Bab.6 Lelaki yang Memiliki Kuasa

1111 Kata
  Serafina berlari cepat menuruni gunung karena takut Rian akan menyusul dan menangkapnya kembali.Tetapi setelah berlari beberapa mil, selain sekawanan burung, dia tidak melihat siapa pun.   Hari mulai gelap, terdengar lolongan serigala liar di sekitarnya. Bagaimana jika dia bertemu binatang buas atau orang jahat di daerah terpencil seperti ini?   Napas Serafina terengah, jantungnya berdegup kencang. Dia sedikit menyesali kenekatannya.   Di saat yang sama, terdengar suara teriakan dari kaki gunung. “Serafina! Serafina, kamu di mana?”   Itu adalah teman baiknya, Dina Hidayat.   Serafina sangat gembira dan menjawab dengan lantang, "Aku di sini!"   Tidak lama setelah itu, terlihat sebuah cahaya menyilaukan dari kaki gunung. Sebuah mobil hitam datang mendekat. Pintunya dibuka, seorang wanita yang memakai seragam bisbol dan berpenampilan seperti laki-laki yang tampan dan gesit keluar dari mobil itu.   Dina bergegas menghampiri Serafina, meraih bahunya dan menatapnya dari atas ke bawah.   "Serafina, kamu baik-baik saja? Kamu ke mana saja selama tiga hari ini? Apa kamu ditahan oleh ayahmu yang bekerja sebagai kepala departemen itu?"   Sejak kecil, Dina memang terlihat seperti anak laki-laki. Mudah baginya untuk mengecoh gadis-gadis dengan rambutnya yang hitam pendek dan mata coklatnya yang sipit. Namun saat ini, mata itu menatap Serafina penuh gelisah.   Wajah mungil Serafina menjadi pucat saat dia mengingat hari-hari penderitaannya di tempat itu. Bibirnya bergetar, "Ceritanya panjang. Dina, adikku bagaimana?"   “Leonil baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir.” Dina mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Serafina. “Heryanto benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia menyakitimu sampai seperti ini?” Ujarnya sedih.   Awalnya karena gelap, Dina tidak menyadarinya. Namun, setelah masuk ke mobil, Dina baru melihat menyadari kaki telanjang Serafina yang terluka tidak memakai alas kaki.   Dia meminta handuk bersih yang basah pada supirnya untuk membersihkan luka Serafina, lalu mengernyit alisnya. “Namun, kenapa kamu bisa ada di Bukit Arus? Aku benar-benar terkejut saat menerima panggilan telepon tadi. Ini adalah wilayah kekuasaan keluarga Prawiranto.”   Serafina tertegun. "Telepon?"   "Ya, aku menerima panggilan telepon dari orang asing setengah jam yang lalu. Dia mengatakan kamu ada di sekitar Bukit Arus dan memintaku menjemputmu. Begitu menutup telepon, aku langsung ke sini. Tidak disangka kamu benar-benar ada di sini.”   Dina menghentikan ucapannya lalu menatap Serafina dengan curiga. “Serafina, apa lelaki yang ayahmu suruh kamu dekati waktu itu adalah..”   Bulu mata Serafina sedikit bergetar. Dia merasa sedikit takut karena teringat telah menikam Rian.   “Serafina, apa kamu mendengarkan aku?” Dina melambaikan tangannya di depan wajah Serafina.   Serafina tersadar. Melihat ekspresi curiga Dina, Serafina menghela napas dalam dan mengembuskannya perlahan, "Kamu benar. Lelaki itu adalah Rian, kepala keluarga Prawiranto.”   "Hah?!"   Mendengar berita ini, Dina sangat terkejut hingga tidak bisa menutup mulutnya. Tanpa sadar dia membersihkan luka di kaki Serafina dengan kasar.   Dina mengetahui hal ini setelah dia menyadari gelagat aneh Serafina dan memaksa Serafina untuk memberitahunya Saat itu, dia sangat marah sampai ingin membunuh Heryanto dan pria yang telah merebut kesucian Serafina.   Serafina menghentikan Dina dan memberitahunya bahwa pria itu bukanlah orang yang bisa sembarangan dia usik. Sekarang akhirnya Dina mengerti maksud perkataan Serafina.   Rian Prawiranto, orang terkaya di Kota Tiara, merupakan orang yang paling berkuasa di PT Prawiranto. Dia mewarisi bisnis keluarga pada usia 20 tahun dan telah bertanggung jawab atas perusahaan tersebut selama 6 tahun. Pengaruhnya telah menyebar ke seluruh Asia Tenggara. Selain industri real estate, dia juga memiliki industri lainnya.   Di Kota Tiara ini, bahkan walikota saja harus membungkuk ketika bertemu Rian. Apa lagi orang biasa seperti Serafina!   Karena sedang tidak fokus, Serafina kesakitan akibat kain yang ditekan dengan kasar oleh Dina. Serafina mengernyitkan dahinya, tanpa sadar badannya meringkuk untuk menahan sakit. Tindakan ini memengaruhi luka di perutnya.   Saat itu, dia tidak berani melukai dirinya terlalu parah, dan hanya mengalami luka gores biasa. Sekarang lukanya sudah mengering.   Namun, lukanya di bagian yang begitu sensitif. Begitu dekat dengan bayinya. Apakah goresan tadi juga menyakiti bayinya?   Awalnya Serafina tidak memiliki perasaan terhadap bayinya karena memang akan melakukan aborsi. Namun, setelah melewati beberapa kejadian, dia tiba-tiba merasa tidak rela.   Serafina bergidik ketika teringat tatapan penuh makna dari Rian sebelum dia pergi.   Lelaki itu membiarkannya pergi karena takut bayinya akan tersakiti. Jika Serafina tetap melakukan aborsi, sepertinya dia akan benar-benar membuat lelaki mengerikan itu marah.   Semakin memikirkannya, Serafina semakin merasa bingung. Tanpa sadar dia mengelus perutnya dan berkata, "Dina, sepertinya aku tidak bisa lepas dari anak ini."   Dina tidak bereaksi untuk beberapa saat sebelum mengangkat alisnya dan membesarkan matanya, "Kamu.. Kamu tidak berniat melahirkannya, ‘kan?"   Saat melihat ekspresi Serafina, Dina sudah bisa menebak jawabannya. Emosinya langsung meninggi, "Serafina, kamu gila? Hidupmu akan hancur jika kamu melahirkan anak ini. Tak akan ada kesempatan lagi untuk kamu dan Candra!"   “Meski tidak ada anak ini, memang sudah tidak ada harapan lagi untuk hubunganku dan Candra.” Serafina mengernyitkan dahinya dan menyela kalimat Dina dengan tajam.   Dina tertegun dan langsung menutup mulutnya, sadar kalau dia sudah keterlaluan.   Candra adalah topik terlarang bagi Serafina.   Meski keluarga Candra dan keluarga Dina adalah teman dekat selama beberapa generasi, tetapi bagi Dina, Serafina adalah teman terbaiknya.   Dina melunak saat melihat wajah marah Serafina dan berkata, "Baiklah, aku tidak membahasnya lagi. Lalu bagaimana denganmu? Apa rencanamu? Apa kamu benar-benar berencana melahirkannya?"   Serafina menatap pemandangan di jendela mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Dia memijat dahinya, "Pergi ke rumah sakit dulu. Sudah berhari-hari aku tidak menghubungi Leonil, dia pasti curiga. Aku harus memikirkan cara untuk mengantisipasinya.”   ...   Sementara itu, Rian tengah berdiri di depan jendela Perancis yang bersih di lantai dua rumahnya. Dia melilitkan handuk putih di pinggangnya dan membiarkan bagian atas tubuhnya yang memiliki garis otot yang tegas terbuka.   Rian memegang kertas faks kusut yang merupakan data pribadi seseorang.   Dia mengatupkan bibirnya. Wajahnya terlihat dingin. Terlihat jelas suasana hatinya memburuk setelah membaca informasi yang tertera di sana.   “Pak, Dokter Makbul sudah tiba.” Kepala Pelayan datang melapor.   Rian mengernyitkan dahinya "Aku tidak membutuhkannya sekarang, suruh dia pergi."   "Namun, tangan Anda.."   “Aduh, siapa yang begitu berani membuat Pak Prawiranto marah?” Belum sempat Kepala Pelayan menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara jenaka terdengar dari arah luar.   Dokter Makbul yang mengenakan jas putih bersandar pada kusen pintu mahoni dengan lengan menyilang. Dia menggoyangkan kotak obat di tangannya dengan pelan.   Dokter Makbul terperangah saat melihat punggung kokoh Rian. Dia menyeringai lalu melanjutkan perkataannya, “Kamu menungguku dengan setengah telanjang begitu, Pak Prawiranto?”   Rian tahu Makbul hanya bercanda dan selalu tahu bagaimana cara menanggapi lelaki itu. Rian menimpali Makbul tanpa melihat ke arahnya, “Maaf, aku tidak tertarik denganmu. Jika Dokter Makbul tertarik pada pria, Anda bisa pergi ke bar khusus gay.”   Makbul hampir tersedak mendengar jawaban Rian itu.   Kamu yang tertarik pada pria! Aku hanya tertarik pada gadis seksi!   Namun sebenarnya Makbul datang hari ini karena mendengar kabar angin tentang Rian, dan dia tahu sesuatu baru saja terjadi!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN