Resa mematut dirinya didepan cermin dalam toilet, Safa yang berdiri disampingnya pun melakukan hal yang sama. Mereka mengenakan dress selutut dengan warna yang sama. Hanya berbeda model. Resa mengenakan model dengan leher lebar sementara Safa cukup berani mengenakan dress dengan belahan d**a rendah, mengekspos bagian dadanya. Tapi Resa memang tau Safa sangat berani.
“Lo ngajak siapa ke prom?” Tanya Resa akhirnya. Ia memoles liptint di bibir mungilnya.
“Lo liat aja nanti.” Safa tersenyum manis seperti biasa.
Mereka pun keluar dari toilet dan berjalan menuju aula yang sudah ramai oleh teman-teman seangkatannya. Setelah satu minggu yang lalu dinyatakan lulus, hari ini mereka bisa bersenang-senang di promnight sekaligus pesta perpisahan sekolah. Memang taka da jalan-jalan seperti sekolah lain, hanya promnight. Katanya agar tidak membuang banyak budget.
Ruang aula tampak remang karena minimnya penerangan, tepatnya disengaja. Hanya kerlap-kerlip lampu kecil dan beberapa lilin yang menghiasi meja tempat makanan dan minuman.
“Gue laper. Gue mau ambil makan dulu ya kesana.” Ucap Resa sambil memegangi perutnya. Safa hanya mengangguk kemudian kembali menonton band sekolahnya yang sedang tampil.
Suara bising di dalam aula sama sekali tak mengganggu Resa. Ia justru senang. Sebentar lagi ia akan jadi mahasiswa seperti kakaknya, Danil. Melihat kakaknya berangkat kuliah dengan pakaian bebas dan jam yang bebas membuatnya sangat iri. Ia pun sampai di meja tempat makanan dan mengambil sepotong brownies lalu menggigitnya.
Manis.
Namun tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya secara paksa, Resa mengira itu Safa tapi dia tak bicara juga posturnya adalah postur pria dengan jas hitam. Seperti kostum murid-murid cowok lain disini. Penglihatannya tak terlalu jelas karena minimnya penerangan.
“Dion?” Resa tampak terkejut melihat Dion lah yang menarik tangannya sampai ke belakang gedung aula. Pria itu tampak mabuk. Entahlah. Bau alcohol jelas tercium oleh Resa. Membuat gadis itu mulai takut.
Dion kembali menarik Resa ke bagian gudang aula. Resa berteriak dan memberontak.
“Lepas, Dion! Ini gue Resa! Bukan Safa!”
Dion tak mendengarkannya. Ia membuka pintu gudang yang tak terkunci dan melempar Resa ke dalam serta menguncinya.
……………..
“Setelah itu…. Dia…” Resa tak meneruskan ceritanya karena Danil memeluknya sangat erat serta menggeleng kuat seakan menyuruhnya berhenti bercerita.
“Kenapa gak bilang dari awal sih biar kita laporin si b******k itu?”
Resa menggeleng.” Aku takut. Aku malu, kak.” Ucapnya dengan isakan yang menyayat hati.” Dia juga ngancem aku bakal sebarin video kejadian itu kalo aku lapor. Aku tertekan.”
“Ini udah tindakan criminal, Nil.” Ucap Gita akhirnya, setelah sekian lama diam karena takut salah bicara.” Apa Dion tipe cowok m***m begitu?”
Resa menggeleng.” Gak tau. Selama ini aku kenal dia biasa aja Cuma emang deket sama banyak cewek.” Ucapnya dengan nada lemah, ia mulai lelah karena banyak menangis dari kemarin. Tampak matanya yang sembap dan wajah yang bengkak. Kontras sekali dengan tubuh kurusnya.
“Menurut lo gimana, Git?” Tanya Danil yang berusaha mengontrol emosinya. Saat ini ia ingin sekali menemukan Dion dan menghajarnya sampai mati. Tapi ia tak mau gegabah.
“Menurut gue kalo dia sampe nyiapin buat video kayak gitu, berarti itu unsur kesengajaan. Biar korbannya tutup mulut. Gue kira dia pasti sering ngelakuin hal kayak gitu.” Ucap Gita yang terdengar sangat yakin.
“Dan mungkin gak Cuma Resa aja korbannya?” Danil tampak berpikir.
“Beberapa mantan Dion emang pindah sekolah setelah putus.” Ucap Resa lagi yang diam-diam tau riwayat percintaan mantan seniornya itu. Apalagi kalo bukan karena Safa yang menguntit?
“Nil! Lo inget pas gue kemaren ngumpet di rak supermarket?” Gita tiba-tiba teringat kejadian janggal kemarin.” Gue liat kasir disana kayak ketakutan dan tegang banget liat Dion. Tapi Dion keliatan santai gitu. Aneh gak sih?”
Danil mengerutkan keningnya.” Kita tanya aja ke dia? Siapa tau dia kenal juga sama Dion.”
Gita mengangguk setuju.
“Kamu gimana? Mau nunggu apa ikut kita?” Tanya Danil ke Resa yang tampak lemah itu.
“Aku disini aja. Masih lemes banget. Aku mau istirahat.” Ucap Resa lagi, wajahnya tampak pucat.
Danil mengangguk mengerti, ia mengusap kepala Resa dengan lembut.
Dingin.
“Kakak akan segera pulang.” Ucap Danil yang sedikit ragu untuk meninggalkan Resa sendirian.
Resa mengangguk.
…………..
Gita memperhatikan ke sekeliling supermarket, mencari wanita yang kemarin menjadi kasir disini. Tapi tak terlihat.
“Ada?” Tanya Danil yang memang tak bisa membantu karena ia tak melihat wajah petugas kasir yang Gita maksud kemarin.
Gita menggeleng. Ia pun menghampiri security yang berjaga di pintu utama.” Maaf pak. Saya mau tanya.”
“Iya, silahkan.” Ucap security itu, ramah.
“Bapak tau petugas kasir yang rambutnya pendek warna hitam, pipinya agak cubby dan ada t**i lalat di pelipisnya?”
“Ohhhh. Lita mungkin ya.” Jawab security itu terdengar yakin.
“Iya, pak. Dia jaga gak ya hari ini?” Tanya Gita yang sebenarnya tidak tau nama kasir itu, ia hanya mengingat ciri-cirinya. Itu pun sekilas dan hanya ciri-ciri yang menonjol saja.
“Ada kok. Dia jaga di bagian sayur-sayuran.”
“Oh gitu. Makasih ya, Pak.” Ucap Gita sambil tersenyum ramah.
“Sama-sama, neng.”
Gita dan Danil pun langsung masuk lagi ke dalam supermarket dan menuju area sayur-sayuran.
“Itu, Nil.” Gita menunjuk gadis yang ia maksud, gadis bernama Lita itu sedang memasukkan kentang-kentang dari troli ke rak. Gita pun segera menghampirinya.
Lita tampak terkejut dengan kedatangan Gita, apalagi ketika melihat Danil.
“Lita?” Danil tampak tak percaya. Ia memang memiliki kenalan saat SMA bernama Lita, lebih tepatnya dia adalah teman sekelasnya dulu. Sayangnya Lita pindah setelah masuk semester dua. Padahal saat itu mereka sudah kelas tiga SMA.
“Da… Danil?”
“Kalian udah saling kenal?” Tanya Gita.
Danil dan Lita mengangguk.
“Ada apa?” Tanya Lita sedikit kikuk.
“Ada waktu gak? Ada yang mau gue tanyain.” Ucap Danil akhirnya. Ia tak pandai basa-basi dan juga tidak ingin meninggalkan Resa lama-lama dirumah sendirian.
Lita menoleh ke salah satu temannya yang juga berjaga di area sayuran. Temannya itu mengangguk pertanda mengijinkannya. Mereka pun berjalan ke area foodcourt dan duduk disana.” Nanya apa?” Ia tampak bingung.
“Lo… Lo dulu kenapa pindah? Padahal udah mau lulus.” Tanya Danil.
Lita tampak ragu.” Gapapa. Pengen pindah aja.”
“Pengen atau terpaksa?” Danil menekankan pertanyaannya. Gita memegang lengannya seolah kode agar Danil lebih tenang.
“Itu…. Dion… Ah! Gue gak bisa. Gue takut.” Lita malah terisak. Ia menutupi wajahnya dan menangis.
Danil mengusap punggung Lita.” Gapapa. Gue butuh info dari lo. Gue Cuma mau apa yang Resa alami sama dengan yang lo alami.”
“Resa?” Tanya Lita seakan mengingat sesuatu.
“Adik gue.”
…………….
Dion dan Dara sudah sampai di Bandara. Rupanya pria itu memang sudah menyiapkan tiket, seakan semua sudah ia siapkan sebelum ia kesini. Mereka pun menunggu di Café dalam bandara karena jam keberangkatan mereka masih dua jam lagi.
Drrrtt drrrttt
Dion merasa ponselnya bergetar di dalam saku celananya, ia segera mengambilnya dan menerima panggilan.” Halo…. Iya benar… Oh ya?.... Ah!” Ia melirik Dara yang memperhatikannya.” Bisa saya hubungi lagi nanti untuk konfirmasinya?... Baik… Terimakasih.”
“Kenapa?”
Dion tampak bingung dan ragu.” Gue ada panggilan wawancara kerja di Bali. Besok pagi.”
“Oh. Terus gimana?”
“Kalo gue ke Jakarta dulu kayaknya buang-buang waktu banget. Dokumen sih udah gue kirim via email ke perusahaannya. Gimana ya?” Dion tampak berpikir, mencari solusi.
“Emhhh.”
“Kalo kita ke Bali dulu baru setelah wawancara kita pulang ke Jakarta gimana?”
Dara tampak berpikir. Ia sebenarnya tak masalah.” Tiketnya angus dong?” Ia menatap lembaran tiket didepannya. Rasanya sayang sekali tiket semahal ini harus hangus.
“Gapapa, Ra. Aku bayarin kan. Ini perusahaan bagus banget. Aku bisa belajar banyak dari sini sebelum ngurus perusahaan Ayah aku.” Ucap Dion dengan tatapan penuh harapan.
Dara akhirnya mengangguk setuju. Toh memang harusnya ia kembali ke Jakarta besok. Dan bersama Dion, harusnya tak masalah kan?
“Makasih ya, Ra. Kamu emang paling pengertian.”
……………..
Gita menyandarkan tubuhnya di jok mobil dengan perasaan tak karuan. Antara shock, tak percaya dan emosi. Semua bercampur jadi satu. Sementara Danil yang duduk disampingnya pun tak kalah menahan emosi yang bergejolak dalam dadanya.
“Sial!” Danil memukul dashboard mobilnya, seolah meluapkan emosinya disana.” Gue harusnya tau dari dulu kalo dia sebrengsek itu.”
“Dia keliatan innocent banget tapi ternyata…” Gita tak bisa berkata-kata lagi.
“Kita ke rumahnya sekarang.” Ucap Danil yang tak dapat menahan lagi emosinya. Dashboard saja tak cukup untuk melampiaskannya. Mungkin menghajar Dion sampai mati baru akan memuaskan dirinya.
“Terus lo mau apa disana? Kita gak ada bukti. Cuma saksi aja. Kalo dia mengelak gimana? Apalagi kejadian udah lama banget. Jelas tanda-tandanya udah ilang. Kalo pun cek ke dokter gak akan bisa ketauan. Bahkan korban p*********n aja kalo lebih dari sehari bisa jadi tanda-tandanya hilang.” Ucap Gita menjelaskan dengan realistis, dari yang ia pelajari di kampus.
Danil kelihatan frustasi.” Terus gimana? Gue gak bisa biarin si b******k itu berkeliaran. Gue yakin ada banyak korban lain.”
“Dia lebih pinter dari yang kita duga. Bikin video untuk menutup mulut para korbannya. Cuma melaporkan dia ke polisi tanpa bukti, dia pasti bisa lolos.”
Danil menyandarkan kepalanya diatas kemudi mobilnya.
“Kita temuin Safa dulu? Kita cari tau lewat Safa. Jangan langsung ke Dion. Dan jangan langsung cerita soal Lita dan Resa.” Gita memberi solusi.
Danil mengangkat wajahnya kembali dan mengangguk.” Lo tau rumahnya?”
Gita mengangguk.
………………
Gita, Danil dan Safa sekarang duduk di kursi taman rumah gadis itu. Safa tampak terkejut melihat kedatangan dua orang yang ia kenali dirumahnya.
“Ada apa, Git? Tumben.” Safa terlihat santai dengan dress rumahan bergambar hello kitty yang dikenakannya.
“Ini… Gue mau tanya soal…. Dion.” Gita agak ragu dan menjaga cara bicaranya agar Safa tak curiga.
“Dion? Kenapa?” Safa menautkan alisnya.
“Dia dimana?” Tanya Danil, langsung.
Safa tampak berpikir.” Kenapa gak kerumahnya langsung?”
“Kita Cuma mau pastiin ke lo dulu aja.” Ucap Gita dengan lebih tenang. Ia memegang lengan Danil seperti biasa, untuk menenangkan pria itu. Ia tau seberapa besar emosi yang Danil tahan sekarang.
Safa melirik tangan Gita dan tersenyum kecil. “Gue gak tau. Kemarin kita baru balik dari liburan. Mau gue coba hubungin dia?” Tanya Safa yang terlihat sangat tenang.
“Tapi jangan bilang kita yang tanyain ya.”
“Oke. Gak masalah.” Safa mengambil ponsel diatas meja. Kemudian mencari kontak Dion dan menelponnya.” Halo…. Iya ini aku…. Cuma mau tanya kok. Kamu lagi dimana? Oh… ke Bali… Wawancara kerja?... Oh oke oke…. Apa?... Oke. Hati-hati.” Ia mengakhiri telponnya.
“Dia ke Bali?” Tanya Gita, memastikan.
Safa mengangguk.” Gue emang tau dia abis ngelamar pekerjaan ke perusahaan di Bali. Tapi….”
“Tapi apa?” Danil tampak tak sabar.
“Dia sama Dara.” Safa mengedikkan bahunya, terlihat sedikit kecewa namun cenderung tenang.
“Hah?! Kok bisa? Dara kan di Surabaya sama Alfen. Kenapa jadi sama Dion?” Kali ini Gita yang tampak tak sabar.
“Mungkin dia mau menjelaskan hubungan mereka. Dan… Mutusin Dara. Mungkin.”
“Tapi kenapa harus di Bali?” Gita tampak gelisah.
Safa tersenyum kecil. Senyum yang mengerikan menurut Gita.” Harusnya gadis itu pintar dan cari tau dulu seperti apa pria yang dia dekati. Jangan asal liat gantengnya aja.” Ucapnya membuat dua orang didepannya terlihat bingung.
“Maksud lo?”
“Biarin mereka selesain apa yang harusnya diselesaikan. Bukan begitu?”