Setelah mandi, Gara melilitkan handuk di pinggang nya, dan berjalan mondar-mandir di kamar nya, raut wajahnya terlihat tidak tenang, ia melihat ke arah ponsel nya lagi, menyalakannya dan melihat kontak "gadis aneh", dia kembali ragu.
Hubungi atau tidak?
Ini sungguh membuat orang sakit kepala. "Kenapa aku harus merendahkan diri untuk menghubunginya duluan? Apa ini tidak akan terlihat memalukan?"
Gara kembali melempar ponsel nya ke atas ranjang, kenapa juga harus memikir kan gadis itu? Kenapa gadis itu belum juga menghubunginya hingga detik ini?
Apa gadis itu sengaja ingin memberinya harapan palsu? Jika setuju atau tidak dengan surat perjanjian kontrak pernikahan itu, katanya dia akan menghubunginya secepatnya, mana?
Dasar PHP!
Gara merebahkan tubuh nya di atas ranjang dan tatapannya menghadap ke langit-langit kamarnya, di atas sana langsung terbayang wajah Juni dengan pipi yang menggembung, bibirnya mengerucut, kemudian dengan memasang wajah iba, gadis itu seolah sedang berkata; Tuan bisakah jangan terlalu kejam, kau tahu aku tidak punya uang, kenapa terus saja memerasku?
Sudut bibir Gara seketika terangkat, gadis itu sangat lucu. Kenapa dia jadi membayangkannya? Dia hanya seorang gadis aneh, tidak seharusnya dia memikirkan nya? Gara memejamkan mata.
Tiba-tiba bayangan Juni kembali muncul dalam kegelapan, mata gadis itu berbinar dan berjalan ke arahnya, dia juga tampak bersemangat, lalu berkata dengan lantang; Tuan, kau harus membantuku untuk melakukan simulasi jatuh cinta dengan mu. Gara sungguh tidak tahan, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Rey memiringkan kepalanya sedikit. Dia membayangkan rasa ketika dia mencium bibir merah muda milik Juni, dengan gerakan pelan seperti adegan dalam film. Dalam benak nya muncul bibir lembutnya. Dia mendekatinya sedikit demi sedikit, kemudian berubah seperti binatang buas, menelannya sekaligus, sangat manis, sangat lembut, sangat menggairahkan, membuatnya tenggelam, sulit melepaskan diri... Pada pusaran dalam, mengikat nya... "Eh... Juni, apa kau hantu? Kenapa selalu muncul di depan mataku?
Gara beralih duduk tegak, membuka matanya, napas nya terengah-engah, bayangan gadis itu benar-benar sangat mengganggu.
Dia juga telah merelakan ciuman pertama nya pada gadis itu.
Mungkin itu pengaruh masa kecilnya, dia menganggap wanita itu kotor dan murahan, dan ciuman di bibir adalah perwujudan dari tingkatan cinta tertinggi.
Dia bisa mencium punggung tangan ayah dan ibu nya sebagai perwujudan rasa hormat. Tapi dia tidak bisa melakukannya pada gadis manapun sebelumnya, kecuali Juni. Kenapa harus wanita itu yang memberi rasa itu? Kenapa harus gadis tak di sangka-sangka itu? Gadis seperti alien yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya.
Baginya, wanita selama ini hanya mahluk yang sangat mengganggu. Tapi, pagi ini, membayang kan wajah Juni, membuat Gara bersemangat. Dan dia jadi punya keinginan untuk mencium gadis itu lagi. Bahkan keinginan itu berubah menjadi semakin kuat, dan bahkan berkali-kali menjatuhkannya. Ini sungguh aneh, Gara tak mengerti apa yang telah terjadi dengan dirinya.
Sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia pergi ke jendela, angin sepoi-sepoi dari hutan di seberang jalan langsung menerpanya, "aku tidak boleh terus seperti ini? Aku tidak boleh jatuh, ada sesuatu yang harus ku kerjakan."
Gara mengangkat wajahnya yang tampan, dan memejamkan matanya lagi, membiarkan angin sejuk membelai seluruh wajahnya, sembari berbisik lirih, "aku tidak boleh jatuh cinta pada siapa pun, siapa pun, dia hanya bagian dari rencana!"
***
"Hoaaamm..." Juni baru saja terbangun dari tidur lelapnya, bahkan dia belum mandi sejak tadi pagi. Dan paling parah nya lagi, dia seperti melupakan sesuatu.
Dia harus menemui Gara malam ini juga!
Segera ia terlonjak duduk, matanya membulat sempurna, dia menghadap ke arah jendela, dan di luar hari sudah menjelang senja. Bagaimana bisa dia tertidur nyenyak sampai selama itu.
Tok tok tok...
Terdengar ketukan dari arah pintu, tak lama muncul kepala Lili menyembul dari balik pintu. "Kau sudah bangun?"Ujarnya.
Juni sebenarnya langsung ke apartement Gara saat baru saja meninggalkan rumahnya. Namun pria itu sepertinya sedang tidak ada di tempat. Untuk itu, sementara waktu dia kembali ke rumah sahabatnya Lili. Karena dia sangat lelah dan merasa butuh istirahat.
Dia juga belum menghubungi Gara sejak tadi pagi karena takut mengganggu pria itu. Dia bermaksud akan menemui pria itu langsung jika ingin membicarakan hal penting.
Lili melangkah masuk dengan membawa segelas jus jambu di tangannya. Kemudian meletakkannya di nakas samping ranjang. "Aku tahu kau lelah, jadi aku buatkan jus untuk mu agar tubuh mu kembali berstamina." Ujar Lili tersenyum.
"Terimakasih Lili, kau baik sekali." Juni meraih jus di nakas dan meminumnya segera.
"Kau semalam darimana saja? Aku khawatir padamu." Tanya Lili. Tadi saat Juni baru datang ke rumahnya, dia tak sempat menangkannya, karena Juni bilang, dia ingin menumpang tidur karena sangat mengantuk. Wajahnya juga terlihat sedih. Jadi Lili memutuskan untuk bertanya saat Juni sudah merasa lebih baik.
Juni terdiam sejenak, lalu dia berpikir, apakah dia harus menceritakan semuanya pada sahabatnya itu?
"... Jadi begitulah ceritanya."
"Apa? ... kau bertemu CEO tampan itu dan dia meminta mu untuk mengadakan nikah kontrak?" Mata Lili mendelik tak percaya.
"Sttt... pelankan suaramu...," ujar Juni sembari menempelkan telunjuknya di bibirnya sendiri.
Lili reflek membekap mulutnya sendiri, menyadari dirinya bicara dengan volume full.
Astaga....
"Maaf... aku hanya merasa sedikit terkejut. Tapi kau tenang saja. Ayah ibu ku sedang keluar rumah, jadi tidak ada yang akan mendengarnya." Jelas Lili.
Juni menghela napas lega, "syukurlah kalau seperti itu. Karena aku hanya menceritakan hal ini padamu saja. Dan aku ingin meminta pendapatmu. Seharusnya aku terima atau tolak saja penawarannya itu?"
Bersambung