27

1624 Kata
Dara merasakan tubuhnya begitu berat dan ngilu, juga matanya yang seakan sulit terbuka. Ia meringkuk di ranjangnya sambil menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Rasanya enggan untuk bangun. Matanya mendadak terbuka lebar mendengar suara pintu kamar yang terbuka serta memory tentang kejadian semalam yang langsung membuatnya terbangun saat itu juga. Ia dalam posisi duduk sekarang ketika Alfen berjalan kearahnya sambil membawa nampan yang membuat hidung gadis itu mencium aroma bubur ayam favoritnya. “Elo…” Dara menatap terkejut ke Alfen yang meletakkan semangkuk bubur ayam yang menggoda itu di nakas samping ranjangnya. Dara baru sadar jika ia tak berada dikamarnya sendiri melainkan di kamar Alfen, jelas karena selimutnya sekarang bergambar logo salah satu tim sepak bola favorit pria itu. “Gue kira lo mati. Pingsan lama banget. Gegayaan ujan-ujanan. Emang lo pikir film India?” Ucap Alfen dengan nada datar.” Lo gak joget-joget di pohon kan kemaren pas jalan kerumah gue?” “Gak lah yang ada gue kesamber petir.” Balas Dara dengan sengit. Alfen terkekeh geli, merasa Dara sudah kembali menjadi sahabatnya yang dulu.” Mending lo makan dulu. Lo pingsan hampir enam jam tau. Tadinya gue mau bawa ke rumah sakit kalo sampe malem lo gak juga sadar.” Dara tampak terkejut. Apakah ia pingsan selama itu?” Lo gak ngapa-ngapain gue kan?” Dara memperhatikan bajunya yang tampak kering dan berbeda dari baju yang ia kenakan sebelumnya. Gadis itu ingat sekali pakaian yang dikenakannya saat bertemu Safa tadi siang. Wajah Alfen mendadak memerah.” Ya mau gimana lagi. Masa gue biarin lo kedinginan dan masuk angina. Kalo makin parah gimana!” Ia mengusap wajahnya dengan kasar.” Yaelah! Lagian dulu kita pas kecil juga sering mandi bareng!” “Itu beda, bodoh!” Dara melempar bantal yang tepat mengenai wajah Alfen. “Gue gak macem-macem. Sumpah!” Ucap Alfen dengan ekspresi yang tak dapat ditebak. Antara malu, grogi dan lega? Dara malah tertawa geli melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.” Sini lo.” Ia menepuk tempat kosong disampingnya. Alfen menghampirinya dan duduk di samping Dara tanpa bantahan. Dara langsung melingkarkan tangannya di pinggang pria itu dan menelungkupkan wajahnya di d**a bidang milik Alfen.” Sorry, Fen. Gue sempet gak percaya sama lo.” Alfen merasa jantungnya hampir copot, padahal mereka sudah biasa berpelukan sejak dulu. Tapi hari ini rasanya beda. Pria itu takut jika Dara mendengar detak jantungnya yang berdegup diatas normal ini. Apalagi sampai mempertanyakannya. Bahaya. Tapi melepaskan pelukan senyaman ini kok rasanya sayang ya. Ia akhirnya memilih untuk mengusap kepala Dara dengan lembut.” Yang penting lo baik-baik aja. Lo hanya perlu tau gue Cuma mau jagain lo.” Ucapnya dengan lembut, tak seperti biasanya. Tapi Dara merasa nyaman. Tadinya Dara pikir Alfen akan menolak kehadirannya atau bahkan mengusirnya dengan makian. Nyatanya Alfen menerimanya dengan tangan terbuka, bahkan dia bersikap seperti biasa seakan tak ada masalah sebelumnya diantara mereka. ………….. Walau tak ada bukti kuat soal pertunangan Dion dan Safa, Dara berusaha menerima keadaannya. Bahkan hampir dua minggu ini ia tak melihat sosok Dion dimana pun. Pria itu tak terlihat dikampus maupun menghubunginya. Bukankah itu jelas jika hubungan Dion dan Safa memang benar? Juga hubungannya yang pasti telah kandas. Menyedihkan memang. Hubungan yang selama ini Dara idamkan harus berakhir bahkan tanpa pamitan. Seakan dirinya hanya sampah yang dibuang begitu saja. Dara memutuskan focus untuk melewati pekan ujiannya juga mendukung Alfen di turnamennya. Bersama Gita, mereka berdua menyoraki untuk menyemangati Alfen yang saat itu bertanding. Karena pertandingan seminggu lalu tertunda karena hujan deras sehingga lapangan tak dapat dipakai sementara lapangan indoor pun sedang direnovasi. Jadilah turnamen itu diadakan di akhir pekan ujian. Beruntung karena Alfen jadi bisa focus dengan ujiannya dulu sebelum memikirkan turnamennya. Seperti biasa pria itu berhasil mencetak gol dan kemudian berlari mengelilingi lapangan karena itu adalah gol di menit terakhir sebelum pertandingan usai yang menandakan timnya menang. Calista berlari menghampiri Alfen yang sedang bereuforia dengan teman satu timnya di pinggir lapangan. Tapi Alfen buru-buru menepis tangan gadis itu dari pinggangnya karena Calista sedang berusaha memeluknya. Alfen malah berlari menuju Dara dan Gita yang duduk di kursi penonton yang tak jauh darinya. Meninggalkan Calista dengan wajah cemberutnya. “Gue kira lo mau pedekatean sama dia.” Ledek Dara sambil mengedikkan dagunya kearah Calista yang sedang menatap kesal kearah mereka. Ia sering melihat gadis berambut pirang itu, memang tatapannya tak pernah bersahabat jika melihat Dara. Alfen bergidik ngeri.” Dia bukan tipe gue kali.” “Tipe lo gimana emang?” Tanya Gita sambil menaik-naikkan alisnya. Rupanya sahabatnya itu sedang berusaha memancingnya. “Kepo lo!” Alfen menjitak pelan kepala Gita. “Sialan lo ah!” ………….. Gita menyenggol lengan Alfen agar pria itu memperhatikan Dara yang sejak tadi melamun dan sesekali mengecek ponselnya itu, seakan menunggu sesuatu. “Kenapa lo?” Tanya Alfen langsung. “Mikirin cowok b******k itu lagi?” Ucapnya terang-terangan yang kali ini tak mendapat bantahan dari Dara. Mungkin gadis itu sudah sadar jika kekasihnya memang b******k. Eh tapi Dara dan Dion belum ada kata-kata putus, apa masih bisa dibilang kekasih? “Gue gak tenang aja. Gak ada kata putus diantara kita. Kecewa juga pasti. Rasanya gimana ya. Sakit banget.” Ucap Dara yang tak menutupi perasaannya sendiri. Percuma, kedua sahabatnya ini jelas sudah tau pasti. “Ya elah gak usah kayak ABG baru pacaran deh. Dikit-dikit ditembak terus jadian terus bilang putus. Kalo udah dewasa mah yaudah jalanin hidup masing-masing kalo memang udah gak ada yang bisa dipertahankan.” Ucap Alfen yang agak sok tau tapi emang bener itu. Gita mengangguk menyetujui ucapan Alfen. “Tapi gak enak aja kayak digantung.” “Lonya jangan dibawa lebay. Let it flow aja.” Alfen menepuk pundak Dara, berusaha menguatkan sahabatnya itu. Dara menghela nafas.” Gue butuh refreshing deh.” Ucapnya. “Yuk! Ke Surabaya gimana? Kan udah libur nih, sekalian ketemu nyokap bokap kita.” Usul Alfen langsung mengingat sudah enam bulan lebih ia tak mengunjungi orangtuanya yang bekerja sama dengan orangtua Dara dalam membangun bisnis mebel di Surabaya. Mereka pun disana sepertinya sedang sibuk jadi gak sempet kesini. “Yuk, Git! Lo ikut juga.” Gita memasang wajah tak enak.” Lo tau libur kampus gue Cuma sebentar dan udah abis lagi. Gue kan ujian duluan dari kalian.” Ucapnya dengan perasaan bersalah karena tak bisa ikut. Padahal ia ingin sekali. “Yah… Iya juga sih. Tapi masa lo gak ikut.” Dara memasang wajah memelasnya. Gita menepuk paha Dara pelan.” Yang penting ada Alfen. Gue yakin dia bisa jagain lo dengan baik. Nanti kita liburan bareng juga di Jakarta.” Dara terlihat murung.” Ah elo, Git. Kapan lagi kita bisa liburan keluar kota bareng.” “Kayak gak ada waktu lain aja lo.” Alfen menjitak kepala Dara membuat gadis itu menjerit kesakitan. Padahal jitakannya Alfen pelan, Dara aja yang lebay. ………….. Dara menatap satu-satunya foto bersama Dion yang ia upload di social medianya. Banyak yang komen disana, mempertanyakan soal hubungan Dara dan Alfen. Memang banyak yang tak percaya jika mereka hanya bersahabat. Bahkan banyak yang bilang ia dan Alfen cocok. Cocok dari Hongkong! Gadis itu dengan mantap menghapus foto itu dari social medianya juga foto-foto Dion yang ada di ponselnya. Walaupun sakit, ia harus belajar melupakan. Padahal ia baru saja belajar mencintai seseorang tapi dengan cepat ia harus kembali belajar melupakan perasaannya. Sebulan lebih menjadi secret admirer Dion, ia tak cukup asli ternyata karena telah melewatkan info terpentingnya. Jika Dion telah memiliki tunangan. Jelas hubungan Dara dan Dion yang hanya sekedar pacaran tanpa ikatan resmi tak berarti apa-apa untuk pria itu. Hingga kini bahkan taka da kata maaf dari pria yang malah seperti menghilang ditelan bumi itu. Bahkan tak ada kata pamit. Walau pasti akan menyakitkan, tapi setidaknya lebih baik. Dara akan merasa Dion juga menghargai hubungan mereka sebelumnya jika pria itu benar-benar ingin mengakhirinya. Dara mengusap dengan kasar air mata yang membasahi pipinya lalu meletakkan ponselnya diatas ranjang, bersebelahan dengan kopernya yang terbuka. Gadis itu memutuskan untuk menghabiskan liburannya di Surabaya sekaligus melepas rindu dengan kedua orangtuanya. Mungkin menghilang sejenak dari kota yang menyimpan begitu banyak kenangannya dengan Dion akan jauh lebih baik. Ia pun mulai mengemasi baju-bajunya. Brak! Pintu kamar Dara terbuka lebar, Alfen berdiri disana dengan senyum lebarnya. Membuat gadis itu mendengus kesal karena lagi-lagi Alfen mengejutkannya.” Rusak lama-lama pintu kamar gue!” “Yaelah lagian kamar lo gak butuh pintu. Ada gak ada pintu sama aja.” “Iya soalnya lo nyelonong mulu!” Dara mendorong pundak Alfen agar menyingkir dari depan pintu sambil menyeret kopernya. “Kita liburan seminggu doang udah kayak mau minggat dari rumah aja lo.” Alfen berdecak-decak sambil menggelengkan kepalanya. Ia sendiri masih bingung kenapa bawaan para wanita jika akan pergi keluar kota itu selalu banyak. Gak seperti pria yang simple. Bahkan Alfen hanya membawa satu tas carriernya. Sementara Dara membawa satu koper cukup besar dan tas selempang kecil. “Komen aja lo kayak netijen!” Balas Dara tak peduli. Alfen hanya mengedikkan bahunya kemudian mengikuti Dara turun ke lantai bawah. Ia sengaja tak menawarkan diri untuk membawakan koper sahabatnya itu, ingin melihat Dara meminta tolong secara langsung. “Emang ya cowok jaman sekarang kalo gak peka ya brengsek.” Sungut Dara dengan wajah setengah kesal. Alfen tertawa kencang.” Kan. Yang b******k siapa, yang dikatain semua cowok. Nila setitik, rusak s**u sepayudara.” “Alfen!” Alfen menunjukkan tanda “V” dengan jarinya. Ia pun akhirnya membantu Dara membawakan kopernya ke taksi yang sudah ia pesan dan sudah menunggu di halaman rumah Dara. Mereka berencana pergi ke Surabaya menggunakan kereta api. Bisa aja sih kalo mau lebih cepet naik pesawat, tapi Dara kekeuh mau naik kereta api. Katanya mau menikmati pemandangan dan cuci mata. Alfen sebagai pria gentle hanya mengikuti saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN