20

1996 Kata
Gita memperhatikan Danil yang sibuk dengan kamera DSLR-nya. Entah sudah berapa banyak foto yang pria itu ambil. Entah temanya apa. Tapi kini mereka sedang berada di kawasan kota tua. Tempat yang memang bagus untuk fotografi. Beberapa kali dengan keisengannya Danil sengaja mengambil fotonya. Entah bagus atau tidak, Gita tak peduli. “Laper gak?” Tanya Danil sambil duduk disamping Gita, kemudian menunjukkan beberapa foto yang berhasil ia ambil. Kebanyakan Danil mengambil foto para pedagang kaki lima disini, juga foto random beberapa orang dengan ekspresi yang mungkin orang itu sendiri tak sadar saat Danil mengambil foto. Tapi foto-foto itu terlihat sangat bagus, menggambarkan ekspresi-ekspresi setiap orang yang memang berbeda. “Lumayan. Panas lagi.” Gita mengipasi dirinya dengan tangan kosong. Padahal hari sudah menjelang sore tapi kawasan disini memang terkenal panas. Karena tidak terlalu banyak green area. Maklum daerah perkotaan. “Gue tau tempat makan yang enak.” Ucap Danil yang langsung menarik tangan Gita agar segera bangkit dari tempatnya dan berjalan mengikutinya. Tanpa sadar sentuhan kulit dengan kulit seperti itu membuat jantung Gita berdegup sangat cepat, bahkan ia merasa aliran darah dibawah kulitnya begitu deras. “Eh. Sorry. Bukan maksud gak sopan.” Ucap Danil lagi yang merasa Gita jadi lebih diam selama digandeng.” Takut lo ilang aja. Banyak orang soalnya disini.” Ucapnya begitu sampai didepan sebuah café bergaya Belanda itu. “Gak apa-apa kok. Santai.” Ucap Gita sesantai mungkin, padahal nada bicaranya juga terdengar aneh. Efek bergandengan tangan dengan Danil kenapa sebesar ini sih? Danil tersenyum lega, tadinya ia pikir Gita akan marah dan merasa dirinya sangat lancang. Padahal ia benar-benar berniat menjaga gadis itu.”Yuk, masuk.” Ucapnya sambil membukakan pintu Café hingga berbunyi “Tring!” Mereka memilih tempat yang ditengah karena hanya kursi itu yang kosong. Menjelang sore kafe ini memang cenderung ramai, karena berada di tengah-tengah kawasan wisata juga design interiornya yang unik, kental dengan bangunan Belanda jaman dulu. Setelah memesan makanan, Danil mengambil beberapa foto di café itu, termasuk foto Gita. “Lo ngambil foto gue tanpa ijin, gak gratis loh!” Ledek Gita walau dengan mata melotot. Danil justru tertawa. Gita yang sejak awal ia kenal sebagai pribadi yang ramah dan cenderung lebih pendiam darinya itu sangat tak pantas bersikap galak.” Nanti gue bayar pake tiket nonton bioskop deh.” Ucapnya. “Gak deng. Canda. Baper lo!” Ucap Gita, merasa tak enak. “Tapi gue gak becanda. Kapan-kapan ya kita nonton. Udah lama gak ada partner buat nonton film nih.” Ucap Danil kental dengan keramahannya. Tipe pria yang mudah membuat para gadis jatuh hati, termasuk Gita. Gini kali ya rasanya jatuh cinta, kayak yang Dara rasain ke Dion. Gadis itu membatin. Tak lama pesanan mereka datang. Menu sederhana sebenarnya. Walaupun interiornya kental dengan gedung Belanda di jaman penjajahan dulu, tapi menunya banyak menu makanan khas Indonesia. Gita sendiri memesan gado-gado dan es teh manis sementara Danil memesan mi ayam dan es milo. Baru menyuap beberapa kali, Danil merasa ponselnya bergetar di