17

2051 Kata
“Fen! Lo belom tidur kan?” Dara beberapa kali mengetuk pintu balkon kamar sahabatnya itu. Dari sini ia dapat melihat bayangan Alfen yang berbaring di ranjangnya. Nafas pria itu tampak teratur. Mungkinkah ia sudah tidur? Biasanya Alfen akan tidur tengah malam atau jika dia memang telah tidur pun, ketika Dara memanggilnya ia akan langsung bangun. Apa mungkin Alfen kelelahan karena setaunya pria itu ada jadwal latihan futsal hari ini di GOR dekat kompleks perumahannya. Tumben juga pria itu tak mengajaknya untuk sekedar menemani. Aneh. “Yaudah deh kalo udah tidur. Gue tadinya mau curhat soal Dion.” Ucap Dara akhirnya yang menyerah dan melompat kembali ke balkon kamarnya dengan perasaan hampa. Entah kenapa sejak Alfen mengabaikan pesannya di grup dan sekarang mengabaikan panggilannya, ia merasa sedikit…. Terluka? Mungkin. Alfen di dalam sana hanya menghela nafas panjang. Untung ia segera mengunci pintunya begitu sampai jadi Dara tak bisa mengganggunya lebih jauh lagi. Cukup pesan di grup saja yang mengganggu hatinya, jika gadis itu curhat langsung entah ia bisa menahan diri lagi atau tidak. Ia perlu waktu menenangkan hatinya untuk sekedar siap dengan kenyataan yang ada. …………. Pria itu mengetuk pintu kamar yang berlambang hati didepannya dan bertuliskan nama Resa. Ia kemudian mengulurkan tangannya, membuka knop pintu dan mendorong daun pintu itu. Dilihatnya sosok gadis yang dulunya begitu ceria kini hanya terbaring saja di ranjangnya sambil membelakanginya. Punggungnya yang naik turun menandakan gadis itu menangis, lagi. Entah sudah berapa lama, adiknya yang dulu ceria kini selalu menangis hampir setiap hari. Kadang malah berteriak histeris membuatnya berinisiatif memasang tembok kedap udara untuk sang adik. Mungkin tepatnya setelah pesta kelulusan, entah apa yang terjadi. Sejak saat itu Resa jadi pemurung lalu mencoba merusak dirinya sendiri bahkan percobaan bunuh diri yang beberapa kali berhasil ia gagalkan. Segala benda tajam dan apapun yang dapat dijadikan alat bunuh diri, pria itu singkirkan. Bahkan jendelanya ia kunci. Memang sudah tak ada percobaan bunuh diri lagi tapi gadis itu akan terus menangis sepanjang hari. Resa tak pernah cerita apapun. Membuat pria itu bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Sampai kini ia tak juga menemukan penyebabnya. Setidaknya melihat Resa masih hidup itu sudah cukup. Karena mereka kini hanya hidup berdua, sebatang kara karena kedua orangtuanya yang telah meninggal beberapa tahun lalu saat Resa suka ngamuk dan merusak segala barang serta percobaan bunuh diri yang bertubi-tubi. Mungkin mental orangtuanya tak kuat menghadapi kondisi anak gadis mereka satu-satunya. Sehingga mau tak mau pria itu harus bertanggung jawab terhadap kehidupan adiknya. Sampai ia tau apa alasannya dan berusaha menyembuhkannya jika ia bisa. “Seandainya lo mau cerita. Mungkin semua akan lebih mudah, dek. Gak akan serumit ini. Tapi gue gak mau maksa lo. Gue akan tunggu sampai lo mau cerita.” Pria itu mengulurkan tangannya, mengusap kepala Resa dengan lembut, kepala dengan rambut yang sangat kusut. Entah berapa lama adiknya tak pernah menyisir. Siapapun yang melihat Resa sekarang mungkin akan mengira adiknya ini gila. Tapi bagi pria itu, adiknya hanya sedang dalam keadaan titik terendah di hidupnya. ………….. Gita mematut dirinya didepan cermin, setelan dress selututnya berwarna peach dipadu dengan bandana dengan warna senada, tak lupa ia berdandan senatural mungkin. “Kalian kalo ketemu cowok kok pada ribet ya? Padahal kalo mau ketemu gue biasa aja. Gue kan cowok juga kali.” Ucap Alfen yang saat itu berada di dalam kamar Gita, bersama Dara juga tentunya. Dara tadinya berpikir Alfen marah dan tak menyetujui hubungannya dengan Dion. Nyatanya pria itu siang-siang nyamper ke rumahnya untuk mengantar Gita ketemu dengan Danil, teman online Gita. Gadis itu merasa lega, ternyata Alfen emang gak sebaper itu. Mungkin semalam pria itu benar-benar kelelahan pasca latihan futsal. Memang perasaan Dara saja yang berlebihan. “Lo mah beda. Buluk-buluknya kita juga udah biasa di mata lo. Masa gue sama Gita harus biasa aja didepan cowok yang kita suka. Ya gak Git?” Ucap Dara. “Eh. Kata siapa gue suka sama Danil?” Wwajah Gita tampak memerah. Karena baginya perasaan suka masih jauh dari bayangannya. Apalagi ini pertama kali ia ingin bertemu pria asing. “Ya bentar lagi juga suka kok. Pasti deh.” Ucap Dara dengan keyakinannya. “Iya soalnya cewek gampang baper!” Alfen menanggapi dengan malas. “Sirik aja. Dasar cowok! Daripada lo, gak pernah bikin baper anak orang!” Balas Dara yang tak mau kalah. “Yeee lo gak tau aja. Gue mah gak mau sombong!” Gita hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan kedua sahabatnya. Dara gak tau aja kalo Alfen sempat membuatnya jatuh cinta, dulu. Kalo Dara tau bisa-bisa gadis itu akan sangat heboh seperti tempo hari. Untungnya Gita bisa segera mengelak dengan alibi kenalan sama cowok di social media. Gapapa lah itung-itung nambah temen juga. Daripada hatinya harus gusar setiap kali didekatkan dengan Alfen yang jelas-jelas menyukai Dara itu. “Udah deh. Udah bentar lagi nih. Gue gak mau telat loh. Ntar first meetnya kalo gue telat kan gak enak kesannya.” Balas Gita berusaha menengahi. Ia pun segera mengambil hand bag creamnya dan segera berjalan keluar dari kamarnya. Seperti biasa, Dara dan Alfen langsung mengikutinya tanpa melanjutkan perdebatan mereka. Syukurlah. Rencana Gita bertemu Danil di kafe Dandelion. Kafe ini cukup terbuka dan banyak ruang outdoornya. Akhirnya ketika mereka sampai disana, Dara dan Alfen melipir ke tempat yang agak jauh dari Gita tapi tetap bisa memantau sahabat mereka itu. Sepertinya Danil juga belum terlihat, mungkin pria itu belum datang. Gita pun memilih tempat disamping kolam ikan. Suara aliran air di kolam itu sedikit menenangkan detak jantungnya yang sekarang berdegup lebih dari normal. Mungkin ini yang dirasakan Dara dulu waktu pertama ketemu Dion dan sempat ia diagnose terkena aritmia. Konyol memang. Berarti Gita aritmianya lebih parah, belum ketemu orangnya aja udah deg-degan banget. Ngalahin ujian praktikum yang diawasin dosen killer. Gita berusaha duduk setenang mungkin hingga suara pintu kafe yang terbuka mengalihkan pandangannya. Seorang pria bertubuh tinggi dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya serta wajahnya yang sedikit brewokan manja berjalan lambat menghampiri tempat Gita duduk, hingga pria itu melempar senyum padanya, menyadarkan Gita jika pria itu adalah Danil. Agak beda dengan di foto social medianya, karena di foto pria itu berwajah klimis walau mengenakan kacamata juga. Dari jauh ia dapat melihat Dara mengacungkan jempol kepadanya, mungkin bermaksud menyemangati. “Gita kan?” Pria itu berusaha meyakinkan dirinya. Walau jelas ia yakin karena Gita persis seperti di foto. Gita mengangguk, tak lupa membalas senyuman Danil.” Iya. Macet ya?” pertanyaan klasik, Gita membatin. Jujur ia tak pandai berkomunikasi apalagi dengan orang yang baru pertama kali ditemuinya. “Gak kok. Sorry ya telat…” Danil melirik jam tangan sportnya.” Lima belas menit. Ada problem dikit tadi sebelum kesini.” Ucapnya berusaha jujur, dengan pandangan merasa bersalah tentunya karena membuat Gita menunggu mungkin.” Udah pesen makanan?” Gita menggeleng. Danil pun tampak memanggil pelayan yang langsung membawakan mereka buku menu. Gita akhirnya memilih matcha waffle dan segelas lemon tea sementara Danil memesan nasi goring special dan segelas machiatto. Mereka berdua tampak asik mengobrol tentang keseharian masing-masing. Baru Gita ketahui jika ternyata Danil kuliah jurusan psikologi dan sekarang sedang menunggu sidang skripsi. Sebelumnya ia memang tau Danil kuliah. Tapi jurusan apa dan dimananya Gita tak bertanya secara detail. Baguslah jadi ada bahan obrolan untuk pertemuan pertama mereka. “Jadi belum koas dong ya?” Tanya Danil yang sudah mengetahui jika gadis didepannya kuliah jurusan kedokteran itu. Gita menggeleng.” Lulus S.ked aja belum.” Ucapnya sembari tersenyum. “Lama ya.” “Oh ya. Motivasi lo kuliah psikologi apa? Setau gue jurusan itu agak susah kan ya?” Tanya Gita dengan hati-hati. Ia benar-benar kehabisan ide untuk bicara. “Hmmm… Ya ada sih.” “Gak usah kalo gak bisa cerita. Gue aja lancing banget.” Tiba-tiba suara nada dering ponsel terdengar. Membuat focus Gita dan Danil teralih ke salah satu pengunjung yang duduk cukup jauh dari mereka sedang berusaha mengeluarkan ponselnya yang terus bordering dari dalam tas. Sepertinya ia grogi sampai menemukan ponselnya saja kesulitan. Sampai gadis itu menemukannya dan langsung mengangkat telponnya. Ia sempat menatap kearah Gita dan Danil kemudian langsung menatap ke pria di sebelahnya setelah kepergok memperhatikan mereka balik. Dara. Gita hanya geleng-geleng kepala sementara Alfen yang berada di sebelah Dara sepertinya sedang sibuk mengomel. Mungkin dia pikir misi mereka hampir saja ketauan. “Lo gimana sih? Siapa sih? Bukannya silent dulu.” Ucap Alfen setengah berbisik, apalagi setelah Danil dan Gita melihat kearah mereka. Jelas saja soalnya nada dering ponsel Dara sangat kencang. Dara meletakkan jari telunjuknya diatas bibirnya, menandakan Alfen untuk diam.” Dion.” Ucapnya hanya dengan gerakan bibir, tanpa suara.” Iya, halo…. Lagi diluar…. Emhhh sama Alfen…. Sama Gita juga kok…. Apa? Loh kok? Iya nanti langsung pulang?.... gak… gak usah jemput…. Aku pulang sama Alfen aja…. Ihh… gak gitu… iya iya…. Satu jam lagi? Oke.” Alfen mengerutkan keningnya berusaha menangkap percakapan antara Dara dengan pacar barunya itu.” Kenapa?” Tanyanya ketika Dara terlihat sudah mengakhiri pembicaraannya di telpon dan memasukkan ponselnya ke dalam tas kembali. “Dion.” “Kenapa dia?” “Mau jemput gue. Sejam lagi.” Ucap Dara dengan nada pasrah, sepertinya. Alfen makin mengerutkan keningnya.” Loh? Kan dia tau lo lagi sama gue dan Gita.” “Dia mau ngajak nonton.” Dara mengedikkan bahunya. Ia juga tak mengerti. Selama pedekatean pun Dion tak sekeras ini walau pria itu memang terlihat agak tak menyukai jika dirinya terlalu dekat dengan Alfen. Dara jelas tak mungkin menjauhi Alfen, tapi Dion juga sudah menjadi pacarnya sekarang. Dan Dara cinta. “Kayak gak ada hari lain deh.” Alfen tampak kesal. Memang sih harusnya hari ini hanya focus soal pedekateannya Gita aja. Dara pun tak menyangka akan bertemu dengan Dion hari ini. Padahal mereka juga baru ketemuan kemarin, baru jadian pula. “Maklum lah baru jadian. Lama-lama dia juga bosen kali ketemu gue.” Dara berusaha mencairkan suasana walau wajah Alfen masih terlihat kesal.” Kayak lo gak gitu aja kalo punya pacar nanti.” “Gak lah. Gue gak sebucin elo pastinya.” Balas Alfen dengan hati miris. Padahal ia sendiri yang paling bucin. Buktinya sampai rela membiarkan orang yang dicintainya memiliki hubungan dengan pria lain dan ia tak bisa berbuat apa-apa, bahkan perasaannya sendiri pun tak berani ia ungkapkan. Jadi sebenarnya yang bucin disini siapa? ………… Setelah mengobrol banyak dan menghabiskan makanan masing-masing, Danil menawarkan diri untuk mengantar Gita pulang tapi dengan halus gadis itu menolaknya. “Gue pulang sendiri aja. Mau pergi lagi soalnya.” “Wah! Anak kedokteran sok banyak janji ya.” Danil meledek, tapi dengan sopannya ia juga tak memaksa.” Yaudah naik apa emang? Biar gue tungguin.” “Lo duluan aja. Gue bareng temen soalnya. Takut lama dia.” “Gapapa nih?” Danil sebenarnya tak enak jika pulang duluan tapi ia juga khawatir meninggalkan Resa dirumah terlalu lama. Bi Marni juga sebentar lagi akan pulang karena ia hanya mengurusi rumahnya sampai sore saja sekalian membantu merawat Resa. Gita mengangguk yakin. Danil menyerah.” Yaudah. Lo ati-ati ya. Nanti kabarin kalo udah sampai dengan selamat.” Ucapnya dengan nada canda. “Iya.” Balas Gita singkat hingga akhirnya Danil berjalan keluar dari kafe dan menuju lapangan parkir. Ternyata pria itu membawa motor sport warna merah. Gak kebayang kalo hari ini Gita diantar pulang dengan motor itu sementara ia mengenakan dress begini, pasti sangat merepotkan. “Besok-besok kalo ketemuan sama doi mending pake celana deh. Jeans kek apa kek. Gak usah sok feminism.” Ucap Alfen yang tau-tau sudah berada didekatnya, begitu juga dengan Dara yang wajahnya terlihat gusar. “Kenapa, Ra?” Gita mengabaikan ledekan Alfen dan malah bertanya ke Dara. “Biasa. Mau janjian sama pacar barunya.” Ucap Alfen dengan nada menyindir dan penekanan di dua kata terakhirnya. Gita tampak bingung.” Lo mau langsung balik dong? Padahal gue mau curhat dulu tadinya. Tapi gapapa deh bisa nanti.” “Tuh! Gita aja gapapa. Kok lo yang ribet!” Dara menyenggol lengan Alfen dengan tampang kesal. “Au ah! Pacaran aja sono lo.” “Gak asik lo! Namanya baru jadian, Fen. Wajar maunya nempel mulu.” Dara terlihat tak mau kalah. Alfen hanya mengangguk-angguk dengan wajah meledek.” Awas jangan nempel mulu ntar bunting!” “Alfen!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN