19

1614 Kata
Dara membaringkan dirinya dengan gelisah. Beberapa kali ia melihat ponselnya yang tidak ada notif apapun. Entah siapa yang diharapkannya untuk menghubunginya, ia berharap mendengar sebuah notif di ponselnya mungkin akan sedikit menenangkan hatinya. Setelah kejadian hampir ciuman dengan Dion tadi sore, Dion sempat minta maaf dengan sangat lembut dan terlihat tulus, seperti Dion yang ia kenal. Pria itu bahkan mengajaknya mampir ke minimarket dan membelikan beberapa coklat untuknya. Katanya untuk memperbaiki moodnya yang mungkin jelek karena ulah pria itu. Memang benar sih. Dara bahkan sempat takut, takut jika Dion tak seperti dalam bayangannya. Tak seperti yang ia lihat selama ini. Tapi melihat ketulusan di mata pria itu, Dara akhirnya luluh dan memaafkannya. Toh itu hanya emosi sesaat kan? Brak! Pintu kamar Dara yang nyambung ke balkon kamarnya terbuka, menampilkan sosok Alfen yang berdiri disana. “Ketok dulu kali! Untung gue gak jantungan!” Sungut Dara yang merasa jantungnya barusan berhenti beberapa detik karena ulah sahabatnya sendiri. Padahal perilaku asal masuk Alfen ke kamarnya bukan yang pertama kali. “Udah, Sayang. Tapi lo-nya b***t! Ngelamunin apa sih?” Tanya Alfen yang tampak seperti biasa. Padahal tadi siang dia terlihat sangat kesal. Ya begitulah Alfen, gampang ngambek dan mudah baikan lagi tanpa Dara harus memohon-mohon.” Ngelamun jorok lo ya!” Tuduhnya membuat wajah Dara memerah seketika. “Astaga! Gak lah! Gila lo ya!” Alfen tertawa melihat wajah Dara yang memerah. Sangat lucu dan imut, pengen dicium tapi udah jadi pacar orang. Sebelum jadi pacar orang aja Alfen gak berani. Gimana pas Dara udah jadi pacar orang coba? “Yaudah biasa aja kali. Gimana kencannya?” Tanyanya yang langsung duduk disamping Dara, membuat gadis itu menggeser posisi duduknya karena Alfen benar-benar tak berjarak satu sentimeter pun darinya. “Kencan apaan! Gatot alias gagal total.” Dara mencebik. Dalam hati Alfen bersorak kegirangan.” Emang kenapa?” Tapi ia malah sok bersimpati. “Gak tau. Mood Dion gampang berubah. Kayak cewek.” Ucap Dara mengatakan yang sebenarnya. Alfen mengangguk sok mengerti dan mendengarkan. Padahal sebenarnya ia malas sekali apalagi jika mendengar nama Dion disebut. Ia malah mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi i********:. “Ngapain lo?” “Upload orang galau padahal baru jadian dua hari.” Ucap Alfen penuh kebanggaan sambil menyorot wajah Dara dengan ponselnya. Dara hanya mengulurkan tangannya berusaha menutupi wajahnya namun tetap terlihat. “Mending kayak gue. Jojoba. Jomblo juga bahagia.” “Apaan sih? Alay lo!” “Biarin. Jomblo mah bebas!” Ucap Alfen dengan penekanan pada kata terakhirnya. Membuat Dara sedikit tersinggung. Tanpa Alfen sadari ada yang melihat story yang dibagikannya dengan tatapan tak suka. Apalagi melihat latar belakang tempat Alfen mengambil story dengan Dara, di dalam kamar. Sangat privasi. “Udah ah! Ntar ada yang liat ngiranya aneh-aneh lagi.” Alfen berdecih.” Mereka tau kita banget kali. Kalo mau aneh-aneh mah udah dari dulu gue.” Ucapnya dengan santai tapi cukup membuat Dara melotot kesal. Untungnya Alfen sudah menyetop storynya. Sehingga percakapan mereka selanjutnya tidak terekam. Tapi tetap saja, apalagi Alfen cukup famous sebagai kapten tim futsal di kampusnya. Jelas banyak yang mengenalnya. Followersnya saja sudah melebihi empat angka. Dara menyandarkan tubuhnya ke ranjang dengan gelisah, mau marah pun percuma karena Alfen sangat keras kepala. Ia pun akhirnya memilih untuk beranjak dari ranjangnya menuju pintu keluar kamar. Rasanya emosinya makin meningkat jika berada disamping sahabatnya itu. Bukannya memperbaiki moodnya yang sedang buruk, malah makin memperburuk moodnya. Tapi bukan Alfen namanya jika ia menyerah begitu saja, apalagi kapok mengerjai sahabatnya sendiri. Buktinya ia malah mengikuti Dara yang berjalan menuju dapur rumahnya. Gadis itu membuka kulkas, mengambil apel dan langsung menggigitnya. Ia menatap Alfen dengan garang seolah membayangkan apel di genggamannya adalah Alfen. Alfen bergidik ngeri.” Cocok lo jadi pemeran psycho.” Ucapnya tanpa takut sedikit pun. “Bisa gak jangan ganggu gue?” Dara menyerah, ia akhirnya duduk di kursi di ruang makannya sambil terus mengunyah apel di mulutnya. Rasa apel ini mendadak hambar. “Gak bisa. Gak ganggu lo, gak asik.” Ucap Alfen dengan nada santainya.   Tok tok tok! Suara ketukan pintu rumah Dara menengahi perdebatan Dara dan Alfen yang baru saja mau dimulai. Dara melotot kearah Alfen tapi pria itu malah cuek, gadis itu pun segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu. Seperti biasa, Alfen mengikuti di belakangnya. “Siapa sih? Lo mesen makanan?” Dara menoleh ke Alfen yang sudah berjalan disampingnya. “Gak. Gue lagi bokek.” Balas Alfen, asal. Walau ia memang benar tak memesan makanan. Dara mengerutkan keningnya kemudian membuka pintu rumahnya tanpa kecurigaan sedikit pun. “Dion?” Pupil mata Dara melebar melihat sang pacar berdiri di hadapannya dengan buket bunga mawar merah di tangannya. Wajah Dion yang tadinya sedikit tersenyum mendadak dingin saat melihat pria yang berdiri di samping Dara.” Eh.. sini masuk. Alfen tetangga aku. Sahabat juga. Dia biasa kesini.” “Oh ya?” Dion tampak tak tertarik.” Aku Cuma mau kasih ini aja kok. Maaf ya bikin kamu gak mood tadi.” Ucapnya lagi sembari menarik tangan Dara untuk mendekat. Sementara Alfen memilih masuk kembali kerumah Dara tanpa bicara apapun. “Dan aku gak suka ada pria lain di rumah kamu.” Lanjutnya membuat langkah Alfen terhenti. Alfen tampak mengepal tangannya, namun ditahan walau emosinya sudah memuncak. Ada hak apa Dion mengatur sahabatnya? “Eh… Itu.” “Kamu wanita terhormat kan.” Dion mengusap kepala Dara, kemudian pamit untuk pulang lagi. Dara tak mencegahnya maupun berkomentar. Ia merasa berada di posisi yang salah saat ini. Diam adalah solusi terbaiknya. “Dia gila ya? Ngatur lo? Really?” Alfen tampak emosi setelah Dion benar-benar pergi dari rumah Dara dengan motor sportnya. “Gak gitu, Fen.” “Gak gitu gimana? Lo sendiri tau dia lagi ngatur lo? Baru pacaran wey.” Alfen tampak tak terima. Nafas pria itu memburu, menahan emosi yang memenuhi rongga pernafasannya. “Karena gue baru jadian kali makanya Dion gitu. Nanti lama-lama enggak kok. Kalian bisa jadi temen.” Ucap Dara lagi setengah membela Dion walau ia tak bermaksud. Alfen berdecih.” Gak sudi gue temenan sama dia.” “Lo kok gitu sih?” Dara tampak menunjukkan ketidaksukaannya dengan sikap kekanakan Alfen. “Pake mempertanyakan kehormatan lo? Cowok lo? Astaga! Gak perlu dipertanyakan juga gue bakal jagain lo kali.” Ucap Alfen yang benar-benar tersinggung, bukan hanya soal dirinya namun soal Dara juga. “Bener kali kata Dion.” “Bener apanya? Soal apa? Bener dalam hal apa? Persahabatan kita? Kenormalan gue? Apa gimana nih?” Dara tampak bingung.” Tau ah! Jangan bikin gue pusing!” “Sama! Gue mending balik dah! Biar lo keliatan terhormat didepan cowok lo itu!” Ucap Alfen yang malah menaiki anak tangga menuju kamar Dara. “Katanya mau balik? Kok keatas?” “Gue gak bawa kunci rumah! Gue mau masuk lewat balkon! Besok-besok gue kerangkeng dan balkon gue biar gak bisa ke balkon lo!” Balas Alfen tanpa menoleh ke Dara sedikitpun. Dara terpaku ditempatnya, moodnya semakin jelek. Bahkan buket bunga yang Dion bawa pun tak menolong sedikit pun. “Dikira gue kuburan dikasih bunga?” …………… Guys besok gue ketemu Danil lagi. Sendirian gpp kok. Dia mau jemput gue di kampus. Kita mau hunting foto yeyy Dara menatap pesan masuk di grupnya itu. Alfen tampak belum membacanya sementara ia sendiri tak tega untuk tak membalas karena di grup hanya berisi mereka bertiga. Tidak mau Gita merasa terabaikan akhirnya Dara mengetik pesan balasan di ponselnya. Semangat! Keliatannya Danil cowok baik-baik. Sukses yaw! Sent! Dara segera meletakkan ponselnya kembali ken akas disamping ranjangnya, ia menatap kearah jendela kamarnya yang mengarah ke jendela kamar Alfen yang tampak gelap. Sepertinya pria itu sudah tidur. Gadis itu menghela nafas. Ini pertama kali dalam dua puluh tahun kehidupannya di dunia untuk menjadi tokoh utama dalam kisah cintanya sendiri, tapi ia tak menyangka akan serumit ini. Tadinya ia berharap pacarnya dan sahabatnya bisa akur seperti di novel-novel yang ia baca. Nyatanya….. Mustahil. Semuanya malah terasa rumit. Ia tak menyesali hubungan barunya dengan Dion, tapi juga tak bisa memprioritaskan salah satu hubungannya. Hubungan persahabatannya dengan Alfen yang sudah terjalin sejak mereka bayi dan hubungan percintaannya dengan Dion yang belum terjalin satu minggu ini pun sama-sama penting. Jadi gimana? ………… Danil berdiri dengan bertumpu pada motor sportnya. Tatapannya menyusuri lingkungan kampus Gita yang tampak asri. Beberapa mahasiswi tampak lewat lengkap dengan jas putihnya. Beberapa dari mereka jelas-jelas memperhatikannya tapi Danil sudah terbiasa, bukan sombong tapi kenyataan loh. Sehingga ia bisa bersikap biasa saja, tanpa grogi. Hingga tatapannya terkunci pada gadis dengan rambut bergelombang yang mengenakan bandana warna oranye itu. Bukan karena mahasiswi itu cantik, memang cantik. Tapi Danil seperti mengenalnya hanya ia ragu. Hingga tepukan di bahunya seakan menyeretnya kembali ke kenyataan. “Kok bengong? Dibawah pohon beringin lagi. Kesambet aja lo.” Ucap Gita dengan senyumannya. Hari ini Gita sudah bersiap mengenakan celana jeans ke kampus karena memang akan bertemu dengan Danil, juga mengingat jenis motor pria itu. Memakai dress seperti kemarin jelas bunuh diri baginya. “Eh. Sorry. Abisnya adem banget. Barusan mau tidur gue. Eh lo keburu dateng.” Ucap Danil yang tingkat humorisnya lumayan bagi Gita. Apalagi obrolan mereka di chat sangat seru, membuat Gita yakin untuk melakukan pertemuan kedua dengan pria ini tanpa didampingi Dara dan Alfen seperti kemarin. “Tidur aja gapapa. Gue sabar buat nunggu kok.” Balas Gita yang merasa lebih mudah berkomunikasi dengan Danil. Tentu karena pria itu juga jago membuat topik baru dan humble. Tipe pria idaman. Bukan Gita gak tau, beberapa pasang mata dari makhluk yang sejenis dengannya sedang mencuri pandang ke pria yang berdiri didepannya ini. Gita minder? Jangan ditanya lagi. “Gak deh. Penjaga pohonnya udah dateng sih.” Ledek Danil lagi. “Sialan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN