“Git. Tumben.” Alfen menghampiri Gita yang barusan melambaikan tangan kearahnya dari tepi lapangan futsal. Ia merasa harus berterimakasih pada sahabatnya itu karena ia jadi punya alasan untuk pergi dari Calista yang entah kenapa selalu menempel padanya setiap habis latihan. Juga teman-temannya yang seakan mendukung tingkah gadis itu. Padahal Alfen jelas menunjukkan ketidaktertarikan padanya. Memang dasarnya aja Calista bermuka tebal..
Gita melirik kearah gadis berambut pirang itu yang menatap sinis kearahnya, mungkin merasa terganggu dengan kedatangannya.” Pantes jarang nongol di grup. Punya gebetan baru toh!” Ledeknya.
Alfen memutar matanya dengan malas.” You know me so well, Git. Dia jelas bukan tipe gue.”
Gita mengangguk mengerti. Ia memang hanya sekedar meledek sahabatnya saja.” Dara mana?”
Alfen mengedikkan dagunya kearah kerumunan orang didepan gedung sidang kampus mereka. Dara Nampak disana sedang asik berfoto-foto dengan Dion sambil memeluk buket bunga dan boneka beruang yang mengenakan toga. Sepertinya Dion sudah lulus sidang dan mereka sedang merayakannya. Tentu saja.
“Lo gak diajak?” Cibir Gita dengan senyum miringnya.
“Gak ngarep juga. Ogah!” Balas Alfen langsung.
“Ada yang mau gue omongin sih sebenernya.” Ucap Gita dengan wajah ragu. Tapi tak elok rasanya jika ia tak bercerita ke Alfen sebelum ia memberi tau ke Dara. Entahlah dengan cara apa, Gita jelas kesulitan jika menyangkut perasaan sahabatnya itu. Dara pasti akan terluka. Tapi jika disembunyikan pun, hanya membuatnya berdosa karena menyembunyikan fakta sepenting ini serta berdosa juga membiarkan Dara terus terluka karena memiliki hubungan dengan pria yang sudah tunangan.
“Serius amat muka lo. Gue jadi ngeri.” Alfen malah bergidik ngeri, walau Gita memang paling pendiam diantara ia dan Dara tapi gadis ini tidak pernah terlihat seserius ini.
“Penting soalnya!” Ucap Gita dengan nada tinggi, membuatnya jadi perhatian seketika dari teman-teman Alfen serta gadis yang tadi menempel ke sahabatnya itu.
“Soal apa?” Alfen bertanya lagi, ia sepertinya tau jika apa yang akan Gita ucapkan sangat penting hingga suara gadis itu meninggi.
“Dion.” Satu nama itu cukup membuat tubuh Alfen menegang.
“Gita! Kok gak bilang mau kesini?” Suara Dara yang teriak dari jauh sambil menghampiri kedua sahabatnya itu.
“Lo kan sok sibuk! Males Gita janjian sama lo!” Ucap Alfen dengan sarkastik.
Dara mengerucutkan bibirnya.” Gue abis nemenin Dion sidang.” Ucapnya yang berdiri disamping Dion. Pria itu tampak memeluk buket bunga dan boneka beruang dari Dara sepertinya.
“Congrats, kak!” Ucap Gita dengan nada dibuat-buat. Sebenarnya ia malas apalagi mengetahui fakta soal kebrengsekan pria disamping sahabatnya itu.
“Makasih ya. Mau makan malem bareng gak? Buat ngerayain kelulusan gue.”
Dara tampak terkejut dan sangat antusias.” Iya yuk! Ramean pasti seru!”
Alfen tampak memberi kode ke Gita untuk gak ikut, untungnya sahabatnya itu peka.” Sorry, Dar. Gue mau belajar soalnya minggu ini pekan ujian praktek.”
Dara terlihat murung.
“Gue juga mau latihan. Sibuk gue!” Balas Alfen lagi.
“Alah! Lo mah sibuk pedekatean sama Calista. Tau aja yang bening-bening mah.” Ledek Dara yang mengetahui kedekatan antara Alfen dan gadis yang katanya menjadi model juga itu.
Dan lo gak cemburu, Git? Ingin sekali Alfen mengutarakannya tapi ia urungkan. Males nyari ribut apalagi Dion berada disamping gadis itu. Udah kayak pengawal aja.” Biarin! Emang lo doing yang bisa pacaran.”
“Lo sendiri gimana sama Danil?” Dara gentian menatap Gita, menyembunyikan sedikit perasaan anehnya melihat kedekatan Alfen dan Calista. Seperti ada yang hilang.
“Danil?” Tanya Dion sambil mengerutkan keningnya.
“Iya. Dia gebetan baru Gita. Anak psikolog lagi. Keren kan.” Ucap Dara dengan girang, senang tentu saja melihat sahabatnya ada kemajuan dalam kisah cintanya.
Dion tampak berpikir, ingin bertanya tapi ia urungkan. Gak mungkin kan Danil yang itu. Batinnya.
Gita tampak memperhatikan gerak-gerik Dion yang menurutnya aneh ketika mendengar nama Danil disebut. Ia teringat soal kedekatan adiknya Danil, Resa dengan Safa. Berarti Dion juga satu sekolah kan dengan mereka? Apalagi katanya Safa dulu saat cerita dengannya jika tunangannya adalah kakak kelasnya dulu di SMA. Berarti ada kemungkinan Dion juga kenal dengan Resa. Kepala Gita terasa pening memikirkan keterkaitan kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Dunia begitu sempit.
“Yaudah deh kalo kalian nolak rejeki. Gue mau pergi dulu ya sama Dion. Kita mau dinner.” Ucap Dara seraya menggamit lengan Dion dengan posesif. Membuat Alfen mual.
“Gih sono!” Usir Alfen secara terang-terangan. Dara malah memeletkan lidahnya sebelum benar-benar pergi dari sana.
Gita menyenggol lengan sahabatnya itu dengan senyum meledek.” Ada yang panas tapi bukan kompor.”
Alfen memasang tampang muak.” Lo bergaul sama Danil jadi nakal ya.” Ia menjitak kepala sahabatnya itu.
“Sakit, Fen!” Gita memegangi kepalanya yang sama sekali tidak terasa sakit.
“Jadi lo mau cerita apa?”
“Yakin disini?” Gita memperhatikan sekeliling mereka yang begitu ramai. Apalagi bintang futsalnya sedang berada didekatnya, ia merasa akan diterkam sebentar lagi oleh tatapan disekitarnya.
“Yaudah ke Edelweis deh. Tapi gue ganti baju dulu sekalian pamit.”
Gita mengangguk setuju. Ia memilih untuk duduk di salah satu kursi kosong yang jauh dari keramaian sambil menunggu Alfen kembali. Tatapan orang-orang di sekitarnya sangat membuatnya tak nyaman. Apa ini yang Dara rasakan dulu? Tapi sepertinya Dara tahan sekali karena gadis itu memang agak cuek dengan lingkungan sekitar. Tidak seperti dirinya yang mudah merasa tak nyaman.
Sekitar lima belas menit kemudian Alfen kembali dengan mengenakan kaos hitam dan celana jeansnya, tampak gagah sekali menurut Gita. Apalagi kaos hitam itu ketat dan membuatnya dapat membayangkan betapa bagusnya tubuh Alfen. Jelas gadis-gadis iri dengannya. Tapi Gita segera membuyarkan pikiran kotornya, saat ini perasaannya dengan Alfen sudah biasa saja.
“Fen! Lo mau kemana?” Calista tampak berjalan dengan susah payah dengan heels yang digunakannya. “Kan latihannya belum selesai.” Ucapnya begitu sampai didepan Alfen dan Gita.
“Gue ada janji sama dia.” Alfen mengacungkan jempolnya kearah Gita. Membuat gadis berambut pirang itu menatap kearah gadis disampingnya dengan tampang tak suka.
“Dia siapa? Pacar lo? Cepet banget ya dapet gantinya Dara, sama aja kayak Dara deh.”
“Eh! Sama aja maksudnya apa lo?” Tanya Alfen tampak tak suka.” Lagian gue mau jalan sama siapa juga bukan urusan lo.” Balasnya dengan nada tajam. Gita sendiri kaget karena tak biasanya Alfen sekasar itu dengan wanita.
“Ya lonya aja. Jalan sama siapa aja tapi sama gue mah gak mau.”
“Jalan sama siapa aja yang lo maksud itu Cuma ke sahabat gue aja. Ngerti?”
Calista malah tersenyum sumringah.” Jadi dia bukan cewek lo kan?” Ia melirik kearah Gita lagi, kali ini dengan senyum manisnya yang membuat Gita justru mual.
Tanpa menjawab, Alfen langsung mengajak Gita untuk pergi dari sana.
“Lo kok tahan sih, Fen?” Ledek Gita sambil menahan tawanya saat mengingat wajah jengkel Alfen tadi.
Alfen mengedikkan bahunya dengan malas.
Tak butuh waktu lama Alfen dan Gita sudah sampai di Café Edelweis. Mereka pun memesan makanan dan minuman sebelum duduk. Kali ini mereka memilih duduk dibawah pohon palem yang dihiasi lampu-lampu cantik yang baru dinyalakan karena hari memang sudah gelap walau jam masih menunjukkan pukul tiga sore. Karena mendung menyelimuti langit sore ini membuat suasana lebih gelap dari biasanya.
“Jadi lo mau cerita apaan soal cowok ngeselin itu?” Tanya Alfen sambil tangannya terulur mengambil kentang goreng yang dipesannya tadi lalu mencolek ke saus sambal dan dimasukkan ke mulutnya.
“Ralat. Cowok brengsek.” Ucap Gita dengan nada kesal.
Alfen mengerutkan keningnya.” Emang kenapa dia? Suka gonta ganti cewek? Lo pasti tau dari sepupunya kan?” Tanyanya secara bertubi-tubi. Ia ingat jika Gita satu kampus dengan sepupunya Dion, katanya.
“Dia bukan sepupunya. Itu Cuma alibinya Dion aja.”
“Alibi?”
Gita mengangguk dengan wajah serius.” Namanya Safa. Dia tunangan Dion, bukan sepupunya. Asli. b******k kan?”
Uhuk!
Alfen keselek kentang gorengnya sendiri, ia segera menyeruput macchiato yang dipesannya tadi.” Lo serius?”
Gita mengangguk yakin.” Buat apa gue boong? Gue udah tanya langsung ke orangnya kok.”
“Tapi apa Dara bakal percaya? Secara sahabat lo itu lagi bucin banget sekarang.”
“Sahabat lo juga, bodoh!” Gita ingin sekali menoyor kepala Alfen sekarang. Kekesalannya hari ini belum terlampiaskan.” Kita harus cari bukti dulu biar akurat. Biar gak dikira hoax. Apalagi lo gak suka banget sama Dion. Yang ada kalo kita ngomong ntar Cuma lo yang disalahin karena lo gak suka Dion dan dikira memfitnahnya.”
“Tapi kan lo bisa cerita ke dia apalagi lo udah tanya langsung ke tunangannya Dion.” Alfen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Gue pikir Dara gak akan percaya kalo gak liat langsung. Dan kayaknya Dion licik. Sampe dia bisa pacaran sama cewek lain sementara dia udah bertunangan.”
Alfen mengepalkan tangannya jika memang benar Dion sebrengsek itu. Ia tak akan tinggal diam jika pria itu mempermainkan sahabatnya.” Kita temuin aja mereka bertiga.”
“Gue pesimis deh bisa begitu.”
“Kita minta bantuan Safa aja?” Usul Alfen lagi dengan tak sabar.
“Jangan gegabah, Fen. Salah-salah kita dikira mengkambinghitamkan Dion.”
“Terus gimana?” Alfen tampak putus asa, namun juga emosi.
“Kita pantau aja dulu. Kita awasin Dion dan Safa di kampus gue. Dia kan sering jemput Safa, kemarin aja Dion ke kampus gue makanya gue tau dia udah tunangan sama Safa. Sebelumnya gue udah liat Dion bahkan saling sapa tapi gak tau namanya. Setelah ketemu dia langsung waktu sama Dara yang lo gak ikut itu, gue kaget. Sumpah!”
“Terus Dion?” Alfen tampak sangat antusias, tau gitu ia ikut.
“Seperti yang gue tebak, dia pinter ngeles. Awalnya dia kayak kaget gitu tapi langsung sok kalem gitu loh. Licik kan! Gue yakin dia inget sama gue kok!”
“Berarti dia ngeh kalo lo tau dia punya tunangan kan?”
Gita mengangguk lagi.” Makanya. Didepan gue yang udah tau aja dia pinter nyembunyiin gitu, kalo kita sok asal kasih tau Dara yang ada dia bisa ngeles. Lo mau Dara malah ngira kita mau ngancurin hubungan dia?”
Alfen menggeleng. Merasa Dara semakin jauh dengannya saja sudah membuatnya sakit apalagi jika dibenci gadis itu.” Jadi gimana dong? Gue gak mau Dara makin terluka kalo tau nanti.”
“Kita pikirin dulu, Fen. Jangan gegabah.”
…………..