“Gue gak percaya. Dia aneh banget.” Gita masih saja mengoceh saat perjalanan ke rumah Danil kembali.
Danil hanya diam, ia berhasil meredam emosinya. Kalo pun ia masih emosi pun percuma, gak akan bisa ia lampiaskan saat ini juga. Perasaannya malah tak enak sejak tadi. Membuatnya ingin segera sampai dirumah.
Sepi….
Memang sudah biasa jika rumah Danil terlihat sepi. Tapi ia merasakan kesepian yang lebih mendalam begitu menginjak lantai rumahnya.
“Lo pucet, lo sakit?” Gita tampak khawatir. Ia tau saat ini adalah masa-masa terberat bagi Danil, bukan hanya Resa.
Danil tak menjawab dan memilih melangkahkan kakinya menuju kamar Resa. Ia membuka pintunya perlahan dan melihat Resa tengah berbaring diatas ranjangnya. Ia menghampiri adiknya yang tampak sangat pucat itu.” Dek? Kamu tidur?” Ia menyentuh kening Resa.
Dingin.
“Dek?” Danil tampak panik.” Bangun, Dek! Kamu kenapa? Kamu gapapa kan?”
Gita langsung menghampiri Resa dan memeriksanya. Ia mengecek nadi di pergelangan tangan Resa dan di bagian bawah tulang rahangnya. “Kita harus kerumah sakit sekarang, Nil!” Ucapnya langsung.
Danil tak bertanya lagi, ia langsung menggendong Resa masuk ke dalam mobilnya. Gita mengikuti di belakang, tak lupa ia mengunci pintu rumah Danil.
Gita merasa jantungnya hampir copot saat dirinya tak dapat merasakan denyut nadi dari tubuh Resa. Ia hanya berharap ada keajaiban. Semoga.
………….
Dara dan Dion sampai di sebuah villa di Bali, tempatnya cukup terpencil. Tapi pemandangan pantai Nusa Dua dapat terlihat dari sini. Dion mengatakan mereka akan istirahat sejenak disini dan jalan-jalan nanti sambil menunggu wawancara kerja pria itu besok.
“Cuma sisa satu kamar.” Ucap Dion dengan tatapan bersalah.
Dara tampak bingung. Ia sangat lelah sekarang. Tapi saat perjalanan kesini penginapan cukup jauh dari sini, ia tak sanggup jika harus jalan lagi. Ini saja mereka jalan kearah villanya karena aksesnya yang agak ke dalam kebun dan tak bisa dimasuki mobil. Parkiran mobil sekitar lima ratus meter dari villa ini.
“Yaudah gapapa. Toh sehari aja.”
“Biar aku pesen dua single bed ya.” Ucap Dion sembari tersenyum manis seperti biasa.
Dara mengangguk setuju. Ia sama sekali tak ragu karena ia tau Dion selama ini sangat sopan dan menjaga tata karma didepannya. Jadi bermalam dengan Dion tak masalah kan?
Dion membantu Dara membawakan kopernya dan masuk ke dalam kamar. Villa ini memang besar dan menyewakan beberapa kamar. Menyewa satu villa pun bisa. Biasanya untuk acara kantor ataupun acara kampus.
Dua single bed sudah tersedia di dalam kamar. Kamar ini cukup luas dengan gaya modern. Banyak perabot penunjang seperti kulkas dan kompor. Bahkan balkon kamar ini mengarah langsung ke pemandangan pantai Nusa Dua. Sangat indah.
“Masih sore nih. Mau aku pesenin makanan? Aku lagi capek banget kalo cari makanan keluar lagi.” Dion langsung duduk diatas ranjangnya dan bersandar disana.
Dara yang asik menatap pemandangan didepannya pun mengangguk setuju. Ia juga merasa lapar daritadi tapi tak enak mengajak mampir. Takut jika Dion kelelahan.” Aku mau nasi goreng ya sama jus melon kalo ada.” Ia tersenyum.
“Oke.” Dion segera menelpon layanan villa lewat telepon yang tersedia disana.” Iya saya pesan nasi goreng satu, jus melon satu, soda satu sama kwetiaw satu ya. Di kamar sepuluh. Terimakasih.”
Dion beranjak dari tempatnya, menghampiri Dara dan berdiri disampingnya.” Pemandangannya bagus. Tapi kenapa gak di hotel aja kita nginepnya?” Tanyanya penasaran. Dara ingat mereka melewati banyak penginapan saat perjalanan kesini. Banyak hotel juga.
“Gapapa. Sekalian ngajak kamu refreshing. Pemandangan disini bagus. Aku pernah kesini sama temen-temen SMA dulu.”
Dara mengangguk mengerti. Pantas saja Dion tau tempat sebagus ini.
Dion mengulurkan tangannya, memeluk pinggang Dara. Membuat gadis itu berjingkat karena kaget. Dara langsung mundur beberapa langkah.” Sorry. Aku Cuma kangen aja.” Dion mengangkat tangannya dengan wajah menunjukkan rasa bersalah.
Dara tersenyum kikuk.” Gapapa. Aku kaget aja.” Ia berjalan menuju ranjangnya dan duduk disana.
Dion tersenyum seperti biasa. Senyum yang kadang tak bisa Dara artikan.” Kamu masih ragu sama aku?”
“Hmm?” Dara menatap Dion. Ia lalu menunduk.” Aku bingung.”
Dion menghampiri Dara dan berlutut didepannya.” Apa kurang perjuangan aku sampe jemput kamu kesini demi meluruskan kesalahpahaman kita?” Ia menggenggam tangan Dara dengan erat.
Dara menggeleng pelan.” Bukan gitu.”
“Terus apa yang harus dibingungkan? Aku akan yakinin keluarga aku soal hubungan kita.”
Dara mengangkat wajahnya, menatap pria didepannya. Dion tampak yakin.” Kamu serius sama hubungan kita?”
“Tentu saja.” Ucap Dion langsung seakan tak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya.
Dara terdiam. Ia merasa Dion memang dapat dipercaya walaupun dia agak terlambat dan membiarkan Dara larut dalam kesedihannya. Tadinya ia merasa siap melupakan Dion dan memulai kembali kehidupan barunya tanpa pria itu. Tapi melihat Dion lagi setelah sekian lama pasca ia tau soal hubungan Dion dan Safa, pertahanannya seakan runtuh.
Dion beranjak dan duduk disamping Dara. Ia masih menggenggam tangan Dara. Perlahan tubuhnya mendekat kearah gadis disampingnya itu.
Mengetahui Dion akan menciumnya, Dara segera menghindar. “Makanan kita kok belum dateng ya?” Ia mengalihkan pembicaraan.
Dion mengepal tangannya dan menyembunyikan kekesalannya agar tak terlihat oleh Dara. Ia malah tersenyum, membuat Dara takut.
“Gimana kalo kita jalan-jalan?” Dara merasa perasaannya tak enak sekarang. Ia merasa Dion yang bersamanya bukan seperti Dion yang biasa selama ini ia kenal. Ia ingin menghubungi Alfen tanpa membuat Dion curiga. Bukan bermaksud tak percaya, ia hanya ingin jaga-jaga saja.
Tok tok tok!
“Kayaknya makanan kita udah dateng. Lagian hari udah mau gelap, mendung juga. Kita juga butuh istirahat untuk perjalanan besok.” Dion segera menuju pintu kamarnya dan mengambil makanan yang ia pesan.
Dara menghela nafas.” Aku mau ke toilet dulu.” Ia pun beranjak dan masuk ke dalam toilet. Di dalam sana ia mencoba menelpon Alfen tapi nomornya tak aktif. Mungkinkah dia masih mematikan ponselnya? Dara mendadak merasa panic tapi ia berusaha sesantai mungkin. Ia merasa sangat bersalah karena hanya mengikuti kata hatinya yang sedang dipenuhi keraguaan ini. Ia pun memutuskan untuk mengirim pesan ke Alfen . Semoga dia segera membacanya.” Gita. Iya Gita.” Ia pun mengirim pesan juga ke Gita agar tak terlalu lama di dalam toilet. Bisa-bisa Dion curiga.
“Ra. Kamu mau tidur di dalam toilet?” Suara Dion yang juga mengetuk pintu toiletnya.
Dara segera keluar dari dalam toilet.” Perut aku sakit tadi.” Ia memegangi perutnya dengan wajah yang dibuat-buat.
“Itu karena kamu telat makan. Makanya hayuk kita makan dulu. Kan butuh tenaga.”
Butuh tenaga? Dara membatin. Ia pun mengesampingkan kecurigaannya karena cacing-cacing di perutnya memberontak minta asupan makanan. Ia menyantap nasi gorengnya. Tak ada pembicaraan saat itu. Dara meminum jus melonnya sampai habis karena ia merasa sangat haus dan juga…. Takut.
“Mau pesen minum lagi?” Tanya Dion yang melihat Dara seperti orang kehausan.
Dara menggeleng.” Udah gapapa. Masih ada air putih kok.”
Dion membereskan piring dan gelas bekas makan mereka dan meletakkannya di meja dapur. Ia melirik kearah Dara yang sedang memainkan ponselnya dan menatap keluar jendela yang mengarah ke balkon dan pemandangan pantai Nusa Dua. Ia tersenyum penuh arti.
Dara merasa tubuhnya memanas. Entah kenapa kamar seluas ini terasa gerah dan pengap. Ia sampai mengipasi dirinya sendiri dengan tangannya. Ada perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa seperti…. Ingin disentuh.
Tiba-tiba Dara merasakan sebuah pelukan dari belakang. Siapa lagi kalo bukan Dion? Dara segera memberontak dan menjauh dari pria dengan tatapan yang sulit Dara artikan. Seperti tatapan ingin memangsa?
“Kenapa, Ra? Apa salah aku mau menyentuh pacar aku sendiri?”
……………
“Gak! Gak mungkin.” Danil mundur beberapa langkah saat seorang dokter mengatakan padanya jika Resa, adiknya telah tiada. Bahkan katanya gadis itu telah meninggal sekitar tiga jam yang lalu. Tak lama setelah ia dan Gita meninggalkannya dirumah sendirian.
“Maaf. Tapi kami sudah berusaha maksimal. Sayangnya pasien memang sudah cukup lama meninggal. Tidak bisa tertolong.” Ucap dokter wanita itu dengan wajah merasa bersalah.
Danil berjongkok ditempatnya, memegangi kepalanya dan menangis meraung. Gita yang berada disampingnya hanya bisa menenangkan sambil memeluk pria itu. Ia juga tak kalah sedih dan shock. Apalagi Resa sempat membaik sebelumnya. Membuat Danil semakin terpukul.
“Udah, Nil. Lo nangis kejer pun Resa gak akan bangkit lagi.” Ucap Gita yang juga masih terisak. Rasanya sakit sekali kehilangan sosok Resa yang bahkan tak terlalu ia kenal juga melihat orang yang ia cintai sebegini sedihnya.
“Dia baik-baik aja kan, Git. Dia… Dia bahkan manggil gue… Kakak lagi. Kenapa… Kenapa dia malah ninggalin… gue.” Danil membenamkan wajahnya di dalam pelukan Gita. Hatinya sangat hancur sekarang. Keluarga satu-satunya yang ia miliki telah pergi, tak akan pernah kembali. Mungkin hanya melihat Resa yang tak pernah bicara selama empat tahun lebih akan lebih baik dibanding kehilangan adiknya selamanya seperti ini.
“Dia udah gak ngerasain sakit lagi. Dia udah tenang disana, Nil. Lo harus ikhlas. Lo masih punya gue.” Gita berusaha tegar. Walau ia sama hancurnya. Apalagi mengingat siapa yang membuat Resa seperti ini.” Mungkin dia sempat membaik demi ngasih tau lo apa yang sebenarnya terjadi. Biar kita bisa selesain masalah yang dia pendam selama ini. Biar dia lebih tenang saat ninggalin kita.”
“Gue takut, Git. Gue takut kesepian.”
…………
Danil duduk di ruang tunggu setelah mengurus dokumen pelengkap untuk surat kematian adiknya. Tatapannya kosong dan banyak sisa air mata di wajahnya. Wajah Danil tampak kacau, membuat Gita merasa sakit.
Gita hanya duduk disamping Danil tanpa bicara apapun. Bagaimana pun juga Danil pasti butuh ketenangan. Ia mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi ada di dalam tas.” Lowbet lagi.”
Danil menghela nafas. Ia memberikan sebuah powerbank ke Gita.” Nih pake.”
“Makasih.”
“Gue harus bikin Dion menderita. Dia harus dapet balasan setimpal.” Danil mengepal tangannya. “Gue gak mau ada korban lagi kayak adek gue dan Lita.”
“Lo bener. Tapi gimana caranya ungkap kasus dia? Kebanyakan korban kayak gini akan tutup mulut selama hidupnya. Kayak Resa dan Lita.”
“Lita beruntung. Mentalnya lebih kuat dari Resa.” Ucap Danil dengan nada lemah. Ia merasa tenaganya sangat terkuras hari ini. Seakan tak ada semangat untuk esok hari. Tapi jika ia lemah, ia tak akan bisa melenyapkan Dion dan membalaskan dendam adiknya.
“Astaga! Dara!” Gita baru teringat akan sahabatnya yang sedang bersama Dion itu. “Dia kan lagi sama Dion! Kalo dia kenapa-napa gimana.” Ia sangat panik. Ia sampai lupa jika sahabatnya itu sedang bersama pria keji berdarah dingin saking paniknya dengan keadaan Resa.
“Cepet hubungin Dara.” Danil jadi ikut panic.
Gita buru-buru menyalakan ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Dara.
Tolongin gue, Git T_T
Tangan Gita bergetar.” Dara, Nil. Dia dalam bahaya.” Ia pun segera menghubungi Alfen tapi ponsel pria itu masih gak aktif.” Gimana nih. Alfen gak bisa dihubungin juga.”
Danil ikut panik.” Lo tau nomor orangtua mereka yang di Surabaya?”
“Kayaknya pernah di share di grup.” Gita segera mencari kontak orangtua Dara dan Alfen di grup. Ia menemukan nomor Ibunya Alfen. Ia pun segera menghubunginya.” Halo… Tante.. Ini aku Gita. Alfen ada, Tan?... Bisa minta tolong bilangin dia untuk aktifin ponselnya, Tan?... Iya… Makasih Tante.” Ia menutup telponnya dan menatap Danil.” Gue takut Dara kenapa-napa.”