11

1751 Kata
“Fen.” Dara tampak serius menatap pria yang duduk di sebelahnya. Yang diajak ngomong hanya bergumam tak jelas sambil memainkan game di ponselnya.” Gimana mau dapet pacar lo kalo ngapelin game mulu. Cari cewek sana biar ntar bisa double date sama gue sama Dion.” Dara mencebikkan bibirnya karena merasa dicuekkin. “Gak salah?” Alfen mengalihkan pandangannya dari ponsel.” Kayak lo bakal jadian aja sama Dion. Jangan terlalu ngarep ketinggian ntar jatohnya sakit.” Ucapnya dengan ekspresi dibuat-buat. “Ya… yakin lah. Udah deket banget kok. Masa sih… dia Cuma PHPin gue.” Dara terdengar ragu dengan ucapannya sendiri.” Ntar kalo gue beneran pacaran sama dia, lu nangis lagi gak ada temen lagi.” Balasnya tak mau kalah. “Alah. Kalo tiba-tiba lo berantem sama Dion juga nangis-nangisnya ke gue.” Alfen malah beranjak dari sofa dan berjalan keluar dari rumah Dara.” Gue balik ah.” “Kok cepet sih?” “Mager denger khayalan cewek!” Balas Alfen sambil berlalu. Tinggal Dara yang terdiam di tempatnya. Ia sendiri memang ragu apakah hubungannya dengan Dion akan berkembang sampai ke hubungan yang lebih serius, hubungan lebih dari teman. Tapi pria itu kan sangat perhatian walau intensitas mereka bertemu memang tak terlalu sering, tapi kalo diliat dari pas dulu Dara hanya stalker dari jauh, bukankah hubungan ini mengalami banyak perkembangan. Tapi untuk ke tahap pacaran, Dara sendiri masih tak yakin. Apa ia akan berhasil? Atau hubungannya dengan Dion stuck di pertemanan saja. Dara memang belum banyak mengenal pria itu. Tapi yang Dara tau, Dion pria yang baik. Terbukti banyak mahasiswi yang juga mengaguminya dari jauh, bukan hanya Dara. ………….. Gita membereskan buku-buku tebalnya yang niatnya akan ia kembalika ke perpustakaan hari ini. Ia juga perlu meminjam buku lain untuk tugasnya. Tugas kuliah yang taka da habisnya. Entah kapan ia bisa lulus dan segera menjalani KOAS agar resmi menjadi dokter. Ia mulai jenuh dengan segala pelajaran di kampusnya. Kepalanya hampir meledak. Walau Dara dan Alfen menganggapnya pintar dan terlihat menikmati perkuliahan ini, ya memang tapi Gita juga manusia. Ia juga kadang merasa jenuh. Di kampus ini ia belum punya teman dekat karena beberapa mahasiswa lain focus mengejar studi mereka agar tak tertinggal atau setidaknya mereka bisa lulus tepat waktu. Karena semakin mereka santai, semakin mereka memperpanjang masa studinya. Jadi para mahasiswa tidak ada yang mementingkan sosialisasi, bahkan sendiri pun jadi asal mereka bisa dapat nilai bagus. Terdengar egois memang tapi memang mereka tidak bisa sesantai mahasiswa jurusan lain dalam hal sosialisasi. Padahal bersosial jugalah penting apalagi mereka akan bekerja berhadapan dengan para pasien. Jelas cara berkomunikasi akan berpengaruh terhadap kinerja mereka nanti. Makanya Gita walau sesibuk apapun, ia selalu menyempatkan diri mengunjungi Alfen dan Dara, sahabatnya. Ia juga perlu refreshing demi menjernihkan otaknya. Kadang Gita iri dengan kedekatan mereka berdua dan santai menjalani perkuliahan, tapi lagi-lagi Gita menepis pikiran buruknya itu. Karena ia tau semua orang masing-masing punya kesulitan yang mungkin tak dapat dilihat oleh orang lain. Jadi ia hanya focus dengan dirinya sendiri. Perpustakaan. Seperti biasa, ramai. Bahkan hampir sore begini. Tapi lumayan lebih sepi disbanding terakhir ia kesini. Masih banyak kursi kosong. Mungkin karena sebentar lagi perpustakaan ini akan tutup. Setelah absen masuk dan mengembalikan bukunya ke petugas perpustakaan, Gita berjalan menyusuri rak-rak buku menuju rak buku khusus hematologi. Setelah mendapat buku yang dicari, Gita mencari kursi kosong untuk duduk. Ia duduk di sebelah mahasiswi yang tengah focus dengan buku didepannya. Safa. Lagi. Kali ini Gita tak ingin menyapa gadis itu, ia takut akan mengganggunya mengingat tempo hari saat mereka bertemu juga di perpustakaan, Safa kelihatan terganggu saat berbincang dengannya. Padahal mahasiswa lain walaupun mereka memang agak anti social, tapi saat diajak berbicara mereka tetap asik dan terlihat sopan. Gita mulai focus dengan bukunya, sekilas matanya melirik ponsel Safa yang menyala karena ada notif yang masuk. Tapi yang membuatnya tak focus adalah wallpaper ponsel gadis itu. Safa terlihat tersenyum sambil memeluk pria yang memasang wajah datar namun tetap terlihat tampan. Gita sampai berpikir, Safa yang sekarang disampingnya jauh berbeda dengan Safa di wallpaper itu. Ia juga sepertinya pernah melihat pria itu. Iya. Pria yang pernah menjemput Safa kesini kan? Tiba-tiba Safa berdehem. Membuat Gita sedikit tersentak.”Kenapa?” Ia rupanya menyadari kemana arah mata Gita melihat. “Ehh. Itu… Cowok lo?” Tanya Gita, agak ragu. Ia takut Safa hanya menjawab singkat dan tak ramah seperti tempo hari. Safa mengangguk.” My fiancé.” Jawabnya, kali ini sambil tersenyum. Senyum yang manis yang menurut Gita jarang bahkan tak pernah gadis itu tunjukan. Gita tampak antusias. Jarang sekali ia temukan mahasiswa semester lima yang udah tunangan apalagi di jurusan mereka. Karena yang ada jarak dari tunangan ke menikah itu akan memakan waktu lama. Sementara menikah saat kuliah kedokteran pun rasanya hampir tak mungkin. Bagaimana bisa mereka sibuk kuliah dan juga sibuk urusan rumah tangga, bukan?” Wah! Keren. Dia kuliah juga?” Safa lagi-lagi mengangguk. Kali ini wajah gadis itu terlihat lebih ramah.” Udah tinggal sidang.” Gita mengangguk. Berarti lebih tua dari Safa kan. Tapi mereka terlihat cocok.” Jurusan apa? Kayaknya bukan kedokteran ya.” Balas Gita sok tau. Ya walaupun pasangan sama-sama dokter terlihat sangat ideal menurutnya. Bahkan saat berusaha melupaka Alfen pun, Gita harap bisa punya pacar seorang dokter juga nantinya. “Bukan. Dia jurusan bisnis.” “Keren.” Ucap Gita walau antusiasnya tak seperti pertama tau Safa memiliki tunangan. Ia tak menyangka saja gadis sedingin Safa bisa tersenyum semanis di foto itu. Pastilah pria itu sangat ia cintai.” Emang rencana nikah kapan?” “Tunggu dia wisuda.” Balas Safa dengan senyum merekahnya. …………… “Dion?” Dara hampir saja berjingkrak saat melihat Dion sudah berdiri didepan kelasnya. Pria itu tampak tampan dengan setelan kemeja flannel dan celana jeans hitam. Ia tersenyum tipis begitu melihat Dara keluar dari kelasnya bersama Alfen. Tentu saja. “Mau makan siang bareng?” “Sorry nih. Dara mau makan sama gue.” Balas Alfen yang entah kenapa merasa tak suka dengan pria yang katanya sedang pedekate dengan Dara itu. Iya cemburu sih tapi entahlah. Alfen tak dapat menjelaskan perasaannya. Lagipula sejak kapan perasaan bisa dijelaskan? Dara menyikut lengan Alfen.” Ih! Gak kok kak. Gue sama Alfen bisa makan bareng kapan aja tapi sama lo kan jarang. Lo ngerti kan Fen?” Ia melirik Alfen setengah mengancam. Merasa kalah, Alfen langsung pergi tanpa permisi. Membuat Dion agak tak enak hati tapi Dara tampak biasa saja.” Yuk, kak.” “Eh, gapapa nih?” “Santai. Alfen mah gak bakal ngambek.” Balas Dara yang terlalu santai. ………… “Lah katanya sama Dara?” Tanya Gita yang baru sampai di café edelweiss. Begitu disana ia tak melihat Dara, hanya Alfen. “Biasa lah lagi pedekatean. Gue mah apa atuh.” Ucap Alfen sambil mengaduk-aduk frapechinonya tanpa minat. Mi ayam yang dipesannya pun sudah mengembang. “Dion lagi? Ya ampun. Lo sih gak grecep!” Gita menepuk punggung Alfen cukup keras tapi pria itu tak protes.” Gue juga pengen sih bikin Dara sadar. Tapi gimana ya.” “Susah lah, Git. Dia gak pernah mandang gue sebagai cowok biasa gitu. Cuma sahabat, ya udah lah gue mau gimana. Ditambah tiba-tiba dia suka sama kakak tingkat gitu. Yaelah. Berasa di novel kali ya.” Alfen malah curhat yang tentu saja Gita dengarkan dengan baik karena gadis itu sejak dulu memang pendengar yang baik. Gak seperti Dara, kalo diajak curhat yang ada gadis itu akan meledeknya habis-habisan. Walau ia juga jarang curhat sih ke Dara. Masa curhatin orang ke orangnya langsung. Kan gak lucu. “Emang kayak apa sih Dion tuh? Jadi penasaran gue. Sampe bisa bikin Dara jatuh cinta. Gue kira hati tuh anak dari batu.” Gita terkekeh geli membayangkan dari dulu Dara tak pernah membahas soal cinta tapi sekarang mendadak jatuh cinta dan kayak bucin banget. “Gantengan gue lah pokoknya.” “Iya deh percaya aja gue mah.” Balas Gita berusaha menghibur sahabatnya. “Lo jangan liat Dion mending ntar jatuh cinta juga berabe gue gak ada yang nemenin.” Ucap Alfen yang merasa terkhianati karena ditinggal Dara demi Dion. “Ya kali, Fen. Masa gue saingan sama Dara nanti.” Seru Gita yang dulu pernah menyukai Alfen itu. Tapi ia lebih memilih mengubur dalam-dalam perasaannya. Ia yakin Alfen amat sangat menyukai Dara dan ia tak mau mengganggu itu. Ia juga tak ingin membuat persahabatan mereka jadi canggung. Ia juga yakin suatu saat nanti Dara akan sadar dengan keberadaan Alfen. Entah kapan. “Iya deh jangan. Temenin gue aja.” Alfen tampak frustasi. …………. Dara tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Dion. Pria itu selalu menarik untuk dilihat. Walaupun hanya mengetik sesuatu di laptopnya, pria itu tetap saja terlihat menawan. Jadi bagaimana bisa ia tidak jatuh dalam pesonanya. “Kenapa sih? Abis deh muka gue diliatin lo terus.” Ucap Dion dengan wajah memerah. Dara menggeleng pelan.” Abisan lo enak diliat sih. Gue jadi ragu kalo lo belum punya pacar.” Ucapnya dengan tatapan ragu. Dion menghentikan aktifitasnya dan menatap balik wajah Dara yang sudah memerah seperti kepiting rebus.” Emang lo pernah liat gue sama cewek lain dikampus ini selain sama lo?” Dara menggeleng karena memang kenyataannya begitu. Lagipula Dion baru tiga bulan ini kembali kuliah dan ia tak pernah melihat pria itu bersama wanita lain atau bahkan bersama teman prianya. Dion selalu terlihat sendirian atau hanya bersama dosen. Itu pun hanya bimbingan. “Jadi? Apa yang harus dikhawatirkan?” Dion memasang senyum yang sangat manis menurut Dara. “Jadi sebenernya kita ini apa deh? Pedekatean ya?” Tanya Dara akhirnya. Ia memberanikan diri padahal hatinya serasa mau copot saat mengatakannya. “Lo maunya?” Dion malah balik bertanya, membuat Dara mencebik. Pria itu malah tertawa.” Kamu belum tau banyak soal aku.” “terus kenapa? Jadi gue harus tau semua tentang lo baru kita pacaran? Bukannya setelah pacaran justru kita bisa tau satu sama lain?” Entah keberanian darimana yang Dara dapatkan. Bahkan ia seperti tak punya malu. Dion terdiam, meneliti Dara dengan serius. Karena setelah pacaran, kamu akan tau siapa aku sebenarnya dan aku yakin kamu gak akan siap. batinnya.” Nanti akan ada saatnya kok. Lo tenang aja. Gue bukan cowok tukang PHP.” Ucapnya yang cukup menenangkan hati Dara. “Iya kah? Gue bisa pegang omongan lo?” Dion mengangguk yakin. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Dara dengan lembut.” Yaudah kita makan siang yuk. Lo mau makan apa?” “Dimsum!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN