Guys, makan siang bareng yuk di edelweiss. Gue bawa Dion nih. Sekalian mau ngenalin ke lo, Git.
Pesan di grup yang dikirim jelas dari Dara itu masih Alfen abaikan, ia hanya membaca tanpa berniat membalas. Apalagi mengingat kejadian tempo hari, membuat emosinya naik lagi rasanya. Ia sangat tidak suka melihat cara Dion mengatur Dara. Ia saja sahabat Dara dari bayi gak pernah sekalipun mengatur gadis itu. Lah dia orang baru, seenaknya aja. Sejak itu Alfen sedikit menjaga jarak dari Dara, berharap gadis itu sadar jika diatur dalam sebuah hubungan tidaklah baik. Apalagi mengatur tanpa alasan yang jelas.
“Lagian gue udah tau tuh orang. Ngapain dateng.” Ucap Alfen, membenarkan dirinya sendiri. Ia sungguh malas jika hari ini harus melihat wajah ngeselin Dion yang entah darimananya bisa membuat Dara jatuh cinta. “Padahal cakepan gue.” Ucapnya sambil berkaca.
………
Sepulang kuliah, Gita pergi menuju kafe edelweiss, tempat janjian dengan Dara yang katanya mau memperkenalkannya dengan Dion. Akhirnya. Setelah hampir satu bulan mereka pacaran, baru kali ini sempet ngenalin. Tadinya Danil mau mengantarkannya tapi pria itu mendadak tidak bisa, katanya Resa kumat lagi. Kasihan memang. Makanya Gita mencoba mengerti. Walaupun hubungan mereka masih stuck di pertemanan. Tidak lebih, belum.
Tring!
Bunyi pintu kafe jika dibuka.
Gita menelusuri setiap sudut kafe dan menemukan Dara tengah duduk di kursi outdoor bersama pria yang duduk didepan sahabatnya itu, membelakanginya. Dara langsung melambaikan tangannya, mengajak Gita untuk segera bergabung. Tidak ada tanda-tanda Alfen disana, pria itu juga sudah lama gak muncul di grup tapi Gita tau Alfen selalu memantau grup mereka. Pria yang dari belakang tampak tegap itu pun ikut menoleh kearah Gita.
Seketika langkah Gita terhenti, melihat sosok pria didepannya. Ingatannya sangat kuat, pria itu adalah pria yang sering menjemput Safa di kampus. Dan kata Safa, dia tunangannya. Mana mungkin? Tapi pria itu terlihat tenang, seolah tak pernah melihat Gita sebelumnya, padahal mereka jelas saling sapa atau hanya sekedar membalas senyum. Jika tebakan Gita benar. Tapi bagaimana mungkin?
Tunangan Safa? Dan pacarnya Dara?
Setiap orang di dunia ini punya kembaran kan. Gita membatin, mencoba untuk positif thinking.
“Kenapa lo?” Tanya Dara yang merasa Gita tadi seperti orang terkejut.
“Gapapa. Hai, Dion.” Sapa Gita berusaha sesantai mungkin. Walaupun ia tengah meneliti. Apa mungkin memang orang berbeda. Ataukah…. Entahlah.
“Hai.” Balas Dion tak kalah santai.” Kalian duduk aja biar gue yang pesenin makanan.” Ucapnya yang dengan gentle langsung beranjak dari kursinya dan pergi untuk memesan makanan.
“Dia tau gue mau pesen apa?” Tanya Gita, meragukan.
“Gue yang kasih tau, Git.” Jawab Dara dengan senyuman yang selalu tampak lebar akhir-akhir ini. Karena siapa lagi kalo bukan karena Dion?
“Alfen gak kesini?” Tanya Gita memastikan, walau ia sudah menduga sebelumnya.
Dara mencebik.” Tau tuh! Makin susah ditemuin. Alesannya futsal mulu. Perasaan lagi gak ada pertandingan dalam waktu dekat deh.”
Itu karena dia cemburu, bodoh. Ingin sekali Gita sekali-sekali menjitak kepala Dara agar sahabatnya itu segera sadar.
Tak lama, Dion kembali dengan pesanan di nampan yang ia bawa. Lemon tea kesukaan Gita dan sepotong cake matcha sudah ada di hadapan gadis itu. “Thanks.” Ucapnya berusaha tetap sopan, walau ia tim pendukung Dara dengan Alfen saja. Baginya mereka berdua sangat cocok.
“Kuliah kedokteran ya kata Dara? Hebat dong.” Ucap Dion berusaha membuka pembicaraan. Sebelumnya Dara memang sudah banyak cerita soal salah satu sahabat perempuannya yang bernama Gita. Nama yang asing, tapi tidak dengan wajahnya.
Gita hanya mengangguk.” Biasa aja kok.” Ia merendah. Karena menurutnya memang biasa aja kan. Jurusan apapun yang diambil asal sesuai minat dan passion, semuanya hebat.
“Gue juga punya sepupu satu kampus sama lo.” Ucap Dion lagi sambil tersenyum, senyum yang menurut Gita sangat misterius. Membuat gadis itu tak nyaman.
“Wah! Iya! Inget gak dulu pas jemput lo di kampus sama Alfen, gue bilang ketemu Dion yang katanya mau jemput sepupunya?” Dara teringat kejadian beberapa minggu yang lalu itu. Ia tak menyangka dunia sesempit ini.
“Oh ya? Sepupu?” Ucap Gita terdengar ragu.
“Iya. Kapan-kapan gue kenalin ke kalian. Tapi dia anaknya pendiem.”
Entah kenapa Gita malah merasa semuanya palsu, walau ia tak enak hati dan tak ingin bertanya lebih jauh untuk memastikannya. Ia ingin menjaga perasaan Dara juga, sebelum fakta yang sebenarnya ia dapatkan, mungkin nanti.
“Boleh tuh. Makin banyak temen makin asik kan. Ya gak, Git?”
Gita hanya tersenyum canggung. Hari ini ia benar-benar mengutuk kenapa Alfen tidak bisa hadir juga Danil yang mendadak tidak bisa menemaninya. Entahlah, ia hanya merasa jadi obat nyamuk sekarang. Tapi tunggu, mungkinkah Dion kenal sama Resa? Karena “katanya” Dion dan Safa “sepupu” kan? Bukankah ada kemungkinan Dion kenal Resa juga? Atau tidak? Tau ah pusing!
…………
Gita mengetuk-ngetuk pulpennya ke meja dengan pikiran yang terbang entah kemana. Hari ini ia sama sekali tak bisa focus dengan mata kuliahnya hingga akhirnya ia harus belajar lagi di perpustakaan demi mendalami materi hari ini. Ya walaupun agak malas tapi Gita tetap berusaha agar setiap mata kuliahnya terserap ke otak dengan baik.
“Fokus, Git. Biar lulus tepat waktu.” Gita mengetuk-ngetuk dahinya sendiri.
Baru saja ingin meluruskan pikirannya, ekor mata Gita melihat sosok Safa yang masuk ke perpustakaan sambil menenteng beberapa buku. Gadis itu mengantri di meja pengembalian buku. Gita hanya memperhatikannya dari jauh. Setelah selesai urusan pengembalian buku itu ternyata Safa tidak masuk ke perpustakaan melainkan dia berjalan menuju pintu keluar lagi, membuat Gita reflex bangun dan mencoba mengejarnya.
Penasaran.
Gita merasa benar-benar harus tau jawabannya. Ia sebenarnya takut, takut jika kenyataannya jika sahabatnya jadi korban dari tunangannya Safa. Dan juga Safa otomatis jadi korban juga, walau mereka hanya teman satu kampus yang tidak dekat sama sekali.
Langkah Gita terhenti saat melihat Safa berdiri disamping mobil Pajero silver dengan pria yang berdiri didepannya. Gita bersembunyi di balik tembok sambil sesekali mengintip.
Tidak salah lagi.
Itu Dion.
Pacarnya Dara.
Juga tunangan Safa, kah?
Atau Safa sebenarnya hanya sepupu Dion seperti yang Dion ceritakan? Atau hanya alibi saja? Gita benar-benar belum bisa memastikannya. Bedanya hanya kali ini Dion datang dengan mobil, sedangkan waktu bersama Dara kemarin pria itu membawa motor sportnya.
Tak lama keduanya pun masuk ke dalam mobil dan keluar dari parkiran kampus.
Gita masih terdiam di tempatnya. Antara bingung dan penasaran. Tapi ia juga tak mau gegabah. Apalagi ini soal kisah cinta pertama dari sahabatnya sendiri. Jika pun benar Dion adalah tunangannya Safa, pastinya Dara akan sakit hati. Tapi kalau pun mereka hanya sepupu, kenapa Safa sampai bilang pria itu tunangannya? Apalagi Gita dan Dion sempat tatap muka juga waktu Dion menjemput Safa kesini.
Kenapa semua ini begitu rumit?
Gita juga belum berniat menceritakannya ke Dara sebelum ia tau pasti yang sebenarnya. Ia tidak mau menyampaikan berita yang belum tau kebenarannya, apalagi untuk informasi sensitive seperti ini. Ia harus segera memastikannya. Harus.
…………
Alfen berdiri di balkon kamarnya dengan tatapan lurus menuju sosok Dara dan Dion yang sedang bercengkrama di depan gerbang rumah gadis itu. Sepertinya Dion akan pulang sebentar lagi dan hanya mengantar Dara ke rumahnya, tentu saja dengan motor sportnya yang hanya beda warna dengan milik Alfen.
Entah kenapa melihat Dara dibonceng Dion hingga senempel itu membuatnya seperti cacing kepanasan. Walau ia juga sering membonceng Dara, tapi gadis itu tetap menjaga jarak atau meletakkan tas diantara tubuh mereka. Ya iyalah, perbedaan status Dion dan Alfen saja beda.
Alfen mengusap wajahnya dengan kasar ketika sosok Dion dan motor sport merahnya perlahan menjauh dari rumah Dara, juga gadis itu yang berjalan memasuki rumahnya tanpa mengetahui ada yang sedang memperhatikannya dari atas sini.
“Iya lah, sejak kapan sih dia menyadari kehadiran gue.” Ucap Alfen yang mengasihani dirinya sendiri.
………….
Gita duduk di koridor kampusnya sambil sesekali membalas pesan di grup yang ia buat bersama Dara dan Alfen. Dara sedang curhat soal Dion lagi, tentu saja. Dan Alfen seperti biasa tidak ikut nimbrung, biasanya pria itu hanya membaca pesan mereka walaupun tak membalas. Tapi kali ini Alfen tak membaca apalagi membalas pesan di grup. Jadilah hanya Gita dan Dara yang asik bercerita.
Mereka memang belum sempat ketemu lagi, selain Dara yang sibuk kencan dengan Dion, Alfen yang juga sibuk dengan latihan futsalnya karena katanya aka nada pertandingan lagi. Ia sendiri juga mulai sibuk karena akan segera ujian praktik. Tapi untuk focus belajar, agak sedikit sulit karena memikirkan soal Dion, Dara juga Safa.
Gita mendongakkan kepalanya saat merasa seseorang yang ingin ia temui barusan lewat. Ia pun reflex menarik tangan Safa, membuat gadis itu kelihatan bingung.
“Kenapa, Git?” Safa mengernyitkan dahinya. Ia melihat lengannya yang dipegang oleh Gita.
“Gue mau tanya sama lo. Agak pribadi sih.” Gita melepas genggamannya dari tangan Safa.
“Soal apa? Kalo gak mengganggu pasti gue jawab kok.”
“Tunangan lo….. Namanya siapa?”
Safa menaikkan sebelah alisnya, mungkin bingung karena tiba-tiba Gita menanyakan soal tunangannya itu.” Kenapa emang?”
Gita menggeleng.” Kalo gak mengganggu, tolong dijawab ya.”
“Dion. Namanya Dion.” Jawab Safa sedikit berat. Karena ia bingung juga kenapa Gita menanyakan soal tunangannya.
Wajah Gita memucat seketika. “Dia kuliah di Universitas Pelita bukan?”
Safa mengangguk lagi. “Ada lagi yang mau ditanya?”
Gita hanya menggeleng lemah, Safa pun langsung meninggalkan temannya itu menuju perpustakaan.
Safa mengeluarkan ponselnya, mengecek social media milik Dara dengan akun fakenya. Sebelumnya ia memang sudah sengaja menstalker akun Dara. Untungnya gadis itu sepertinya selalu mengACC akun yang memfollownya karena akun Dara memang di private. Waktu itu ia hanya melihat foto Dara dan Dion yang dia upload hampir sebulan lalu. Ia pun mengscroll akun Dara, memperhatikan satu persatu foto disana. Tak banyak memang jadi cukup mudah untuk Safa. Hingga gadis itu menemukan foto yang dikenalnya. Foto Gita dengan Dara dan bersama satu pria lain yang duduk di tengah mereka berdua.
Safa tersenyum miring.” Sepertinya permainan akan menarik.”
……………..