Dara menatap hamparan pasir didepannya, juga ombak pantai yang menyentuh kakinya. Ia dan Alfen sekarang sedang berada di pantai bagian Timur Jawa. Dara menghela nafasnya dan duduk di pasir pantai, membiarkan bajunya basah oleh ombak. Alfen ikut duduk disampingnya.
Sudah hampir seminggu mereka menghabiskan waktu di Surabaya. Tak banyak tempat yang mereka kunjungi. Karena memang Dara hanya ingin menenangkan diri sejenak, ia tak berniat liburan sama sekali. Sekarang hatinya sudah sedikit tenang. Bahkan ponsel pun ia matikan sejak sampai di Surabaya. Toh dinyalakan pun percuma, tak aka nada pesan dari Dion. Kalopun ada, untuk apa? Hanya akan memperkeruh suasana hatinya saja.
“Lusa kita pulang.” Ucap Alfen memecah keheningan diantara mereka. Hanya suara hempasan ombak dan angina pantai di sekitar mereka. Pantai ini cukup sepi karena lokasinya agak kedalam dan tak bisa dilalui mobil.
Dara hanya mengangguk setuju. Lagipula sudah cukup melarikan dirinya. Dalam tiga minggu lagi ia harus masuk kuliah seperti biasa dan kemungkinan bertemu Dion mungkin akan lebih kecil karena pria itu sudah lulus. Ia tak berharap banyak bisa bertemu Dion nantinya, tapi ia memang sedikit berharap ada kepastian akan hubungannya. Bukan hanya asal meninggalkannya tanpa kata-kata seperti ini.
“Gue beli minuman dulu. Lo tunggu disini ya.” Ucap Alfen yang langsung beranjak dari tempatnya.
Dara diam, menatap ke pantai didepannya. Matahari sebentar lagi akan terbenam. Langit begitu indah berwarna jingga dan kemerahan. Gadis itu menghela nafasnya. Ia menikmati hembusan angina pantai yang sedikit menyejukkan.
“Kamu disini ternyata.”
Deg!
Dara merasa sangat mengenal suara itu. Ia pun menoleh.
Benar saja.
Dion berdiri tepat di belakangnya dengan senyum yang tak dapat Dara artikan.
“Ka… Kamu ngapain disini?” Dara tergagap, antara bingung dan sedikit lega karena bisa melihat Dion lagi.
“Aku yang harusnya nanya. Aku nyari kamu seminggu ini.”
“Tau darimana aku disini?”
Dion mengedikkan bahunya. Lalu duduk disamping Dara. Gadis itu menggeser sedikit tubuhnya agar menjauh dari Dion. Entahlah, reflex begitu saja padahal ia juga ingin bertemu pria ini.
“Maaf.” Ucap Dion akhirnya.
Dara menghela nafas, sedikit lega. Karena memang ucapan maaf lah yang paling ia nantikan, juga ia takutkan karena pada akhirnya pasti hubungannya akan berakhir. Atau sudah?
“Safa itu temen SMA aku. Adik kelas aku tepatnya.” Lanjut pria itu sambil meluruskan kakinya dan menopang tubuhnya dengan tangan. Dara hanya diam dan mendengarkan.” Dia ngejar-ngejar aku dari dulu sampe akhirnya orangtua kami menjodohkan kami. Padahal sedikit pun aku gak ada rasa sama dia.”
Dara berdecih.
“Terserah kamu mau percaya atau engga. Maaf aku menghilang cukup lama. Karena aku mau nyelesain masalah ini sama keluarga aku dan keluarga Safa. Aku gak mau meneruskan pertunangan itu. Aku gak pernah sayang sama Safa.”
Dara masih tak ingin berkomentar, tepatnya ia bingung harus mengatakan apa.
“Tapi aku Cuma mau kamu. Aku sayangnya sama kamu sejak awal aku tau kamu stalker aku. Aku suka.” Dion menatap Dara dalam-dalam. Tapi gadis itu tak bergeming. Ia pun menghela nafas panjang seakan lelah.” Begitu aku kembali. Aku gak bisa nemuin kamu. Aku nanya kamu ke semua temen kampus kamu. Ponsel kamu juga gak aktif. Tapi ada yang ngasih tau kamu disini.” Ucapnya kemudian membuat Dara membalas tatapannya, sedikit tak percaya.
Apa mungkin Gita yang kasih tau? Dara membatin.” Aku gak mau ngerusak hubungan kamu dan Safa. Aku lebih baik ngalah. Aku takut disebut pelakor.” Ucapnya kemudian.
Dion menggeleng cepat.” Gak. Kamu bukan pelakor. Memang aku awalnya salah. Aku minta maaf. Tapi tolong kasih aku kesempatan.” Ucapnya dengan tatapan memohon.
“Hei!” Suara Alfen. Pria itu berlari kearah Dara yang sedang mengobrol dengan pria yang ia duga adalah Dion. Tapi sedang apa pria b******k itu disini? Dan tau darimana? “Ngapain lo kesini?!” Ia menarik kerah baju Dion keatas.
“Fen! Udah! Jangan!” Dara berusaha mencegahnya. Alfen pun luluh dan melepaskan Dion.
Dion membereskan kerah bajunya sambil tersenyum…. Sinis?
“Lo ngapain kesini?! Dara udah gak butuh lo!” Alfen mendorong pundak Dion sampai pria itu mundur beberapa langkah.
“Oh ya? Apa salah gue mau memperbaiki hubungan gue dan pacar gue? Kita belum putus, dan gak akan putus.” Ucap Dion dengan senyuman misteriusnya.
“Iya, Ra? Lo masih mau sama cowok b******k kayak dia?” Alfen menunjuk tepat kearah Dion.
Dara hanya menatap Alfen.
“Ra. Please kasih aku kesempatan. Aku gak akan nyakitin kamu lagi. Aku akan perjuangin kamu. Kamu harus percaya itu.” Ucap Dion dengan lantang, melawan suara angina sore yang kian kencang.
Dara masih terdiam.
“Kalo kamu mau ngasih kesempatan. Besok aku tunggu kamu disini. Aku udah pesen tiket pesawat untuk kita pulang sama-sama. Sekalian kita obrolin lagi masalah ini dan aku bakal yakinin kamu. Yang jelas gak akan ada yang ganggu obrolan kita.” Ucap Dion sambil melirik kearah Alfen.
“Gak! Dara pulang sama gue!” Ucap Alfen tak kalah lantang.
Dion hanya tersenyum sambil menatap Dara. Gadis itu hanya menatap kedua pria didepannya bergantian.
“Gue pulang sama Dion, Fen. Sorry. Gue butuh kepastian hubungan gue.” Ucap Dara akhirnya membuat sesuatu dalam diri Alfen lagi-lagi patah.
Dion mengulurkan tangannya, mengusap kepala Dara dengan lembut.” Besok gue tunggu lo disini. Pesawat kita jam sepuluh.” Ucapnya lalu pergi dari sana setelah menatap sinis kearah Alfen.
“Lo gila?! Lo gak sadar dia b******k?!” Alfen tampak murka. Ia tak menyangka Dara akan setuju pulang bersama Dion.” Kepastian apa lagi? Dia udah khianatin lo? Kontrak kerja aja kalo ada kesalahan berarti kontraknya batal Ra. Apalagi hubungan!”
Dara menunduk, menatap pasir pantai dengan perasaan bingung.” Ini kesempatan pertama dan terakhir gue, Fen. Mungkin di perjalanan nanti gue akan semakin yakin untuk mempertahankan Dion atau enggak.”
“Bener ya termyata. Cinta bikin lo b**o!”
……………
Gita menatap Resa yang tengah tertidur diatas ranjangnya. Gadis itu sudah mulai tenang setelah mengamuk beberapa jam yang lalu. Untungnya Danil segera memberinya obat penenang sehingga Resa akhirnya bisa tenang dan tertidur.
“Sorry ya. Jadi gak enak suasananya.” Ucap Danil yang berdiri disamping ranjang adiknya.
Gita yang berdiri di ambang pintu pun hanya diam. Mencerna apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Resa menyebut-nyebut nama Dion dengan histeris. Seakan pria itu ada didepannya dan entah melakukan apa sampai Resa sehisteris itu.
Danil pun mengajak Gita ke ruang makan. Mereka akhirnya memesan makanan karena Danil tak sempat melanjutkan masakannya.” Sorry ya jadi makan junkfood deh kita. Ini pertama kalinya Resa sengamuk itu. Sampe berjam-jam.” Ucapnya dengan wajah lelah.
Gita mengangguk mengerti.” Gapapa kok.”
“ Abis ini gue anter lo pulang ya. Takut kemaleman.”
“Gue pulang sendiri aja. Kasian kalo Resa sendirian.”
“Yakin? Gue pesenin taksi online ya?”
Gita mengangguk setuju.
…………..
Dara membuka pintu rumahnya dan segera pergi ke tempat pertemuan dengan Dion. Ia sudah pamitan dengan kedua orangtuanya dan orangtua Alfen juga. Tapi ia tak menemukan Alfen dimana pun. Katanya pria itu pergi dari pagi, entah kemana. Dara hanya menghela nafas dan meninggalkan rumahnya.
Alfen menatap dari tempatnya, ia melihat Dara sudah masuk ke dalam taksi dengan koper kecilnya. Gadis itu benar-benar pergi sekarang. Entah kenapa perasaannya tak enak sejak semalam, bahkan ia sampai tak bisa tidur. Ia menghela nafas panjang, nyatanya mencintai Dara tak semudah itu. Berkali-kali hatinya harus patah, tanpa si “pelaku” tau jika dia yang mematahkannya.
…………
Drrttt drrrttt!
Gita mengambil ponsel yang berada diatas meja belajarnya.
Panggilan dari Danil.
Gita segera menekan tombol hijau.” Ya?.... Apa? Oke. Iya gue kesana sekarang.” Ucapnya dengan nada panik. Ia pun segera bangkit dan bersiap ke rumah Danil dengan ojek online agar lebih cepat dan menghindari kemacetan. Setelah sampai, Gita langsung masuk ke dalam rumah besar itu yang pintunya sudah terbuka. Seakan menunggu kedatangannya.
Suara isakan tangis terdengar sangat jelas dari kamar Resa. Gita segera mendekat kesana.
Danil sedang duduk disamping Resa yang juga dalam posisi duduk dan bersandar di ranjangnya. Pria itu melihat Gita yang berdiri di ambang pintu dan menyuruhnya masuk ke dalam.
“Kenapa lagi, Nil?” Tanya Gita dengan wajah cemas.
“Tadi… Tadi Resa manggil nama gue. Untuk pertama kalinya.” Ucap Danil dengan menahan isakannya. Gita tau, pria itu bahagia. Sangat.” Katanya dia mau cerita.”
Resa masih terisak di tempatnya sambil menggenggam bingkai foto yang berisi foto dirinya bersama Safa.
“Kamu kangen sama Safa?” Tanya Danil dengan hati-hati.
Resa menggeleng lemah. Tangan kurusnya membuka bingkai foto itu yang ternyata terlipat. Ada Dion di sebelah Safa tapi fotonya terlipat sehingga menyisakan potret Resa dan Safa saja. Ternyata mereka foto bertiga, bukan berdua.
Gita mengerutkan keningnya.
“Dia….” Resa menunjuk foto Dion yang tampak tersenyum kecil sambil menatap ke kamera. “Dia… memperkosa aku kak.” Ucapnya lalu tangisnya pecah kembali.
“Apa?!” Danil dan Gita tampak sangat terkejut.
Resa menangis histeris dan membuang bingkai foto itu ke lantai hingga kacanya pecah.” Aku benci! Aku benci Dion! Aku benci diri aku sendiri!” Ia memukul-mukuli tubuhnya sendiri. Danil berusaha mencegahnya sebisa mungkin.
“Kamu tenang, Dek. Jangan siksa diri kamu lebih dari ini.” Ucap Danil dengan suara lembut, ia menarik Resa ke dalam pelukannya.
“Aku gak kuat kak! Aku malu! Aku trauma!”
Gita menutup mulutnya sendiri, tak tahan dengan fakta yang terungkap soal mantan pacar dari sahabatnya itu.
“Kamu yang tenang dan ceritain semuanya ke kakak.”
Resa masih terisak dan berusaha menghentikan isakannya sebisa mungkin. Nafasnya tersenggal.” Waktu promnight.”
………….