saku celananya. Ia pun segera mengambilnya. Tampak ada panggilan dari nomor tak dikenal. Takut hal penting, Danil mengangkatnya. Ia tipe orang yang selalu mengangkat telpon walau dari nomor asing sekali pun. Karena trauma dulu soal kecelakaan orangtuanya yang tak ia ketahui, padahal ada nomor tak dikenal yang menelponnya beberapa kali. Ya, dulu Danil bukan tipe pria yang mau repot mengangkat telpon dari orang tak dikenal. Sekarang prinsipnya berubah. “Ya?..... Apa? Oke…. Saya segera pulang. Makasih, mbak.” Danil terlihat sangat cemas. Membuat Gita jadi menebak-nebak hal buruk apa yang telah terjadi. “Sorry, Git. Gue harus pulang kayaknya. Atau lo mau ikut?” “Ada apa emang?” “Nanti gue ceritain. Pasti. Gue gak mau sembunyiin apapun dari lo.” Ucap Danil terdengar yakin. Sebenarnya Gita sedikit was-was ketika Danil mengajaknya kerumah pria itu. Apa benar Danil orang baik? Apalagi mereka baru ketemu dua kali. Dan ini pertama kali ia bertemu pria itu sendirian dan langsung diajak kerumahnya. “Gue bukan pria jahat kok. Justru gue mau tunjukin lo fakta. Karena kehidupan gue, cukup rumit.” Ucap Danil yang terdengar agak pesimis, mungkin. Gita akhirnya mengangguk. Hatinya sendiri yakin jika omongan Danil benar, bukan tipe-tipe pria modus. Walau Gita sendiri belum pernah dimodusin. Tapi dari berita-berita viral yang seliweran di social medianya, cukup menjadi pelajaran untuk gadis itu agar lebih berhati-hati.” Oke. Gue percaya sama lo.” Rongga d**a Danil menghangat mendengar kalimat yang Gita ucapkan. Entah kenapa sejak pertama melihat foto gadis didepannya ini serta pertemuan pertama mereka, Danil yakin dengan apa yang terjadi pada hatinya. Setelah sekian lama kejenuhan melanda hidupnya yang hanya berkecimpung soal urusan kampus dan urusan pribadi lainnya. Setelah membayar bill dan keluar dari Café, mereka berdua berjalan menuju parkiran yang berada didekat jalan raya. Karena Café ini memang agak di tengah tempat wisata. “Bentar.” Danil berjalan menuju penjual helm dan memilih helm berwarna hijau tosca, setelah membayarnya, pria itu kembali ke Gita yang menunggu disamping motornya. “Sorry baru beliin helm sekarang.” “Loh?” Gita tampak heran. “Biar kalo kemana-mana sama gue udah ada helmnya.” Danil tersenyum lebar, terlihat tulus. Membuat Gita tak bisa menolaknya. Gadis itu pun akhirnya mengambil helm yang Danil ulurkan dan memakainya. Setelahnya mereka berdua membelah jalanan dan hiruk pikuk Ibukota di sore hari yang lumayan padat, menuju perumahan yang berada di perbatasan kota. Hampir satu jam perjalanan mungkin hingga Gita dan Danil sampai didepan rumah bergaya minimalis. Warna biru laut dan biru muda yang mendominasi dinding rumah serta pagar itu menyegarkan pandangan Gita. Apalagi ada kebun bunga di halaman yang tidak besar itu. “Sorry kalo rumahnya berantakan.” Ucap Danil dengan canggung. “Santai.” Tak lama seorang wanita sepertinya berusia tiga puluh tahunan lebih keluar dari dalam rumah Danil. Sepertinya bukan Ibu Danil karena wanita itu tampak masih muda. Wajahnya menggambarkan kekhawatiran yang jelas.” Resa. Tadi dia ngamuk.” Ucapnya dengan nada tak kalah cemas. Danil juga terlihat cemas, pria itu pun masuk ke dalam rumahnya sambil menggandeng Gita. Gita berdiri didepan pintu kamar yang terbuka sementara Danil masuk ke dalamnya. Terlihat sosok gadis yang mungkin lebih muda darinya. Dia tampak berantakan walau bersih tapi penampilannya acak-acakan seperti tak terurus. Tatapannya kosong serta wajah yang seakan menumpuk beban begitu banyak disertai lingkaran hitam dibawah matanya yang kentara sekali. Pertama kali Gita melihat gadis itu, hatinya miris. Tapi siapa dia? “Kamu kenapa lagi? Kakak bingung harus gimana. Semua pelajaran yang kakak pelajari di kampus sama sekali gak membantu kalo kamu gak buka suara. Kenapa harus ngamuk hampir tiap hari? Menyiksa diri? Lebih baik kamu cerita sama kakak. Biar kamu lega.” Ucap Danil penuh pengertian, tatapannya begitu lembut kearah gadis didepannya. Gadis itu hanya diam, sesekali terisak, sangat pilu. Kakak? Apa itu adiknya Danil? Kenapa? Begitu banyak pertanyaan di benak Gita yang enggan untuk ia katakana, takut menyinggung. Ia pun akhirnya memilih untuk diam. Danil mengusap kepala gadis itu dengan lembut sampai gadis itu tertidur. Pria itu menarik selimut menutupi tubuh kurus sang adik. Ia pun berjalan ke tempat Gita sedari tadi menunggu.” Sorry. Dia adik gue, Resa.” Gita menatap iba ke sosok Resa yang tengah tertidur pulas itu. Gadis itu sepertinya lelah menangis. “Dia kenapa?” Danil mengajak Gita untuk duduk di ruang tamunya kemudian menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.” Sorry gak ada apa-apa disini.” Ucapnya yang entah sudah berapa kali bilang “sorry”. “Santai aja kali.” “Soal Resa, gue sendiri masih gak tau. Dia begitu sejak pesta kelulusan waktu SMA. Dia hampir histeris setiap hari, berusaha bunuh diri dan berusaha merusak dirinya sendiri. Bahkan dulu sempet gak mau makan hampir satu minggu, Cuma ngurung diri di kamar. Makan harus dipaksa banget.” Ucap Danil yang terdengar putus asa. “Udah ke dokter? Atau psikiater?” Danil mengangguk lemah.” Gak menolong sedikit pun. Hanya resep obat penenang yang efeknya sementara aja. Psikiater pun gak menolong, karena Resa tutup mulut. Dia menutup rapat alasan dirinya jadi seperti sekarang. Bahkan alasan gue kuliah jurusan psikolog seenggaknya gue pikir bisa menolong adik gue, nyatanya enggak karena dia sama sekali gak mau cerita apa-apa. Terakhir dia bicara itu hampir tiga tahun lalu. Selebihnya dia Cuma nangis, menjerit.” Ucapnya lagi, terdengar sangat pesimis dan terluka. Siapa juga yang gak terluka melihat adiknya dengan kondisi sekacau itu? Gita memperhatikan sekelilingnya. Banyak bingkai foto terpajang termasuk foto Resa yang kala itu terlihat sangat manis dan sangat sehat, jauh berbeda dengan sosok Resa yang sekarang. “Orangtua gue sampe meninggal karena kecelakaan. Bokap gue kena serangan jantung waktu nyetir mobil, mungkin beban banget mikirin anak perempuannya sekacau itu.” Danil menunduk, menutupi wajahnya yang tak kalah kacau. Gita tidak tau harus berbuat apa, gadis itu hanya mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk bahu Danil, berusaha menguatkan pria itu. “Gue sayang sama Resa, dia satu-satunya yang gue punya. Kalo begini terus, gue takut kehilangan dia juga sama kayak kehilangan orangtua gue.” “Gue yakin dia pasti bisa sembuh kok. Gue gak tau emang, gak pernah ngalamin. Tapi ngeliat Resa masih hidup sampai sekarang, jelas semangat hidupnya masih banyak kan? Pasti banyak cara mudah buat Resa untuk bunuh diri atau semacamnya. Kalo emang niat dia untuk mengakhiri hidupnya besar. Dan gue rasa, rasa ingin hidup Resa jauh lebih besar kok. Gue yakin dia kuat.” Ucap Gita sebisanya. Ia tak pandai memberi nasihat, apalagi untuk masalah yang cukup berat ini. Salah-salah kata bisa membuat orang tersinggung kan? Danil mengangguk seakan menyetujui ucapan Gita.” Lo bener. Guenya yang lemah. Gue yang kangen liat dia ceria kayak dulu. Gue kangen adik gue.” Ucapnya setengah terisak. Gita terenyuh, pertama kali dalam hidupnya melihat sosok pria menangis. Pasti hati Danil begitu lembut. “Gue bakal bantuin lo kok, walaupun Cuma nemenin lo untuk sekedar menenangkan Resa.” “Thanks, Git. Gue beruntung banget bisa ketemu lo.” Gita hanya mengulum senyum. Setelah sesi cerita yang menyentuh itu, Gita merasa agak canggung. Bingung harus berbuat apalagi. Ia pun ijin untuk melihat-lihat koleksi foto Resa yang terpajang. Gadis itu memperhatikan satu persatu foto. Kebanyakan diambil saat Resa masih mengenakan seragam putih abu-abunya. Gita mengerutkan keningnya saat melihat foto gadis lain yang bersama Resa, gadis yang sangat dikenalnya. Tentu saja. Dia teman satu kampusnya, satu angkatan dan beberapa hari terakhir ini memang sering bertemu, walau hanya say hello. “Kenapa, Git?” Tanya Danil yang berdiri disamping Gita.” Lo kenal?” “Safa?” Gita memastikan. Danil mengangguk.” Dia sahabat Resa dari SMA. Tapi gue gak pernah ketemu dia lagi. Dia juga gak pernah kesini sejak Resa sekacau itu.” “Dia temen kampus gue. Sering ketemu sih kalo ke perpustakaan.” “Dia emang tipe anak pinter dari dulu.” Ucap Danil mengingat sosok Safa yang menarik sejak dulu karena selain pintar, gadis itu juga memiliki wajah yang cantik. “Apa dia tau soal Resa? Kayaknya mereka deket banget. Masa sih gak pernah sekedar nengok?” Gita merasa aneh. Danil mengedikkan bahunya.” Apa sih yang bisa diharapkan dari hubungan pertemanan? Udah biasa hal kayak gini tuh. Siapa juga yang mau terlibat masalah gak jelas. Gue udah pernah coba tanya dulu banget, tapi Safa gak tau. Dan setelah itu kita lost contact.” Gita merasa miris. Apakah sifat Safa memang seperti itu? Tak punya simpati sama sekali ke teman dekatnya? “Gue bener-bener buntu. Gak tau apa yang terjadi sampai adik gue begitu. Tapi gue yakin, suatu saat nanti Resa akan buka suara. Dia hanya sedang berada di titik terendah hidupnya aja, mungkin dia lagi mempersiapkan diri untuk menceritakannya. Walaupun emang lama banget sih.” Danil berusaha tertawa, hambar. Berusaha menghibur dirinya sendiri. “Gue udah janji sama diri gue untuk mengembalikan adik gue kayak dulu. Menurut lo gue bisa kan, Git?” Ia menatap Gita sangat dalam. Seolah meminta kepercayaan orang lain untuk dirinya. Gita mengangguk yakin, bukan hanya sekedar mengangguk. Tapi ia memang yakin Danil dapat menepati omongannya. Entah cepat atau lambat. “Resa bukan gila, dia hanya sedang asik dengan dunianya sendiri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN