Do you hear me,
I’m talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I’m trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
They don’t know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I’ll wait for you I promise you, I will
I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday
And so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You’ll hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair
Though the breezes through trees
Move so pretty you’re all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now
Alfen mengakhiri lagu yang dinyanyikannya itu. Lagu Jason Mraz sedikit menghiburnya. Lagu tentang persahabatan itu mengingatkannya soal perasaan tersembunyi yang tak pernah sekalipun ia ungkapkan pada Dara. Tidak mungkin, bahkan ketika gadis itu kini malah jatuh cinta dengan pria asing yang baru dikenalnya.
“Andai gue jadi pria asing di hidup lo, mungkin kali ya lo bakal jatuh cinta sama gue.” Ucap Alfen, berharap Dara ada didepannya. Nyatanya gadis itu masih bersama Dion. Terlihat rumahnya yang sepi, menandakan Dara belum juga pulang. Biasanya pasti kamar di sebrang balkonnya akan terbuka dan gadis itu pasti nongol dari sana.
Dion.
Senior dikampusnya yang hanya karena banyak dikenal mahasiswi, tampan dan dingin itu mampu menarik perhatian Dara. Apa emang gadis-gadis dikampusnya suka cowok dingin kayak gitu? Sekalian aja pacaran sama es batu sana.
………….
Dara menatap Dion yang tampak acuh. Pria itu belum juga menjelaskan maksudnya. Gak ngomongin Alfen, saat bersama Dion?
Apa itu berarti Dion cemburu?
“Kenapa?” Dion yang merasa diperhatikan, mengerutkan keningnya.
“Itu… tadi lo bilang. Jangan ngomongin Alfen….”
Dion mengangguk.” Ya. Gue gak suka aja kalo lo ngomongin cowok lain pas sama gue.”
“Lo…. Cemburu?” Tanya Dara, sedikit ragu.
“Kalo ya, kenapa?”
“Tapi kita kan….”
“Lagi masa pendekatan.” Potong Dion lagi.” Jadi sebisa mungkin hanya ada lo dan gue. Ngerti?”
Dara menelan salivanya dengan susah payah.
………..
Dara membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Akhirnya setelah perjalanan panjang dari puncak yang dihiasi kemacetan dan langsung sarapan bareng pujaan hati, Dara bisa kembali menikmati Kasur empuknya lagi. Matanya mulai terpejam, menampilkan sosok Dion yang selalu tersenyum manis kearahnya. Namun sekelebat wajah Alfen muncul dan tersenyum lebar.
Sungguh mengganggu.
Dara membuka matanya seketika, menyadari seseorang tengah mencoba membuka paksa pintu yang menyambungkan kamarnya dengan balkon. Siapa lagi kalo bukan Alfen? Gak dipikiran, gak di kenyataan, pria itu selalu saja mengganggunya.
“Ra, lo udah pulang kan? Lo sehat?” Tanya Alfen diluar sana sambil mengetuk-ngetuk kaca jendelanya. Terlihat bayangan pria itu berdiri diluar sana. Padahal Dara baru aja mau istirahat.
“Gue mau tidur! Ganggu mulu lo, ah!” sungut Dara yang tak berniat membukakan Alfen pintu.
“Oh. Yaudah. Gue mastiin aja lo pulang dengan selamat. Bhay!” Alfen yang tumben-tumbenan gak memaksakan diri itu terlihat melompat kembali ke sebrang menuju balkonnya sendiri. Biasanya dia akan memaksa masuk atau minimal menggedor-gedor pintu dan jendela kamar Dara sampai Dara membukakannya.
Dara menelungkupkan wajahnya ke bantal, mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap. Membayangkan lagi wajah Dion yang sempat terlihat tak suka saat dirinya membahas soal Alfen. Jika memang pria itu cemburu, tapi Dara harap Dion jangan sampai ingin menjauhkan dirinya dan Alfen. Karena Alfen sahabat baiknya. Tak mungkin juga ia memilih antara Alfen dan Dion. Keduanya sama pentingnya di hidup Dara.
…………..
Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah napas yang tak bisa dusta
Persahabatan berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba 'tuk satukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan
“Wayooo! Nyanyi buat siapa lo?!” Dara yang sedari tadi mengendap-endap masuk ke kamar Alfen yang pintu balkonnya terbuka itu menemukan pria itu tengah memainkan gitarnya sambil menyanyikan lagu Sahabat Jadi Cinta itu.” Sahabat mana yang bikin lo jatuh cinta? Jangan-jangan….”
Alfen yang masih dengan keterkejutannya, tak menyangka Dara akan datang kekamarnya, pasrah jika ia kini harus mengakui soal perasaannya. Tentang hubungan persahabatannya, bisa ia perbaiki lagi nanti. Yang penting ia jujur dulu.” Gue sebenernya….”
“Lo suka sama Gita?” Tanya Dara dengan mata melebar, selebar senyumannya yang penuh arti tapi cukup membuat Alfen bergidik ngeri. Bagaimana Dara bisa berpikir seperti itu? “ Ya kan? Ngaku lo!”
“Apaan sih, Ra! Itu Cuma lagu! Gue lagi iseng aja!” Alfen mengelak namun tak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Karena terlanjur malu memikirkan ia akan mengatakan perasaannya ke Dara. Taunya Dara malah salah paham.
“Gapapa kali, Fen. Gue dukung kok. Tapi selagi Gita masih kuliah, kalian pendekatan dulu aja. Kalo dia udah lulus, lamar langsung!” Ucap Dara dengan semangat empat limanya.
Alfen terduduk lemas, bersandar pada tembok di belakangnya sambil memeluk gitar hitamnya.” Terserah lo aja deh! Udah sana! Gue mau tidur!” Ia malah mendorong gadis itu untuk kembali ke kamarnya di sebrang sana. Mendadak Alfen jadi gak mood.
“Yeee. Lo kok ngambekan sih? Ntar Gita gak suka loh sama cewek ambekan.”
“Siapa sih yang suka sama Gita? Gue gak ngomong apa-apa, CUMI!” Alfen mulai kehabisan kesabaran, Dara langsung melompat ke balkonnya sambil tertawa girang. Mungkin baginya menemukan fakta langka soal perasaan Alfen itu seru, walaupun salah sasaran!
……………
Entah kenapa sejak Dara salah paham soal perasaan Alfen ke Gita, hari ini gadis itu memulai aksinya. Tentunya mereka menyempatkan berkumpul setelah selesai kuliah dan kebetulan Dara dan Alfen seperti biasa menjemput Gita ke kampusnya. Mereka berdua menunggu kedatangan Gita di lapangan parkir.
“Mantep ya. Cuci mata di fakultas kedokteran. Ganteng-ganteng eyyy calon dokter lagi.” Ucap Dara yang tak henti-henti menjelajah ke sekitarnya. Kampus Gita ini terlihat sangat asri karena banyak pohon dan tanaman yang tumbuh. Pantas mahasiswa-mahasiswinya pada betah di kampus. Orang kampusnya nyaman gini kok.
“Loh. Dara? Ngapain disini?”
Dara menoleh ke suara yang akhir-akhir ini sering ia dengar.” Loh. Dion?” Gadis itu tak kalah heran, ia sampai mengerutkan keningnya.” Gue nungguin Gita disini. Temen gue. Lo?”
“Mau jemput sepupu. Kayaknya dia udah keburu pulang duluan deh.”
Dara membulatkan bibirnya.
“Yaudah gue balik duluan ya.” Ucap Dion sembari menatap sekilas ke Alfen yang tampak acuh dengan kehadirannya.
“Ati-ati kak.”
Dion hanya mengacungkan jempolnya kemudian pergi menuju mobil pajero-nya.
Aneh.
Biasanya cowok itu kalo ke kampus pake motor, ini tumbenan bawa mobil. Ya walau gak jarang juga Dara melihat Dion membawa mobilnya, tapi kebanyakan pria itu bawa motor ke kampus. Itu seingatnya.
“Woy! Ayok! Nyokap gue udah masak banyak. Ntar kita lanjut marathon drama korea yuk!” Sahut Gita yang muncul dari belakang Dara. Hampir aja membuat sahabatnya itu terlonjak karena kaget.
“Ewhh! Ngapain sih kalian nonton korea mulu? Mending liat gue, gantengnya gak kalah sama oppa-oppa kalian. Lee min ho lewat.” Ucap Alfen dengan kepedean diatas rata-rata. Ya walaupun Alfen memang bisa dibilang tampan apalagi matanya yang sipit plus lesung pipinya. Sayangnya tampang Alfen justru biasa saja di hadapan para sahabatnya. Sebenarnya mereka hanya tidak ingin memuji Alfen didepan pria itu, makin besar kepala yang ada si Alfen.
“Ogah! Lo mah oppa oppa KW sepuluh!” Sahut Dara yang langsung masuk ke dalam mobil jazz milik Alfen. Tapi gadis itu memilih duduk di belakang, membuat Gita dan Alfen mengerutkan keningnya. Karena biasanya Dara akan duduk di depan, disamping Alfen.
“Lo kok dibelakang? Mau jadiin gue supir hmm?” Tanya Alfen yang sedikit tersinggung. Dikiranya Dara dan Gita akan duduk di kursi belakang dan ia sendiri duduk di kursi depan. Mirip supir pribadi kan?
“Gak lah. Gita didepan. Gentian kali. Kali aja bisa pedekatean.” Dara malah terkekeh geli melihat wajah malu-malu kedua sahabatnya.
Gita menatap Alfen yang malah melongo. Jadi Dara benar-benar mengiranya suka beneran sama Gita? Astaga! Alfen sampai menepuk jidatnya sendiri. Sementara Gita malah menatapnya dengan pertanyaan. Pria itu hanya mengedikkan bahunya, malas menjelaskan.
Akhirnya Gita tetap duduk didepan, disamping Alfen. Menggantikan posisi Dara. Namun tentu saja Gita sadar ia tidak akan mampu menggantikan posisi Dara di hati Alfen.
“Nah gitu kek. Pada nurut. Biar cepet jadian.”
“Lah gimana sih, Ra?” Gita masih dengan kebingungannya.
“Udah deh lo focus aja kuliah, Git.” Dara malah menepuk bahu Gita, menyemangati.” Nanti kalo udah lulus siapa tau ada yang ngelamar.” Ucapnya sambil melirik kearah Alfen yang sedang memanasi mobilnya.
“Hah? Siapa?”
“Gak usah didengerin Dara mah, Git. Lagi s***p dia gara-gara jatuh cinta. Baru tau gue orang lagi jatuh cinta bisa bikin bego.” Ucap Alfen bernada pedas.
Iya, lo juga termasuk. Gita ingin sekali menyuarakan hatinya tapi ia tak ingin membocorkan rahasia antara dirinya dan Alfen. Walau tak adil memang merahasiakannya dibelakang Dara. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat sampai Dara sedikit sadar dengan pria yang selalu bersamanya ini.
“Yeee! Sirik aja lo.” Dara memeletkan lidahnya, tak peduli.
Sekitar satu jam perjalanan karena macet, maklum kalo sore apalagi hari senin, berbarengan dengan jam pulangnya orang kantor. Jelas kemacetan akan menemani perjalanan mereka. Setelah sampai di rumah bergaya minimalis dengan sebuah klinik kecil disampingnya, tempat ayahnya Gita membuka prakteknya. Klinik yang nantinya akan Gita teruskan jika ia sudah dapat surat ijin praktek. Tentunya masih lama dan masih banyak perjuangan yang perlu ia lakukan.
“Om. Tan.” Dara dan Alfen menyalami kedua orangtua Gita. Om Dito dan Tante Nia.
“Yuk makan dulu. Mumpung besok tanggal merah. Gak mau pada nginep aja?” Tanya Tante Nia yang memang sudah sangat mengenal sahabat-sahabat anaknya ini. Ia bersyukur anaknya yang pendiam seperti Gita bisa dapat sahabat sebaik Alfen dan Dara.
“Duh! Gak enak, Tan. Ntar ngerepotin.” Ucap Dara yang memang sudah akrab dengan orangtua sahabatnya itu. Ia sudah menganggap orangtua Gita seperti orangtuanya sendiri, apalagi orangtuanya jauh dan tidak bisa setiap hari bertemu.
“Gapapa kali. Kamar tamu juga kosong. Bisa buat Alfen. Kalo mau nanti tante beresin.” Ucap Tante Nia lagi sambil menyendokkan nasi ke piring-piring kosong didepannya.
“Boleh deh, Tan. Mumpung besok libur.” Alfen akhirnya setuju. Lagian ia bosen juga dirumahnya sendiri. Terlalu sepi. Padahal ada pilihan ia bisa ikut orangtuanya dan berkuliah di Surabaya, tapi karena Dara tidak ingin kesana jadilah Alfen ikut aja. Ya bukan berarti Alfen memilih lebih baik jauh dari orangtuanya disbanding jauh dari Dara. Hanya ia sudah terbiasa bersama gadis ini, dan terbiasa juga untuk menjaganya.
“Yaudah kalian makan dulu aja. Makan yang banyak.”
“Asiapp Tan.”
……………..
Setelah selesai makan, mereka langsung ke kamar Gita. Seperti biasa Gita menyetel laptopnya yang dihubungkan ke layar sehingga mereka seperti menonton bioskop. Padahal Cuma mau nonton marathon korea Drama. Alfen yang tak tertarik pun memilih melihat-lihat koleksi komik milik Gita yang memang banyak sekali. Satu rak sendiri berisi banyak buku dan komik. Pantas saja sahabatnya itu otaknya encer.
“Gak ada komik hentai ya?” Tanya Alfen, asal.
“Fen!” Teriak kedua sahabatnya berbarengan. Yang diteriaki hanya nyengir dengan wajah tak bersalah.
“Betewe tadi gue ketemu Dion di kampus lo masa.” Ucap Dara membuka pembicaraan, sambil menunggu Gita selesai memasang laptop dan infokusnya.
“Serius lo? Ngapain dia ke kampus gue?”
Alfen yang mendengar sesi curhatan Dara soal Dion memilih untuk memasang headsetnya, demi menjaga perasaannya sendiri. Ia sedang ingin memiliki mood bagus hari ini untuk membaca banyak komik milik Gita. Ia tidak ingin nama terkutuk yang Dara sebutkan itu merusak moodnya begitu saja.
“Katanya jemput sepupunya tapi sepupunya udah balik duluan. Kira-kira siapa ya?” Dara jadi kepikiran, ia memang tak pernah bertukar cerita soal keluarga mereka ke Dion. Jadi ia tidak tau apa-apa. Ia hanya tau seputar Dion saja.
“Gak tau deh. Ntar kalo ada info gue kasih tau ya.” Ucap Gita yang sebenarnya tak enak dengan Alfen yang sok-sok cuek padahal ada hati yang patah.
Dara hanya mengangguk dan mulai menikmati drama koreanya.