“Muka lo kenapa murung?” Tanya Danil yang sedari tadi memperhatikan lawan bicaranya yang seperti gak mood itu.” Ada masalah?” Ia yakin sekali dengan hasil belajarnya membaca ekspresi orang. Dan ekspresi wajah Gita sangat jelas terbaca.
Gita menghela nafas.” Gak usah sok nanya. Lo pasti udah tau jawabannya.”
Danil tergelak.” Ini nih. Emangnya lo kira orang psikolog itu cenayang apa?” Ucapnya sarkastik membuat Gita tertawa kecil.” Nah gitu kek. Gak asem banget kayak tadi lah. Lumayan.”
Gita memukul lengan pria yang duduk disebrangnya itu.” Gaje lo!”
“Serius. Kalo ada masalah, lo bisa cerita.”
“Lo kenal Dion?” Ucap Gita setelah menghela nafas panjang, seolah mengumpulkan kekuatannya.
Danil mengerutkan keningnya, seperti nama itu taka sing baginya.” Kayaknya deh. Kayaknya gue punya temen sekelas namanya Dion juga.”
“Orangnya gimana?” Gita terlihat penasaran.
Ingatan lebih dari lima tahun lalu itu cukup mudah Danil ingat. Apalagi Dion memang cowok popular dulu, lebih popular darinya. Danil akui itu.” Dia lumayan famous dan disukain cewek-cewek dulu. Emang kenapa?”
“Dia tunangan sama Safa.”
“Wait. Safa? Temen adek gue? Yang temen kampus lo itu?” Danil mencoba meyakinkan.
Gita mengangguk.” Dan dia pacaran juga sama sahabat gue. Inget? Dara?”
Danil mengangguk. Wajahnya tampak begitu terkejut. Ketampanan Dion memang tak diragukan. Tapi ini pertama kalinya ia tau mantan teman sekelasnya itu punya lebih dari satu kekasih. Biasanya dia akan hanya gonta ganti pacar aja. “Serius? Lo gak salah orang kan?”
“Ingetan gue bagus kali. Dan gue udah pastiin ke Safa langsung. Gue yakin itu Dion yang sama. Kecuali Dion bisa membelah diri atau punya jurus seribu bayangan kayak Naruto.” Ucap Gita dengan ekspresi serius, membuat Danil tertawa.” Tuh kan! Lo juga gak percaya ya? Sama aja kayak Dara.” Ia mencebikkan bibirnya.
“Gak gitu. Lagian lo bawa-bawa Naruto. Kasian tau ntar orangnya keselek.” Balas Danil asal.” Terus gimana? Dara gak percaya ya sama omongan lo?” Kali ini ia memasang wajah serius.
Gita mengangguk lemah, merasa tak berdaya.” Gue gak nyangka sahabat gue sebucin itu.”
Danil menghela nafas.” Mending lo kasih Dara waktu. Fakta mengejutkan gini jelas gak bisa dipercaya dengan cepat, apalagi mereka baru jadian. Dan gue gak nyangka kalo Dion semanipulatif itu sampe punya dua pacar.”
“Tapi kan…”
Danil mengusap bahu Gita dengan lembut.” Biarin Dara berpikir jernih dulu.”
“Tapi kalo dia tau beneran gimana terus dia patah hati.”
“Setiap pilihan ada konsekuensi kan. Kalo dia dari awal percaya sama lo, dia bakal kehilangan Dion. Kalo dia dari awal percaya sama Dion, dia akan patah hati dan kehilangan Dion juga.”
“Sama-sama kehilangan Dion…. Kenapa gak pilih percaya sama sahabatnya dari awal?”
“Karena kadang cinta semembutakan itu. Pasti lo gak pernah kan?” Ledek Danil akhirnya.
Wajah Gita memerah seketika.” Kayak lo pernah aja.” Balasnya tak mau kalah.
Danil tersenyum.” Ini lagi. Tinggal meyakinkan aja.”
“Maksud lo?”
……………
Dara menatap malas makanan yang tersaji di depannya. Hari ini untuk kesekian kalinya Dion mengajaknya untuk makan malam dan untuk pertama kalinya Dara tak berselera makan. Biasanya ia gak akan jaim saat makan dengan Dion, bukan karena tak tau malu tapi memang karena makan bersama Dion membuatnya berselera. Tapi kali ini ada yang lain. Ditambah masalahnya dengan sahabat-sahabatnya yang entah kenapa begitu tak menyukai hubungannya. Bahkan dengan tega menyebut Dion pria b******k. Berbicara tanpa bukti bukannya fitnah?
“Kenapa? Makanannya gak enak?” Tanya Dion yang merasakan perubahan dari gadis didepannya. Biasanya Dara akan sangat cerewet dan pandai memulai topik pembicaraan. Bukan diam saja seperti sekarang ini sambil mengaduk spaggeti oglio-lionya.
Dara menggeleng lalu melilit spaghetti itu dengan garpunya dan menyuapnya sedikit. Rasanya seperti hambar padahal biasanya pasta disini adalah favoritnya.” Enak kok.”
“Ada masalah?” Dion jelas mengetahui apa yang membuat Dara berubah. Apalagi saat ia dan gadisnya dikampus, tampak Alfen yang terang-terangan menjauhi mereka bahkan tatapan penuh kebencian sahabat dari pacarnya itu tertuju jelas padanya.
“Aku Cuma gak habis pikir aja sama yang mereka omongin soal kamu. Sebegitu gak sukanya sama kebahagiaan aku.” Ucap Dara dengan lelah.
“Mungkin mereka takut kehilangan kamu setelah kamu menjalin hubungan sama aku.” Balas Dion dengan nada penuh pengertian.
“Harusnya mereka mengerti. Ini kan hubungan pacaran pertama kali dalam hidup aku. Aku juga butuh privasi sama kamu. Waktu buat mereka juga tetap ada walau gak sebanyak dulu. Apa aku salah lebih mementingan bertemu kamu yang gak bisa setiap hari sementara sama sahabat aku akan lebih mudah untuk ketemu.” Ucap Dara panjang lebar, setiap kalimatnya terdengar banyak nada kekecewaan.
“Jujur aku juga gak suka berbagi kamu sama mereka. Jadi biarin aja.” Ucap Dion dengan nada dingin.
“Maksud kamu?” Dara tampak tak setuju dengan ucapan Dion barusan. Tapi ia juga tak membantahnya.
Dion mengedikkan bahunya.” Sahabat yang gak seneng saat sahabatnya bahagia apa masih pantas disebut sebagai sahabat?” Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Dara dengan lembut.” Kamu udah punya aku. Aku akan beri kamu kebahagiaan yang gak akan kamu bisa bayangkan sebelumnya. Apa masih kurang?”
………….
Safa menatap muak dua orang yang duduk dilantai bawah sebuah restoran pasta terkenal di pusat kota. Dua orang yang begitu dikenalnya. Pantas saja Dion tak membalas pesannya, dan tak tampak mobil pria yang adalah tunangannya itu terparkir disini, malah hanya ada motor sport yang Safa tau jika itu milik Dion saja. Jadi selama ini selain membagi hatinya, bahkan Dion telah membedakan kendaraan yang dibawanya saat berkencan.
Saat pria itu berkencan dengan Dara, Dion akan membawa motor sportnya yang jelas membuat mereka berdua tak berjarak satu senti pun. Sementara saat bersama Safa, pria itu selalu membawa mobilnya seakan mencoba memberi jarak soal hubungan mereka. Safa tak yakin jika Dion mencintai Dara, ia tau persis kepicikan calon suaminya itu. Hati pria itu sudah telah lama mati, ia sangat tau dan mengerti. Juga hanya Safa yang mampu menerima pria itu dengan apa adanya dirinya. Bahkan tanpa cinta sekalipun, Safa rela menghabiskan seluruh hidupnya dengan Dion.
…………
Hampir seminggu sudah, grup yang Dara buat bersama Alfen dan Gita sepi. Biasanya Gita akan bercerita soal perkembangan hubungannya dengan Danila tau kadang Alfen yang menyepam grup dengan stiker-stiker anehnya. Jujur Dara merindukan itu. Ia berharap kedua sahabatnya itu beritikad baik untuk mengalah dan meminta maaf padanya, mengakui jika mereka salah dan mau mencoba menerima kehadiran Dion sebagai kekasihnya.
Sayangnya harapan Dara tak terwujud hingga kini. Entah kenapa Alfen dan Gita seakan kompak dengan keegoisan mereka, membiarkannya kini seorang diri menghabiskan kesehariannya. Rasanya sangat sepi. Dara tak terbiasa sendiri seperti ini. Bahkan seharian bersama Dion pun tak sedikit pun menghapus kesepiannya, ia justru makin merindukan kedua sahabatnya itu. Dara sangat berharap dapat mengembalikan persahabatan mereka seperti sedia kala.
Dara menatap keluar jendela yang mengarah ke balkon kamar Alfen yang tampak gelap. Pria itu memang suka tidur dalam kegelapan, tapi selama ini Alfen tak pernah mematikan lampunya lagi karena tau Dara takut gelap, agar ketika Dara ke kamarnya tidak disambut dengan kegelapan. Bahkan biasanya pintu balkon kamar Alfen selalu terbuka. Tapi sudah sejak pertengkaran mereka tempo hari, pintu itu selalu tertutup. Tidak pernah terbuka.
Dikampus pun Alfen selalu menghindarinya, entah pergi kemana saat Dara dan Dion lewat ataupun berputar mencari jalan lain hanya demi menghindari pertemuan dengannya. Tak pernah ada sapaan, yang ada hanya tatapan tajam yang mengarah padanya. Atau lebih tepat tatapan kekecewaan?
“Mereka gak akan pernah mengerti, karena mereka belum pernah memiliki hubungan special seperti gue.” Ucap Dara mencoba mencari pembenaran.
Padahal bukan hanya gadis itu yang merasa terluka. Dara hanyalah baru pertama kali merasakan luka yang tak seberapa, selain Gita yang sampai berusaha melupakan perasaannya dengan Alfen dan juga Alfen yang tetap tersiksa dengan perasaannya ke Dara yang tak pernah kesampaian. Bahkan melihat orang yang dicintainya memiliki hubungan special dengan pria asing dan lebih membela pria itu dibanding dirinya, sahabatnya dari kecil.
…………
Alfen menatap rumah yang berada tepat disamping rumahnya, yang hanya dibatasi oleh pagar kecil yang dihiasi tanaman. Rumah keduanya, tempat ternyamannya. Sudah seminggu mungkin ia tak menginjakkan diri dirumah itu, terakhir saat pertengkarannya dengan Dara. Hingga kini ia enggan kesana walau ia sebenarnya rindu.
Pria yang baru pulang setelah latihan futsal itu pun membuka pagar rumahnya dan berjalan di jalan setapak menuju pintu rumahnya. Ia mengambil kunci rumah dalam sakunya dan membuka pintunya.
Setiap Alfen pulang kerumahnya memang cenderung rasa hampa mendominasi. Tapi sejauh ini ia dapat mengatasi perasaan hampanya yang memang karena tinggal sendiri di rumah seluas ini. Bersama Dara, ia cukup puas karena ia tau gadis itu akan selalu ada untuknya dan menemaninya. Semua berubah saat gadis polos itu mengenal cinta, entah cinta yang seperti apa sehingga begitu membutakannya dan menganggap Alfen adalah pria b******k yang memfitnah kekasih gadis itu, Dara.
Sedetik pun Alfen tak pernah berpikir jika Dara akan lebih mempercayai pria asing yang baru dikenalnya dibanding omongan sahabat-sahabat yang telah ia kenal lama. Hanya karena cinta, katanya. Apa memang cinta membuat orang sebodoh itu sehingga mudah ditipu? Lain hal jika Alfen tak melihat secara langsung tentang kebrengsekannya Dion, tapi sayangnya ia melihat langsung. Jelas didepan matanya. Dan Dara tetap tak percaya. Ia memang tak menceritakan soal Dion yang berciuman dengan Safa, takut gadis itu makin terluka. Nyatanya Dara malah seegois itu dengan perasaannya serta menolak segala fakta yang ada.
……….
Dara memperhatikan di sebrang kamarnya, kamar Alfen terlihat terang. Mungkinkah pria itu baru pulang dari latihan futsal? Karena setaunya memang minggu depan aka nada turnamen lagi sebelum masuk ke pekan ujian. Biasanya Dara yang akan menemaninya, bahkan sampai larut malam pun Dara jabanin. Tapi kali ini Alfen tampak bisa melewati segalanya sendirian. Itu artinya ia pun harus melakukan hal yang sama. Karena persahabatan mereka mungkin tak seperti dulu lagi.
Drrrtt drrttt
Dara melihat ponsel di nakasnya yang bergetar. Sebenarnya ia sedang malas memainkan ponselnya, bahkan pesan yang masuk dari Dion beberapa jam menit yang lalu tak ia balas. Tapi demi mengalihkan rasa hampa di rongga dadanya, gadis itu mengulurkan tangannya, meraih ponselnya dan mengecek pesan yang masuk.
Dari nomor tak dikenal ternyata.
Besok ketemu di Domino, jam 11.
Tolong datang sendiri kalo lo mau tau soal kekasih lo.