10

1943 Kata
Gita ingat sekali pertama kali dirinya masuk SMA di Jakarta yang terkenal. Sementara dirinya yang pendatang dari Jogjakarta merasa minder. Apalagi disini ia sendirian, tidak ada orang yang dikenalnya. Beruntung gadis berambut panjang yang dikuncir ekor kuda dengan percaya diri menghampirinya dan mengajaknya berkenalan, ternyata ada maunya biar dia mau masuk grup tugas Biologi. Senyum Dara saat itu masih melekat diingatannya, walau dia mungkin berusaha memanfaatkan siswi beasiswa sepertinya, nyatanya mereka jadi sangat dekat sampai sekarang. Juga sosok Alfen yang selalu berada disampingnya. Pria bertubuh tinggi dan lumayan agak kurus dulu itu sempat membuat hatinya bergejolak, tapi Gita yang realistis buru-buru tersadarkan kalo Alfen sudah menyukai orang lain. Siapa lagi? Tentu saja Dara. Alfen yang selalu menjaga image didepan Gita sementara didepan Dara dia bersikap sangat apa adanya bahkan terkesan konyol, begitu pun sikap Dara ke Alfen. Mereka tampak cocok satu sama lain. Tapi takdir belum berpihak pada Alfen sepertinya karena kelihatan sekali jika Dara hanya menganggap Alfen sebagai sahabat. Tak lebih. Miris memang. Semiris perasaannya yang juga tak terbalas dulu. Alih-alih dendam dengan Dara yang beruntung disukai Alfen, Gita malah kasian dengan sahabatnya itu. Hati Dara sangat tidak peka sehingga tak menyadari kehadiran seseorang yang menyukainya sejak dulu. Bahkan saat Gita tanya secara terang-terangan ke Alfen terkait perasaan pria itu, Alfen sama sekali tak menepisnya. Ia bahkan sangat mengakuinya. Tapi lagi-lagi Alfen tak mau memaksa Dara apalagi memberi tau Dara soal perasaannya. Alfen takut merusak persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak bayi itu. Alfen memilih menjadi pelindung Dara dari dekat, menyingkirkan berbagai macam pria aneh yang berusaha mendekati sahabatnya. Ia sangat ingat bagaimana Alfen mengusir para siswa di SMA mereka yang berusaha menggoda sahabatnya itu. Membuat para siswa enggan mendekati Dara lagi. Bagi mereka Dara udah punya macan, serem. Daripada di terkam kan mending jaga jarak. Yang membuat Gita yakin jika bukan hanya Alfen yang punya perasaan, tapi Dara juga. Adalah ketika saat Alfen terkilir sampai tak bisa berjalan, Dara dengan sigap berlari ke tengah lapangan. Tak peduli berpasang-pasang mata yang menontonnya. Apalagi gadis itu sampai menangis sambil merangkul tangan Alfen dibahunya yang jalan terpincang-pincang. Entah memiliki kekuatan darimana Dara bisa sekuat itu merangkul Alfen yang beratnya pasti jauh lebih berat dari Dara. Kadang kekuatan cinta memang begitu kan? Suka diluar nalar. Yang sangat disayangkan Gita, karena nyatanya sampai sekarang Dara masih tak peka soal perasaannya ke Alfen dan malah terpesona dengan seniornya yang entah tak Gita ketahui. “Hah?” Gita tersentak saat sebuah pukulan mendarat di tangannya. Siapa lagi kalo bukan ulah Dara. “Lo. Kita lagi ngumpul, lagi ngobrol kok malah bengong.” Cebik Dara yang merasa omongannya daritadi tidak ada yang mau mendengarkan. Apalagi Alfen yang terang-terangan lebih memilih nonton TV disbanding mendengar curhatannya soal Dion. “Gita tuh bosen denger curhatan lo mulu soal Dion. Jadian aja belum, udah curhatin doi mulu.” Balas Alfen yang langsung diberikan serangan balasan oleh Dara berupa kacang kulit yang berada didepannya.” Kupasin dong ah kalo mau lempar.” Ledek Alfen dengan suara dibuat-buat. “Gak kok.” Gita menggeleng membela Dara, merasa tak ada yang membelanya, Alfen menelungkupkan tubuhnya di sofa, berusaha menghindari cewek-cewek itu. ……….. Suasana perpustakaan fakultas kedokteran selalu ramai dikunjungi mahasiswa, termasuk Gita diantaranya. Mereka yang mengejar target lulus tepat waktu mau pun yang sudah lewat masa studinya berbaur disana. Mengesampingkan perut-perut yang lapar, nyatanya masih lebih penting tugas. Tak ayal kadang banyak yang gak fit karena tidak menjaga pola makan dengan baik. Ironis memang, disaat mereka mempelajari ilmu untuk nanti digunakan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, tapi kualitas hidup mereka sendiri terabaikan. Gita berjalan menyusuri rak-rak buku yang cukup tinggi. Sejak SMA perpustakaan adalah tempat favoritnya. Ia sangat menyukai bau-bau buku dalam perpustakaan yang menurutnya unik dan tak dapat ditemukan dimana pun. Setelah mengambil beberapa buku referensi untuk tugasnya, ia pun mencari kursi kosong untuk duduk. Sayangnya perpustakaan ini terlalu ramai bahkan beberapa mahasiswa duduk lesehan di lantal perpustakaan yang dilapisi karpet. Mata Gita menelusuri segala sudut perpustakaan dan menemukan tempat kosong di depan salah satu mahasiswi berambut panjang yang dibiarkan tergerai. “Orang kan itu?” Mendadak Gita jadi parno mengingat banyaknya cerita soal penampakan yang sering terjadi di perpustakaan ini. Tapi masa iya di siang bolong dan suasana ramai begini si doi sempet-sempetnya menampakkan diri. Akhirnya setelah merapal sedikit doa yang diingatnya dan berharap jika mahasiswi itu adalah manusia sungguhan, ia pun berjalan kesana dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara.” Eh, Safa?” Safa yang tadinya dikira penampakkan itu pun mengangkat wajahnya dan menatap Gita, ia tersenyum sekilas sebelum akhirnya menunduk lagi, membaca buku didepannya lagi. Tidak ingin mengganggu, Gita langsung duduk di kursi kosong depan salah satu mahasiswi yang dikenal cukup pintar setelah dirinya. Hanya Safa lebih sedikit pendiam dan penyendiri. Gita perhatikan buku yang sedang dibaca Safa, ternyata tentang penanganan pasien dengan kelainan jiwa. “Tertarik buat jadi psikiater kayaknya nih.” Ucap Gita yang tak tertahankan. Saking penasarannya. Memang sih beberapa mahasiswa disini sudah banyak yang tau passion mereka setelah lulus jadi dokter mau ngambil spesialis apa. Ia sendiri ingin melanjutkan ke spesialis obgyn seperti Ayahnya. Kebetulan Ayahnya juga sudah punya klinik sendiri, jadilah klinik itu akan dilanjutkan olehnya. Tentu menjadi partner Ayahnya juga dan setelah ia bisa mendapat ijin praktek sendiri nantinya. Gita sudah memikirkan matang-matang soal masa depannya, tak sedikit pun ia lewatkan. Kecuali soal perasaan. Sudah lama ia melewatinya. Dengan sengaja pastinya karena gadis itu merasa belum memerlukan seseorang yang akan selalu ada disampingnya, yang mencintainya. Ia malah takut jika nantinya ia hanya akan mengecewakan pasangannya karena kesibukannya. Merasa diajak bicara oleh orang didepannya, Safa mengangkat wajahnya lagi. Ia mengangguk. “Keren.” Gita membalas lagi.” Jarang-jarang loh. Apalagi menghadapi berbagai pasien seperti itu kan agak gimana gitu ya. Tapi gue yakin lo bakal jadi psikiater hebat.” Ia mengacungkan jempolnya. “Thanks.” Jawab Safa singkat. Kemudian melanjutkan kembali bacaannya. Gita melirik tumpukan buku disamping Safa. Semuanya tentang ilmu penyakit jiwa, sampai kelainan seksual. Agak merinding sebenarnya. Tapi namanya ilmu kedokteran kan luas serta bermacam-macam. Setiap jurusan khusus pasti perlu mental yang berbeda. Seperti dirinya yang berniat mengambil spesialis Obgyn, tentu ia harus siap dengan pasien-pasien hamil yang cenderung sensitive, apalagi proses melahirkan. …………. “Traktiran gue mana!” Dara berteriak ke Alfen yang membereskan bukunya. “Eh buset! Nih orang ya. Gue deket gini gak usah teriak kali.” Alfen mengusap-usap telinganya yang terasa “pengang” akibat tercemar suara Dara barusan. “Lagian lo bengong terus daritadi gue ajak ngomong.” Dara mencebik. “Iya kah?” Alfen tak sadar jika dirinya tadi melamun. Beberapa hari ini ia memang agak kepikiran soal Dara. Entah kenapa perasaannya tak enak melihat Dara semakin dekat dengan Dion. Cemburu? Jelas. Tapi ini tak hanya soal itu. Entahlah, Alfen sendiri tak mengerti.” Yaudah ayok. Mau gue traktir dimana?” Ia mengingat janjinya untuk mentraktir Dara usai kemenangannya di pertandingan futsal tempo hari. “Yang mahal pokoknya.” Dara nyengir, menunjukkan deretan giginya yang rapi. “Oke.” Alfen tak membantah. Mereka berdua pun berjalan keluar dari kelas menuju parkiran mobil. “Dara.” Dara menoleh ke sumber suara yang akhir-akhir ini menjadi suara favoritnya itu.” Dion.” Balasnya dengan senyum mengembang. Sementara pria di sampingnya hanya memutar bola matanya dengan malas.” Mau kemana kak?” “Biasa.” Dion mengedikkan dagunya kearah tempat biasa dia duduk menyendiri. “Lo disitu mulu. Gak kesambet nona kunti apa? Apa jangan-jangan lo ada hubungan gelap sama dia terus lo deketin Dara Cuma buat penyamaran lo?” Alfen menaikkan sebelah alisnya. “Apaan sih lo. Gaje banget.” Dara menyikut perut Alfen dengan sikunya. Cukup kencang tapi Alfen tak merasa sakit, lebih tepatnya mengabaikan rasa sakitnya. “Gapapa. Itu bener kok.” Ucap Dion dengan senyum misterius. “Eh?” Dara tak mengerti. Dion langsung tertawa begitu melihat perubahan ekspresi wajah Dara. “Becanda kali. Gue Cuma nanggepin candaan temen lo aja.” “Sahabat.” Ralat Alfen tanpa minat. “Oke. Have fun. Gue duluan ya.” Dion langsung pergi kearah berlawanan dari Dara dan Alfen. “Thanks, Fen.” Ucap Dara terdengar tulus. Alfen menaikkan alisnya kembali.” Sama-sama. Berarti traktirannya gak jadi ya.” Dara mencebik.” Maksud gue karena candaan lo yang jayus itu gue bisa liat tawa dari Dion di siang bolong gini.” Ia pun menarik tangan Alfen agar berjalan lebih cepat menuju mobil pria itu. Sebelum Alfen benar-benar membatalkan traktirannya. Salah lagi deh gue. Batin Alfen. ………… Dara memesan satu porsi lasagna, satu porsi mini pizza, satu gelas cappuchino dan segelas coke. Alfen hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Di depannya sekarang tersaji makanan-makanan pesanan Dara sementara ia hanya memesan sepiring spageti Bolognese cheese dan segelas lemon tea. “Lo makan banyak tapi kagak gede-gede.” Ucap Alfen yang melihat Dara mulai menyantap makanannya. “Mumpung dibayarin coy. Jadi gue pesen yang gue mau. Gak ikhlas lo?” Balas Dara sambil meninju lengan Alfen. “Ikhlas gue Cuma ngeri perut lo meledak aja.” Dara hanya tertawa kemudian mereka berdua mulai menghabiskan makanannya masing-masing. Bahkan Dara berhasil menghabiskan pesanannya. Padahal kalo dilihat dari postur tubuhnya, makanan sebanyak itu tak akan muat di perutnya. “Bisa bangkrut gue kalo nraktir lo tiap hari.” Alfen geleng-geleng kepala saat Dara bersendawa didepannya. Untung saja mereka duduk cukup jauh dari orang lain, kalo tidak bisa-bisa Dara akan dikira gak sopan karena bersendawa di tempat umum. Dara malah nyengir.” Sering-sering aja lo menang futsal ya.” Ia menepuk-nepuk pundak Alfen. Ya kalo lo jadi bini gue mah, gue traktir seumur hidup, Dar. Alfen membatin. …………. “Kenapa sih kamu gak bisa mencintai aku? Aku kurang apa?” Safa Nampak sangat terluka melihat Dion yang terus-terusan cuek tanpa pernah melirik sedikitpun kearahnya. Jangankan menatap, melirik pun tidak. “Gue gak suka ya gak suka. Kenapa maksa?” Dion terlihat emosi. Safa beranjak dari kursinya, kemudian berjalan menghampiri Dion yang hanya berjarak dua meter darinya, gadis itu pun duduk diatas pangkuan pria itu. Ia menyentuh wajah Dion dan mengusapnya dengan lembut, tapi Dion malah melengos tak menatapnya.” Cuma aku yang bisa nerima kamu apa adanya, sayang.” Dion berdecih.” Justru itu poinnya.” Ucapnya yang menatap Safa dengan menantang.” Karena lo terlalu penurut, jadi gak asik. Gue sama sekali gak tertarik.” “Apa rencana kamu memang? Emang ada wanita yang mau sama pria macem kamu? Cuma aku yang bisa mencintai kamu. Harusnya kamu bersyukur punya calon istri yang calon dokter kayak aku.” Safa keliatan kehabisan kesabaran. “Gue bisa dapetin yang gue inginkan.” Safa berdiri dari tempatnya, menatap Dion dalam. Entah kenapa gadis itu bisa mencintai Dion sedalam ini padahal yang dicintai sedetik pun tak pernah memiliki perasaan yang sama terhadapnya.” Mau kamu pacaran lagi kek, mau selingkuh ke siapa kek, yang jelas kamu akan nikah sama aku sebentar lagi.” Dion terkekeh geli.” Apa lo siap nikah sama gue?” ia mengangkat alisnya, meragukan gadis didepannya. Padaha ia tau Safa adalah satu-satunya orang yang nekat berada di sisinya walaupun dia tau siapa sosok Dion sebenarnya.” Lo bakal menderita.” “Lets see. Silahkan puas-puasin bermain dibelakang mau pun didepan aku. Yang jelas aku gak akan diam begitu saja. Sudah cukup kamu mencampakkan aku selama ini.” “ Lalu menyerahlah. Gue gak maksa lo buat berjuang.” Safa menggeleng tegas.” Ini jalan yang aku pilih, aku yakin kita akan jadi pasangan hidup yang cocok nantinya. Aku jamin itu.” “Oh ya? Jangan lo pikir gue akan memperlakukan lo berbeda ya karena lo udah tau gue. Gue akan melakukan hal yang sama ke lo, dan wanita lain. Dengan atau tanpa cinta. Adil bukan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN