Safa menutup tubuh polosnya dengan selimut tebal, ia memiringkan posisi tidurnya menghadap Dion yang tertidur di sampingnya. Melihat pria itu seperti ini membuat Safa seakan sudah menikah dan memiliki pria itu seutuhnya. Ia tak menyesal menyerahkan seluruh hidup bahkan seluruh hatinya untuk Dion, calon suaminya. Ia sangat yakin jika Dion akan menikahinya. Tangan Safa terulur, bermaksud mengusap wajah tampan milik Dion tapi pria itu merubah posisi tidurnya jadi membelakanginya, membuat gadis itu cemberut. Ia sangat berharap suatu saat nanti ia akan dapat menaklukan Dion, sampai pria itu tak bisa berpaling darinya.
…………
Gita duduk sendirian di koridor kampusnya, setelah menyelesaikan mata kuliah hari ini, ia sangat malas untuk ke perpustakaan. Entah kenapa. Ia memilih duduk di kursi panjang yang berada di koridor kampusnya sambil memainkan ponselnya, terlihat sangat santai disbanding mahasiswa lain disini.
Ah bodo amatlah. Dirinya juga butuh hiburan.
Jenuh.
Apalagi Dara yang kian hari makin gencar menjodohkannya dengan Alfen. Bukan ia tak mau.
Bukan.
Kalian tau jika Gita pernah menyukai sahabatnya itu. Tapi menyadari jika perasaannya tak akan terbalas, ia memilih mundur sebelum berjuang. Ia tak mau perjuangannya sia-sia ataupun merubah suasana nyaman dalam hidupnya, tentang persahabatan. Ditambah komitmennya untuk tak menjalin hubungan dulu sebelum lulus kuliah, gadis itu makin urung untuk mengenal pria lain dengan tujuan ke hubungan yang serius.
“Hey, Git. Tumben. Biasanya lo ngerem di perpustakaan.” Sahut Tedi, salah satu teman seangkatannya, yang dulu pernah satu kelompok pas OSPEK.
“Bosen lah. Sekali-sekali disini. Ngapain lo?”
Tedi mendaratkan bokongnya tepat disamping Gita, sembari tangannya sibuk memainkan ponselnya.” Mau balik nih. Lo gak balik?” Ucapnya yang kemudian mengetik entah apa di ponselnya, sambil senyam senyum.
“Lo ngomong sama gue apa sama hape lo sih?” Gita mengerutkan keningnya, merasa temannya itu sangat tak sopan. Mengajak bicara tapi tidak melihat lawan bicaranya.
Tedi menoleh kemudian tersenyum lebar, pria dengan wajah khas jawa itu terlihat agak manis memang.” Sorry nih. Abis lagi seru gue.”
“Apaan sih? Game?”
Tedi menggeleng cepat.” Gak lah. Anak kosan kayak gue mana bisa maen game. Kuota aja sekarat mulu.”
“Terus?”
Tedi menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan background peach dengan deretan profil wanita disana.” Ini loh. Aplikasi Tunder. Dating site gitu.”
“Cari jodoh?” Gita tampak mengerutkan keningnya, kali ini ia penasaran. Ia memang sering mendengar soal dating site yaitu aplikasi pencari jodoh. Tapi ia sendiri tak terlalu percaya apalagi di lingkungannya sepertinya ia hanya tau jika Tedi yang menggunakannya.
“Iyalah. Lo coba makanya biar gak jomblo mulu. Udah ah gue mau balik!” Tedi langsung beranjak dari kursinya, tentu dengan tatapan focus ke layar ponselnya.
Gita geleng-geleng kepala melihat temannya itu. Apa sebegitu menariknya aplikasi dating site? Karena penasaran, gadis itu membuka ponselnya dan mencari aplikasi yang Tedi maksud. Entah ada angina apa, ia malah menginstall aplikasi tersebut di ponselnya. Setengah ragu, Gita mengisi form pendaftaran serta memajang salah satu foto dirinya yang menurutnya lumayan enak dilihat.”Ini mainnya gimana?” Ia menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
Gak mungkin Gita tanya ke Tedi. Gengsi dong. Bisa-bisa pria itu akan menjadikannya bahan olokan di kelas nanti. Minta tolong Dara juga gak mungkin, dia aja lagi sibuk sama gebetannya si Dion itu.
Alfen?
Matilah Gita yang ada. Ia tak siap jadi bahan bullyan sahabatnya nanti.
Akhirnya Gita hanya melihat-lihat aplikasi itu lalu beberapa kali mengklik love ke profil pria yang menurutnya lumayan. Entahlah.
Gita hanya iseng.
…………….
Tring!
Gita mengerjapkan matanya, berusaha membuka matanya yang terasa berat. Baru beberapa menit terlelap, ia malah terbangun dengan suara pemberitahuan dari ponselnya. Ia pun mengulurkan tangannya, mengambil ponsel di nakas samping ranjangnya.
Ternyata ada pesan masuk dari Tunder.
Hi
Foto profil pria bersweeter hitam dengan dalaman kemeja krem itu cukup menarik perhatian Gita. Sebenarnya ada beberapa pesan masuk sebelum ia tidur. Tapi kebanyakan dari pria gak jelas dengan penampilan tak meyakinkan menurutnya. Bahkan beberapa terang-terangan mengirim pesan tak sopan ataupun foto profilnya yang tak bisa Gita jabarkan saking jijiknya. Bahkan ia sempat ingin menghapus aplikasi itu tapi urung ia lakukan.
Hai
Gita mengetik balasan dan mengirimnya. Balasan pertama yang ia lakukan pada pria random di aplikasi date ini. Ia sendiri heran, saking gak ada kerjaannya ia malah mendownload aplikasi seperti ini.
Percakapan Gita dan sip ria bernama Danil itu cukup panjang. Danil ternyata pria yang mengasikkan. Dia kuliah di salah satu kampus swasta jurusan psikolog. Bahkan dia terang-terangan memberi alasan kenapa dia akhirnya mengirim pesan ke Gita. Katanya Gita terlihat paling normal disbanding gadis-gadis lain yang seliweran di aplikasinya. Ternyata bukan Gita saja yang merasakannya. Percakapan panjang mereka hingga akhirnya bertukar nomor ponsel karena Danil berencana menghapus aplikasinya setelah ini.
Katanya ia telah menemukan yang ia cari. Jelas membuat Gita malu setengah mati.
…………..
“Fen.”
“Hmm.”
“Gue rela kok lo jadian sama Gita. Gue sebagai sahabat bakal dukung lo penuh.” Ucap Dara lagi, membuat pria disampingnya langsung beranjak, membuat Dara yang sedang bersandar dibahu pria itu jadi hampir terjungkir jatuh ke karpet bulu.” Wey! Gak liat apa gue lagi senderan. Main pergi gitu aja.” Sungutnya tanpa tau ada orang yang lebih kesal lagi.
“Lo lagian. Apaan sih? Gak jelas banget tau gak. Udah gue bilang gue gak ada perasaan apa-apa sama Gita. Malah ngeyel. Ngeselin tau gak?!” Alfen kelihatan tak suka. Entah kenapa malah membuat Dara bingung.
“Yaudah sih kalo enggak. Gak usah sewot gitu. Kayak emak-emak kurang jatah bulanan aja.” Dara mencebik, membuat Alfen makin murka.” Lagian dulu lo bikin salah paham sih. Kan gue ngiranya jadi salah.”
“Makanya dengerin dulu kalo orang ngomong tuh. Jangan asal tebak.” Balas Alfen tak kalah sengit.
“Jadi… lo sukanya sama siapa?” Tanya Dara lagi dengan wajah polosnya, tanpa dia tau pertanyaannya itu menimbulkan kekacauan pada detak jantung Alfen.
“Kepo!” Alfen langsung berlari menuju balkon kamar Dara dan melompat ke balkon kamarnya sebelum Dara mengejarnya atau menganiayanya.
“Alfen!”
Alfen hanya terkikik geli di kamarnya, membayangkan wajah murka Dara yang pasti sangat menghiburnya. Tak apa daripada ia harus mengakui perasaannya ke gadis itu sekarang, saat yang tidak tepat dan tidak enak juga sepertinya. Ia juga ingin mengatakan yang sebenarnya, hanya bagi Alfen, ia perlu menunggu waktu yang tepat.
…………..
Kafe Edelweis….
Dara dan Alfen bergantian menatap Gita yang duduk di hadapan mereka. Seperti sedang meneliti, Gita Nampak gugup. Tidak seperti biasanya, apalagi Gita adalah manusia paling normal diantara mereka bertiga.
“Lo kenalan sama cowok?”
“Di Tunder?”
“Terus mau ketemuan?”
“Lo beneran Gita?”
Berbagai pertanyaan yang terlontar dari Dara dan Alfen yang bergantian, membuat Gita hanya bisa menatap sahabatnya itu bergantian juga sebagai jawaban. Gita hanya mengangguk pasrah. Tadinya ia tak mau cerita soal perkenalannya dengan Danil lewat Tunder. Mereka sebenarnya sudah saling kirim pesan dan bahkan telpon hampir satu minggu ini. Tapi ketika Danil berinisiatif untuk mengajaknya bertemu, Gita tidak bisa untuk tenang. Ia perlu pendapat dari orang-orang terdekatnya. Apalagi ini yang pertama kali dalam hidupnya walau ia hanya menganggap Danil sebagai teman saja. Ia tidak mau berharap lebih. Takut kecewa.
“Ternyata temen gue normal.” Sahut Alfen dengan binar bahagianya, membuat Dara semakin yakin jika gadis yang disukai Alfen memang benar bukan Gita. Lalu siapa?
“Terus? Dia gimana orangnya?”
“Keren sih. Manis. Anak psikolog.”
Dara tampak sangat antusias.
“Dari pesan sama telpon selama ini sopan sih. Tapi kok gue takut ya.”
“Gapapa nanti kita temenin.” Ucap Dara yang langsung berinisiatif.
Alfen langsung menoyor kepala sahabatnya itu, membuat Dara mendengus kesal dan tak terima.” Lo mau gangguin orang pedekate? Emang lo mau pas sama Dion digangguin gue sama Gita?”
“Yeeee! Gak mau lah!” Sahut Dara langsung.” Tapi kan ini pertama kalinya buat Gita. Ketemu lewat dating site lagi. Kalo dia diapa-apain gimana?”
“Kita pantau dari jauh aja gimana? Pura-pura gak kenal tapi. Buat mastiin aja. Kalo bener dia baik, kita cus pergi.” Usul Alfen akhirnya yang disetujui oleh Dara.
“Gapapa emang?”
Dara mengangguk yakin.” Biar kita bisa double date. Alfen mah biarin aja jadi bujang lapuk!” Ia menggenggam erat tangan Gita dengan wajah sumringah, menyadari sahabatnya sudah ada kemajuan dalam dunia percintaan. Tadinya ia pikir Gita sudah mati rasa karena mata kuliah jurusan kedokteran yang sangat berat itu.
“Gayanya. Kayak yang bakal jadian aja sama Dion. Udah pedekate tiga bulan eh kena PHP. Mampus!”
“ALFEN!”
…………..
Dion mmeperhatikan gadis yang duduk didepannya, Dara tampak mengerutkan keningnya seperti orang yang sedang berpikir serta bibirnya yang jatuh beberapa senti itu. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.” Kenapa, Ra?” ia memberanikan diri untuk bertanya.
Dara hanya menggeleng tapi dengan wajah cemberut. Membuat Dion tak puas dengan jawaban gadis itu. Tak biasanya Dara seperti ini.
“Serius?” Dion meyakinkan.”Kalo ada masalah cerita aja. Gue siap dengerin kok.”
Dara tampak gugup. Ia memainkan ujung kemejanya. Membuat Dion makin penasaran.” Gini loh…”
“Hmm?”
“Kita kan udah deket….”
“Hampir tiga bulan. Emhhh dua bulan dua puluh satu hari.”
Dara mendongakkan kepalanya, menatap Dion yang terlihat yakin. Bahkan pria itu ingat sedetail itu. Mana mungkin dia cowok PHP seperti yang Alfen bilang.” Terus? Masa gini-gini aja sih.” Ia makin mengerucutkan bibirnya.
“Gini-gini aja gimana?” Tanya Dion lebih ke menggoda.
“Ya lo tau sendiri. Hubungan kita gak ada kemajuan. Apa emang lo yang gak mau maju-maju? Gapapa. Bilang aja dari awal biar hati gue siap. toh dari awal emang gue yang gak tau diri buat ngejar-ngejar lo. Cowok famous kayak lo sama remahan regal kayak gue. Yaelah.” Dara malah menggerutu membuat pria didepannya tak bisa menahan tawa.” Tuh kan! Lo anggep hubungan kita lelucon ya?” Tanyanya berusaha marah.
“Enggak…. Sorry.” Balas Dion yang merasa tak enak jika Dara sampai tersinggung.” Ya elo nyerocos mulu sih. Kasih kesempatan gue buat ngomong kek.”
“Yaudah ngomong aja.”
“Gue gak main-main kok soal hubungan kita.” Ucap Dion akhirnya, terlihat serius.
“Terus?”
“Lo mau kita pacaran? Ya hayuk. Gue gak bisa kayak cowok lain yang pake acara nembak romatis segala. Bukan gaya gue. Kalo pacaran ya hayu kita jalanin, kita komitmen sama-sama.”
Kerutan di kening Dara semakin banyak tapi kali ini wajah gadis itu Nampak cerah, tidak mendung seperti beberapa menit yang lalu.” Jadi?”
“Kita pacaran sekarang. Itu kan mau lo?”
“Lo gak mau emang?” Dara mencebik.
“Ya gue mau lah. Orang gue juga suka sama lo.” Ucap Dion yang membuat wajah Dara semakin cerah, cenderung bikin silau mungkin. Saking senangnya gadis itu reflek memeluk Dion, kekasih pertama dalam hidupnya yang ia harap menjadi yang terakhir juga.
Sambil menunggu Dion selesai bimbingan terakhir sebelum jadwal sidangnya minggu depan, Dara mengetik pesan di ponselnya dan mengirim ke grup yang ada dirinya, Alfen dan tentu saja Gita.
Gue jadian sama Dion. Yey!
Tak lama ada balasan dari Gita.
Congrats! Makan makan uy!
Satu menit
Dua menit
Bahkan sampai Dion selesai bimbingan tak ada balasan dari Alfen padahal pria itu sudah membaca pesannya di grup. Emang minta dipites pria satu itu.
Tanpa Dara ketahui, satu pesan singkat itu telah berhasil mematahkan hati pria yang tengah menatap layar ponselnya. Berharap jika pesan itu ditarik kembali atau Dara mengirim pesan lagi.
Mampus gue prank lo semua!
Nyatanya tidak.
Semua sudah terjadi. Hati dan diri Dara sudah diambil Dion.
Jadi bagaimana bisa Alfen meyakinkan dirinya lagi jika ia yang terbaik untuk Dara? Semnetara gadis itu sudah jadi milik yang lain.
…………
Safa menatap nanar layar ponselnya yang menampilkan foto Dion dan gadis disebelahnya. Mereka berdua tampak berselfie sambil tersenyum bahagia dengan caption #couplegoals.
Miris.
Safa tersenyum miring. Bahkan selama ini hubungannya dengan Dion cenderung tertutup. Pria itu menutupi segala hal yang berhubungan dengannya di social media bahkan teman-teman kampusnya sendiri. Yang tau hubungan pertunangan mereka hanya keluarga masing-masing. Sementara sekarang tunangannya itu sedang asik pamer kemesraan dengan pacar barunya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
“Lets see. Seberapa lama dia bertahan buat lo. Gue tau dia hanya boneka selanjutnya buat permainan lo. Gue ikutin cara lo, sayang.”