Gara mengajak Juni untuk duduk di sofa agar mereka lebih enak bicara, "aku melakukan ini semua demi menyenangkan kedua orang tua ku, mereka sangat ingin melihat ku menikah, untuk itu, aku ingin mengadakan kontrak pernikahan dengan mu." Sebenarnya sangat berat bagi Gara mengutarakan kalimat terakhirnya. Dan sebenarnya, dia juga mulai menyamarkan perasaanya sendiri, karena ini pertama kalinya ia merasa demikian pada seorang gadis.
Namun di sisi lain, dia merasa gelisah, kenapa gadis yang ada di sebelah nya itu hanya menatap nya tanpa ekspresi, apa yang di pikir kan gadis itu? Dia tak bisa menebaknya. Hanya saja dia mulai merasa khawatir dengan kalimat penolakan yang jangan-jangan akan di lontarkan gadis itu. Kalimat penolakan adalah hal yang tidak ingin dia dengar. Waktu kecil, saat dia masih bersekolah di sebuah sekolah reguler, teman-teman nya menolak untuk bermain dengannya, dan selalu mengejek dirinya aneh. Gara yang merasa tidak terima, berubah tidak sadar dan mengunci mereka semua di sebuah mobil box.
"Kau hanya memikirkan dirimu saja, lalu apa keuntungannya bagiku dari perjanjian pernikahan ini?" Gara tak menduga, bahwa hal itu yang justru keluar dari mulut Juni. Dia bicara keuntungan seolah sedang berbisnis, padahal dirinya saat ini sedang berusaha berdamai dengan perasaanya, berusaha mati-mati an mengendalikan gejolak hatinya.
"Jadi kau ingin menolak ku?" Tuduh Gara yang merasa sudah tidak sabaran, dia tidak tahan dengan perasaan curiganya sendiri. Dia juga heran, kenapa dirinya tak bisa setenang gadis itu, astaga!
Juni menggeleng lemah, kemudian memalingkan mukanya dari Gara, "bukan begitu tuan, aku tahu saat ini posisi ku sedang tak berdaya, aku butuh uang, dan aku butuh membuat simulasi jatuh cinta padamu, jadi mana mungkin aku menolak."
Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Gara merasa lega. "Tapi, bisakah kau memberiku imbalan uang? Dan tentukan berapa lama aku harus berpura-pura menikah dengan mu? Kelak, aku juga ingin pergi dari sini, aku ingin punya kehidupanku sendiri."
Hatinya tadi berbunga-bunga, kini seketika layu, jawaban macam apa itu? Gara tidak mengerti, apa itu tandanya dia baru saja di tolak secara halus? Kenapa rasanya begitu sakit saat gadis itu mengatakan ingin pergi darinya pada akhirnya. Dia seolah ingin mendengar jawaban lain, semisal gadis itu menginginkan dirinya jatuh cinta sungguhan pada gadis itu, bukan hanya sekedar simulaisi. Tapi tidak di sangka gadis itu berkata jauh dari dugaannya. Hatinya merasa tidak senang.
"Baik, aku akan berikan berapapun yang kau minta." Gara mengatakannya dnegan hati yang gusar, tapi Juni hanya tersenyum tipis, membuatnya makin penasaran. Sebenar nya apa yang di rasakan gadis itu terhadap dirinya?
Apa gadis itu sedang berpura-pura hanya demi menarik perhatian dirinya?
Padahal sejak awal, gadis itu telah memintanya untuk jadi pria simulasi jatuh cintanya. Tapi kenapa ujung-ujungnya ingin lepas darinya? Dasar gadis aneh? Dia pikir jatuh cinta itu sederhana?
Kepala Gara mendadak pusing, dia ingat, dia belum makan apapun dari semalam.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Juni berkata dengan penuh perhatian.
"Apa kau suka berpura-pura baik seperti ini?"
Juni menautkan kedua alisnya, ekspresinya seolah sedang bertanya, apa yang di katakan pria ini? Apa maksud nya dengan berpura-pura baik?
"Apa ada yang bisa ku bantu? Atau kau perlu obat? Biar ku ambil kan."
"Tidak perlu!" Kata Gara dengan ketus, kenapa melihat Juni yang baik, membuat hatinya kian tidak nyaman. Gadis ini seperti magnet, dan membuatnya tertarik hanya dalam waktu singkat.
"Augh... Tuan, kau menyakitiku." Tanpa sadar Gara telah mencengkram lengan Juni kuat-kuat.
Tubuh Gara terasa bergetar seperti ada aliran listrik yang sedang menyengatnya, gadis ini tiba-tiba membuatnya sangat berhasrat.
"Maaf, tiba-tiba aku tidak bisa mengendalikan diriku!" Kini bahkan kedua tangannya telah mencengkram erat kedua bahu Juni, matanya berubah sayu, dan dahi nya berkeringat padahal ia kini ada di ruangan ber-AC.
Ada apa dengan pria ini? Juni tak mengerti.
"Aku tidak tahan lagi."
Gara tiba-tiba mendorong tubuh Juni hingga tubuh Juni terbaring di sofa, dan memposisikan dirinya di atas gadis itu. Melihat kedua bola mata yang tampak ketakutan itu, sebenarnya dia merasa tak tega. Namun dia seolah tak bisa mengendalikan diri nya lebih lama lagi.
"Tuan, kau mau apa?" Sorot mata Juni membuat hati Gara terenyuh. Namun sekaligus membuat hasratnya kian besar.
Dia menyambar bibir Juni dan melumatnya dengan rakus, gadis itu hanya terdengar terisak, tubuhnya terkunci dan dia sama sekali tak bisa bergerak.
"Tuan... ku mohon hentikan!" Ujar Juni saat Gara melepas pagutannya. Mata mereka bertemu dan saling menatap, mereka tampak mengatur napas masing-masing. Karena ini ciuman pertama Juni, tentu saja dia terlihat syok.
Juni buru-buru mengembalikan kesadarannya dan mendorong tubuh Gara agar menjauh darinya. "Apa yang baru saja, tuan lakukan?" Juni merasa sangat bingung, dan seluruh tubuhnya jadi gemetar. Perasaan macam apa ini? Dia merasa tidak nyaman.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Kau bisa lihat sendiri kan waktu itu, jika ada wanita yang berusaha menyentuh ku selain ibu ku. Perutku langsung terasa mual, tapi ketika dengan mu. Aku merasa berbeda." Jelas Gara jujur.
Juni menelan ludah kasar, sepertinya dia juga merasakan hal yang sama tapi dengan versi yang berbeda. Dadanya tidak pernah berdebar seperti ini saat di dekat pria lain. Tapi laki-laki ini, hampir saja membuatnya berhenti bernapas.
"Maaf atas kelancangan ku tadi, aku tidak bermaksud seperti itu. Kau tenang saja, aku juga tidak berencana untuk menjadikan mu teman tidur. Aku hanya butuh status pernikahan kita untuk menyenangkan hati orang tua ku." Ujar Gara. Daripada dia mendengar penolakan dari gadis itu. Lebih baik dia membuat keputusan yang tetap bisa mempertahankan harga dirinya.
Juni mengangguk maklum. Dia tersenyum kecut pada dirinya sendiri. Dalam sedetik dia seolah kehilangan kepercayaan dirinya. Ya... benar, pria kaya itu hanya menawarkan kontrak pernikahan pura-pura, sebaiknya dirinya jangan berharap lebih mulai sekarang. Tapi kenapa... tiba-tiba ada perasaan sakit tak kasat mata yang menyusup masuk ke relung hatinya?
Juni merasa tidak yakin. Apa dia mulai jatuh cinta dengan pria ini?
Ternyata cinta tidak hanya menyenangkan, tapi juga bisa menyakitkan. Ada perasaan rumit di dalam hati yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
"Baiklah, kalau kau setuju, aku akan suruh asistent ku Jimi untuk membuatkan kontrak perjanjian untuk kita."
Bersambung.