Menggeleng-gelengkan kepalanya, Arga mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal demikian, sekarang prioritasnya adalah dia ingin tetap hidup tenang seperti dirinya yang dulu, tidak ingin terlibat ke masalah-masalah asing yang seenaknya masuk ke dalam kehidupannya, seperti apa yang pernah dikatakan oleh wanita asing yang mengaku-ngaku sebagai kaka kandungnya tersebut. Arga tidak ingin mengalami perasaan trauma semacam itu lagi, terlalu menyakitkan. Dia ingin hidup tenang dan bahagia, bukan sedih dan menderita. Begitulah yang Arga ingin-inginkan. Menghirup udara segar yang masuk dari jendela yang terbuka, Arga sedikit menyunggingkan senyuman tipisnya sebelum akhirnya sebuah suara langkah kaki menginterupsi ketenangannya dalam menikmati keadaaan. Mengikuti arah suara itu, Arga menggerak

