28

1861 Kata
Dara sibuk menikmati pemandangan diluar jendela ketika kereta api yang ia naiki berangkat. Gedung-gedung tinggi yang sudah biasa ia lihat mulai berganti dengan pemandangan sawah-sawah cantik dan pepohonan. Memang dipinggiran ibukota masih terdapat banyak sawah. Semakin lama perjalanannya, semakin banyak pemandangan hijau yang menemani perjalanannya. Sementara Alfen malah sibuk memainkan game di ponselnya. Dara memegangi dadanya yang terasa berdesir aneh ketika menatap Alfen, entahlah. Kedekatannya dengan Alfen yang sangat intens hampir dua minggu ini nyatanya menumbuhkan perasaan aneh dalam hatinya. Padahal urusannya dengan Dion belum selesai, malah tumbuh perasaan yang rasanya tak seharusnya ada. Ia sendiri tak yakin. Mungkin ini hanya perasaan merasa bersalah karena pernah tak mempercayai sahabatnya sendiri, juga perasaan berterimakasih karena Alfen begitu sabar menemaninya dalam kondisi hati yang sedemikian rapuh. Sekitar hampir dua belas jam perjalanan dengan kereta, mereka sampai di stasiun Surabaya Kota. Dara dan Alfen memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka menggunakan taksi online yang mulai banyak di Surabaya ini. Kemacetan dan suhu yang lebih panas dari Ibukota cukup membuat Dara dan Alfen lelah. Kelelahan mereka terbalaskan ketika mereka sampai di ruko besar tempat usaha kedua orangtua mereka sekaligus tempat tinggalnya. Ruko yang bertingkat tiga itu terlihat cukup mewah dengan ukiran kayu jati disetiap sudutnya juga lantainya yang terbuat dari kayu jati. Beberapa pohon tampak tumbuh lebat dan terawatt sehingga membuatnya terlihat sejuk. “Mah! Pah!” Seru Dara ketika sampai disana dan melihat kedua orangtuanya sedang minum teh di kursi taman yang juga terbuat dari kayu jati. “Dara! Alfen! Kok gak ngabarin kalo udah sampe? Kan tadi bisa dijemput.” Ucap Sari, Ibunya Dara. Mereka berdua langsung menyalaminya. “Gapapa. Males nunggu lagi. Panas banget coba.” Dara mengusap keningnya yang penuh keringat. Jaket yang dari Jakarta dikenakan pun akhirnya ia lepaskan dan diikat di pinggangnya. “Yasudah nanti mamah yang siapin minuman untuk kalian. Kamu duduk disini ya. Kopernya biar Papah sama Alfen bawa ke dalem.” Ucap Doni, Papahnya Dara. Ia kemudian menarik koper milik anak semata wayangnya itu sekaligus merangkul Alfen masuk ke dalam. Kebetulan saat itu ruko sedang sepi. Hanya beberapa pekerja yang sedang menyelesaikan pesanan pelanggan. “Ayah Ibu aku dimana, Om?” “Mereka lagi ke pasar. Karena tau kalian mau liburan disini. Mereka excited banget.” Ucap Doni sambil tertawa. “Masih aja lebay ya mereka.” Kekeh Alfen yang memang tau kekonyolan kedua orangtuanya yang suka lebay diatas rata-rata itu. Bahkan ketengilan ayahnya sepertinya turun ke dirinya. “Ya namanya jarang ketemu anaknya.” …………… Malam ini keluarga Dara dan Alfen makan malam bersama. Diana, Ibu Alfen dan Sari kompak memasak bebek goreng khas Surabaya. Mereka berdua tau jika anak-anaknya menyukai makanan pedas. Maka makanan khas Surabaya adalah yang paling tepat. Berbeda dengan makanan khas Jogja maupun Solo yang cenderung manis. Karena di Surabaya walaupun orang jawa identic dengan makanan manis, tapi makanan khas mereka kebanyakan pedas, seperti Madura. “Rencana kalian liburan disini mau kemana aja?” Tanya Diana yang membuka pembicaraan setelah makan malam selesai. Sekarang mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Rumah orangtua Dara dan orangtua Alfen memang disatukan. Karena memang usaha bersama. “Belum tau. Liburan dadakan sih.” Ucap Dara yang agak kurang tertarik. Ia masih kepikiran soal hubungannya. “Loh tumben. Biasanya kamu paling suka jalan-jalan. Tiba-tiba kesini emang kangen kita apa lagi melarikan diri dari seseorang?” Doni malah meledek yang sialnya ngena banget di Dara. Alfen sampai berdehem. “Apa sih, Pah! Sotoy banget.” Dara mencebik. Walau ia dan orangtuanya saling berjauhan, kenyataannya orangtua Dara apalagi Ayahnya paling tau soal anak mereka satu-satunya. Doni terbahak kemudian mengacak-acak rambut Dara yang membuat gadis itu makin cemberut.” Kok marah? Beneran berarti ya? Iya Fen?” Ia malah balik bertanya ke orang terdekat anaknya. “Kirain kalian pacaran. Kan lumayan kita gak usah cari besan jauh-jauh.” Kali ini Diana yang membuka suara diselingi senyum jahilnya. “Tambah ngaco deh!” Balas Alfen akhirnya.” Emang aja Dara lagi galau.” “Wah! Siapa cowok yang bikin anak papah galau sampe kabur kesini?” Tanya Doni sok perhatian. Dara langsung melotot kearah Alfen yang dengan embernya bilang seperti itu.” Alfen boong tuh, Pah!” Alfen hanya mengedikkan bahunya tak peduli. “Ya tapi kalo emang ada masalah sama pacar ada baiknya gak melarikan diri loh.” Nasehat Sari yang memang terkenal kalem sebagai sosok seorang Ibu. “Kalian gak seneng ya aku kesini.” Dara menyilangkan tangan didepan dadanya dengan wajah cemberut. “Gak gitu.” Doni mengusap kepala Dara, kali ini dengan lembut.” Tapi kan bener. Harus dibicarakan.” “Mau dibicarain gimana? Orang dia yang bohongin aku. Udah tunangan malah. Tunangannya sendiri yang bilang.” Dara menutup mulutnya sendiri yang malah keceplosan. Semuanya tertawa kecuali Alfen, pria itu memilih untuk memainkan ponselnya, merekam wajah galau Dara dan mengupload ke social medianya. “Orangnya udah jelasin ke kamu? Apa alasannya kalo emang dia bohong? Atau kalo kenyataannya dia gak bohong gimana?” “Loh kok pada belain tuh playboy sih.” Sungut Alfen tak suka. Jelas-jelas ia tau Dion berkhianat. “Ya kan kita Cuma bersikap netral. Kok kamu yang ngegas sih? Cemburu ya?” ledek Diana dengan senyum khasnya. Skakmat! “Yaudah kan kamu udah dewasa pasti tau cara menyelesaikan masalah yang baik, yang jelas melarikan diri bukanlah hal yang benar.” Kali ini Mario yang angkat bicara, ia sudah menganggap Dara sebagai anaknya sendiri. Yang lain mengangguk setuju dengan ucapannya. Terus alasan dia menghilang dan bukannya menjelaskan, apa itu benar dalam sebuah hubungan? Atau sebenarnya itu salah satu penjelasannya jika semua itu benar. Dan gue bukan siapa-siapa. Batin Dara. …………. Hari pertama di Surabaya hanya Dara habiskan dengan bermalas-malasan di saung yang dibangun didekat kolam kecil berisi ikan-ikan siap panen. Orangtua mereka memang rajin. Bahkan mereka memiliki kebun kecil yang ditanami berbagai tanaman sayur dan buah. “Woy! Ayolah jalan-jalan. Dirumah mulu sumpek!” Alfen menepuk pundak Dara cukup keras tapi gadis itu hanya meringis sedikit. “Males ah! Panas.” “Halah kayak di Jakarta gak panas aja. Udah ayok. Gue bawa motor bokap nih nanti.” Alfen langsung beranjak pergi dan meninggalkan Dara. Dara menghela nafas. Ia juga sebenarnya bosan tapi mau gimana lagi. Hatinya seperti tak ada disini. Tapi ia akhirnya beranjak juga dari tempatnya setelah memetik buah apel malang yang sudah tumbuh lebat. Padahal hanya pohon cangkokan dan masih kecil tapi buahnya cukup banyak. Akhirnya Dara pun pergi dengan Alfen ke alun-alun Surabaya, tempat yang cukup jauh dari lokasinya. Sekitar setengah jam naik motor. ……………… Gita mengecek ponselnya beberapa kali sambil memperhatikan jalan raya didepannya. Beberapa kendaraan berlalu lalang seperti biasa, juga kemacetan. Setelah beberapa menit yang lalu ia menerima pesan dari Danil untuk bertemu, dan sekarang ia sudah disini. Di sebuah halte bus, menunggu pria itu datang menjemputnya. Tak lama sebuah mobil Terios putih berhenti didepannya. Kaca mobil terbuka, memperlihatkan Danil didalam sana.” Ayok!” Gita mengangguk walau agak bingung karena biasanya Danil bawa motor. Tapi ia tak mau terlalu memikirkannya. Sama saja. Ia pun langsung beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam mobil pria itu. Mobilnya langsung melaju. “Sorry ya. Motor gue lagi servise bulanan jadi gue bawa mobil deh.” Gita mengangguk mengerti.” Gapapa kok.” “Udah lama gak bawa mobil. Dulu gue bawa mobil ini kalo mau jalan-jalan sama Resa. Tapi sejak dia begitu, gue gak pernah keluarin mobil ini dari garasi kecuali buat servis aja. Rasanya sepi kalo naik mobil sendirian.” Lanjut Danil dengan tatapan sendunya yang jelas menyimpan banyak kesedihan disana. Apalagi ia sendirian disamping Resa, tak ada keluarga yang mau peduli dengannya. “Kita mau kemana sekarang?” “Ke rumah gue gimana? Kebetulan gue mau masak. Kasian juga Resa gak ada yang jagain.” “Oke gapapa kok.” “Tapi kita ke supermarket dulu ya. Ada yang mau gue beli.” Gita lagi-lagi mengangguk. Sesampainya di sebuah supermarket, mereka turun dari mobil. Danil mengambil keranjang dan menyusuri rak-rak disana. Ia mengambil beberapa bahan makanan, buah dan cemilan. Sementara Gita menyusuri area minuman. Sekilas ia melihat sosok Dion yang sedang mengantri di kasir. Ia memicingkan matanya berusaha memperjelas pandangannya. Tidak salah lagi. Itu Dion. Pria itu tampak seperti biasa hanya lebih dingin saja terlihat. Gita bersembunyi di rak yang tak jauh dari tempat Dion, demi mengintai pria yang berhasil menyakiti hati sahabatnya. Ia melihat Dion mulai membayar sesuatu tapi anehnya wajah wanita petugas kasir itu seperti ketakutan saat melihat Dion. Entah hanya perasaan Gita saja atau bukan. Dan Dion pun tampak cuek saja meninggalkan petugas kasir yang seperti shock melihatnya. “Kok aneh? Dia gak terpesona sampe ketakutan gitu kan? Dion gak seganteng itu.” Gita menggeleng. “Kenapa, Git?” Danil memegang pundak Gita, membuat gadis itu kaget hingga nyaris jatuh ke belakang, untungnya pria itu sigap dan menangkapnya. Sepersekian detik tatapan mereka bertemu. “Sorry!” Gita langsung mengumpulkan kesadarannya secepat mungkin. Kalo tidak bisa-bisa ia akan mati berdiri saking terpesona dengan Danil. “Eh iya.” Danil tampak kikuk.” Yaudah yuk. Gue bayar dulu ya. Sini minuman lo biar sekalian.” Ia pun mengambil botol minuman dari tangan Gita. Gita hanya mengangguk dan menunggu didekat pintu masuk. Setelah selesai mereka langsung masuk kembali ke mobil dan menuju rumah Danil. Seperti biasa. Rumah besar itu tampak sepi. Resa duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong. “Hay, Resa.” Sapa Gita walau ia tau Resa tak akan membalasnya. Danil menuju dapur yang berbatasan dengan ruang tamu. Meletakkan belanjaannya ke dalam kulkas. “Mau macaroni carbonara, Git?” Tanyanya kemudian. “Apa aja gue doyan kok.” Canda Gita membuat Danil terkekeh. Gadis itu pun menghampiri Danil, memperhatikan pria itu menyiapkan masakannya. “Tadi lo ngapain ngumpet di rak, kayak lagi nguntit orang.” Gita terkekeh.” Gak lah. Gue Cuma liat Dion aja tadi.” “Dion?” Kening Danil mengerut.” Sama Dara?” “Gak lah.” Gita menggeleng cepat.” Mereka udah putus. Makanya Dara dan Alfen lagi ke Surabaya, biar dia cepet move on.” “Seriously? Kok bisa?” Danil tampak tak percaya karena sepenglihatannya Dara dan Dion sangat cocok. “Dion udah tunangan sama temen kampus gue ternyata. Gila kan!” Gita tampak bersemangat menceritakan soal kisah cinta sahabatnya itu. “Hah? Gila! Gak nyangka dia tipe cowok begitu.” Danil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dan lo tau siapa tunangannya Dion?” Danil menatap lekat kearah Gita, alih-alih menyiapkan bahan yang akan dimasaknya. “Safa! Temennya Resa!” Gita melirik kearah Resa yang terlihat pucat.” Eh Resa kenapa?” Ia segera menghampirinya dan juga Danil. Pria itu meletakkan pisau yang dipegangnya dan menghampiri Resa yang duduk di sofa. Resa menutupi telinganya sambil menggeleng dan menangis kuat. Bahkan ia menjerit seperti orang kesetanan.” ENGGAK! GUE GAK MAU KAK! JANGAN!” “Resa! Resa! Sadar!” Danil memegangi pundak adiknya itu dengan susah payah karena tubuh Resa menolak untuk disentuh. “Kak. Gue takut.” Untuk pertama kalinya, Resa menatap Danil dengan tatapan ketakutan yang begitu jelas. “Takut apa? Kasih tau kakak.” “Dion. Aku takut.” Ucap Resa sambil menatap ke sekelilingnya dengan wajah ketakutan seakan ada seseorang yang memperhatikannya. “Dion?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN