14

2601 Kata
Dara tampak gelisah ditempatnya, sesekali ia mengusap tengkuknya sendiri. Apalagi mereka sekarang terjebak kemacetan panjang dalam perjalanan menuju ibukota. Katanya ada kecelakaan lalu lintas sehingga jalanan ditutup sebagian karena sedang evakuasi korban. “Serem ya. Truk sama mobil gitu. Katanya yang dimobil sampe gepeng.” Gita bergidik ngeri setelah mendapat beberapa info dari beberapa pengendara yang memilih keluar sebentar dari mobil mereka karena macet yang panjang. “Katanya juga korbannya tuh anak-anak muda kayak kita. Abis dari puncak juga. Orang searah kita kok yang kecelakaan. Berarti mereka mau pulang juga kan.” Sambung Alfen yang beberapa menit lalu melihat social medianya demi menghapus kebosanan. “Makanya lo ati-ati, Fen. Jangan sampe kita begitu.” Ucap Dara mencoba menghilangkan kegelisahannya. “Gak kebayang deh kalo gue kehilangan kalian.” Gita memeluk tubuhnya sendiri karena hawa dingin mulai menusuk. Maklum mereka masih baru turun dari kawasan puncak. Hawa dingin disini jelas lebih menusuk. Apalagi menjelang tengah malam. “Udah deh. Jangan ngomong yang engga-engga.” Ucap Alfen yang sebenarnya perasaannya juga tidak enak. Entah kenapa. Ia melirik Dara yang terlihat agak terganggu juga. …………… Safa membuka matanya dengan susah payah. Rasa sakit dibawah perutnya masih terasa walau tak seperih semalam. Ia melirik sampingnya yang sudah kosong, mencari kemana Dion berada. Sepertinya pria itu sudah pulang. Apa yang ia harapkan? Pria itu akan terus berada disampingnya untuk sekedar meminta maaf dan mengecup keningnya? Mustahil. Gadis itu segera bangkit dan membereskan sprei yang penuh bercak darah keperawanannya itu. Ia mengulum senyum, mengingat semalam. Setidaknya jarak ia dan Dion jauh lebih dekat dibanding jarak pria itu dengan gadis incarannya. Jadi Safa menang banyak kan? ………….. “Dion?” Dara mengernyitkan dahinya, heran tapi juga senang. Pagi-pagi ketika baru sampai dirumahnya setelah macet panjang perjalanan dari puncak dan mengantar Gita ke rumahnya, ia bisa melihat pemandangan bagus yang menyegarkan matanya. “Lo darimana?” Dion mengangkat alisnya, melihat Alfen yang menatap tak suka kearahnya. “Puncak. Malem mingguan.” Jawab Alfen dengan nada bangga. Tanpa mereka ketahui, tangan Dion terkepal dibelakang tubuhnya. Sehingga tak terlihat. “Bareng Gita juga kok. Tapi dia udah kita anter pulang duluan.” Lanjut Dara melengkapi jawaban Alfen yang pastinya menimbulkan kesalahpahaman. Dion tampak tersenyum yang menurut Alfen sangat tak enak dilihat, lain jika Dara yang melihat. Terbukti gadis itu malah bengong seakan terpesona.” Tadinya mau ngajak sarapan. Tapi lo baru pulang, pasti capek banget ya. Lain kali deh.” “Yah… Gapapa kok. Ya kan, Fen? Lagian tadi Alfen yang nyetir jadi gue mah tidur aja. Jadi gak capek deh.” Ucap Dara yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. “Terserah. Gue mau balik. Capek.” Alfen langsung memasukkan mobilnya ke garasi mobil Dara. Ia pun keluar dari sana dan pergi menuju rumahnya tanpa pamit pada dua orang yang sedari tadi memperhatikannya. “Yuk. Gue bawa motor kok.” Ucap Dion memecah lamunan Dara. Dara tadi memang melihat motor ninja hitam yang terparkir didekat gerbang rumahnya. Ternyata motor Dion. Dara mengangguk lalu mengikuti pria itu menuju motornya yang terparkir. Mereka berdua pergi tidak jauh, hanya ke taman komplek perumahan Dara. Disana banyak penjual makanan dan orang-orang yang sedang berolahraga. Maklum, hari minggu. “Lo mau sarapan apa?” Tanya Dion sambil menatap sekelilingnya. Banyak makanan menarik untuk dicoba. “Bubur ayam deh. Disitu enak.” Dara menunjuk salah satu gerobak bubur ayam yang berwarna pink. Serba pink, bahkan baju penjualnya pun warna pink. Padahal cowok. “Yakin?” Dion meragukan warna gerobaknya. Dara mengangguk sangat yakin. Ia pun menarik tangan Dion menuju gerobak yang warnanya paling menarik perhatian itu. Ia memesan dua mangkuk bubur. “Jadi tim diaduk apa tanpa diaduk?” Tanya Dara ketika bubur pesanan mereka jadi. “Emhh… apa aja sih.” Dara mencebik.” Gak seru ah!” “Kalo lo?” “Tanpa diaduk. Kecapnya banyak. Alfen suka protes nih karena mendadak bubur ayam gue warnanya item. Dianya geli sendiri. Padahal bubur diaduk penampakannya ewh banget.” Ucap Dara dengan bersemangat. “Bisa gak kalo lagi sama gue gak usah ngomongin Alfen?” Tanya Dion yang tak bisa menahannya. “Eh?” ……… Safa berjalan di sekitar komplek perumahannya menuju kearah sekolah yang dulu menjadi sekolahnya dan Dion. Ia sangat ingat memori-memori di sekolah itu. Sekarang sekolah itu tampak ramai oleh beberapa orang yang sekedar olahraga di lapangannya maupun penjual-penjual makanan. Memang lapangan sekolah ini dibuka untuk umum setiap hari minggu. Untungnya para warga komplek sini tertib dan tetap menjaga kebersihan lapangan. Safa melangkahkan kakinya menuju taman sekolah yang masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Tempat Dion sering duduk. Pria yang membuatnya tak bisa menatap pria lain, pria yang begitu cepat menarik perhatian serta hatinya. Pria berseragam abu-abu yang sebenarnya adalah seniornya itu. Waktu Safa kelas satu SMA, Dion sudah kelas tiga SMA. Satu info pertama yang Safa tau. Fansnya Dion banyak. Dan Dion sudah punya pacar waktu itu. Safa menatap pohon ceri diatasnya yang terdapat beberapa buah yang sudah merah. Pohon ini sudah semakin besar dan dulu menjadi favorit anak-anak cowok di sekolahnya. Karena buahnya memang manis. Walaupun sering dibilang makanan untuk burung. Yang penting gak beracun kan? Safa menerawang ke masa lalunya, masa lalu yang sampai menunjukkan sebuah fakta mengejutkan soal Dion. Fakta yang harusnya ia hindari, namun justru membuat Safa semakin terobsesi untuk memiliki Dion. “Dia siapa?” Tanya Safa yang saat itu berumur lima belas tahun. Saat ia ikut masa orientasi siswa, ia tak pernah melihat sosok tampan berambut hitam dan mata tajam itu. Rahangnya yang tegas seakan menunjukkan jika ia tidak semuda umurnya. Ia tampak seperti pria dewasa dibanding teman seangkatannya. Resa yang saat itu menjadi teman pertama Safa paska MOS, mengikuti kemana arah mata gadis itu.” Dion. Dia senior tau. Udah kelas tiga.” Jawabnya yang memang tau banyak soal senior disini karena kebetulan kakaknya juga sekolah disini dan sudah kelas tiga juga. Jadi sebelum masuk sini pun, Resa sudah tau banyak seluk beluk siswa disini.” Dia udah punya pacar, betewe kalo lo naksir doi.” Lanjutnya membuat harapan Safa lenyap seketika. Safa mencebik.” Bisa gak info yang itu mah belakangan aja.” “Gue gak mau lo kalah sebelum berperang sayang.” Balas Resa tak kalah sadis. “Siapa ceweknya? Anak sini?” Tanya Safa yang masih penasaran. Resa melihat kearah jam tangannya. Ia malah menghitung mundur dari sepuluh.” Dua… satu… Tuh. Dia pacarnya.” Ucapnya sambil mengedikkan dagunya kearah gerombolan siswi yang sepenglihatan Safa ada empat orang itu, mereka berjalan bareng kearah Dion. Salah satunya siswi berambut panjang bergelombang, terlihat sangat cantik. Dia duduk tepat disamping Dion. Safa tebak, siswi cantik itulah pacar Dion. Cantik dan terlihat dewasa. Tidak seperti dirinya yang kelihatan masih anak-anak. Apalagi rambutnya yang masih pendek, makin tidak mungkin dilirik cowok seperti Dion. “Udah deh. Yang lain aja, banyak. Lita tuh serem tau. Ntar lo dilabrak gimana?” Resa memperingatkan. Setaunya kakak kelasnya itu, Lita alias pacarnya Dion memang terkenal suka melabrak siapapun cewek yang suka sama Dion. Apalagi sampe mengganggu hubungan dengan Dion. Habislah pasti sama dia.”Dion playboy loh.” “Masa? Ah! Lo Cuma nakut-nakutin gue biar gak naksir Dion kan?” Ucap Safa, tak mau percaya begitu saja. “Serius!” Resa sampai menunjukkan tanda peace dengan jarinya.” Tapi kebanyakan mantannya pada pindah sekolah gitu deh, kata kakak gue. Saking gak bisa move on kali ya makanya pilih pindah?” “Bisa jadi. Dia ganteng sih!” Safa malah menopang dagunya, menatap jelas kearah Dion. Sampai sosok yang disebut-sebut pacarnya Dion itu menatap balik kearah Safa. Tapi Safa tak merasa hingga cewek itu menghampirinya. “Eh! Lita kesini tuh! Lo jangan liatin Dion mulu kek. Aelah!” Resa tampak was-was melihat Lita dan gerombolannya menghampiri kearah mereka yang duduk agak jauh. “Elo! Mata lo ngeliat siapa?!” Tanya Lita dengan mata melotot, seperti mau keluar saja bola matanya. “Dion. Kenapa sih?” Balas Safa tanpa merasa takut sedikit pun dengan kakak kelas didepannya. “Dia cowok gue. Gak ada yang boleh liatin dia kecuali gue!” “Tau lo!” “Nyadar kek! Anak bau kencur aja belagu!” “Hajar, Lit!” “Udah. Udah. Apaan sih?! Kayak bocah aja!” Untungnya kakak Resa, Danil. Waktu itu langsung datang karena kebetulan lokasinya tak jauh dari lokasi adiknya. “Lo bilangin temen adik lo nih!” Lita menunjuk tepat kearah wajah Safa, kalau saja keberanian Safa sedikit bertambah saat itu, ia ingin sekali menepis tangan yang mulus dan berkuku lentik itu. Sayangnya, nyalinya ciut saat itu.” Jangan gatel matanya. Lirik sana sini.” Ucapnya penuh penekanan di setiap kata. “Iya. Udah sono kalian.” Danil mengayun-ayunkan tangannya, mengusir para penindas junior wanita di sekolah ini. “Ih! Lebay banget sih dia. Baru pacaran aja. Ntar gue yang jadi tunangan Dion.” Safa mencebik dengan bibir mengerucut. Resa menepuk jidatnya sendiri.” Thanks kak. Temen gue agak-agak emang.” Ucapnya sambil memeluk pundak Safa. Yang dipeluk masih sibuk mengoceh, melampiaskan karena tadi gak berani. “Yaudah. Kalo ada apa-apa kabarin gue aja.” Ucap Danil yang langsung berlalu darisana, kembali ke tempat semula. Untungnya kakaknya Resa sedikit famous dan lumayan banyak dikenal, jadi mungkin Lita sedikit sungkan. Dan entah kenapa Safa yang Resa kenal awalnya pendiam ini mendadak seperti gadis yang haus akan pria seperti Dion. Tak lama berselang sejak peristiwa Lita yang melabrak Safa, kabarnya hubungan Lita dan Dion putus. Entah apa penyebabnya. Yang jelas Lita langsung pindah sekolah, sama seperti mantan-mantan Dion sebelumnya. Bahkan senior-senior cewek yang biasa mengikuti Lita pun seperti menjaga jarak dari Dion. Safa sampai penasaran. Hingga suatu waktu ia berpapasan dengan Lita yang sepertinya habis mengambil barang-barangnya di loker. Wajah garang gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu Nampak pucat dan bulatan hitam dibawah matanya seakan ia baru saja mengalami hal terberat dalam hidupnya. Lita terkejut melihat Safa, tapi kemudian gadis itu menghampirinya dengan tergesa-gesa. Lita melihat ke sekelilingnya yang Nampak sepi, seakan takut ada yang melihat. Safa sudah ancang-ancang kabur jika Lita ingin melabraknnya lagi untuk terakhir kali, walaupun meragukan dilihat dari kondisi wajah Lita sekarang.”Ke… kenapa?” “Jauhin Dion. Dia…. Dia gak waras.” Ucap Lita dengan nada hati-hati. Sangat berbeda dengan Lita yang berbicara padanya tempo hari. Bahkan wajah Lita kelihatan ketakutan sekarang. Entah apa penyebabnya. “Kenapa? Lo mau jelekin dia mentang-mentang kalian udah putus?” Safa tampak tak mau mengikuti ucapan Lita, jelas. Kesempatan untuk dekat dengan Dion sudah didepan matanya sendiri, masa ia harus mengikuti permintaan cewek yang pernah melabraknya ini?  “Lo bakal nyesel seumur hidup kalo berhubungan dengan orang seperti Dion. Gue Cuma ngasih tau aja.” Lita mengedikkan bahunya, kemudian segera pergi dari sana seolah takut ketahuan. Safa diam ditempatnya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan kenapa Lita dan Dion sampai putus, juga kenapa Lita sampai memperingatkannya seperti itu. Tapi bukannya sudah umum jika mantan pacar habis putus akan memperingatkan soal kebrengsekan mantannya? Biar mantannya gak ada yang deketin lagi kan? Jadi dia gak perlu cemburu dan merasa kalah. Ya. Pasti seperti itu. Safa dengan kepedeannya mencoba mendekati Dion dengan segala cara. Bahkan ia yang masih junior pun mendadak terkenal di kalangan senior karena kegigihannya mengejar Dion. Sayangnya Dion selalu bersikap dingin padanya. Entahlah, katanya biasanya Dion yang mendekati si cewek duluan, bukan cewek  yang deketin Dion duluan. Walaupun memang banyak cewek yang deketin Dion dari kalangan Junior maupun senior, tapi yang jadi pacar Dion biasanya ya yang Dion deketin. Hingga suatu waktu saat Safa nekat ingin memberikan surat cinta di meja Dion yang kebetulan saat pagi tentunya kelas masih sangat sepi bahkan belum ada yang datang. Safa malah menemukan ponsel pria itu disana. Entah sepertinya ketinggalan, soalnya tidak tampak tas Dion jika cowok itu memang sudah datang ke sekolah sepagi ini. Karena penasaran, Safa melihat isi ponsel Dion yang ternyata isinya mengejutkan. Apalagi isi galerinya. Sedikit membuat Safa mual. Isinya banyak video p***o tentang b**m dan sejenisnya. Juga video-video Dion yang menjadi pemeran utama bersama beberapa cewek termasuk…. LITA! Pantas seniornya itu terlihat ketakutan. Di video ini jelas Lita sangat terpaksa. Tapi wajah Dion yang tampak sangat seram, berbeda dengan Dion yang ia kenal. Jadi ini yang mau Lita peringatkan padanya? Safa hampir tak percaya dengan yang dilihatnya. Dion tak Nampak seperti pria haus akan seks. Walau kenyataannya begitu. Entahlah. “Ada tikus kecil, masuk jebakan buaya.” Suara Dion yang tadinya sangat ia nanti-nanti mendadak menjadi ketakutan terbesar Safa. Gadis itu beringsut mundur saat sosok Dion berdiri tak jauh darinya dan sedang berjalan mendekat kearahnya.” Gimana? Kaget? Dari sekian cewek yang suka deketin gue, lo yang paling batu.” Ucapnya yang semakin dekat posisinya dengan Safa. Safa terjebak dengan tembok dibelakangnya. Sementara tak Nampak ada satu siswa pun yang datang di jam setengah enam ini. “Jadi? Apa masih tertarik? Lo akan jadi pemeran utama juga kok.” Ucapnya sambil menatap tubuh Safa seakan tak sabar untuk menerkamnya. “Lo…. Ini…” Dion segera melengos, merebut ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.” Lo beruntung. Gue gak suka sama cewek yang udah tau jati diri gue duluan. Ngeliat mereka terkejut di ranjang dengan memperlihatkan jati diri gue, itu baru menantang.” Ucapnya dengan seringaian misterius, seperti di video yang baru Safa lihat. Hanya yang ia lihat sekarang benar-benar nyata didepan matanya, bukan hanya sebuah video. “Mending lo pergi deh.” Safa menggeleng tegas. Entah keberanian darimana, yang tidak ia dapatkan sata berhadapan dengan Lita saat seniornya itu melabraknya, Safa malah menatap menantang kearah Dion.”Lo… gue suka sama lo.” “Lo? Gila.” Ucap Dion bernada datar. “Gue tau siapa nyokap bokap lo. Mereka ternyata temen nyokap bokap gue. Tunggu aja. Kita bakal segera dijodohkan.” Ucap Safa sambil tersenyum penuh arti membuat cowok didepannya mengerutkan kening, bingung. Safa, dengan segala kekerasan kepalanya yang harus segera mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia telah mencari tau soal Dion sebelumnya. Fakta mengejutkan jika kedua orangtua mereka pernah sekolah di SMA yang sama bahkan pernah jadi teman dekat. Jelas mempermudah Safa untuk mendapatkan info. Walaupun jelas Dion yang terlihat seperti pria normal namun kenyataannya dia punya kelainan seksual ini, menjadi fakta mengejutkan dan baru untuk Safa. Namun Safa tetaplah Safa, Safa yang keras kepala. Ia memilih untuk menerima Dion apa adanya. Ya apa adanya. ………. Kembali ke realita. Safa mengayun-ayunkan kakinya, menatap rumput yang ia injak. Mengenang masa lalu soal Dion memang menyenangkan. Mengenal pria itu lebih dari lima tahun cukup membuat hati Safa yakin seyakin-yakinnya jika Dion memang pria yang cocok untuknya, pria yang cocok untuk menjadi pasangan hidupnya. Walau sampai sekarang Dion tak juga menunjukkan kesukaan pada dirinya, tapi Safa selalu sabar. Ia yakin suatu saat pria itu akan tunduk padanya. Dan faktanya lagi yang Safa ketahui, hampir semua yang dipacari Dion pasti ia tiduri sesuai kelainan seksual yang ia miliki. Jangankan menikmati, yang ada mereka trauma. Dan Dion jelas adalah pria licik. Ia selalu mengancam korbannya dengan video yang dimilikinya. Hasilnya? Semua korbannya bungkam. Mereka memilih untuk pergi jauh-jauh dari kehidupan Dion. Memulai kehidupan baru mereka yang telah hancur sebelumnya. Tak ada sifat baik dalam diri Dion, semakin membuat Safa terobsesi untuk merubah kepribadian pria itu menjadi lebih baik. Safa yakin, hanya dia wanita yang sanggup bersama dengan Dion setelah tau kepribadian pria itu. Hanya ia yang sanggup menemani Dion dengan segala kekurangannya. Safa mengangkat kepalanya, menatap langit cerah diatasnya. Bayangan peristiwa semalam sekelebat lewat, membuat gadis itu tersenyum tipis. Bahkan ia sama sekali tak menyesali perbuatannya. Baginya, kedekatan dengan Dion kemarin adalah sebuah kemajuan besar. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk tunangannya. Kamu, membuatku candu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN