Gita berdiri di koridor kelasnya yang berada di lantai dua, dari sini ia dapat melihat Alfen yang baru saja sampai dan berjalan kearahnya. Pria itu menutupi kepalanya dengan hodie yang dikenakannya. Dapat Gita lihat beberapa gadis dikampusnya sedang memperhatikan sahabatnya. Jelas saja memang wajah Alfen sangat sayang untuk dilewatkan. Entah kenapa Dara tak pernah melihat Alfen sebagai pria biasa sehingga menganggap Alfen biasa saja.
“Mana?” Bisik Alfen sambil menatap kearah yang Gita lihat.
Gita mengedikkan dagunya kearah mobil pajero silver yang baru sampai di parkiran mobil tepat dibawah mereka. Seorang gadis turun dari sana, lalu seorang pria yang sangat Alfen kenali.
Dion.
Pria itu berdiri disamping Safa, entah membicarakan apa. Mereka tampak serius hingga akhirnya Safa dengan berani mengecup bibir Dion dengan cepat. Memang sekeliling mereka sedang sepi, tapi apa senekat itu?
Alfen sangat terkejut. Ia tak mungkin salah lihat, bukan tak percaya dengan omongan Gita. Tapi melihat secara langsung seperti ini rasanya membuat emosinya naik berkali lipat. Ia ingin sekali menghancurkan wajah sok tampannya Dion itu yang berani sekali mempermainkan sahabatnya. Bedanya Dion kali ini membawa mobil sementara jika sedang bersama Dara, pria itu sepertinya selalu membawa motor. Alfen jelas memperhatikannya.
“Dia selalu bawa mobil kalo kesini. Tapi kayaknya pas sama Dara waktu itu pake motor. Kemaren juga kan.” Ucap Gita seakan tau apa yang Alfen pikirkan.
“Itu jelas bukan sepupuan ya.” Alfen mengepal tangannya.” Dia harus dapet pelajaran!” Pria itu langsung turun menuju parkiran motor ketika Dion telah masuk kembali ke mobilnya dan meninggalkan halaman parkir.
“Fen! Tunggu! Jangan gegabah!” Teriak Gita sambil mengejar pria itu, tapi terlambat. Alfen sudah naik motornya dan melajukannya mengejar mobil Dion. Pasti. “Mampus gue!”
Alfen mengendarai motornya dengan kecepatan sedang karena mobil Dion tak lama sudah terkejar. Apalagi dijalanan komplek begini pasti mobil itu tak akan melaju cepat. Alfen menunggu waktu yang tepat hingga mencegat mobil Dion dengan motornya.
Hanya beberapa senti sebelum mobil Dion mengenai motor Alfen. Pria itu tampak terkejut melihat sosok Alfen yang berdiri didepan mobilnya dengan wajah garang.
Alfen turun dari motornya dan berjalan mendekati mobil Dion. Pria didalam mobil itu hanya membuka kaca mobilnya dan memasang wajah datar. Menyadari pasti sahabat dari pacarnya ini telah mengetahui kebusukannya. Tapi itu sama sekali tak membuatnya gentar. “Kenapa?”
Alfen langsung memasukkan tangannya ke dalam kaca mobil Dion yang terbuka, menarik kerah baju Dion hingga pintu mobil itu terbuka dan mengeluarkan pria itu dari sana.” Sini lo b******k!”
Dion tak takut sama sekali. Ia malah tersenyum meremehkan.”Wih! Kita gak pernah sedekat ini.” Ucapnya yang sekarang hanya beberapa senti dari Alfen.
“Diem lo, b*****t! Berani banget lo maenin sahabat gue!” Alfen menarik kerah baju Alfen keatas, membuat pria yang tingginya sama dengannya itu berjinjit sedikit.
“You mean your first love, right?” Dion tersenyum miring.
Alfen mengeratkan genggamannya di kerah kemeja Dion.” Jauhin Dara! Jangan sakitin dia!”
“Suka-suka gue. Toh gue sayang sama Dara. Lo bisa apa? Bahkan dia melirik lo aja rasanya Cuma mimpi.” Lagi-lagi Dion tersenyum meremehkan.
Bugh!
Satu hantaman mendarat di pipi Dion meninggalkan bekas biru dan darah dari sudut bibirnya.” Gue gak akan biarin lo nyakitin dia!”
“Lo bisa apa hah?! Lo pikir dia bakal dengerin lo?”
“Gue peringatin lo sekali lagi! Jauhin Dara. Gue akan lindungin dia.”
“Oh. Pahlawan kesiangan. Lets see. Siapa yang akan dipercaya Dara. Pria yang jadi kekasihnya selama hampir dua bulan ini atau lo yang katanya temen dia dari bayi.” Balas Dion dengan sengit.
Alfen melepaskan kerah kemeja Dion dari genggamannya dengan keras, membuat pria itu menabrak pintu mobilnya sendiri.” Dara pasti bakal dengerin gue. Dan lo siap-siap aja dibuang! Dasar sampah!” Ucapnya yang langsung kembali ke motornya dan melajukannya dengan kecepatan penuh.
Dion masih berdiri ditempatnya, ia mengusap sudut bibirnya yang terasa perih dan meninggalkan bercak darah disana. Sakit memang tapi ada kepuasan tersendiri ketika drama yang baru saja ia mulai memiliki konflik yang cukup seru. Tadinya ia pikir semua akan berjalan baik-baik saja, tapi ternyata seseru ini. Ia tertawa membayangkan apa yang akan Alfen lakukan selanjutnya.
Dion langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan tenang, sangat tenang. Tidak ada sedikitpun adrenalin yang ia rasakan walau Alfen telah memukulnya begitu keras. Ia malah merasa puas. Sangat puas.
…………
“Dion?” Safa agak terkejut melihat Dion yang duduk di sofa ruang tamunya. Ia baru tau ketika menyalakan lampu karena hari memang sudah malam dan ia baru pulang dari ujian praktiknya. Tadinya ia mau minta jemput pria itu lagi tapi nomornya tak bisa dihubungi.
“Sini.” Dion menepuk tempat kosong disebelahnya.
Seperti biasa, Safa menurut tanpa bantahan sedikit pun. Hal yang tidak Dion sukai, kurang menantang baginya. “Muka lo. Kenapa?” Ia tampak khawatir melihat luka lebam dan bekas darah di sudut bibir tunangannya.” Lo berantem sama siapa?”
“Sama pahlawan kesiangan.” Dion menyeringai.
Safa jadi teringat dengan foto Dara dan Dion di social media, ia ingin memastikan lagi soal hubungan keduanya. Tapi melihat pria yang berlari turun dari tangga yang sangat mirip dengan yang ada di profil Dara, juga wajah bonyok Dion sekarang sudah meyakinkannya jika itu memang benar.
Nyeri.
Jelas ada rasa sesak yang menyeruak di rongga d**a Safa. Tapi gadis itu memilih untuk memendamnya, selagi Dion tetap miliknya. Ia tak peduli. Bahkan ketika pria itu menyakitinya berkali-kali, Safa tetap mencintainya. Namun kali ini entah kenapa ia tak ingin diam saja, sekali-sekali ia ingin mengikuti alur permainan kekasihnya, membuatnya untuk menjadi lebih seru. Pasti mengasikkan.
“Gue ambilik kotak p3k dulu.” Safa segera beranjak dari tempatnya tapi lengannya ditarik oleh Dion hingga tubuhnya jatuh ke pelukan pria itu.
“Gue butuh lo. Bukan p3k.” Ucap Dion yang langsung melumat bibir Safa dengan ganas dan dibalas oleh gadis itu. Beberapa kali melakukannya dengan Dion sudah membuatnya cukup ahli dan ketagihan.
Untungnya rumah Safa selalu sepi.
Dion langsung menanggalkan pakaian gadis didepannya ini hingga ke pakaian dalamnya. Safa sudah tak merasa malu lagi, ia malah merasa bangga memperlihatkan miliknya untuk sang kekasih. Dion langsung menurunkan kecupannya ke leher Safa dan turun lagi ke bagian p******a gadis itu, kemudian melumatnya membuat Safa mengeluarkan desahannya. Dion tersenyum miring melihat wajah Safa yang begitu menikmati permainannya. Sayangnya ia akan lebih senang jika lawan mainnya menunjukkan wajah ketakutan yang hebat. Tapi tak apa, ia hanya butuh pelampiasan untuk hari ini.
………………
Dara mengernyitkan dahinya ketika melihat Alfen tengah berdiri didepannya saat pintu yang beberapa saat lalu diketuk itu ia buka. Tidak biasanya Alfen mengetuk pintu, biasanya pria itu akan menyelusup masuk ke kamarnya melalui balkon. Sejak kapan Alfen sesopan ini?
“Ra.” Suara Alfen terdengar lembut, lagi-lagi tak seperti biasanya.
“Lo kenapa deh?” Dara merasa ada yang aneh apalagi beberapa hari ini hubungannya dengan Alfen sedang tidak baik. Bahkan ini pertama kalinya Alfen memanggilnya lebih dulu sejak satu minggu ini.
“Tinggalin Dion. Dia gak baik buat lo.” Ucap Alfen dengan wajah memelas.
Jika saja yang diminta Alfen adalah hal lain, sudah pasti Dara akan mengabulkannya. Tapi Alfen meminta sesuatu yang tak masuk akal.” Maksud lo? Emang kenapa sama cowok gue?”
“Dia b******k. Dia udah tunangan sama temen kampus Gita, mereka bukan sepupuan.” Alfen berusaha menjelaskan, membuat Dara terkejut.” Gue serius, Ra. Gue gak mau lo dipermainkan sama dia.”
“Lo fitnah Dion kan? Lo tau darimana hah?” Dara tampak menahan emosi, tak suka dengan ucapan Alfen. Lebih tepatnya ia takut ucapan Alfen adalah fakta.
“Buat apa? Gak ada untungnya buat gue. Lo bisa tanya Gita kalo gak percaya. Gue sama dia udah mergokin Dion dan tunangannya.”
Dara tampak meneliti wajah Alfen yang kelihatan serius, seakan tak ada kebohongan disana. Akan tetapi gadis ini berharap jika Alfen memang bohong. Ia lebih suka dibohongi dibanding mengetahui kebenarannya. Munafik memang, atau bodoh?
“Gue gak percaya. Lo gak suka sama Dion. Jadi bohong soal Dion pasti akan mudah buat lo.” Ucap Dara sambil tersenyum miring.
Alfen tersenyum miris.” Jadi sepicik itu pikiran lo soal gue? Gue Cuma gak mau lo disakitin.”
“Kenapa? Kenapa emang kalo gue disakitin? Lo harusnya seneng kan. Soalnya lo kan gak suka sama hubungan gue. Lo gak suka gue bahagia sama Dion. Jadi lo fitnah cowok gue!” Dara merasa emosinya meningkat.
Karena gue sayang sama lo, Ra. Batin Alfen yang tertahankan. “Karena lo sahabat gue.”
Nafas Dara naik turun membayangkan apa yang Alfen katakan soal Dion. Jelas ia tak percaya begitu saja apalagi Alfen memang sejak awal tak menyukai kekasihnya. Tapi ia tak menyangka jika Alfen selicik itu sampai menjelek-jelekkan soal Dion. “Pergi lo dari sini! Gue benci sama lo! Harusnya lo dukung apa yang membuat gue bahagia kalo emang gue sahabat lo.” Ucapnya yang langsung menutup pintu rumahnya.
“Dan melihat lo terluka atas pilihan lo sendiri. Gak akan, Ra!” Teriak Alfen dari luar.
Dara luruh ditempatnya, gadis itu jatuh terduduk mengingat persahabatannya yang diambang kehancuran. Itu karena ulah Alfen sendiri yang selalu mengecam kebahagiaan yang baru beberapa bulan ia dapatkan ini. Harusnya pria itu mendukungnya dan mereka akan baik-baik saja.
“Lo pikir kekasih yang membiarkan kekasihnya jauh dari sahabatnya adalah kekasih yang baik, Ra? Pikirkan baik-baik. Gue akan selalu ada buat lo.” Ucap Alfen lagi sebelum suara langkah menjauh dari pintu rumah Dara menandakan jika pria itu sudah pergi dari sana.
Dara terisak ditempatnya. Benar kata Alfen soal Dion yang tak menyukai kedekatannya dengan sahabatnya itu, tapi harusnya Alfen mengerti jika Dion hanya cemburu. Sementara Alfen jelas sekali membenci Dion.
Karena lo sahabat gue.
Ucapan Alfen beberapa menit lalu terngiang di telinga Dara, meninggalkan sedikit rasa sesak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.