Safa yang bersama pria itu, tidak yang lain. Termasuk gadis yang pernah ia lihat pergi bersama tunangannya ini. Cepat atau lambat, Safa akan menyingkirkan gadis itu.
Safa duduk diatas Dion, pria itu masih saja menatap ke layar TV seakan lebih menarik dibanding penampilannya yang sangat berubah hari ini. Memang ia nekat, tapi tak apa yang penting ia bisa menarik perhatian sedikit saja dari Dion. Agar pria itu jatuh ke dalam pelukannya, setidaknya agar ia punya alasan untuk membuat Dion agar selalu bersamanya.
Walau Safa tau, ia bukan yang pertama.
“Lo ngapain sih?” Dion malah terlihat risih emlihat pakaian Safa yang seperti telanjang, warna hitam transparan memperlihatkan dalaman wanita itu yang berwarna senada. Memang sedikit menaikkan nafsunya, tapi ditawari seperti ini sedikit membuat harga dirinya jatuh. Ia lebih suka memaksa wanita dibanding ditawarkan begini. Terlalu mudah baginya.
“Kenapa? Gue bisa kasih yang lo mau tanpa lo paksa. Gue bakal nyerahin semuanya tanpa lo minta. Mudah bukan? Harusnya lo bersyukur, sayang.” Ucap Safa dengan nada s*****l dan berbeda dari biasanya. Ia mengusap wajah Dion yang mulai terlihat tumbuh bulu-bulu halus, yang semakin menambah ketampanannya.
“Gue gak suka yang begini. Gak menantang.” Balas Dion lagi.
“Gue bisa jadi partner seperti yang lo mau kok.”
“Lo gila ya menyerahkan diri begini ke gue? Sedangkan lo tau siapa gue. i***t!”
“Gue gila karena lo, sayang.” Lagi-lagi penekanan pada kata sayang, membuat Dion agak muak namun tak mengelak saat sesuatu dibawah sana mulai menekan-nekan meminta dikeluarkan, karena semakin sesak.” Wow! Sepertinya adik kecil kita sudah gak sabar.” Safa malah semakin menekan bokongnya duduk diatas Dion. Ia melebarkan kakinya dan merubah posisi duduknya menghadap pria itu.
Safa mendekatkan wajahnya ke Dion hingga jarak antara mereka semakin terhapus. Safa akui, ia gadis ternekat. Jika gadis lain tau kepribadian pria didepannya, bisa dipastikan mereka akan menjauh. Kecuali jika mereka sejenis dengan Dion. Lantas, karena malah menawarkan diri, apakah Safa juga sama seperti Dion? Tidak. Gadis itu hanya mengambil kesempatan agar dirinya punya alasan kuat, mengapa Dion harus menikah dengannya nanti. Iya. Dia sudah memikirkan matang-matang rencananya.
“Jangan salahin gue, kalo gue bakal kasar banget sama lo. Walaupun lo udah tau siapa gue. Walaupun gue kenal nyokap bokap lo.” Dion menyeringai. Sama sekali tidak membuat Safa takut, gadis itu malah tersenyum penuh kemenangan.
Dion langsung menggendong Safa dengan posisi tadi menuju kamar gadis itu. Walau awalnya deg-degan tapi kemudian Safa pasrah, karena ia ingin memiliki Dion secara utuh, dan Dion pun memiliki seutuhnya dirinya. Pria itu membanting Safa di ranjang. Ia langsung membuka kaosnya, menampilkan kekar tubuhnya yang memang rajin gym sehingga tubuhnya terbentuk sempurna. Cukup membuat Safa menelan ludahnya. Karena ini pertama kalinya melihat Dion tanpa pakaian.
Safa yang masih terbaring di ranjangnya pun mulai sedikit takut saat Dion menghampirinya dengan seringaian mengerikan, seperti bukan Dion saja. Sangat berbeda. Seakan ada sesuatu yang masuk ke tubuh pria itu. Apalagi saat Dion mulai menyentuh tubuhnya, merobek paksa lingerie yang dibelinya tempo hari melalui market online. Hingga menunjukkan dengan jelas bra dan panty yang dikenakannya.
“36, gue tebak?” Ucap Dion sambil tersenyum miring. Matanya mulai berembun karena dipenuhi oleh nafsunya.
Safa menelan ludah. Bahkan Dion mampu menebak ukuran bra seseorang. Sudah seberapa seringkah?
“Lo tenang aja. Gue gak penyakitan kok.” Ucap Dion yang wajahnya sudah tepat beberapa centi saja jaraknya dengan wajah Safa. Sampai kemudian bibir mereka saling memagut, Dion jelas ganas. Sesekali digigitnya bibir Safa sampai gadis itu mengerang namun mendesah juga apalagi ketika pria itu mulai meraba puncak kembar milik Safa, membuat gadis itu semakin mendesah. Matanya juga ikut berembun seiring rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Rasa yang nikmat.
Mungkin itu definisinya.
Dion mulai turun menuju leher jenjang Safa, meninggalkan beberapa bekas merah disana juga dikedua p******a gadis itu. Tak lupa ia menjilati seluruh tubuhnya, membuat Safa menggelinjang geli namun nikmat. Gadis itu tak mengelaknya, jika memang rasanya sangat nikmat. Sampai ia sendiri sulit mendefinisikannya.
Dion kembali melumat bibir Safa yang agak tebal namun seksi itu, sembari tangannya menyingkap panty hitam milik Safa, melepaskannya dan menjelajahi area intim gadis itu dengan jarinya. Membuat Safa lagi-lagi menggelinjang.
Sudah basah.
Jelas.
Safa sampai mengerang hebat saat Dion memasukkan satu jarinya ke dalam liang kewanitaannya, sedikit menghancurkan mahkotanya yang memang sengaja ia jaga hanya untuk Dion.
Sempit.
Sudah dapat ditebak oleh Dion. Jika Safa memang masih perawan.
Seringaian Dion makin lebar, ia pun melepas celananya hingga membebaskan sesuatu dibawah sana yang sudah sangat ingin keluar. Kejantanan pria itu telah berdiri tegap, membuat Safa melotot lebar.
“Biasanya gue pake k****m. Tapi karena lo calon istri gue, gue hamilin dari sekarang juga boleh kan?” Dion menyeringai. Ia kemudian menindih tubuh Safa, melesakkan kejantanannya ke liang sempit Safa tanpa aba-aba bahkan begitu cepat.
Rasa sakit dan nyeri menjalar di tubuh gadis itu.” Aw! Sakit. Ah..” Jeritnya ketika kejantanan Dion memaksa masuk. Hingga merobek sesuatu di dalam sana. Cairan hangat berwarna merah seketika m*****i sprei abu-abunya.
Dion berhenti sebentar, menatap Safa yang kesakitan.
Kasian?
Tentu tidak. Dion hanya memberi waktu Safa untuk bernafas sebentar.
Ya sebentar.
Karena detik kemudian pria itu langsung memaju mundurkan tubuhnya, sesekali menggoyangkannya. Liang sempit itu benar-benar memanjakan kejantanannya. Sesekali ia meremas p******a Safa dengan kasar atau menampar-nampar paha gadis itu.
Safa hanya mengerang dan mendesah sesekali, rasa nikmat dan sakit yang ia rasakan berbarengan. Sungguh diluar ekspektasinya. Walau ia tak menyesal. Lama-lama ia menikmati permainan Dion hingga mencapai pelepasan.
Tapi bukan Dion namanya jika terlalu cepat mencapai klimaksnya, ia masih terus menggoyangkan tubuhnya, lama. Hingga Safa terbaring lemas dan benar-benar memasrahkannya. Hingga tubuh pria itu menegang seiring desahan panjangnya.” Ah! Harusnya gue cobain lo dari dulu.” Ucapnya seiring cairan hangat yang masuk ke dalam rahim Safa.
“Kalo lo hamil sekarang, gue gak bakal tanggung jawab. Dasar bodoh.” Ucap Dion yang membaringkan dirinya disamping Safa. Ia memejamkan matanya, menikmati sisa rasa nikmat yang baru saja didapatkannya.
Tanpa Dion ketahui, Safa sudah menyiapkan semuanya. Termasuk meminum pil KB.