18

1979 Kata
“Sampe kapan, Fen?” Gita menoleh ke Alfen yang focus dengan kemudinya. Biasanya pria itu akan ramai sendiri. Tapi kini dia terlihat kesal, mungkin cemburu. Apalagi beberapa menit yang lalu mereka terpaksa meninggalkan Dara di café karena Alfen yang beralasan ingin cepat pulang dan Dara juga memaksa mereka untuk pergi duluan tanpa perlu menunggu Dion menjemputnya. Gita yang sampai sekarang belum pernah melihat wajah Dion pun jadi penasaran. Tempo hari Dara sempat upload foto berdua di story social medianya tapi wajah Dion ditutup. Ngeselin emang anak satu itu. Sok misterius. Bisa aja Gita stalker, tapi ia malas dengan hal-hal seperti itu. Toh nanti Dara akan segera mengenalkan Dion padanya karena mereka udah resmi pacaran kan. “Apaan? Bentar lagi sampe rumah lu kok ini.” Balas Alfen sekenanya. Daritadi pikirannya bercabang soal Dara. Apa yang gadis itu lakukan di café sambil menunggu Dion? Atau apa Dion sudah sampai dan sudah menjemput Dara? Atau bahkan Dara sedang posisi memeluk Dion diatas motor sport pria itu. Ah! “Gak usah pura-pura b**o deh. Gue tau lo mikirin Dara daritadi.” Alfen menghela nafas panjang. Memang Gita tau soal perasaannya dengan Dara, juga ternyata gadis disampingnya ini sangat peka dengan apa yang ada di pikirannya. Tidak seperti Dara. Seandainya Dara bisa lebih peka seperti Gita, sedikit saja. “Gue bisa apa? Jelas yang disukain Dara bukan gue. Kalo gue maksain perasaan gue atau memaksa dia menerima perasaan gue, apalagi membalasnya, yang ada Cuma merusak persahabatan kita aja.” Gita mengangguk mengerti.” Gue heran sama Dara. Ada cowok kayak lo dalam jarak sedekat itu, tapi malah liatnya cowok lain. Gue makin penasaran si Dion  kayak apa sih.” “Saking deketnya, makanya Dara gak bisa liat gue. Mungkin.” Alfen mengedikkan bahunya, pura-pura tak peduli. Padahal hatinya nyeri. …………. Karena gagal hari ini sesi curhat soal Gita, Alfen memilih untuk kembali ke kampusnya walaupun hari ini tidak ada mata kuliah. Ia hanya ingin sekedar mengalihkan hatinya agar tidak terus-terusan terasa nyeri. Daripada memikirkan Dara terus membuat hatinya jadi tak sehat. Lebih baik ia ikut sesi latihan futsal hari ini. Padahal ia sudah ijin sebelumnya demi Dara dan Gita. Sayangnya, ya begitulah.  “Loh, katanya gak dating, Bro.” Ucap Adrian yang sudah berganti seragam dengan seragam tim futsal mereka yang berwarna biru putih itu. Alfen duduk sejenak di kursi penonton, tempat teman-temannya berkumpul sebelum memulai latihan. Ia mengambil botol minum milik Adrian, membuka tutupnya dan menegaknya. “Kayak orang galau lo.” Lanjut Adrian lagi, meratapi isi botol minumnya yang hampir habis itu. Seakan Alfen belum pernah minum sejak lahir. “Sotoy!” Adrian tampak celingak-celinguk di tempatnya, seperti mencari seseorang. “Biasanya sama Dara.” Alfen tampak menghela nafas. Bukannya menjawab, pria itu malah beranjak dari tempatnya menuju loker, tempat ganti baju seragamnya. Pria itu menatap lokernya yang ada foto dirinya bersama Dara saat memegang piala kejuaraan tahun lalu. Gadis itu tersenyum paling lebar, mungkin bangga dengan kemenangan tim futsal sahabatnya. “Biasanya sama Dara.” Kata-kata Adrian seakan berdengung di telinganya. “Biasanya.” Apakah mungkin hanya karena kebiasaan ia dan Dara sejak kecil selalu bersama sehingga kini dirinya seakan bergantung pada gadis itu, yang kehadiran Dion jelas merusak segalanya, bahkan merebut kehadiran Dara dari hidupnya. Dan apa Dara tak merasa seperti dirinya? Alfen merutuki hatinya. Karena dengan lancangnya berharap lebih dari persahabatan mereka. Padahal jelas Dara tidak merasakan hal yang sama sepertinya. Sehingga gadis itu dengan mudah menerima kehadiran pria lain dalam hidupnya, tidak seperti Alfen. Sejak awal Alfen selalu menghindari gadis lain selain Dara, entah kenapa dirinya merasa tak nyaman. Padahal tim futsal cenderung dikerubungi kaum hawa saat latihan maupun pertandingan. Mendapat pacar jelas mudah bagi Alfen, tapi memang dirinya tak berminat. Lebih tepatnya, ia menunggu Dara. Padahal yang ditunggu pun tidak tau jika dirinya sedang ditunggu. Rumit memang. Beberapa kawan di tim futsalnya pun taunya Alfen pacaran sama Dara, hanya segelintir orang yang tau soal status persahabatan mereka yang sebenarnya. Dan Alfen sama sekali tak ingin mengklarifikasi. Setidaknya status itu memudahkan dirinya agar gak dideketin cewek-cewek saat latihan. Ia sungguh malas. Tapi cepat atau lambat Alfen tau, jika statusnya dengan Dara yang sebenarnya akan segera terkuak. Dan Alfen memilih untuk pasrah. Sesi latihan pun di mulai. Alfen berusaha focus walaupun beberapa kali ia terjatuh karena salah tekhnik, membuat beberapa temannya khawatir. Namun Alfen dapat mengatasinya, namun adrenalin pria itu Nampak berlebihan. Beberapa kali ia menendang bola dengan sangat kuat sampai kipernya pun jatuh. Pria itu segera minta maaf sambil membantu Damian, si kipper tim lawannya berdiri. “Kenapa sih lo?” Tanya Damian saat istirahat. Ia melihat Alfen seperti tak biasanya. Biasanya temannya itu sangat santai dan cenderung tenang saat bermain. Bukan grasak grusuk seperti beberapa menit yang lalu. “Gapapa. Terlalu semangat mungkin.” Alfen terkekeh, menertawakan dirinya sendiri. “Patah hati kali. Tuh liat.” Adrian merangkul pundaknya sambil mengedikkan dagunya kearah parkiran motor, tempat Dion dan Dara yang sepertinya baru sampai. “Lo putus sama Dara? Terus Dara pacaran sama senior kita?” Tanya Damian yang tampak tak percaya. Ia adalah tim yang taunya Dara dan Alfen pacaran. “Dibilang Dara sama Alfen gak pacaran. Mereka Cuma sahabatan tau.” Balas Adrian yang memang sudah tau status sebenarnya soal Alfen dan Dara. Damian membulatkan mulutnya.” Jadi lo kapan cari pacar, Fen? Jangan mau kalah.” Ucapnya lagi sambil menepuk bahu Alfen, berusaha menyemangati. “Lo kira pacaran itu pertandingan siapa cepat dia dapat apa.” Adrian berusaha membela. Sedikit ia tau soal perasaan Alfen ke Dara, walau teman setimnya itu tak pernah bicara langsung padanya. Ia kan juga pria jadi tau mana tatapan ke lawan jenis yang biasa dan yang luar biasa. Damian malah nyengir. Ia memang dikenal sebagai playboy yang memiliki banyak pacar, dan gonta ganti pacar juga. Anehnya setiap gadis di kampus ini seakan tidak peduli dengan status buaya darat yang sudah melekat dalam dirinya. Buktinya mereka tetap memuja Damian yang memang berwajah tampan itu. “Selera Dara oke juga betewe.” Ucap Damian lagi.” Ya kalo dibandingin sama lo mah…” Ia tampak memperhatikan Alfen dengan teliti yang langsung dibalas oleh pelototan temannya itu.” Canda elah.” …………. Dara mengikuti langkah Dion menuju perpustakaan kampus. Padahal tadinya mereka mau nonton tapi Dion sepertinya mendadak gak mood. Karena begitu sampai di bioskop memang ramai sekali karena ada premier nonton film terbaru. Juga kedatangan beberapa artis pemain filmnya. Mungkin hal itu yang membuat Dion gak mood. Akhirnya pria itu mengajaknya ke kampus untuk sekedar menemaninya belajar di perpustakaan karena minggu depan adalah jadwal sidangnya. Itu berarti sebentar lagi pria itu akan segera lulus dari kampus ini, juga jatah Dara melihat sosok Dion akan berkurang. Sedih? Pastinya. Setelah absen di petugas perpustakaan, mereka memilih duduk di paling pojok, dekat jendela yang mengarah ke lapangan futsal. Tadi Dara sempat melihat Alfen yang sehabis latihan futsal, jadi sahabatnya itu malah latihan juga setelah tadinya ijin karena ingin pergi dengannya dan juga Gita. Dara jadi merasa bersalah, ia berencana akan meminta maaf nanti. “Ngeliatin Alfen?” Tanya Dion yang terdengar sinis menurut Dara. Dara hanya balas menatap Dion tanpa berminat untuk menjawab, ia malas berdebat sebenarnya karena memang belum pernah juga berdebat dengan pria disampingnya ini. Apalagi ia baru jadian dengan Dion, masa udah berantem aja. Lagi anget-angetnya padahal. Kalo sama Alfen kan mau berantem sambil cakar-cakaran juga udah biasa. “Kamu kan tau kita udah pacaran, setidaknya sedikit aja coba jaga perasaan aku sebagai cowok kamu sekarang. Alfen kan Cuma sahabat kamu aja.” Ucap Dion lagi yang membuat emosi Dara semakin meningkat, tapi jelas rasa cintanya pada pria itu jauh lebih besar. Makanya Dara memilih untuk diam dan bersabar. Jika harus memilih pun ia tidak tau harus memilih Dion atau Alfen. Dara harap Dion tak akan membuat dirinya berada diposisi itu. Sulit. ……….. “Wih! Bebep gue dateng.” Ucap Damian sambil melebarkan tangannya, seakan siap mendapat pelukan dari gadis berambut panjang bergelombang yang dibiarkan terurai itu. Rambut coklatnya yang bekilau terlihat sangat terawatt, dan harum. “Apaan sih lo!” Balas gadis itu agak sinis. Ia memperhatikan teman-temannya, tepatnya pria-pria yang sering ia tempeli saat mereka sedang latihan futsal seperti ini. Kadang sambil sepik-sepik ngasih minum atau sekedar mengelap keringat mereka dengan manja. Tatapannya terpaku pada sosok pria yang terlihat menyendiri. Biasanya ia lihat pria itu bersama wanita yang rambutnya selalu dikuncir ekor kuda, ia pikir mungkin itu pacarnya. Dan pantang bagi Calista, gadis cantik ini untuk mendekati pria yang punya pacar. Ia gak mau disebut pelakor. Kecuali kalo gak ketauan. “Alfen ya?” Tanyanya sambil menghampiri pria yang sangat dikenalnya itu. Ya hanya sekedar kenal, tanpa say hello apalagi mengobrol karena pria itu seakan menghindar dan selalu menempel dengan gadis yang ia ketahui bernama Dara itu. Berarti ini kesempatannya kan, apalagi Dara tak terlihat disini. Ia tadi malah melihat gadis itu berjalan ke perpustakaan bersama senior yang ia ketahui bernama Dion itu. Sepertinya mereka pacaran. Jadi gossip soal Alfen pacaran sama Dara jelas hoax kan? Sungguh tak terduga. “Iya.” Balas Alfen, dingin seperti biasanya. “Sikat, Fen. Biar gak jomblo mulu!” Ucap Damian yang sama sekali tak sakit hati melihat gadis pujaannya terang-terangan berusaha menggoda teman satu timnya. Ia memang tau sedikit banyak jika Calista agaknya tertarik dengan Alfen. Hanya memang Alfen yang selalu menghindar dan berlindung dibalik Dara. “Lo kira WC disikat!” Balas Heru, yang sedari tadi hanya jadi penonton itu. “Nih minum buat lo.” Ucap Calista sambil menyodorkan sebotol air mineral. Alfen hanya menerimanya tanpa bilang apapun.” Gue kira lo pria manis yang mudah mengatakan terimakasih.” Ucap gadis itu lagi. “Thanks.” “You are welcome. Cuma minum kok. Dibales ngedate juga boleh.” “a***y!” “MAU GUE!” “GUE MANA, TA! CURANG LO AH!” “KAMU PILIH KASIH! GAK ASIK!” Berbagai sorakan tak membuat Calista malu apalagi sungkan. Gadis itu malah merasa telah didukung penuh. Ia melempar senyum termanisnya ke Alfen yang malah sibuk memainkan ponselnya. ………….. “Ra! Liat kelakuan mantan lo tuh. Lagi dideketin Calista tapi sok jual mahal.” Ucap Rena, salah satu teman seangkatan Dara dan Alfen, yang taunya jika mereka berdua pacaran lalu putus dan Dara pacaran lagi dengan Dion. Dara malas mengklarifikasinya, biar mereka dengan asumsi mereka sendiri. Gadis berambut pendek keriting itu menunjuk Alfen yang sedang duduk berdua dengan Calista, salah satu mahasiswi tercantik di kampus ini. Dara memang sering melihat Calista diantara anak-anak futsal tapi gadis itu tak pernah mendekati Alfen secara terang-terangan karena Alfen yang juga bersikap dingin pada gadis itu. Tapi mereka tampak lebih dekat sekarang, tanpa dirinya. “Ya biarin aja. Mereka cocok kok.” Rena mencebik.” Gak lah! Mana cocok cowok kalem kayak Alfen sama Calista yang kegatelan itu.” Protesnya tanpa peduli ada Dion di sebelah Dara. Merasa tak enak, Dara akhirnya langsung pamit dari Rena dan mengajak Dion pergi dari sana. Dara berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Dion, mendadak pria itu berjalan sangat cepat sampai ia sendiri kelelahan dibuatnya.” Pelan-pelan aja kali jalannya.” Protes Dara akhirnya. Dion menghentikan langkahnya di koridor belakang kampus yang sepi, dekat arah taman biasa ia duduk. Ia menarik lengan Dara dan menempelkan gadis itu ke dinding di belakangnya. Wajahnya langsung maju mendekati wajah Dara tapi gadis itu malah melengos, sehingga bibir Dion hanya berhasil mengenai pipinya. “Lo itu milik gue. Ngerti?” Ucapnya pelan dan penuh penekanan. Dara terpaku ditempatnya, berusaha mencerna apa yang barusan terjadi. Dion hampir saja menciumnya tapi ia tolak? Pasti pria itu marah sekali. Tapi soal ciuman setengah dipaksa begitu? Tak nyaman bukan? Apalagi nada bicara Dion yang jauh berbeda dari biasanya. Sangat dingin dan bernada perintah itu, agak membuat Dara tersinggung. Namun lagi-lagi rasa cintanya berhasil menurunkan ego, memaklumi setiap apa yang Dion lakukan padanya. Baginya Dion hanya sedang kesal dan cemburu. Iya. Seperti itu mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN