26

1674 Kata
Dara mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja dengan gelisah, sesekali ia menyeruput hot chocolate yang dipesannya saat baru sampai disini. Cuaca diluar kafe ini tampak mendung dan langit mulai menuangkan isinya perlahan. Jejak-jejak air pun menempel di kaca jendela yang berada tepat disampingnya. Tring! Seorang gadis yang mungkin seumuran Dara dengan rambut bergelombang yang dibiarkan tergerai itu masuk ke dalam café, ia berdiri didepan meja tempat pemesanan minuman. Setelah membayar dan mendapatkan pesanananya, gadis itu berjalan kearah meja samping jendela yang telah ditempati oleh Dara. Gadis itu menyunggingkan senyumnya ketika Dara menoleh kearahnya. Seakan mereka sudah kenal sebelumnya. Dara membalas dengan tersenyum kecil, terkesan ragu memang karena gadis yang sekarang duduk didepannya ini terasa sangat asing. Ini pertama kali Dara melihatnya. Gadis manis yang terlihat pintar itu mulai menyeruput frapberrynya dengan anggun. Tidak sepertinya yang agak urakan. Melihat gadis didepannya membuat Dara membandingkan dirinya sendiri tanpa sadar. “Lo….” Gadis itu mengulurkan tangannya yang berjari lentik lengkap dengan kuku yang dicat warna hijau tosca itu. Bahkan ujung jari Dara pun tak sebanding.” Gue Safa. Tunangannya Dion.” Nafas Dara tercekat seketika. Ia menggeleng cepat tanpa minat untuk menyambut uluran tangan dari gadis yang memiliki nama Safa itu.” Gak mungkin. Gue pacarnya Dion.” “Hanya pacar?” Safa tersenyum miring seraya menarik tangannya kembali yang terasa pegal. “Lo pasti bohong. Atau lo suruhan Alfen?” Dara memicingkan matanya, mencoba mencari kebohongan dari tatapan Safa. Sayang ia tak dapat menemukannya. Safa cenderung sangat tenang dan yakin dengan ucapannya. “Alfen? sorry gue gak kenal dia atau siapapun yang berhubungan dengan lo.” “Apa buktinya kalo lo tunangannya Dion? Gak mungkin lah. Dion cowok setia. Dia gak mungkin khianatin gue.” Safa menghela nafas sambil menyenderkan punggungnya dikursi. Ia pun mengangkat tangannya sedikit, menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.” Ini cincin pertunangan gue. Bahkan kalo lo mau bukti lebih jelas, gue bisa ajak lo ke rumah Dion. Tante Amanda pasti sangat terkejut.” Ia menyebut nama wanita yang Dara tebak mungkin adalah Ibunya Dion. Dara menggeleng, berusaha mengelak.” Lo bohong. Gue gak percaya.” “Lo terlalu naif. Bahkan lo gak kenal betul dengan Dion. Kenapa lo sebegitu tergila-gilanya sama dia sampe omongan dari orang-orang penting di hidup lo malah lo abaikan?” Ia memiringkan kepalanya membuat Dara geram. Karena Safa malah membahas soal sahabat-sahabatnya. “Tuh kan! Lo kenal sahabat gue. Lo pasti sekongkolan mereka.” “Apa untungnya buat gue? Gue Cuma mau mempertahankan apa yang seharusnya milik gue. Dari awal Dion udah tunangan sama gue dan kami akan menikah saat gue lulus kuliah. Dion selama ini bohong sama lo. Gue bukan sepupunya, gue tunangannya!” Ucap Safa penuh penekanan, membuat rongga d**a Dara terasa sesak.” Bahkan seujung kuku pun lo gak akan bisa mendampingi Dion, dia bukan pria biasa. Dia istimewa, Cuma gue yang bisa jadi pendamping dia. Jadi lo lebih baik mundur, gue gak akan jamin keselamatan lo kalo lo nekat.” Lanjutnya dengan nada ancaman. “Maksud lo apa? Kenapa lo jadi ngancem gue?” “Gue hanya kasian sama cewek baru di kehidupan Dion kayak lo. Sejauh apa lo tau soal Dion hmm?” Ucap Safa dengan lebih tenang. Gadis itu menyedot kembali frapeberry-nya, tenggorokannya terasa kering. Dara terdiam, memikirkan jawaban tapi tak ia temukan. Ia memang belum tau banyak soal Dion yang sudah hampir tiga bulan menjadi kekasihnya. Bukannya wajar karena memang mereka baru kenal jadi Dara tak tau banyak soal pria itu. Tidak, bahkan Dara tidak tau sama sekali soal Dion. Bahkan makanan dan minuman favorit pria itu pun Dara tak tau. Ia hanya sibuk menikmati segala moment kebersamaannya dengan pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu. “Jadi mending lo jauhin Dion. Lo gak akan bisa menerima dia apa adanya. Hanya gue yang bisa.” Ucap Safa lagi yang yakin Dara tak dapat menjawab pertanyaannya. “Lo apa-apaan?!” Dara terkejut, bahkan ia tak menyadari jika Dion telah masuk ke café ini dan berdiri tak jauh dari mereka. Safa hanya menoleh ke pria itu dengan wajah datar. Dara menatap Dion, meminta penjelasan. Tapi pria itu malah berjalan menghampiri meja mereka dan menarik tangan Safa serta pergi dari sana tanpa bicara sepatah katapun. Safa hanya tersenyum kasian melihat ekspresi keterkejutan Dara di belakangnya. ………… Dion membuka pintu mobilnya dengan kasar dan mendorong Safa masuk kedalamnya. Gadis itu tak melakukan perlawanan. Ia malah menikmati segala hal yang Dion lakukan padanya. Dion langsung berjalan memutari mobilnya menuju kursi pengemudi setelah sebelumnya menatap kearah Dara yang tengah memperhatikannya. Tatapan kecewa gadis itu seakan menusuk dirinya. Tanpa memperdulikannya, Dion masuk ke mobilnya dan membawanya pergi dari sana. Di sepanjang perjalanan, Dion tak berbicara satu kata pun juga Safa yang malah asik dengan ponselnya tanpa merasa bersalah sedikitpun karena telah berani menemui “pacar” dari tunangannya itu dan membuat “sedikit” keributan. Dion menepikan mobilnya disamping taman yang siang itu tampak sepi karena hujan yang turun semakin deras. Ia mematikan mesin mobilnya dan menoleh ke Safa.” Maksud lo apa? Kenapa lo ikut campur urusan gue?” Tanyanya dengan tatapan tajam yang sama sekali tak membuat Safa takut. “Kenapa gue gak boleh menemui selingkuhan dari tunangan gue?” Balas Safa dengan nada angkuh. “Lo gak berhak!” “Lo udah milikin gue seUTUHnya! Berarti gue juga berhak mempertahankan apa yang jadi milik gue.” “Gue Cuma main-main sama dia. Lo tau itu.” Ucap Dion dengan lebih tenang. “Dan gue mau ikut main sama lo.” Dion memukul dashboardnya cukup keras, membuat Safa sedikit terkejut.” Lo membuat semuanya rumit.” Safa memberanikan diri untuk memegang tangan Dion.” Apa yang kurang dari gue? Gue bisa lakuin semua hal yang lo inginkan. Asal lo bisa kasih hati lo buat gue.” Dion melengos, menatap keluar jendela yang menampakkan derasnya hujan siang itu. Safa menyentuh rahang tegas milik tunangannya itu dan membuatnya menatap Safa kembali. Tanpa malu ia memajukan tubuhnya, melumat bibir Dion yang sedikit tebal itu dengan kasar. Dion membalasnya tak kalah ganas. Dion menidurkan kursi yang Safa duduki hingga gadis itu terbaring dibawahnya. Nafas Safa terengah karena hampir kehabisan nafas, ia melepas paksa ciuman panasnya dengan Dion dan beralih mengecup leher pria itu serta meninggalkan jejak-jejak merah disana membuat nafas Dion tak kalah memburu. Tak mau kalah, pria itu menarik paksa kemeja yang Safa kenakan hingga kancing-kancingnya copot dan menampilkan dalamannya yang berwarna hitam. Seksi. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Dion langsung menjelajahi leher jenjang Safa, membuat gadis itu mendesah pelan sambil meremas sesuatu yang tengah memaksa keluar dibawah sana. Safa menikmati setiap sentuhan dari lidah Dion yang dari lehernya dan turun menuju payudaranya serta memainkan putting payudaranya. Tak lupa tangan kekar pria itu sudah menjelajahi area kewanitaannya yang sudah basah. Memaksakan jari-jari besarnya masuk ke dalam sana. Bukan hanya satu, melainkan dua sekaligus bahkan tiga. Membuat Safa sedikit menjerit karena perih tapi Dion buru-buru melumat bibirnya demi menghentikan jeritannya. Dion segera melepaskan celana jeansnya dan CDnya yang langsung menonjolkan kejantanannya. Safa tersenyum melihatnya. Gadis itu berusaha mengganti posisi hingga Dion berada di bawahnya. Mereka pindah ke kursi belakang yang lebih luas. Tanpa menunggu waktu lama, Safa sedikit membungkuk mengarahkan mulutnya ke milik Dion dan mengulumnya dengan ganas. Tak lupa ia memainkan buah zakar pria itu, membuat Dion mendesah, menikmati permainannya. Tak sabar, Safa langsung duduk diatas Dion, melesakkan kejantanan pria itu ke miliknya, menyatukan tubuh mereka dengan mudah. Safa mulai menggerak-gerakan tubuhnya sementara Dion mencoba bangkit dan memainkan putting Safa dengan lidahnya. Mereka menikmati permainan panas itu dengan kondisi cuaca yang sangat mendukung. Hingga mereka mencapai pelepasannya, membuat Safa memeluk pria itu dengan sangat erat. “Ahhh…. Lo bikin gue candu.” Ucap Safa disela desahannya. “Gue akui, milik lo adalah yang terbaik untuk saat ini.” Bisik Dion di telinga Safa, menimbulkan rasa geli yang menjalar disana. Tak mau permainan berakhir begitu saja, Safa mencoba menaikkan kembali nafsu kekasihnya. Hingga akhirnya Dion menerima permainan selanjutnya dengan lebih menantang. Yaitu membiarkan tubuh gadis itu tetap menyatu sambil ia mengemudikan mobilnya menuju rumah Safa. Puas. Itu yang mereka rasakan. “Dion. Gue pengen kita liburan ke luar pulau. Gue mau menikmati ini setiap hari sama lo. Ya?” Ucap Safa dengan tatapan berharap. Tanpa berpikir lagi, Dion menganggukan kepalanya tanda setuju. Ia perlu refreshing sebentar sembari mencari ide agar permainannya tetap berjalan lancar dengan Dara. ……….. Dibawah hujan yang semakin membasahi seluruh tubuhnya, Dara berjalan seorang diri di trotoar menuju rumahnya. Dari Café Domino ke rumahnya memang tidak terlalu jauh. Tapi butuh setengah jam dengan berjalan kaki. Apalagi dibawah hujan seperti ini. Jelas membuat tubuhnya basah kuyup. Rasa dingin yang menusuk tulangnya tak lagi Dara hiraukan. Bahkan rasa sakitnya tak seberapa dengan rasa sakit di rongga dadanya ketika melihat Dion seakan mengabaikannya dihadapan gadis yang mengaku sebagai tunangannya. Jadi itu benar? Jadi Dion benar-benar sudah tunangan? Bahkan pria itu tak mencoba untuk menjelaskan. Berarti omongan Alfen dan Gita bener? Ucapan sahabat yang ia sebut pembohong nyatanya membicarakan fakta yang Dara tolak dengan kuat. Padahal mereka hanya memperingatkan dirinya. Hanya cinta memang berhasil membutakan Dara. Dara berhenti didepan gerbang rumah Alfen, dengan ragu ia membuka gerbang yang terbuat dari kayu jati itu. Berharap orang yang ia cari ada didalam sana dan mau memperbaiki kembali persahabatan mereka yang ia hancurkan sendiri. Cukup lama Dara diam didepan pintu rumah Alfen tanpa berniat untuk mengetuk, ia takut Alfen akan mengusirnya atau bahkan memakinya karena ulah Dara sendiri. Cklek! Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok Alfen dengan wajah terkejutnya saat melihat Dara.” Lo kenapa?” Ia mengatupkan kedua telapak tangannya ke wajah Dara yang terasa dingin. Dara hanya terisak semakin kencang, seakan tangisnya sedang berlomba dengan derasnya hujan diantara mereka. “Lo…. Lo bener. Dion…. Udah… Tunangan.” Ucap gadis itu dengan susah payah. Alfen tampak terkejut dan terluka juga melihat kondisi sahabat yang juga cinta pertamanya menangis seperti ini. Ia pun menarik tubuh Dara yang basah kuyup ke dalam pelukannya, sampai ia merasa tubuh Dara semakin terasa berat seiring hilangnya kesadaran pada gadis dalam pelukannya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN