Gara mengantar Juni hingga ke depan pelataran rumahnya yang sangat sederhana. "Ini rumah mu?" Tanya Gara sembari matanya mengintai keluar jendela mobil.
Juni hanya mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah, aku tidak memaksa jika kau keberatan dengan surat perjanjian pernikahan yang ku buat. Kau boleh memikirkannya dulu baik-baik." Ujar Gara lagi.
Juni menatap lembaran surat kontrak itu di tangannya. Dia sudah sempat membaca isinya sekali, namun belum menandatanganinya. Dia masih sedikit ragu dengan isinya. "Tenang saja, aku akan memberikan jawaban secepatnya. Terima kasih telah mengantar ku pulang." Tiba-tiba dia merasa sangat canggung. Ada apa dengannya?
"Tidak perlu, hanya kebetulan saja kantor ku melewati daerah ini. Jadi aku sebenarnya tak berniat mengantar mu pulang." Sahut Gara acuh tak acuh. Dia terus-terusan bersikap angkuh untuk mengingkari perasaanya sendiri. Padahal yang sebenarnya ada di dalam hatinya, dia masih tidak ingin gadis itu cepat berlalu darinya. Dia juga berharap, gadis itu akan setuju dengan isi kontrak pernikahan yang di buatnya.
"Baiklah, aku mengerti, bagaimanapun aku hanya ingin berterimakasih." Juni menunduk hormat, setelah itu beringsut turun dari dalam mobil.
Kenapa gadis itu tiba-tiba berubah sedikit pendiam? Kemana sifat agresif yang di tunjukkannya waktu itu? Itu jadi sedikit tidak menarik. Gumam Gara dalam hati.
"Jimi, ayo jalan." Perintah Gara pada asistent pribadinya yang duduk di belakang kemudi.
Jimi pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sederhana itu. "Bagaimana menurut mu?" Tanya Gara tiba-tiba.
Jimi yang tanggap pun segera menjawab, "aku terserah pada tuan muda saja, jika menurut tuan itu adalah keputusan yang terbaik."
"Bukan itu, maksud ku bagaimana menurut mu tentang gadis itu?"
Jimi tercengang sesaat mendapati pertanyaan itu dari tuannya. Tidak biasanya tuannya itu meminta pendapat mengenai seorang wanita. Apa tuannya benar-benar sedang jatuh cinta sekarang?
"Dia... cukup cantik," jawab Jimi sedikit ragu. Dia takut salah bicara seperti biasanya.
"Seperti itu cantik? Bahkan aku tidak tahu dari sisi mana dia terlihat cantik?" Gara berkata dengan nada mengejek. Membuat Jimi menggaruk kepalanya yang tak gatal karena merasa heran.
Kenapa tuan mudanya itu selalu saja membuangnya bingung dengan sikapnya. "Em... aku juga tidak tahu tu-an...." Jawab Jimi lagi sedikit terbata sekarang. Dia paling malas kalau terkena semprot tuan muda anehnya itu lagi.
"Sepertinya besok-besok kau harus memeriksakan mata mu agar kau tidak salah menilai." Ujar Gara kemudian.
Jimi mengangkat kedua alisnya dan menghela napas lelah. "Baiklah tuan." Akhirnya dia menurut saja.
"Kau sungguh menganggap ku berkata serius?"
Jimi benar-benar kebingungan,ada apa dengan tuannya ini?
"Hahaha ... aku hanya bercanda saja tadi." Ujar Gara lagi dengan tawa hambar.
Astaga... sepertinya anda yang harus memeriksakan kondisi kejiwaan Anda tuan muda. Gumam Jimi dalam hati.
"Kau tahu, gadis itu aneh sekali, waktu pertama bertemu dengan ku, gadis itu seperti kucing liar yang sangat agresif, dan sekarang dia tiba-tiba berubah jadi kucing yang pemalu. Apa ini menurut mu hanya trik-nya untuk menarik perhatian ku?"
Karena bingung menanggapinya, jadi Jimi hanya menjawab, "Em... mungkin."
"Hei... jawaban seperti apa itu? Aku ingin jawaban yang jelas! Kau hanya boleh menjawab ya atau tidak."
"Baiklah tuan, menurut ku... ti-dak."
"Apa katamu... jadi kau secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa aku terlalu berpikir berlebihan? Iya begitu?"
Astaga... berapa lama lagi dirinya harus menghadapi ketidak warasan tuan muda-nya ini? Di beri jawaban apapun tetap saja dirinya yang salah.
Kenapa tuan muda tidak menusukku saja dengan pisau daripada mengajakku berdebat hal yang tidak jelas seperti ini?
"Aku tidak bermaksud begitu tuan muda." Jawab Jimi tidak yakin.
"Lalu apa maksud mu?"
Astaga... adakah yang bisa menghentikan kegilaan tuan mudanya ini?
Siapapun tolong aku!
"Maksudku ada-"
"Hah... sudahlah, aku tidak butuh pendapat mu lagi." Potong Gara. Wajahnya tampak gelisah sendiri.
Sedangkan Jimi akhirnya bisa menghela napas lega. Pagi-pagi tuan muda tidak waras ini seolah mengajaknya untuk terjadi tidak waras juga.
***
Seperti seorang pencuri, Juni mencongkel pintu diam-diam karena takut ketahuan ayahnya.
"Kau masih tahu untuk pulang? Biasanya juga jarang pulang!" Juni sangat kenal dengan suara ini tanpa dia harus memutar tubuhnya.
Namun sekarang dia menghadap ke asal suara dan berkata, "kau sengaja ya berkata dengan nada keras, agar ayah ku bangun dan memarahi ku lagi?" Sergah Juni pada sodara tirinya-Marisa.
"Ayah sudah pergi, sekarang jadwal sift paginya, apa kau tidak tahu? Atau kau sengaja pura-pura tidak tahu?" Marisa menyimpangkan kedua lengannya di d**a. "Mobil siapa yang baru mengantar mu pulang tadi?"
Juni tercengang sesaat, dia tidak menyangka Marisa melihatnya. Tapi dia tidak perlu takut dengan gadis ini. Karena dirinya memang tak melakukan kesalahan apapun. "Itu bukan urusanmu." Setelah menyelesaikan kalimatnya, Juni hendak berlalu dari sana.
Namun Marisa merasa belum puas dan berusaha menghentikan langkahnya. "Katakan, kau dapat bayaran beberapa semalam?"
Pertanyaan sindiran itu, tentu saja membuat telinga dan hati Juni panas, dia berbalik ke arah sodara tirinya lagi dan menatapnya dengan tajam. "Apa maksud mu berkata seperti itu?"
Marisa tersenyum mengejek dan menjawab, "tidak usah berpura-pura lagi, kau jarang pulang ke rumah, karena bekerja melayani para hidung belang itu kan?"
Mata Juni mendelik seketika. Omong kosong macam apa ini?
"Jaga ucapan mu? Aku bukan orang seperti itu."
"Benarkah? Kau kan pecundang, tidak becus melakukan apapun. Lalu bagaimana caranya kau bertahan hidup di luar sana kalau bukan dengan cara seperti itu? Mungkin hanya itu keahlian mu, benar kan kataku?"
Tanpa ingin banyak bicara, Juni melangkah ke arah gadis itu dan langsung melayangkan cap lima jari ke pipi kanannya.
Plak!
Suaranya terdengar keras dan membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Berani-beraninya kau menampar ku, akan ku adukan kau pada ibu ku. Agar kau di usir sekalian dari rumah ini." Ujar Marisa sembari memegangi pipinya yang tampak memerah dan bengkak.
"Adukan saja sana, aku tidak takut!" Sahut Juni dengan wajah berani.
Marisa terperangah, kemudian wajahnya berubah tidak terima, "baiklah kalau itu mau mu." Ancamnya, tapi Juni sama sekali tidak memperlihatkan wajah khawatir dan lemahnya seperti bisanya. Dia tidak takut lagi jika memang harus terusir dari tempat ini, dia juga sudah muak melihat sandiwara antara ibu dan anak ini.
"Ibu! Ibu...!" Teriak Marisa. Sembari matanya menatap tajam ke arah Juni.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita paruh baya dari dalam rumah. "Ada apa sayang?" Tanya wanita itu.
"Lihat Bu, Juni berani menamparku. Aku ingin ibu memberi pelajaran padanya." Rengek Marisa pada sang ibu.
Wanita paruh baya itu akhirnya beralih menatap Juni dengan tatapan marah. "Apa yang sudah kau lakukan pada putriku?" Ucapnya tak terima dan tangannya hendak di ayunkan ke arah pipi Juni. Namun Juni berhasil menahannya.
"Jangan harap bibi bisa menyentuh ku kali ini!" Kata Juni dengan nada berani. Kemudian mengibaskan tangan wanita paruh baya itu dengan keras. "Mulai saat ini, kalian tidak akan bisa menindas ku lagi. Karena aku akan benar-benar pergi dari rumah ini." Juni mengatakannya dengan sangat yakin. Dan membuat pasangan ibu dan anak itu tercengang.
Juni melangkah kan kakinya kembali keluar rumah dengan tanpa beban. Entah mengapa kakinya kali ini terasa ringan.
"Dasar anak tidak tahu diri, jangan harap kau bisa kembali lagi kesini, kita lihat saja,berapa lama kau bisa bertahan di luar sana."
Umpatan serta sumpah serapah dari wanita paruh baya itu mengiringi kepergiannya. Namun Juni tak lagi ingin menggubrisnya. Kali ini, dia tidak akan membiarkan siapapun dapat melukai nya lagi.
Ayah ... maafkan aku!
Selama ini yang membuat langkah Juni berat untuk benar-benar pergi dari rumah itu adalah, ayahnya. Tapi kali sepertinya dia tidak bisa lagi menunda keinginannya itu.
Karena sekarang dirinya tahu, kemana dia harus lari.
Bersambung.